KUIL ISHII-ZAN CHOSHO-JI

• Nama resmi: Kuil Ishii-zan Chosho-ji
• Sekte: Nichiren Shu, Buddhisme
• Didirikan pada tahun: 1263 oleh: Nagakatsu Ishii
• Bhiksu pendiri: Nichiren
• Objek di Altar Utama: Rupang Nichiren Shonin dan Sanbo honzon
• Alamat: 12-17, Zaimokuza 2-chome, Kamakura, Kanagawa 248-0013
• Luas Kuil: 3,300 meter persegi
• Lokasi: 1,100 meter selatan dari stasiun kereta Kamakura
• Waktu yang diperlukan untuk ketempat ini: 20 menit
• Biaya masuk: Gratis
• Waktu Buka: 9:00-17:00
• Acara Besar: Daikoku To-e pada tanggal 11 pebruari
• No Telepon: 0467-25-4300
• Ruang Istirahat: Tersedia


Ringkasan Sejarah

Nagakatsu Ishii, pendiri kuil adalah seorang bangsawan tuan tanah didaerah ini dan seorang pengikut awam yang sangat setia Nichiren, ( 1222-1282), pendiri sekte Nichiren Buddhism. Ketika Bhiksu Nichiren kembali ke Kamakura pada tahun 1263 setelah selesainya hukuman pembuangan di semanjung Izu { e-zoo}, Ishii dengan ramah mengakomodasi Beliau untuk bertempat tinggal di kediaman miliknya, yang mana kemudian hari diperluas menjadi sebuah kuil dengan nama Kuil Honkokuji.

Bagaimanapun, Kuil Honkokuji kemudian dipindahkan ke Kyoto pada tahun 1345 atas permohonan Takauji Ashikaga { tah-kah-woo-gee ah-she-kah-gah} ( 1305-1358), orang yang membangun pemerintahan Ashikaga Kyoto. Adalah Bhiksu Nissei ( 1289-1369), seorang pengikut Nichiren yang penting, yang telah merekonstruksi Kuil Honkokuji tersebut ditempatnya sekarang ini. Nama Kuil Chosho-ji' ditempatkan setelah nama pertama dari tuan Ishii's ' Nagakatsu', yang dapat juga disebut 'Chosho' di dalam bahasa China. Itu yang dapat kita saksikan pada hari ini.

Sama halnya seperti Kuil Myohoji dan Ankokuronji di dalam daerah yang sama, Kuil Choshoji juga mengakui diri sebagai tempat tinggal Nichiren di Kamakura semasa Beliau tinggal didaerah ini, meskipun demikian berbagai arsip mencatat hal yang berbeda.

Lima Rupang Perunggu

Yang berdiri di halaman kuil adalah lima patung perunggu yang sangat indah. Dikeliling oleh Empat Raja Langit dengan jarak 4 meter dan ditengah-tengahnya terdapat patung Nichiren. Dibuat pada tahun 1922 oleh Ko-un Takamura ( 1852-1934), seorang pemahat yang terkenal pada abad 20, sebagai bentuk penghargaan atas gelar yang diperoleh Nichiren dari kerajaan sebagai “Rissho Daishi” dengan bentuk Nichiren yang sedang berpidato dan mengarah ke jalan sibuk di Kamakura. Pada awal terletak diatas sebuah bukit dibelakang aula utama yang menghadap ke timur, kearah kota kelahiranNya di daerah Chiba. Dengan angin laut sepoi-sepoi yang bertiup, sebelum akhirnya dipindahkan kelokasi sekarang ini pada tahun 1982. Ke Empat Raja Langit dipercaya untuk melayani dan melindungi Taishakuten, atau Sakra devanam Indra didalam bahasa Sansekerta, dan berada di pertengahan Gunung Semeru dialam semesta. Masing-masing dewa mempunyai tugas untuk menjaga dari segala pengaruh jahat, sebagai berikut:

• Jikokuten atau Dhrtarastra; pelindung sebelah timur
• Komokuten atau Virupaksa; pelindung sebelah barat
• Zochoten atau Virudhaka; pelindung sebelah selatan
• Tamonten atau Bishamonten atau Vaisravana; pelindung sebelah utara

Namun di Kuil ini, ke Empat Raja Langit melayani dan menjaga Nichiren Shonin, yang menghadap ke arah selatan, dan sementara itu, patung Empat Raja Langit berdiri searah jarum jam Zochoten, Komokuten, Tamonten and Jikokuten. Semua dilengkapi dengan segala macam persenjataan.

Aula Taishakudo

Dibagian belakang ke-lima patung perunggu dihalaman kuil terdapat sebuah bangunan beton yang sangat bagus yang disebut Taishaku-do. Legenda mengatakan bahwa ketika Nichiren diserang oleh para pengikut sekte Buddhis lain pada tahun 1260, seekor monyet putih mendekatinya dan membantu dia untuk melarikan diri. Nichiren percaya bahwa monyet itu adalah utusan yang dikirimkan oleh Taishakuten untuk membantu dia. Karena itulah, rupang Taishakuten diabadikan di aula Taishaku-do sebagai dewa pelindungnya. Ditengah-tengah ruang aula itu terdapat rupang Nichiren dan sepasang monyet putih yang memegang tangannya didepan sebuah Taho-to yang sangat besar, atau ratna-stupa.

Aula Hokke-do

Lima langkah sebelah kiri dari halaman depan terdapat sebuah bangunan tua, aula Hokke-do atau Soshido berukuran sembilan meter persegi atau disebut juga Aula Pendiri Kuil. Aula Hokke-do diperuntukan untuk tempat membaca Saddharma Pundarika Sutra dan untuk mengingat bhiksu pendiri kuil. Aslinya, dibangun pada masa Muromachi Periode ( 1336-1573) dengan model mengikuti gaya arsitektur China dan meskipun tetap memelihara bentuk aslinya. Aula utama kuil ini, adalah sebuah aset budaya yang sangat penting bagi pemerintah daerah Kamakura. Diatas altar terdapat rupang Nichiren dan dibelakangnya terdapat Stupa Odaimoku, rupang Buddha Sakyamuni dan Buddha Prabhutaratna seperti yang biasa kita lihat dikuil-kuil Nichiren Shu lainnya. Aula ini mempunyai aset berharga dan bersejarah seperti:
• Waniguchi, adalah sebuah gong bulat yang mengantung ditiang atap didepan sebuah kuil atau tempat suci. Waniguchi adalah sebuah alat dipukul untuk mengeluarkan bunyi. Sebuah tali yang besar dengan jalinan kain mengantung dipertengahannya mengelilinginya. Ini dipukul untuk menarik perhatian para dewa. Waniguchi ini terbuat dari tembaga.
• Kakeban, adalah sebuah meja makan.
• Shokudai adalah sebuah tempat lilin.

Upacara Tahunan

Pada tanggal 11 pebruari setiap tahunnya (liburan: Hari Pendirian Nasional:: Daikoku To-E atau disiplin keras. Selama 100 hari yang mulai tanggal 1 nopember setiap tahun, para bhiksu muda Nichiren Shu melakukan upacara yang sangat keras, berkumpul disebuah kuil di kota Ichikawa, daerah Chiba dan memulai upacara untuk mensucikan diri mereka dengan sebuah upacara pembersihan, makan hanya makanan sayuran dan melaksanakan pelatihan siang dan malam. Acara ini sungguh berat dengan hanya satu tujuan keagamaan. Sekitar 150 bhiksu muda dari seluruh negara mengikuti program ini. Pada hari musim dingin, mereka bangun pada jam 2:30 pagi dan melakukan upacara pembersihan diri dengan mandi air dingin sebanyak tujuh kali sehari sebelum akhirnya kembali tidur pada jam 11:00 p.m. Dengan latihan yang keras dan makanan sederhana ( hanya dua kali sekali, umumnya makan bubur beras dan sup miso), sedikitnya mereka kehilangan berat badan sebanyak 10 kg pada akhir latihan. Pada hari terakhir pada tanggal 11 Pebruari, beberapa diantara mereka datang ke kuil dengan mengunakan kereta dari Chiba ke Kamakura, dan kemudian berjalan kaki, dan mereka akan menyelesaikan upacara 100 hari pensucian diri dengan menuangkan air dingin diatas diri mereka sendiri pada jam 12:30 p.m., mereka hanya mengunakan celana dalam putih. Salah satu peristiwa yang terkenal pada musim dingin di Kamakura. Para bhiksu Nichiren tidak diijinkan untuk melakukan perlayanan sebelum mereka menyelasaikan pelatihan ini.

 

Aula Hokke-do
 

Lima Rupang Perunggu
     
**klik gambar untuk ukuran yang lebih besar.