| •
Nama Resmi: Kuil Seichoji, Gunung Senko
• Sekte: Nichiren Shu, Buddhisme
• Didirikan tahun: 771 M oleh Bhiksu Jikaku-daishi
• Alamat: 322-1 Kiyosumi, Amatsu Kominato-cho, Awa-gun, Chiba
Prefecture
• Transportasi: Kereta Api JR Sotobo-line berhenti Stasiun
Awa-Amatsu, 15 menit ke Kuil Seicho-ji dengan bus, keluar diperbentian
terakhir, kemudian 3 menit jalan kaki.
Ini adalah tempat suci, dimana Nichiren Shonin masuk menjadi Bhiksu,
dan kuil utama dimana Beliau mendirikan Hukum Agung “Namu
Myoho Renge Kyo” yang didasarkan pada Saddharma Pundarika
Sutra (Rikkyo kaishu).
Kuil ini dekat dengan tempat kelahiran Nichiren
Shonin di Kominato, untuk naik ke Gunung Kiyosumi sedikit curam
dapat ditempuh dengan naik mobil. Udara yang segar menyambut kita
dan disertai kesederhanaan serta keagungan terasa didalam sanubari
ketika memasuki tempat suci ini. Meskipun gunung ini hanya mempunyai
ketinggian 383 meter dari permukaan laut, Gunung Kiyosumi adalah
gunung paling tinggi kedua di dalam daerah semanjung Boso. Kecuraman
yang menaik dari garis pantai memberikan kesan keagungan bagi Gunung
Hiei. Gunung Kiyosumi ini adalah salah satu tempat yang sangat dipuja-puja
oleh sekte Tendai. Dewa yang paling dipuja di kuil ini adalah Kokuzo
Bosatsu (Bodhisattava Akasagarbha), yang mempunyai kekuatan untuk
memberikan kekayaan dan kesuksesan / keberuntungan.
Pada tanggal 12 mei 1233, pada umur 12 tahun, Nichiren
Shonin mendaki Gunung Kiyosumi bersama ayahNya. Disini, Beliau belajar
tentang ajaran Eksoterik Buddhisme dari sekte Tendai. Pada tanggal
8 Oktober 1239, pada umur 16 tahun, Beliau masuk menjadi Bhiksu
dibawah bimbingan Dozen-bo, dan menganti nama Beliau menjadi Rencho.
Nichiren Shonin pernah berdoa kepada Bodhisattva
Akasa-garbha untuk membuat Beliau menjadi orang yang paling bijaksana
di Jepang. Setelah dua puluh satu hari berdoa, Beliau menerima sebuah
mutiara kebijaksanaan dari seorang bhiksu tua (sebenarnya adalah
perwujudan dari Bodhisattva Akasa-garbha) dalam sebuah mimpi. Mulai
dari hari itu, Beliau dengan tekun dan kerja keras belajar dan melatih
diri, pada akhirnya Ia menemukan ajaran sesungguhnya yaitu Saddharma
Pundarika Sutra.
Kuil Seicho-ji adalah dasar dari pembelajarannya,
Nichiren Shonin juga ingin belajar ketempat seperti Kamakura, Gunung
Hiei, Kuil Mii, Nara dan Gunung Koya. Beliau belajar banyak hal,
termasuk ajaran Eksoterik, Jodo, Zen dan Ritsu Buddhisme, tetapi
dari pembelajaran itu tidak menemukan ajaran yang sesungguhnya.
Beliau terus melanjutkan pembelajarannya atas berbagai naskah-naskah
buddhis lainnya, dan pada akhirnya hanya ajaran dalam Saddharma
Pundarika Sutra adalah ajaran yang sesungguhnya. Beliau kemudian
kembali ke Kuil ini untuk menkoreksi ajaran yang salah dari berbagai
sekte, dan menyebarkan ajaran Saddharma Pundarika Sutra. Setelah
berpikir panjang lebar, Ia mengambil keputusan untuk menyebarluaskan
ajaran Saddharma Pundarika Sutra, dan pada pagi hari tanggal 28
April 1253, pada usia 32 tahun, Beliau menyebut Odaimoku “Namu
Myoho Renge Kyo” ketika matahari terbit. Ini disebut deklarasi
Rikkyo Kaishu. Pada waktu itu, Ia juga menganti namaNya menjadi
“Nichiren”. Nama ini didasarkan pada Saddharma Pundarika
Sutra, melambangkan sinar terang dari matahari dan bulan (Nichi)
dan kemurnian dari teratai (Ren).
Bagaimanapun, reaksi dari masyarakat begitu dingin.
Bangsawan Kagenobu Tojo, seorang penganut Amitabha Buddhisme, sangat
tidak menyukainya dan tidak hanya mengusir Nichiren dari Gunung
Kiyosumi, tetapi juga berencana untuk membunuhnya. Setelah bersembunyi
di Kuil Renge-ji di Hanabusa, Ia mengambil keputusan meninggalkan
Kiyosumi, rumah phisik dan spritualNya, dan pergi ke Kamakura.
Ringkasan Sejarah
Kuil bersejarah ini dibangun pada tahun 771A.D.
yang kemudian direkontruksi oleh Bhiksu Jikaku-daishi pada periode
Heian, ini merupakan Kuil sekte Tendai terbesar yang ada disemenanjung
Boso. Kuil ini telah berubah menjadi Kuil Sekte Shingon dari sekte
Tendai setelah menerima perintah dari Shogun Ieyasu Tokugawa pada
periode Edo, dan menerima status yang sama dengan seratus ribu goku
(sebuah unit ukuran bagi seorang Daimyo(raja) atau penguasa Samurai
pada jaman feodal). Sebagai sebuah cabang dari Kuil Daigo-ji Sanpo-in,
Kuil Seicho-ji juga merupakan salah satu biara utama dari tiga biara
yang terdapat didaerah Kanto dan Kuil ini telah berganti menjadi
Kuil Sekte Nichiren (Nichiren Shu) pada tanggal 16 Pebruari 1949,
tepat pada hari kelahiran Nichiren.
Keadaan Saat Sekarang
Bangunan dari kuil ini, mulai dari Aula Utama,
pada ruangan ini terdapat rupang Bodhisattva Akasa-garbha, ini satu
dari tiga rupang yang masih ada saat sekarang di Jepang, pada bagian
dasar kuil terdapat ruang Dai-soshi-do, sebuah aula untuk pendiri
kuil, dibangun pada tahun 1971 untuk memperingati hari kelahiran
dari pendiri ke 750, kemudian Kyaku-den dibangun pada tahun 1921
untuk memperingati hari kelahiran dari pendiri yang ke 700 tahun,
Kuri dibangun pada tahun 1647, Aula pelatihan dibangun pada tahun
1999 untuk memperingati 750 tahun Rikkyo Kaishu, dan Gerbang Kuil
dibangun pada tahun 1646. Sebuah rupang perunggu dari pendiri dalam
Asahi-ga-mori, di kuburan Dozen-bo, pemerintah melindungi pohon
dan bell kuil pada tahun 1392 sebagai benda pusaka nasional.
Sebagai tambahan, sebuah rupang suci dari pendiri
disumbangkan oleh Lady Oman-no-kata dan sebuah tempat tinta dari
pendiri (disimpan dalam kotak berhias) diabadikan di aula Dai-soshi-do
hall.
Acara Tahunan
Acara tahunan kuil yang rutin adalah upacara Rikkyo
Kaishu-e pada tanggal 27-28 April, Upacara ini memperingati masuknya
Nichiren sebagai bhiksu pada tanggal 12 mei, Festival Bodhisattva
Akasa-garbha pada tanggal 13 september dan Upacara Oeshiki pada
27-28 Oktober. Upacara tanda kebhiksuan “Docho” (tanda
kelulusan sebagai bhiksu) dilaksanakan pada Januari, April, Juli
dan Oktober, dan ini adalah langkah pertama untuk menjadi seorang
bhiksu Nichiren Shu. |