Ringkasan Sejarah
Tanah tempat kuil ini berdiri pada jaman dulu adalah tempat untuk
pelaksanaan hukuman mati bagi para penjahat pada masa periode
Kamakura ( 1185-1333), dan monumen untuk peringatan mengenai itu
berdiri disebelah kiri dari pintu gerbang kuil bagian luar. Nichiren
( 1222-1282), pendiri Nichiren Shu, sewaktu di Kamakura pernah
tinggal disini selama 20 tahun dan bergiat untuk penyebaran Buddhisme,
yang menekankan pentingnya Saddharma Pundarika Sutra. Penyebaran
Saddharma Pundarika Sutra menjadi sangat keras karena Beliau sering
melakukan kritik terhadap doktrin berbagai sekte. Kritiknya yang
keras tidak hanya menimbulkan permusuhan dari kalangan sekte Buddhis
lainnya tetapi juga dari pemerintah Shogun. Sebagai hasilnya,
Beliau harus mengalami empat kali penganiayaan selama berada di
Kamakura, dan terakhir kalinya Ia akan dihukum mati dengan dipancung
pada tahun 1271 ketika Shogun tidak bisa menerima ajaran yang
dibabarkannya.
Pada tanggal 12 september 1271, Nichiren dibawa kedaerah ini untuk
pelaksanaan hukuman mati (Sekarang tanah tempat berdirinya Kuil).
Tak seorangpun meragukan bahwa ia pasti akan mati pada saat itu.
Tetapi, ketika algojo akan memancung leherNya dengan pedang, menurut
sejarah terjadilah sebuah peristiwa yang mengemparkan yaitu terdengar
suara guntur yang luar biasa kerasnya mengetarkan seluruh daerah
tersebut disertai kilat yang menyambar, akibatnya sang algojo
sangat terkejut dan takut untuk memenggal leher Nichiren. Semua
orang terkejut akan keajaiban yang terjadi dan mereka memperkirakan
bahwa semua ini terjadi karena Nichiren. Seorang kurir dikirim
ke kantor Shogun untuk memberitahukan kejadian itu. Ketika mereka
berangkat ke daerah itu melalui sungai Yukiai, yang berjarak 2.000
meter dari sebelah timur kuil, mereka bertemu dengan seorang utusan
dari Tokimune Hojo (1251-1284), yang merupakan Bupati Wilayah
Delapan. Pesuruh bupati tersebut ingin menyampaikan agar pelaksanaan
hukuman itu jangan dilaksanakan, dan secara kebetulan bertemu
dengan kelompok dari keshogunan. Oleh karena itu sungai tersebut
diberi nama "Yukiai-gawa," atau Sungai Bertemu.
Pelaksanaan hukum mati ditiadakan, sebagai gantinya, Nichiren
akhirnya diasingkan ke Pulau Sado, yang merupakan daerah pantai
Propinsi Niigata (Beberapa orang mengatakan bahwa sang bupati
memberikan pengampunan itu karena istrinya sedang dalam keadaan
hamil)
Enam puluh enam tahun kemudian, seorang bhiksu
bernama Nippo, bhiksu Nichiren Shu datang ketempat bersejarah ini,
dan membuat sebuah kuil untuk memperingati Nichiren, dimana dalam
kuil ini ditempatkan sebuah rupang Nichiren yang ia ukir sendiri.
Pada mulanya kuil ini hanya kecil saja, tetapi akhirnya mendapatkan
dukungan yang luar biasa dari masyarakat dan akhirnya bangunan kuil
terus diperluas dan diperindah. Tetapi pada tahun 1923, sebuah gempa
bumi besar terjadi di daerah Kanto yang menghancurkan semua bangunan
kuil, aula dan pagoda lima tingkat. Semua orang akhirnya bersatu
padu membangun kembali kuil ini. Kuil ini tergolong satu diantara
44 Kuil yang terpenting dari Nichiren Shu.

Diagram Ryuko-ji
1. Hondo atau Aula Utama,
juga disebut Shikigawa-do
Aula utama kuil saat ini berukuran 29 x 32 meter, dibangun kembali
pada tahun 1818 dan salah satu yang paling besar di Kamakura. Shikigawa
menyumbangkan sebuah karpet yang terbuat dari kulit yang diatasnya
terdapat rupang Nichiren yang sedang menunggu pelaksanaan hukuman
mati. Sejak Bhiksu Nippo membangun kuil ini maka tempat ini disebut
shikigawa-do. Pada saat sekarng, batu untuk memperingati Shikigawa
itu diletakkan dibagian tengah aula sebagai bentuk penghargaan kepadanya.
Berbeda dengan kuil lain seperti Zen, didalam aula utama Kuil Nichiren
Shu terdapat banyak hiasan yang menghiasi langit-langit maupun struktur
lainnya, hiasan itu diukir oleh orang-orang yang menghormati Nichiren.
Pada altar utama terdapat sebuah stupa Odaimoku yang mengukir aksara
Namu Myoho Renge Kyo disamping kelompok rupang lainnya, ini adalah
ciri khas dari semua Kuil Nichiren Shu. Didalam sebuah ruangan yang
lebih kecil terdapat enam buah rupang dari Enam Murid Utama Nichiren.
Tidak sama dengan kuil Nichiren Shu lainnya, pintu kuil ini selalu
terbuka dan pengunjung dapat masuk kedalam aula utama dan jika terdapat
upacara sembahyang dapat melihat secara dekat semua rupang yang
ada.
2. Pagoda Lima Tingkat
Bagian sebelah kanan dari bangunan aula utama atau sekitar lima
puluh langkah terdapat sebuah Pagoda. Ini adalah satu-satunya pagoda
yang ada di Propinsi Kanagawa yang dibangun pada tahun 1910 oleh
seorang arsitek yang khusus menangani bangunan kuil dan tempat suci
dan merupakan sebuah perusahaan kontruksi yang terkemuka di Jepang
pada saat sekarang ini. Pagoda ini dibuat dari kayu pohon keyaki
zelkova dan pagoda ini selamat dari bencana gempa bumi besar di
Kanto yang terjadi pada tahun 1923. Bangunan Pagoda pada awalnya
adalah bangunan suci bagi para penganut Hindu di India.
Pagoda Jepang sejak dulu terkenal mempunyai kemampuan
tahan terhadap gempa bumi dan para sarjana saat sekarang mengalami
kebingungan akan hal ini, mengapa bangunan kayu tinggi ini dapat
begitu stabil. Diseluruh Jepang, terdapat kurang lebih 500 pagoda
yang dibangun berabad-abad lalu, dan sering diguncang oleh gempa
bumi, dan hanya sedikit diantaranya yang roboh. Beberapa diantaranya
seperti, Pagoda Toji yang terletak didekat stasiun Kyoto, mempunyai
ketinggian 55 meter dan yang paling tinggi, berdiri tahun 1644.
Pagoda Horyuji di Nara dibangun pada tahun 607 dan merupakan bangunan
kayu yang paling tua strukturnya di dunia.
Sedangkan pagoda China kebanyakan terbuat dari
batu, Jepang membangun pagoda dengan bahan kayu dan desain mereka
sendiri. Mereka memperluas bagian atapnya dan didalam pagoda itu
tidak terdapat tangga yang menghubungkan antara satu lantai dengan
lantai lainnya.
Pagoda di kuil ini, rupang Nichiren dan beberapa
orang lainnya diabadikan ditempat ini, dan terletak dilantai dasar.
3. Tempat suci Shichimen
Daimyojin
Berjarak 80 langkah dari sisi sebelah kiri aula utama terdapat sebuah
tempat suci shinto yang disebut Shichimen Daimyojin. Ini adalah
dewa pelindung kuil dan sebuah contoh penyatuan kepercayaan yang
khas di Jepang. Shichimen Daimyojin adalah juga dewa pelindung Kuil
Kuon-ji yang berada di Propinsi Yamanashi, kuil pusat dari Nichiren
Shu, dan oleh karena itu ini adalah merupakan bagian darinya.
Sejarah mengatakan bahwa terdapat seorang wanita
muda yang berpakaian indah sering terlihat dimanapun ketika Nichiren
sedang membabarkan Saddharma Pundarika Sutra, ketika berada di Kuil
Kuonji dan dengan bersemangat mendengarkan penjelasan Beliau. Suatu
hari, Nichiren bertanya kepada wanita muda tersebut, siapakah dia?
Kemudian dia mengatakan bahwa ia adalah dewi yang tinggal di sebuah
kolam dekat Gunung Shichimen dan datang dengan maksud untuk mendapatkan
keselamatan dari segala perbuatan buruk dan penderitaannya dengan
mendengarkan Saddharma Pundarika Sutra. Sesungguhnya, Nichiren telah
mengenal dia, karena pada suatu saat, Nichiren menaruh sebuah pot
bunga didepannya dan bayangan yang terpantul didalam pot bunga itu
adalah sebuah ular naga berwarna merah. Nichiren kemudian meminta
ia untuk kembali ke kolam tempat asalnya dan meminta ia untuk menjadi
dewa pelindung Kuil Kuonji, Gunung Minobu. Dia pun pada akhirnya
kembali ke tempatnya semula dan sejak saat itu Ia atau ular naga
merah itu menjadi dewa pelindung Kuil Kuon-ji, dan menjaga bagian
barat daya (yang dipercaya sebagai pintu Gerbang Setan) dari Kuil.
4. Bussharito atau stupa
Buddha
Berada dibagian lebih tinggi dari Shichimen Daimyojin, disebuah
tempat dikelilinggi hutan, tempat ini sangat baik untuk memandang
ke arah laut, disini terdapat sebuah Bussharito putih, yang dibangun
pada bulan Juli 1970 oleh Nittatsu Fujii ( 1885-1984), seorang pengikut
Nichiren Shu yang sangat kaya, ini dibangun untuk memperingati hari
ulang tahun ke-700 dari Nichiren. Bentuk stupa ini mengunakan model
Siam / Thailand. Busshari secara harafiah berarti barang peninggalan
atau abu Buddha dan Bussharito adalah sebuah stupa untuk menyimpan
Busshari.
Pada bagian selatan yang menghadap ke arah Enoshima
terdapat sebuah areal yang sangat indah. Pada tahun 1919, Iso Mutsu
( 1867-1930), seorang perempuan asl Inggris yang menikah dengan
seorang diplomat Jepang, mengemukakan akan kecantikan daerah Kamakura
ini dalam bukunya “Fakta dan Legenda”: tanah yang membentang
luas yang meliputi bukit-bukit yang indah begitu luas dan berwarna
warni seakan memamerkan keindahannya. Enoshima yang hijau membentang
bagaikan permata diatas lautan biru yang membentang, ditaburi perahu-perahu
dan kapal-kapal yang tak terbilang menaklukan ombak, sebuah pemandangan
pergunungan yang indah tak terputus-putus, yang dengan tenang mempesona,
begitu romantisnya. Jauh berbeda dengan keadaan saat sekarang ini,
bukit-bukit yang berselimut hijau berlawanan dengan pantai Enoshima
yang indah, tetapi terdapat begitu banyak bangunan berjejer dengan
kontruksi yang jelek dan Gunung Fuji diselimuti oleh polusi yang
semakin tebal
5. Daisho-in atau Ruang
Tamu.
Menghubungkan antara tempat ini dengan Aula Utama terdapat sebuah
koridor kayu. Bangunan yang digunakan ini disebut "Sericulture
Istana" yang terletak di Propinsi Nagano. Melalui sumbangan
dari para pengikut Nichiren, istana ini telah dipindahkan ke sini
pada tahun 1923, tidak lama sesudah terjadinya gempa bumi Kanto.
6. Gua Suci Nichiren.
Pada malam hari sebelum Nichiren menjalani hukuman pancung pada
tanggal 12 September 1271, ia bermalam di dalam gua ini, yang terletak
7 meter dari tebing curam disebelah barat daya dari tempat ini.
Mengunakan kayu penyangga, gua ini tetap dijaga dengan baik oleh
Kuil dan disebut Gua Suci Nichiren.
7. Myokendo
Myoken adalah seorang bodhisattva Dipper atau Bodhisattva Sudrsti
(skt). Pada masa lalu, para navigator mempercayai Dipper seperti
sebuah kompas, setelah para pedagang mendapatkan keuntungan melalui
transportasi laut, maka mereka mulai memuja Dipper sebagai dewa
atau bodhisattva perjalanan atau disebut Myoken Bosatsu. Myoken
juga dihormati sebagai dewa penyembuhan. Bodhisattva ini sudah ada
lama sebelum Nichiren, oleh karena itu Myoken juga sangat dekat
hubungannya dengan Kuil sekte Nichiren.
8. Loksasi Pelaksanaan
Hukuman.
Lokasi ini adalah sebuah tanah lapang terletak disebelah kiri gerbang
bagian depan. Disini pernah dilaksanakan hukuman pancung bagi leibh
dari sepuluh ribu penjahat berabad-abad yang lalu. Sebuah Gorinto
( menara lima unsur) telah disumbangkan oleh para pengikut Nichiren
untuk memperingati peristiwa Hukuman pancung Nichiren (Tatsunokuchi)
Acara Tahunan
Upacara peringatan untuk Nichiren dilakukan setiap
tanggal 11-13 september setiap tahunnya. Kuil menyediakan makanan
berupa kue beras dengan wijen kepada para pengunjung, sebagai sebuah
tanda peringatan untuk Bhiksuni Joeiji, yang pernah memberikan kue
yang sama kepada Nichiren dalam perjalanannya menuju lokasi hukuman
pancung. Kue ini disebut Botamochi di Jepang dan pada umumnya berisi
kacang manis. Bagaimanapun, kue ini tidak mengunakan gula tetapi
hanya wijen, hal ini sama seperti ketika Bhiksuni Joeiji memberikan
kue tersebut kepada Nichiren. Menurut sejarah ketika bhiksuni ini
memberikan Botamochi nya kepada Nichiren, tidak ada tempat untuk
menaruh kue tersebut. Sehingga ia mengunakan pot masaknya atau Nabebuta.
Melihat hal tersebut, Nichiren mengukir sebuah mandala diatas penutup
kayu yang keras, yang kemudian hari ini dikenal dengan sebutan "Nabebuta
mandala" dan telah dijaga sebagai pusaka dari kuil.
Catatan:
• Ketika meletusnya Perang Pacific pada tahun
1941, pemerintah memerintahkan agar seluruh rakyatnya termasuk kuil
untuk menyumbangkan perunggu atau besi untuk membantu produksi senjata.
Bel dari kuil ini juga turut disumbangkan. Bel yang saat ini telah
dibuat kembali setelah perang.
• Disekitar kuil ini terdapat delapan sub sekte Nichiren dan
para bhiksu dari sub sekte ini telah menjaga kuil ini secara bergantian
sampai tahun 1886. Dengan kata lain, Kuil ini tidak mempunyai kepala
Bhiksu sendiri sepanjang masa Edo (1603-1868). Diantara kuil keci
itu adalah Joryuji yang berada dibelakang kuil, dimana terdapat
sebuah tugu peringatan atas kematian utusan mongol yang dihukum
pancung disini pada tahun 1275. Mereka datang ke Jepang berdasarkan
perintah Kublai Khan, penguasa Mongol ( 1215-1294), cucu lelaki
dari Genghis Khan, penguasa Mongol (1167-1227), dan Jepang ini dijadikan
daerah taklukan. Tokimune Hojo, Bupati ke delapan Hojo, tidak hanya
menolak tawaran itu, tetapi juga membunuh utusan tersebut.
• Di dalam Enoshima pantai didekatKuil, terdapat salah satu
dari tiga tempat suci Benten paling besar (Sarasvati, skt.) di Jepang;
percaya atau tidak, pulau dijuluki “Gunung St.Michel Jepang”
dan pantai itu dijuluki “Miami Asia” oleh penduduk setempat.
• Daerah tempat kuil ini berada disebut Tatsunokuchi atau
Mulut Ular naga. Mencakupi bukit yang kelihatan seperti seekor ular
naga dan lokasi kuil seperti mulut ular naga itu. Oleh karena itu
Mulut Ular Naga dalam bahasa China, dan Jepang disebut “Tatsunokuchi"
atau "Ryuko" dan sama seperti nama Ryukoji. Untuk ke kuil
ini anda dapat berjalan kaki tidak terlalu jauh, jika anda berhenti
di stasiun Fujisawa melalui jalur JR Tokaido dan pindah ke jalur
kereta Enoshima Odakyu dan berhenti di stasiun Enoshima dan dari
sana berjalan kaki 10 menit lamanya. Atau dari stasiun Ofuna JR's
dan pindah ke jurusan kereta ke Enoshima dengan kereta Shonan Mono-Rail,
yang mana stasiun Enoshima adalah sangat dekat dengan kuil. |