• Nama Resmi: Myoho-zan Ankokuronji
• Sekte : Nichiren Shu, Buddhisme
• Pendiri: circa 1253 Oleh: Nichiren (1222-1282)
• Bhiksu Pendiri: Nichiren
• Objek Pemujaan Utama: Rupang Nichiren dan Stupa Odaimoku
• Alamat: 4-18, Omachi 4-chome, Kamakura, Kanagawa 248-0007
• Luas Kuil: 33,000 meter persegi
• Lokasi: 1,100 meter selatan stasiun Kamakura
• Waktu yang diperlukan untuk sampai dikuil:: 15 menit
• Biaya Masuk: 100-yen
• Buka: 9:00-17:00
• No Telepon: 0467-22-4825
• Tempat Istirahat / Penginapan: Tersedia
Ringkasan Sejarah
Bhiksu Nichiren, pendiri dari Nichiren Shu Buddhisme, dilahirkan
disebuah kampung nelayan di Propinsi Chiba, dan datang ke Kamakura
pada tahun 1253, ketika berusia 31 tahun untuk memulai tugas penyebarluasan
ajaranNya. Kuil ini mengklaim bahwa tempat tinggal Nichiren terdapat
disebelah kanan dari kuil ini, dan disini Beliau melakukan berbagai
macam cara penyebarluasan selama 20 tahun di Kamakura. Berdekatan
dengan kuil ini terdapat juga Kuil Myohoji dan Choshoji juga mengklaim
bahwa dikuil itulah tempat tinggal Nichiren. Daerah ini disebut
Matsubagayatsu.
Pada pertengahan abad 13, Sekte Buddhisme Zen sedang berkembang
dengan pesat di Kamakura didukung oleh Tokiyori Hojo (1227-1263),
yang merupakan seorang yang sangat berkuasa, berkedudukan sebagai
Bupati ke-5 Hojo dan membangun Kuil Kenchoji.
Bhiksu Nichiren menulis sebuah risalah yang diberi judul “Penegakkan
Ajaran Yang Sejati” pada tahun 1260 ketika Beliau berusia
39 tahun, dan diberikan kepada Bupati Tokiyori Hojo. Pada waktu
itu, berbagai macam bencana alam terjadi dan keresahan sosial
membuat masyarakat begitu menderita dan ketakutan. Dalam risalah
tersebut yang dialamatkan kepada pemerintah, menyarankan untuk
menjalankan ajaran yang benar yaitu Saddharma Pundarika Sutra,
dan menegakkan ajaran pokok kebenaran dari Buddhisme. Melakukan
perubahan sosial melalui doktrin ajaran yang benar adalah satu-satunya
jalan, Beliau berkeinginan untuk menyelamatkan negara. Judul dari
risalah ini disebut Rissho Ankokuron, dan juga nama dari kuil
ini Ankokuron-ji. Bagaimanapun, Bupati Keshogunan Kamakura tidak
menunjukkan ketertarikannya sedikitpun terhadap apa yang disampaikan
oleh Nichiren. Bhiksu Nichiren akhirnya melakukan penyebaran ajaranNya
langsung kepada masyarakat Kamakura di jalan-jalan kota tersebut,
melakukan kritikan tajam kepada sekte-sekte lain, menjelaskan
kesalahan dari sekte-sekte tersebut, termasuk sekte Jodo Buddhisme
yang didukung oleh Shigetoki Hojo (1198-1261), yang juga merupakan
anggota keluarga Hojo dan ikut menyumbang bagi pembangunan kuil
Gokurakuji. Ia akhirnya menunjukkan antipatinya terhadap Nichiren
pada tahun 1260, sehingga Nichiren terpaksa meninggalkan Kamakura.
Beberapa waktu kemudian kembali lagi ke Kamakura, melanjutkan
penyebaran ajaranNya, hal ini menimbulkan banyak penganiayaan,
tetapi tidak menyurutkan langkahNya.
Dimana tempat tinggal sebenarnya dari Nichiren di Kamakura, menimbulkan
perdebatan yang panjang dari tiga buah kuil Nichiren Shu yang
mengklaim diri mereka sebagai tempat tinggal Nichiren. Sebuah
survei akademis membuktikan bahwa Kuil Ankokuron-ji adalah tempat
pertama kali Nichiren tinggal di Kamakura, dan setelah penganiayaan
yang pertama oleh para bhiksu sekte lain, Beliau membuat tempat
tinggal lain di Kuil Myoho-ji yang berdekatan dengan Ankokuron-ji.
Pada sisi lain, Kuil Chosho-ji, 200 meter dari Ankokuron-ji berada
jauh dari tempat tinggal Nichiren, hal ini diungkapkan juga dalam
survei tersebut.
Aula Utama
Ini merupakan bangunan baru, dibangun kembali setelah
Kuil ini musnah oleh kebakaran pada tahun 1961. Objek utama dari
altar, adalah rupang Nichiren, yang dibuat tahun 1963. Juga ditempatkan
diatas altar Stupa Odaimoku, dan berbagai rupang dari para dewa-dewi
dan bhiksu:
1. Kishimojin atau Dewi Anak-anak (Hariti, dalam bhs.skt)
2. Jura-setsunyo (raksasa dalam Skt.): Sepuluh Iblis Wanita yang
muncul dalam Saddharma Pundarika Sutra, mereka berjanji untuk melindungi
para penganut Saddharma Pundairka Sutra dan menolong mereka yang
melaksanakannya. Kishimojin and Jura-setsunyo selalu dianggap idententik
dengan Nichiren Shu Buddhisme.
3. Daikokuten atau Dewa Kekayaan (Mahakala in Skt.)
4. Bhiksu Nichiro (1243-1320): satu dari enam murid utama Nichiren,
yang merupakan Kepala Bhiksu kedua dari kuil ini.
5. Shichimen Daimyojin: Dewa pelindung Kuil Kuon-ji, kuil pusat
dari Nichiren Shu yang bertempat di Propinsi Yamanashi.
Go-shoan atau Pondok Kecil
Terdapat sebuah rupang Nichiren yang disemayamkan
dalam bangunan ini. Rupang kayu Nichiren ini memperlihatkan rupa
Nichiren yang sedang menulis berbagai macam risalah. Rupang ini
dibuat pada tahun circa 1700. Gosho-an dibuat dari kayu zelkova,
direhab kembali atas dukungan dari keluarga Tokugawa di Nagoya,
satu dari tiga bagian keluarga dari Shogun Tokugawa pada periode
Edo (1603-1868).
Didepan bangunan ini terdapat sebuah pohon Cherry
yang sangat tua, dipercaya bibit pohon ini dibawa oleh Nichiren
dari Propinsi Chiba. Bersamaan dengan itu terdapat juga tanaman
aronia atau Malus halliana) dan sazanka atau Camellia sasanqua.
Pada pertengahan april, sebuah upacara tea dilaksanakan disekitar
kuil ini ketika bunga merah jambu dari kaido itu berbungga dengan
indahnya.
Tempat Kramasi dari Bhiksu Nichiren
Bhiksu Nichiro, satu dari enam murid utama Nichiren
yang meninggal pada tahun 1320, ketika berusia 78 tahun. Ketika
menjelang ajalnya, ia berpesan untuk dikramasi ditempat ini dan
abunya dikuburkan ditempat ini.
Bhiksu Nichiro bergabung dengan Nichiren pada tahun
1254 ketika berusia 10 tahun dan mengabdikan hidupnya untuk belajaran
ajaran Nichiren. Menurut sejarah, kemanapun Nichiren pergi, Nichiro
selalu menemaninya. Tidak hanya sebagai Kepala Kuil kedua dikuil
ini, beliau juga adalah Bhiksu pendiri dari Kuil Myohonji dan Kuil
Kosokuji di Hase. Bangunan yang sekarang ini direhab kembali pada
tahun 1982 dan sebuah stupa batu Gorinto sebagai bentuk dari peti
kuburnya ditempatkan didalam bangunan ini.
Kuma-o-den atau Aula Kuma-o
Kuma-o is adalaha nama seorang samurai pada pertengahan
abad 14. Beliau bergabung sebagai samurai dengan kelompok samurai
yang disebut Masanori Kusunoki, yang telah membunuh ayahnya. Kuma-o
bergabung dengan Kusunoki sebagai pelayannya dengan mengunakan identitas
palsu dan untuk mendapatkan kesempatan membunuhnya sebagai upaya
balas dendam. Bertentangan dengan harapannya, Kusunoki ternyata
adalah seorang samurai yang terpandang sehingga Kuma-o tidak mampu
membalas dendamnya. Sebagai upaya menghapus dendamnya, ia akhirnya
menjadi seorang Buddhis dan bergabung serta berjanji untuk melayani
Nichiren.
Bagaimanapun, Masanori Kusunoki adalah putra ketiga dari Masashige
(1294-1336), seorang pahlawan dalam sejarah Jepang yang terkenal
setia kepada penguasa di Osaka, tetapi kelahiran dan kematian Masanori
tidak diketahui.
Fujimidai (Tempat melihat Gunung
Fuji)
Beberapa langkah mendaki dekat Kuma-o-den terdapat
sebuah bukit, dimana para pengunjugn dapat melihat pemandangan yang
indah menghadap ke Gunung Fuji. Sangat disayangkan saat sekarang
sudah terdapat banyak pemukiman penduduk yang padat sehingga, Gunung
Fuji sudah tidak terlihat.
Nanmen-kutsu (Gua Menhadap ke
Selatan)
Berdekatan dengan tempat melihat Gunung Fuji, terdapat
sebuah goa. Nichiren diserang dan ingin dibunuh pada tahun 1260
oleh ribuan bhiksu dari sekte Jodo setelah Beliau menyampaikan risalahnya
kepada Tokiyori. Beliau melarikan diri dan bersembunyi ditempat
ini. Menurut sejarah, terdapat seekori monyet putih mendekati Nichiren
dan menuntun Beliau untuk bersembunyi di goa ini, yang mana goa
ini merupakan jalan tembus ke sisi lain dari gunung ini. Namun,
monyet putih itu telah ditangkap oleh para bhiksu dari sekte Jodo
dan dibunuh. Sebagai bentuk penghargaan bagi monyet tersebut yang
telah menyelamatkan nyawa Nichiren, sebuah rupang dibuat dan ditempatkan
disini, disebelah kiri dari goa ini terdapat rupang Nichiren.
Acara Tahunan
Pada minggu pertama atau kedua di bulan Agustus:
Diadakan upacara Segaki (Upacara Hantu Kelaparan) dilaksanakan.
Dan juga pada tanggal 27 September: Upacara peringatan untuk Nichiren
untuk memperingati penyiksaan yang dialaminya pada tahun 1260. |