- Nama Resmi : Myogon Zan Hongaku-Ji
- Sekte : Nichiren Shu Buddhisme
- Didirikan Pada tahun : 1436 Oleh : Mochiuji Ashikaga
- Bhiksu Pendiri : Ichijo Nisshutsu
- Objek Utama Pemujaan : Sekelompok Rupang dan Stupa Odaimoku
- Alamat : 12-12, Komachi 1-chome, Kamakura , Kanagawa 248-0006
- Luas Kuil : 8,500 meter persegi
- Lokasi : 300 meter selatan dari stasiun Kamakura
- Biaya masuk : Gratis
- No Telepon: 0467-22-0490
- Penginapan : Tersedia
Latar Belakang Sejarah
Sejak awal kuil ini mempunyai hubungan yang erat dengan Bhiksu Nichiren (1222-1282), pendiri dari Nichiren Shu Buddhisme. Beliau adalah seorang bhiksu yang luar biasa, dengan gagah berani mengkritik sekte-sekte buddhisme lainnya atas kesalahan mereka. Kenyataannya , Ia mendapatkan Empat Penganiayaan Besar sepanjang hidupnya. Pada kasus terakhir, Beliau dihukum mati, namun dapat selamat dari hukuman tersebut dan menjalani hukuman pembuangan ke Pulau Sado pada tahun 1271. Tiga tahun lamanya, setelah itu Beliau kembali ke Kamakura . Tempat dimana Ia tinggal di Aula Ebisudo, pada saat sekarang menjadi Kuil Hongaku-Ji. Pada masa lalu, kuil ini adalah merupakan cabang dari sekte Tendai.
Pada masa lampau, tempat ini adalah merupakan tempat kapal melakukan bongkar muat yang melalui sungai Nameri untuk membongkar muat berbagai macam barang bawaan. Pemerintah menetapkan tempat ini sebagai daerah perdagangan dan melarang melakukan bisnis ditempat lain. Ebisu atau Dewa Perdagangan, Nelayan dan Keberuntungan, dipuja ditempat ini yang dipercaya akan membawa keberuntungan dan rejeki bagi penduduk setempat. Nichiren tinggal di tempat ini selamat enam minggu dan terus berusaha agar pemerintah dapat menerima ajaran Saddharma Pundarika Sutra tetapi tetap mengalami kegagalan. Dalam perasaan kecewa, akhirnya Ia meninggalkan Kamakura dan memasuki pengasingan di Gunung Minobu, Propinsi Yamanashi, dimana ia mempunya sebuah gubuk dan kemudian membangun sebuah kuil yang dikenal sebagai Kuon-Ji, Kuil Pusat dari Sekte Nichiren Buddhisme. Setelah Ia meninggal pada tahun 1282, abuNya dimakamkan disini.
Pada tahun 1436, 150 tahun setelah Nichiren meninggal dunia, Bhiksu Nisshutsu (1381-1459), seorang pengikut Nichiren Shu, datang ke Kamakura dari Propinsi Shizuoka Prefecture untuk menyebarluaskan ajaran Nichiren Buddhisme. Sebagaimana Nichiren, Beliau juga sering mendapatkan rintangan dari pemerintah. Mochiuji Ashikaga (1398-1439), pendiri dari kuil ini, yang merupakan penguasa Gubernur Kamakura pada waktu itu sangat marah akan penyebaran yang dilakukan oleh Nisshutsu's, Mochiuji sekali pernah mencoba menetapkan hukuman berat kepadanya. Tetapi kepribadian Nisshutsu's yang baik, telah merubah pikiran Mochiuji's. Ia mengenali Bhiksu Nisshutsu sebagai seorang lelaki yang tulus, seorang yang punya integritas. Mochiuji tidak hanya memaafkan dia, tetapi juga memberikan Aula Ebisudo. Aula ini adalah bagian asli dari Kuil ini. Bhiksu Nisshutsu merubah kepercayaan dari kuil ini menjadi Nichiren Shu Buddhisme sebagai penghargaan kepada Nichiren, pendiri dari Nichiren Shu Buddhisme.
Kepala Bhiksu Kuil ke-2 adalah Bhiksu Niccho (1421-1500), yang juga melayani sebagai Kepala Kuil ke-11, Kuon-Ji, membawa bagian dari abu Nichiren dari Kuon-Ji ke kuil ini. Kuil Kuon-ji berjarak 130 kilometer sebelah barat Kamakura dan merupakan sebuah gunung yang tinggi, dengan ketinggian 1.153 diatas permukaan laut. Pada hari ini sudah terdapat kereta kabel yang akan membawa kita kesana dalam beberapa menit. Dengan terdapatnya abu Nichiren di kuil ini, maka hal itu menempatkan kuil ini menjadi sejajar dengan Kuil Kuon-Ji yang juga disebut Higashi Minobu. Daerah ini terdapat banyak para nelayan yang tinggal disekitar Kamakura . Sebuah jembatan yang terdapat didepan kuil disebut Jembatan Ebisudo, dan merupakan tempat yang sangat sibuk pada masa lalu.
Bhiksu Niccho sering menyatakan bahwa mereka yang menderita penyakit mata, akan dapat sembuh jika berkunjung ketempat ini dan berdoa dengan tulus. Ia sendiri menderita penyakit mata yang akut, tetapi dapat sembuh berkat hati kepercayaannya kepada Saddharma Pundarika Sutra. Kuil ini juga menyebut dirinya sebagai 'Niccho-sama' (sama adalah sebuah gelar kehormatan, hampir sama denga san) sebagaimana yang terjadi telah begitu banyak mereka yang mengalami penyakit mata sembuh setelah berkunjung ke kuil ini. Bahkan sampai saat sekarang, mereka yang mengalami sakit mata datang kesini mengharapkan penyembuhannya.
Kuil ini juga terdiri dari sebuah Pintu Gerbang Nio-mon (Pintu Dua Dewa), Aula Utama, Soshido (Aula Bhiksu Pendiri) , ruang tamu, tempat tinggal bhiksu, Aula Ebisudo, bel, dan lain-lain.
Pintu Gerbang 'Nio-mon '
Pada tahun 2000, kuil melaksanakan sebuah acara besar yang disebut 'Onki' (biasanya dilaksanakan setiap 500 tahun sekali untuk Bhiksu agung) untuk memperingati 500 tahun meninggalnya Bhiksu Niccho. Untuk memperingati peristiwa itu, kuil mulai merenovasi pintu gerbang ini pada tahun 1999. Pintu gerbang baru ini selesai pada April 2002.
Aula Utama
Objek utama pemujaan di kuil ini adalah rupang Tiga Serangkai yaitu rupang Buddha Sakyamuni berada ditengah, diapit oleh rupang Fugen Bosatsu (Bodhisattva Samantabhadra) disebelah kiri, dan sebelah kanan terdapat rupang Monju Bosatsu (Bodhisattva Manjusri). Rupang Buddha Sakyamuni itu setinggi 105.7 centimeters, rupang Monju 57.1 centimeters dan rupang Fugen 56.1 centimeters. Semuanya dibuat pada abad ke-14 dan merupakan sebuah karya luar biasa dengan gaya Sung.
Sebagaimana semua kuil Nichiren Shu, selalu terdapat Sanbo-honzon yang juga di semayamkan di aula ini bersama dengan objek lainnya. Sanbo sesungguh berarti Tiga Elemen (Buddha, Dharma dan Sangha), dan dalam sekte Nichiren, terdapat sebuah stupa ditengah-tengahnya. Yang mana diatasnya ditulis aksara Namu Myoho Renge Kyo (Odaimoku). Disekeliling Stupa itu terdapat rupang Tiga Elemen dan rupang Nichiren didepannya. Berikut ini beberapa rupang yang terdapat dialtar:
- Rupang kayu Bhiksu Nisshutsu, Bhiksu pendiri, dan Bhiksu ke-2 Niccho.
- Rupang kayu Kishimojin atau Hariti, Dewi Anak-anak. Rupang ini dengan posisi tangan kiri memegang seorang bayi.
- Rupang kayu Jikokuten atau Dhrtarastra, satu dari Empat Raja Langit .
- Sepasang Daikokuten (Mahakala), atau dewa Kekayaan Bishamonten (Vaisravana.), atau dewa Pusaka dan Perang. Semua rupang ini dibuat pada periode Edo (1603- 1868), dengan tinggi 1.8 meters.
Kuil ini juga menyimpan banyak tulisan-tulisan kuno. Termasuk tujuh bagian tulisan dari Nichiren, sebuah surat yang ditulis oleh Niccho dan lain-lain.
Aula Soshido
Sebelah kanan dari Aula utama terdapat sebuah bangunan yang disebut Soshi Bunkotsudo, dimana abu Bhiksu Nichiren yang dibawa dari Gunung Minobu ditempatkan.
Aula Ebisudo
Aula ini telah dibangun pada tahun 1981 untuk memperingati 700 tahun kematian dari Nichiren. Bangunan berbentuk bersegi delapan ini dengan atap bulat. Ebisu adalah nama dari dewa Jepang untuk Perdagangan dan Nelayan. Juga disebut Mercuri Jepang. Rupang ini biasanya memegang seekor ikan air tawar ditangan kirinya dan alat mancing ditangan kanannya. Dalam aula ini, juga terdapat sebuah rupang Nichiren yang terletak ditengah-tengahnya.
Sebuah festival rutin dilaksanakan pada tanggal 10 Januari setiap tahunnya. Para pedagang mengunjungi tempat ini dan berdoa agar usah dan keberuntungan bagi mereka. Disamping Ebisu disini juga terdapat Shichifukujin atau Tujuh Dewa Keberuntungan di Kamakura.
Bel
Dibuat pada tahun 1410, ini sebuah bel yang dibuat khusus untuk kota Kamakura . Terdapat cerita yang menarik dari bel ini. Aslinya bel ini bertempat dan milik dari sebuah kuil di Propinsi Chiba . Ketika Bhiksu Nisshutsu sebagai kepala kuil, ia mengadakan debat agama Buddha dengan bhiksu dari kuil tersebut dan Ia menang dan mendapatkan bel ini. Permasalahan muncul, bagaimana cara untuk memindahkannya. Beruntunglah, ia mempunyai para pelayan yang berbadan kuat, sehingga mereka akhirnya bisa mengangkut bel tersebut ke Kamakura . Berat bel tersebu adalah 700 kg. Bel yang asli sekarang tersimpan di Musium Sejarah Propinsi di Yokohama, dan yang ada dikuil ini adalah duplikasinya.
Tugu Peringatan Untuk Masamune Okazaki
Masamune adalah seorang yang sangat terkenal dan pembuat pedang yang handal di Jepang. Namun tanggal lahir dan meninggalnya serta tempat tidak diketahui sampai sekarang, diyakini bahwa ia tinggal didekat Kuil Jufukuji pada akhir periode Kamakura (1185-1333) dan membuat banyak pedang-pedang yang luar biasa. Nama Masamune serta merta mengingatkan kita kepada pedang samurai Jepang, tidak hanya sekedar sebagai sebuah senjata tetapi juga sebuah bentuk karya seni yang tinggi. Pedang dihormati sebagai jiwa dari para samurai. Pedang sering dipersembahkan untuk tempat-tempat suci Shinto.
Di tempat pemakaman kuil, Ia dan tugu peringatan untuk anaknya Sadamune dibuat dalam bentuk Hokyo-into. Ketika Nichiren kembali ke Kamakura pada tahun 1274 dari Pulau Sado, Beliau tinggal di Ebisudo. Mendengar hal ini, Masamune mengunjunginya untuk bertanya tentang ajaran Beliau. Nichiren mengajarkan ajaranNya kepada beliau. Pada akhirnya Masamune menjadi percaya dan mengikuti Nichiren. Arti dari nama Masamune adalah Masa berarti benar, dan Mune berarti agama dalam aksara china. Jadi nama dari Masamune berarti agama yang benar, atau Saddharma Pundarika Sutra.
Namun, kuil ini baru dibangun pada tahun 1436, lebih dari 100 tahun setelah Masamune wafat. Tugu Hokyo-into dibuat pada tahun 1836 oleh sebuah kelompok pembuat pedang di Tokyo , mereka yang mempelajari teknik dari Masamune. |