• Nama Resmi: Kuil Daijozan Yakuoji
• Sekte: Nichiren Shu, Buddhisme
• Didirikan pada tahun: 1288 Oleh: Tidak diketahui
• Bhiksu Pendiri: Nichizo
• Objek di Altar Utama: Yakushi Nyorai ( Bhaisajyaguru-vaiduryaprabha)
• Alamat: 5-1, Ogigayatsu 3-chome, Kamakura, Kanagawa 248-0011
• Luas Kuil: kurang lebih 5,000 meter persegi
• Lokasi: 1,200 utara stasiun Kamakura
• Waktu yang diperlukan untuk mencapai tempat ini: 20 menit
• Biaya: Gratis
• No Telepon: 0467-22-3749
• Tempat Istirahat: Tidak tersedia
Ringkasan Sejarah
Kuil menurut sejarah ditemukan oleh Bhiksu Nichizo
( 1269-1342), salah satu dari Sembilan MuridUtama dari Bhiksu Nichiro
( 1243-1320), satu dari Enam Murid Utama Nichiren( 1222-1282), pendiri
sekte Nichiren. Ia lahir di daerah Ibaraki, ia menjadi seorang bhiksu
dari sekte Nichiren ketika sejak berumur 7 tahun. Ia sangat beruntung
dapat bertemu langsung dengan Nichiren. Nichiren kemudian memberikan
perintah agar ia kelak dapat menyebarkan ajaran Nichiren didaerah
Kyoto setelah kematiannya.
Kuil ini pada mulanya bernama Baireiji dari Sekte
Shingon, tetapi terbengkalai. Melihat hal itu, Nichizo memberikan
dukungan kepada kuil dan membangunnya kembali menjadi kuil sekte
Nichiren.
Bhiksu Nichizo dikenal sebagai penyebar ajaran
sekte Nichiren Buddhisme di daerah Kyoto, ibukota lama Jepang, dimana
sekte Tendai adalah sekte yang dominan didaerah tersebut pada waktu
itu. Sekte Tendai terus berusaha dengan segala upaya agar para pengikut
Nichiren tidak masuk ke kota Kyoto. Ketika Bhiksu Nichizo sedang
melakukan tugas penyebaran di daerah tersebut, pemerintah setempat
selalu mencari alasan demi alasan untuk mengusir beliau dari kota
tersebut. Meskipun mendapat berbagai penganiayaan, Ia berhasil mendirikan
kuil sekte Nichiren di Kyoto pada tahun 1321 dan diberi nama Kuil
Myoken-ji. Sebaliknya keberhasilan itu telah mendapatkan kepercayaan
dari kerajaan. Melalui upacara doa, beliau berusaha membantu Kaisar
Godaigo ( 1288-1339), yang sedang menjalani pembuangan disebuah
pulau kecil dari daerah Shimane agar dapat kembali ke Kyoto. Kuil
Myoken-ji menjadi pusat untuk penyebaran ajaran sekte Nichiren didaerah
barat Jepang.
Semasa periode antara tahun 1624 sampai 1643, Kuil
ini telah dibangun kembali dan diberi nama Kuil Bairyu-ji. Meskipun
sama-sama merupakan sekte Nichiren, sekte Nichiren mempunyai banyak
sub sekte dan kuil ini terlihat paling jelas perbedaannya bagi kebanyakan
orang. Sub sekte ini kemudian disebut Fuju Fuse, yang berarti “Tidak
Menerima dan Tidak Memberi.” Dengan kata lain bahwa para pengikut
sekte Nichiren hendaknya tidak menerima persembahan dari sekte lain,
maupun memberikan persembahan atau melayani ibadah kepada sekte
lain.
Ini adalah sebuah pandangan yang pada mulanya menjadi
pegangan bagi para pengikut sekte Nichiren, tetapi sejalan dengan
waktu, banyak para pengikut Nichiren yang kemudian lebih lunak dan
mengikuti situasi masyarakat, dan mereka ikut ambil bagian dalam
memberikan perlayanan bagi bukan pengikut atau jika mendapatkan
perintah dari Shogun atau pemerintah setempat. Meskipun demikian,
banyak juga yang tetap mempertahankan doktrin Fuju Fuse ini. Ketika
Hideyoshi Toyotomi ( 1536-1598), seorang pahlawan dalam sejarah
Jepang yang telah mempersatukan seluruh Jepang (1585), mengundang
seribu bhiksu dari delapan sekte agama Buddha termasuk sekte Nichiren
pada tahun 1595 untuk mengadakan doa bagi para arwah leluhurnya
di Kuil Hokoji, sebuah Kuil Tendai yang terkenal di Kyoto. Bhiksu
Nichi-o ( 1565-1630) dari sekte Nichiren, ketua Kuil Myokakuji di
Kyoto dan seorang penganut doktrin Fuju Fuse, menolak undangan tersebut
dan tidak menghadiri acara tersebut. Sekali lagi pada tahun 1599,
Ieyasu Tokugawa ( 1542-1616), seorang pahlawan lain dalam sejarah
Jepang dan pendiri dari KeShogunan Tokugawa, mengadakan upacara
serupa, Bhiksu Nichi-o juga tidak menerima dan menghadiri acara
tersebut. Sebagai akibatnya, Ia kemudian dikucilkan dan dibuang
ke Pulau Tsushima, 150 kilometer barat laut dari kota Fukuoka, disana
ia dipenjara selama 13 tahun lamanya. Kemudian Ia diberikan pengampunan
dan kembali Kuil Myokakuji pada tahun 1612, tetapi ia tidak berubah
sikap sama sekali, dan tetap menolak menghadiri undangan dari pemerintah
dalam acara yang sama. Pada tahun 1630 setelah kematiannya, pemerintah
setempat membongkar kuburannya dan mengirimkan jenazahnya ke Pulau
Tsushima, sebagai hukuman. Pada saat yang sama, pemerintah melarang
penerapan doktrin Fuju Fuse. Penyiksanan dan penganiayaan terhadap
mereka pun terus berlanjut. Para pengikut doktrin Fuju Fuse pun
akhirnya bergerak dibawah tanah. Sepanjang periode Edo (1603-1868),
terdapat dua kelompok keagamaan yang dilarang oleh pemerintah yaitu
kelompok Fuju Fuse dan para pengikut ajaran kristen.
Kuil ini pun akhirnya akan dihancurkan karena secara
resmi mengunakan nama Kuil Fuju Fuse. Akhirnya untuk menyelamatkan
kuil ini maka nama kuil akhirnya diganti menjadi Yokuo-ji sampai
sekarang. Larangan terhadap ajaran Kristen dan Fuju Fuse akhirnya
dihapus pada tahun 1873, pada waktu terjadi restorasi Meiji pada
tahun 1868, namun semua komunitas Buddhis harus mengalami sebuah
bencana besar karena pemerintah yang baru menunjuk Shinto sebagai
agama resmi pemerintah, dan merencanakan kebijakan untuk menghancurkan
ajaran Buddha. Baru setelah perang Dunia Kedua selesai, semua orang
kembali dapat menikmati kebebasan beragama dengan dibuatkannya undang-undang
yang baru pada tanggal 3 Mei 1947, yang menjamin kebebasan untuk
semua agama.
Arti kata dari Yakuo-ji berarti Bodhisattva Bhaisajyaraja
(skt), salah satu dari 15 orang Bodhisattva yang melayani Buddha
Sakyamuni didalam pembabaran Saddharma Pundarika Sutra.
Aula Utama dan Rupang
Pada umumnya pintu terbagi menjadi dua dan terbuka,
sehingga kita dapat melihat melalui jendela kaca kedalam ruangan.
Aula ini dilengkapi oleh berbagai macam kelengkapan buddhis dan
dijaga kebersihannya. Pada bagian tengah altar bersemayam rupang
berwarna Nichiren dan dikelilingi oleh rupang Buddha lainnya. Pada
papan informasi kuil dikatakan bahwa terdapat sebuah Enbu-Dagon
( Jambunada-suvarna, skt.) rupang Nyorai (Tathagata, skt.). Enbu-Dagon
(Dangon) jika diterjemahkan berarti debu emas dari pasir sungai
didalam hutan India yang ditutupi oleh pohon-pohon khayalan. Informasi
dipapan itu tidak menjelaskan tentang siapakah Nyorai tersebut.
Namun literatur mengatakan bahwa objek utama dari kuil adalah Yakushi
Nyorai, atau Buddha Bhaisajyaguru (skt), dan karena itu Nyorai itu
bisa jadi adalah rupang emas dari Yakushi Nyorai. Pendapat lain
mengatakan bahwa, rupang Enbu Dagon Nyorai adalah Shaka.
Monumen untuk Tadanaga Tokugawa
Ketika kita telah melewati pintu gerbang kuil,
maka disebelah kanan, kita akan dapat melihat sebuah monumen batu
yang merupakan tanda peringatan bagi Tadanaga Tokugawa ( 1606-1633),
putra ketiga dari Shogun Tokugawa Hidetada ( 1578-1632). Tadanaga
mempunyai seorang kakak laki-laki; bernama Iemitsu ( 1604-1651).
Sedangkan yang paling tua telah meninggal pada usia muda.
Kedua bersaudara itu saling berlomba untuk mendapatkan kedudukan
ayahnya. Tetapi orangtua mereka lebih menyayangi Tadanaga daripada
Iemitsu, sedangkan kakek mereka Ieyasu lebih menyukai Iemitsu. Pada
akhirnya, Iemitsu berhasil mengantikan tatha ayahnya dan menjadi
Shogun Tokugawa yang ketiga pada tahun 1623. Tadanaga diberikan
wilayah kekuasaan yang mencakupi daerah Shizuoka (saat sekarang)
dan daerah Yamanashi. Ia sangat tidak bahagia dengan keadaannya
itu, dan menjadi putus asa. Ia menjadi seorang yang egois, akibatnya
Shogun atau saudaranya terpaksa menyita wilayah kekuasaannya pada
tahun 1632 dan menempatkan ia disebuah daerah perbatasan. Didalam
keputusasaannya, akhirnya ia bunuh diri setahun kemudian.
Isteri Tadanaga, adalah cucu perempuan dari seorang
yang terkenal yakni Oda ( 1534-1582) yang telah mempersatukan Jepang
meskipun dalam hanya waktu yang singkat antara periode Toyotomi
dan Tokugawa, mempunyai banyak hubungan dengan para pemimpin kuil,
dan dia meminta untuk dibuatkan sebuah monumen untuk menghibur jiwa
suaminya yang tidak beruntung. |