Jakkozan Ryukoji

(Peta Menuju Kuil)

• Nama Resmi: Jakkozan Ryukoji
• Sekte: Nichiren Shu, Buddhism
• Didirikan tahun: 1337 oleh: Bhiksu Nippo
• Bhiksu Pendiri: Nippo
• Objek Pemujaan Utama: Rupang Nichiren dan Stupa Odaimoku
• Alamat: 13-37, Katase 3-chome, Fujisawa, Kanagawa 251-0032
• Alamat Website: http://www.ryukouji.com/
• Luas Kuil: 16,000 Meter Persegi
• Loksi: 5,500 meter sebelah barat stasiun Kamakura
• Waktu yang dibutuhkan untuk sampai di kuil: 70 menit
• Biaya Masuk: Gratis
• Waktu Buka: Buka sepanjang tahun
• Acara Tahunan: 11-13 September: Upacara Peringatan Nichiren
• No Telepon: 0466-25-7357
• Tempat Istirahat: Tidak tersedia
 

Ringkasan Sejarah

Tanah tempat kuil ini berdiri pada jaman dulu adalah tempat untuk pelaksanaan hukuman mati bagi para penjahat pada masa periode Kamakura ( 1185-1333), dan monumen untuk peringatan mengenai itu berdiri disebelah kiri dari pintu gerbang kuil bagian luar. Nichiren ( 1222-1282), pendiri Nichiren Shu, sewaktu di Kamakura pernah tinggal disini selama 20 tahun dan bergiat untuk penyebaran Buddhisme, yang menekankan pentingnya Saddharma Pundarika Sutra. Penyebaran Saddharma Pundarika Sutra menjadi sangat keras karena Beliau sering melakukan kritik terhadap doktrin berbagai sekte. Kritiknya yang keras tidak hanya menimbulkan permusuhan dari kalangan sekte Buddhis lainnya tetapi juga dari pemerintah Shogun. Sebagai hasilnya, Beliau harus mengalami empat kali penganiayaan selama berada di Kamakura, dan terakhir kalinya Ia akan dihukum mati dengan dipancung pada tahun 1271 ketika Shogun tidak bisa menerima ajaran yang dibabarkannya.

Pada tanggal 12 september 1271, Nichiren dibawa kedaerah ini untuk pelaksanaan hukuman mati (Sekarang tanah tempat berdirinya Kuil). Tak seorangpun meragukan bahwa ia pasti akan mati pada saat itu. Tetapi, ketika algojo akan memancung leherNya dengan pedang, menurut sejarah terjadilah sebuah peristiwa yang mengemparkan yaitu terdengar suara guntur yang luar biasa kerasnya mengetarkan seluruh daerah tersebut disertai kilat yang menyambar, akibatnya sang algojo sangat terkejut dan takut untuk memenggal leher Nichiren. Semua orang terkejut akan keajaiban yang terjadi dan mereka memperkirakan bahwa semua ini terjadi karena Nichiren. Seorang kurir dikirim ke kantor Shogun untuk memberitahukan kejadian itu. Ketika mereka berangkat ke daerah itu melalui sungai Yukiai, yang berjarak 2.000 meter dari sebelah timur kuil, mereka bertemu dengan seorang utusan dari Tokimune Hojo (1251-1284), yang merupakan Bupati Wilayah Delapan. Pesuruh bupati tersebut ingin menyampaikan agar pelaksanaan hukuman itu jangan dilaksanakan, dan secara kebetulan bertemu dengan kelompok dari keshogunan. Oleh karena itu sungai tersebut diberi nama "Yukiai-gawa," atau Sungai Bertemu.

Pelaksanaan hukum mati ditiadakan, sebagai gantinya, Nichiren akhirnya diasingkan ke Pulau Sado, yang merupakan daerah pantai Propinsi Niigata (Beberapa orang mengatakan bahwa sang bupati memberikan pengampunan itu karena istrinya sedang dalam keadaan hamil)

Enam puluh enam tahun kemudian, seorang bhiksu bernama Nippo, bhiksu Nichiren Shu datang ketempat bersejarah ini, dan membuat sebuah kuil untuk memperingati Nichiren, dimana dalam kuil ini ditempatkan sebuah rupang Nichiren yang ia ukir sendiri. Pada mulanya kuil ini hanya kecil saja, tetapi akhirnya mendapatkan dukungan yang luar biasa dari masyarakat dan akhirnya bangunan kuil terus diperluas dan diperindah. Tetapi pada tahun 1923, sebuah gempa bumi besar terjadi di daerah Kanto yang menghancurkan semua bangunan kuil, aula dan pagoda lima tingkat. Semua orang akhirnya bersatu padu membangun kembali kuil ini. Kuil ini tergolong satu diantara 44 Kuil yang terpenting dari Nichiren Shu.


Diagram Ryuko-ji

1. Hondo atau Aula Utama, juga disebut Shikigawa-do

Aula utama kuil saat ini berukuran 29 x 32 meter, dibangun kembali pada tahun 1818 dan salah satu yang paling besar di Kamakura. Shikigawa menyumbangkan sebuah karpet yang terbuat dari kulit yang diatasnya terdapat rupang Nichiren yang sedang menunggu pelaksanaan hukuman mati. Sejak Bhiksu Nippo membangun kuil ini maka tempat ini disebut shikigawa-do. Pada saat sekarng, batu untuk memperingati Shikigawa itu diletakkan dibagian tengah aula sebagai bentuk penghargaan kepadanya. Berbeda dengan kuil lain seperti Zen, didalam aula utama Kuil Nichiren Shu terdapat banyak hiasan yang menghiasi langit-langit maupun struktur lainnya, hiasan itu diukir oleh orang-orang yang menghormati Nichiren. Pada altar utama terdapat sebuah stupa Odaimoku yang mengukir aksara Namu Myoho Renge Kyo disamping kelompok rupang lainnya, ini adalah ciri khas dari semua Kuil Nichiren Shu. Didalam sebuah ruangan yang lebih kecil terdapat enam buah rupang dari Enam Murid Utama Nichiren. Tidak sama dengan kuil Nichiren Shu lainnya, pintu kuil ini selalu terbuka dan pengunjung dapat masuk kedalam aula utama dan jika terdapat upacara sembahyang dapat melihat secara dekat semua rupang yang ada.

2. Pagoda Lima Tingkat

Bagian sebelah kanan dari bangunan aula utama atau sekitar lima puluh langkah terdapat sebuah Pagoda. Ini adalah satu-satunya pagoda yang ada di Propinsi Kanagawa yang dibangun pada tahun 1910 oleh seorang arsitek yang khusus menangani bangunan kuil dan tempat suci dan merupakan sebuah perusahaan kontruksi yang terkemuka di Jepang pada saat sekarang ini. Pagoda ini dibuat dari kayu pohon keyaki zelkova dan pagoda ini selamat dari bencana gempa bumi besar di Kanto yang terjadi pada tahun 1923. Bangunan Pagoda pada awalnya adalah bangunan suci bagi para penganut Hindu di India.

Pagoda Jepang sejak dulu terkenal mempunyai kemampuan tahan terhadap gempa bumi dan para sarjana saat sekarang mengalami kebingungan akan hal ini, mengapa bangunan kayu tinggi ini dapat begitu stabil. Diseluruh Jepang, terdapat kurang lebih 500 pagoda yang dibangun berabad-abad lalu, dan sering diguncang oleh gempa bumi, dan hanya sedikit diantaranya yang roboh. Beberapa diantaranya seperti, Pagoda Toji yang terletak didekat stasiun Kyoto, mempunyai ketinggian 55 meter dan yang paling tinggi, berdiri tahun 1644. Pagoda Horyuji di Nara dibangun pada tahun 607 dan merupakan bangunan kayu yang paling tua strukturnya di dunia.

Sedangkan pagoda China kebanyakan terbuat dari batu, Jepang membangun pagoda dengan bahan kayu dan desain mereka sendiri. Mereka memperluas bagian atapnya dan didalam pagoda itu tidak terdapat tangga yang menghubungkan antara satu lantai dengan lantai lainnya.

Pagoda di kuil ini, rupang Nichiren dan beberapa orang lainnya diabadikan ditempat ini, dan terletak dilantai dasar.

3. Tempat suci Shichimen Daimyojin

Berjarak 80 langkah dari sisi sebelah kiri aula utama terdapat sebuah tempat suci shinto yang disebut Shichimen Daimyojin. Ini adalah dewa pelindung kuil dan sebuah contoh penyatuan kepercayaan yang khas di Jepang. Shichimen Daimyojin adalah juga dewa pelindung Kuil Kuon-ji yang berada di Propinsi Yamanashi, kuil pusat dari Nichiren Shu, dan oleh karena itu ini adalah merupakan bagian darinya.

Sejarah mengatakan bahwa terdapat seorang wanita muda yang berpakaian indah sering terlihat dimanapun ketika Nichiren sedang membabarkan Saddharma Pundarika Sutra, ketika berada di Kuil Kuonji dan dengan bersemangat mendengarkan penjelasan Beliau. Suatu hari, Nichiren bertanya kepada wanita muda tersebut, siapakah dia? Kemudian dia mengatakan bahwa ia adalah dewi yang tinggal di sebuah kolam dekat Gunung Shichimen dan datang dengan maksud untuk mendapatkan keselamatan dari segala perbuatan buruk dan penderitaannya dengan mendengarkan Saddharma Pundarika Sutra. Sesungguhnya, Nichiren telah mengenal dia, karena pada suatu saat, Nichiren menaruh sebuah pot bunga didepannya dan bayangan yang terpantul didalam pot bunga itu adalah sebuah ular naga berwarna merah. Nichiren kemudian meminta ia untuk kembali ke kolam tempat asalnya dan meminta ia untuk menjadi dewa pelindung Kuil Kuonji, Gunung Minobu. Dia pun pada akhirnya kembali ke tempatnya semula dan sejak saat itu Ia atau ular naga merah itu menjadi dewa pelindung Kuil Kuon-ji, dan menjaga bagian barat daya (yang dipercaya sebagai pintu Gerbang Setan) dari Kuil.

4. Bussharito atau stupa Buddha

Berada dibagian lebih tinggi dari Shichimen Daimyojin, disebuah tempat dikelilinggi hutan, tempat ini sangat baik untuk memandang ke arah laut, disini terdapat sebuah Bussharito putih, yang dibangun pada bulan Juli 1970 oleh Nittatsu Fujii ( 1885-1984), seorang pengikut Nichiren Shu yang sangat kaya, ini dibangun untuk memperingati hari ulang tahun ke-700 dari Nichiren. Bentuk stupa ini mengunakan model Siam / Thailand. Busshari secara harafiah berarti barang peninggalan atau abu Buddha dan Bussharito adalah sebuah stupa untuk menyimpan Busshari.

Pada bagian selatan yang menghadap ke arah Enoshima terdapat sebuah areal yang sangat indah. Pada tahun 1919, Iso Mutsu ( 1867-1930), seorang perempuan asl Inggris yang menikah dengan seorang diplomat Jepang, mengemukakan akan kecantikan daerah Kamakura ini dalam bukunya “Fakta dan Legenda”: tanah yang membentang luas yang meliputi bukit-bukit yang indah begitu luas dan berwarna warni seakan memamerkan keindahannya. Enoshima yang hijau membentang bagaikan permata diatas lautan biru yang membentang, ditaburi perahu-perahu dan kapal-kapal yang tak terbilang menaklukan ombak, sebuah pemandangan pergunungan yang indah tak terputus-putus, yang dengan tenang mempesona, begitu romantisnya. Jauh berbeda dengan keadaan saat sekarang ini, bukit-bukit yang berselimut hijau berlawanan dengan pantai Enoshima yang indah, tetapi terdapat begitu banyak bangunan berjejer dengan kontruksi yang jelek dan Gunung Fuji diselimuti oleh polusi yang semakin tebal

5. Daisho-in atau Ruang Tamu.

Menghubungkan antara tempat ini dengan Aula Utama terdapat sebuah koridor kayu. Bangunan yang digunakan ini disebut "Sericulture Istana" yang terletak di Propinsi Nagano. Melalui sumbangan dari para pengikut Nichiren, istana ini telah dipindahkan ke sini pada tahun 1923, tidak lama sesudah terjadinya gempa bumi Kanto.

6. Gua Suci Nichiren.

Pada malam hari sebelum Nichiren menjalani hukuman pancung pada tanggal 12 September 1271, ia bermalam di dalam gua ini, yang terletak 7 meter dari tebing curam disebelah barat daya dari tempat ini. Mengunakan kayu penyangga, gua ini tetap dijaga dengan baik oleh Kuil dan disebut Gua Suci Nichiren.

7. Myokendo

Myoken adalah seorang bodhisattva Dipper atau Bodhisattva Sudrsti (skt). Pada masa lalu, para navigator mempercayai Dipper seperti sebuah kompas, setelah para pedagang mendapatkan keuntungan melalui transportasi laut, maka mereka mulai memuja Dipper sebagai dewa atau bodhisattva perjalanan atau disebut Myoken Bosatsu. Myoken juga dihormati sebagai dewa penyembuhan. Bodhisattva ini sudah ada lama sebelum Nichiren, oleh karena itu Myoken juga sangat dekat hubungannya dengan Kuil sekte Nichiren.

8. Loksasi Pelaksanaan Hukuman.

Lokasi ini adalah sebuah tanah lapang terletak disebelah kiri gerbang bagian depan. Disini pernah dilaksanakan hukuman pancung bagi leibh dari sepuluh ribu penjahat berabad-abad yang lalu. Sebuah Gorinto ( menara lima unsur) telah disumbangkan oleh para pengikut Nichiren untuk memperingati peristiwa Hukuman pancung Nichiren (Tatsunokuchi)

Acara Tahunan

Upacara peringatan untuk Nichiren dilakukan setiap tanggal 11-13 september setiap tahunnya. Kuil menyediakan makanan berupa kue beras dengan wijen kepada para pengunjung, sebagai sebuah tanda peringatan untuk Bhiksuni Joeiji, yang pernah memberikan kue yang sama kepada Nichiren dalam perjalanannya menuju lokasi hukuman pancung. Kue ini disebut Botamochi di Jepang dan pada umumnya berisi kacang manis. Bagaimanapun, kue ini tidak mengunakan gula tetapi hanya wijen, hal ini sama seperti ketika Bhiksuni Joeiji memberikan kue tersebut kepada Nichiren. Menurut sejarah ketika bhiksuni ini memberikan Botamochi nya kepada Nichiren, tidak ada tempat untuk menaruh kue tersebut. Sehingga ia mengunakan pot masaknya atau Nabebuta. Melihat hal tersebut, Nichiren mengukir sebuah mandala diatas penutup kayu yang keras, yang kemudian hari ini dikenal dengan sebutan "Nabebuta mandala" dan telah dijaga sebagai pusaka dari kuil.

Catatan:

• Ketika meletusnya Perang Pacific pada tahun 1941, pemerintah memerintahkan agar seluruh rakyatnya termasuk kuil untuk menyumbangkan perunggu atau besi untuk membantu produksi senjata. Bel dari kuil ini juga turut disumbangkan. Bel yang saat ini telah dibuat kembali setelah perang.
• Disekitar kuil ini terdapat delapan sub sekte Nichiren dan para bhiksu dari sub sekte ini telah menjaga kuil ini secara bergantian sampai tahun 1886. Dengan kata lain, Kuil ini tidak mempunyai kepala Bhiksu sendiri sepanjang masa Edo (1603-1868). Diantara kuil keci itu adalah Joryuji yang berada dibelakang kuil, dimana terdapat sebuah tugu peringatan atas kematian utusan mongol yang dihukum pancung disini pada tahun 1275. Mereka datang ke Jepang berdasarkan perintah Kublai Khan, penguasa Mongol ( 1215-1294), cucu lelaki dari Genghis Khan, penguasa Mongol (1167-1227), dan Jepang ini dijadikan daerah taklukan. Tokimune Hojo, Bupati ke delapan Hojo, tidak hanya menolak tawaran itu, tetapi juga membunuh utusan tersebut.
• Di dalam Enoshima pantai didekatKuil, terdapat salah satu dari tiga tempat suci Benten paling besar (Sarasvati, skt.) di Jepang; percaya atau tidak, pulau dijuluki “Gunung St.Michel Jepang” dan pantai itu dijuluki “Miami Asia” oleh penduduk setempat.
• Daerah tempat kuil ini berada disebut Tatsunokuchi atau Mulut Ular naga. Mencakupi bukit yang kelihatan seperti seekor ular naga dan lokasi kuil seperti mulut ular naga itu. Oleh karena itu Mulut Ular Naga dalam bahasa China, dan Jepang disebut “Tatsunokuchi" atau "Ryuko" dan sama seperti nama Ryukoji. Untuk ke kuil ini anda dapat berjalan kaki tidak terlalu jauh, jika anda berhenti di stasiun Fujisawa melalui jalur JR Tokaido dan pindah ke jalur kereta Enoshima Odakyu dan berhenti di stasiun Enoshima dan dari sana berjalan kaki 10 menit lamanya. Atau dari stasiun Ofuna JR's dan pindah ke jurusan kereta ke Enoshima dengan kereta Shonan Mono-Rail, yang mana stasiun Enoshima adalah sangat dekat dengan kuil.

 
Kuil tampak dari bagian depan
 
Goa Suci Nichiren
 
Aula Utama Hondo
 
Pagoda Lima Tingkat
 
Tempat Suci Shichimen Daimyojin
 
Bussharito atau stupa Buddha
     
**klik gambar untuk melihat gambar yang lebih besar