KESIMPULAN
Bodhisattva Samantabadra sedang melihat dan mendengarkan Sang Buddha Sakyamuni membabarkan Saddharma Pundarika Sutra di Gunung Grdhrakuta. Ia ingin berbicara langsung dengan Sang Buddha, jadi Ia datang dari Dunia lain disebelah Timur dengan ratusan dan ribuan Bodhisattva lainnya dan bertanya kepada Sang Buddha Bagaimana cara memperoleh ajaran Saddharma Pundarika Sutra setelah kemoksaanNya. Sang Buddha berkata kepadanya bahwa orang harus melakukan Empat Hal Penting sebellum mendapatkan Sutra ini pada masa mendatang. Bab ini adalah bagian kesimpulan dan ulasan dari Saddharma Pundarika Sutra.
PENJELASAN
"Kemudian, Bodhisattva Samantabadra yang terkenal karena segala kebajikan dan kekuatan supranaturalnya yang tanpa tandingan, datang dari sebuah dunia yang terletak jauh diantara dunia-dunia disebelah timur dunia saha ini. Ia ditemani oleh para Bodhisattva yang tak terhingga dan tak terhitung jumlahnya. (P. 336, L.4.):
Bodhisattva Samantabadra datang ke dunia saha ini untuk mendengarkan dan menerima Saddharma Pundarika Sutra. Ia tidak pernah muncul dibab-bab sebelum ini; bagaimanapun, Bodhisattva ini dan Bodhisattva Manjusri adalah dua orang pendamping dari Buddha Sakyamuni. Manjusri telah hadir di Gunung Grdhrakuta dari awal untuk mendengarkan pembabaran Sang Buddha tentang Saddharma Pundarika Sutra. Bodhisattva Samantabadra adalah unggul dalam Teori / Pengetahuan dan Manjusri adalah Kebijaksanaan. Bodhisattva Samantabadra duduk disebelah kanan dan Manjusri disebelah kiri. Jika menghadap ke Gohonzon, maka nama dari Bodhisattva Samantabadra terletak di sebelah kiri dari “HO” dari Namu Myoho Renge Kyo,” dan sedangkan Manjusri di sebelah kanan. Kenapa Bodhisattva Samantabadra datang dari jauh, muncul di dunia untuk mendengarkan Saddharma Pundarika Sutra ? Ini sebagai bukti bahwa Sutra ini tidak hanya bagi orang-orang di dunia saha tetapi juga bagi seluruh mahluk hidup di alam semesta.
"Beritahu saya bagaimana para putra putri yang baik yang hidup setelah kemoksaanMu dapat memperoleh Saddharma Pundarika Sutra ini!” (P.336, L.23.):
Bodhisattva Samantabadra bertanya kepada Sang Buddha, “Bagaimana orang-orang setelah kemoksaan Sang Buddha dapat mendengar dan mengerti jiwa dari Saddharma Pundarika Sutra?”
"Jika mereka melakukan Empat Hal Penting ini: 1. Mendapatkan Perlindungan para Buddha, 2.Menanam akar kebajikan, 3. Mempunyai Keteguhan hati, 4. Menyelamatkan semua mahluk hidup. Para putra putri yang baik akan mendapatkan Sutra ini setelah kemoksaanKu jika mereka melakukan keempat hal tersebut. " (P.336, L.28.):
Buddha Sakyamuni menjawab Bodhisattva Samantabadra tentang Empat Hal yang harus dilakukan, sebagai berikut :
- Kita harus percaya bahwa para Buddha dan dewa-dewi selalu melindungi kita. Ini adalah karena welas asih dari Sang Buddha.
- Kita harus melaksanakan prilaku berbudi luhur dan melakukan perbuatan baik tanpa pamrih. Ini berarti kita harus melakukan perbuatan baik meskipun tidak seorangpun melihat kita atau memuji kita. Buddha selalu mengawasi kita.
- Kita harus mempunyai hati kepercayaan yang kuat. Jika kita mempunyai hati kepercayaan yang kuat, kit tidak bimbang dalam pikiran jika seseorang mengancam hidup kita seperti halnya ancaman yang didapat oleh Nichiren Daishonin.
- Kita harus berusaha untuk menyelamatkan seluruh mahluk hidup dengan kebajikan yang mencakupi seluruh binatang, tanaman dan lingkungan.
Jika kita melakukan ke Empat Hal pelaksanaan ini, kita akan dapat mencapai KeBuddhaan setelah kemoksaan Sang Buddha Sakyamuni. Ketika kita dapat mempercayai diri kita maka “Kita dapat menjadi Buddha.” Kita akan mendapatkan Saddharma Pundarika Sutra. Buddha Abadi selalu melindungi kita dimanapun kita berada, jadi kita dapat melakukan kebajikan meskipun tidak seorang pun yang mengawasi kita. Sebab kita percaya, kita mempunyai hati kepercayaan yang kuat dan berusaha untuk menolong orang lain dan menyelamatkan seluruh mahluk hidup.
“Jika seseorang yang menjaga Sutra didunia kotor pada 500 tahun setelah kemoksaanMu, Aku akan melindungi mereka sehingga mereka terbebas dari segala masalah, mereka menjadi damai dan tidak seorang pun dapat mengambil kesempatan dari kelemahan mereka. " (P.337, L.6.):
Bodhisattva Samantabadra berjanji kepada Sang Buddha bahwa Ia akan melindungi orang-orang yang melaksanakan Saddharma Pundarika Sutra khususnya pada masa Mappo. Terdapat Tiga masa setelah kemoksaan Sang Buddha, yaitu masa Shobo, Zobo dan Mappo. Masa Shobo dibagi menjadi dua: yang pertama, lima ratus tahun pertama dan lima ratus tahun kedua setelah kemoksaan Sang Buddha. Periode ini adalah dimana hukum yang benar dari Sang Buddha, pelaksanaan dan pencapaian penerangan bagi semua orang. Zobo juga dibagi menjadi dua: lima ratus ketiga dan lima ratus tahun keempat setelah kemoksaan Sang Buddha. Pada masa ini adalah periode dari hukum palsu meskipun masih terdapat sisa-sisa ajaran dan pelaksanaan, tetapi tidak ada seorang pun yang dapat mencapai Penerangan. Inilah sebabnya mengapa disebut Hukum Palsu. Mappo adalah mencakupi masa 10 ribu tahun setelah masa pertama dan kedua tadi telah berakhir. Priode ini ajaran itu sendiri masih ada, tetapi tidak ada pelaksanaan dan penerangan. Oleh karena itu istilah”Lima Ratus Tahun setelah kemoksaan” berarti adalah masa Mappo, masa dimana kita sekarang hidup.Setelah banyak benda-benda peninggalan Buddhis atau monumen ditemukan oleh apra arkeolog, orang buddhis berpikir bahwa era mappo dimulai pada tahun 1052, orang-orang mengharapkan dapat dilahirkan di Tanah Suci Buddha Amitabha sebab mereka mengatakan bahwa tidak ada keselamatan di dunia saha ini, jadi sekte Nembutsu menjadi cepat berkembang.Sebaliknya, Saddharma Pundarika Sutra dan citra dari Buddha Sakyamuni telah musnah diseluruh Jepang. Ketika Nichiren dibuang ke semenanjung Izu, Ia menerima sebuah rupang Buddha Sakyamuni dari Tuan Izu sebagai bentuk penghargaan kepada Nichiren, atas kesembuhan dirinya dari sakit. Rupang ini diberikan oleh seorang nelayan kepada Tuan Izu, yang mana nelayan itu menemukan rupang ini didalam perut Ikan yang ditangkap di laut.Karenanya, di era inilah, Bodhisattva Samantabadra berjanji untuk melindung mereka yang menjaga Saddharma Pundarika Sutra.
“Kemudian Ia mengucapkan mantra dihadapan Sang Buddha: “Atandai, tandahatai, tandahatei, tandakusahrei, tandashudarei . . ." (P.338, L.9.):
Bodhisattva ini memberikan 20 aksara dharani untuk para pelaksana dari ajaran Saddharma Pundarika Sutra: “Atandai, tanda-hatai, tanda-kusharei, tanda-shudarei, shudarei, shudara-hachi, botsuda-hasennei, . . .
"Seseorang yang menjaga, membaca, dan menerima Saddharma Pundarika Sutra ini, mengingatnya dengan baik, mempelajarinya, melaksanakan, dan menyalinnya, dipastikan akan melihat dan mendengarkan sutra ini dari mulutKu.Ia telah dianggap memberikan persembahan kepadaKu. Ia telah mendapatkan pujian dariKu dengan kata “Bagus!” (P.339, Last paragraph.):
Ini adalah kata-kata yang ditujukan oleh Sang Buddha Sakyamuni kepada kita. Ia memuji kita dengan kata,”Bagus, Bagus !”
"Seseorang yang menjaga, membaca dan menerima sutra ini, dan mengerti akan maknanya, akan disambut dan ditolong oleh tangan dari seribu Buddha segera setelah hidupnya berakhir. Ia tidak akan merasa takut. Ia tidak akan jatuh ketempat iblis manapun juga. Ia akan terlahir di Surga Tusita.” (P.339, L.6.):
Ini adalah kepercayaan kita yang menyebut Odaimoku, akan meninggal dalam kedamaian dan ribuan Buddha akan datang untuk kita, memegang tangan kita dan membimbing kita ke Surga Tusita dimana Bodhisattva Maitreya sedang menunggu untuk menjadi Buddha yang akan datang di dunia. Kita akan terlahir kembali bersama Buddha tersebut.Nichiren Daishonin juga berjanji bahwa tidak ada sesuatu apapun yang perlu ditakutkan dalam kematian. Ia menulis surat balasan keapda Tuan Matsuno sebagai berikut:“Jadi teruslah menyebut ‘Namu Myoho Renge Kyo' sampai kematianmu. Adalah sangat menarik untuk mendaki keatas puncak gunung Penerangan Agung dan melihat kesekitarnya. Disana, langit dan bumi adalah Tanah Cahaya Kedamaian. Bumi yang ditutupi oleh batu merah delima, dan jalanan yang ditandai dengan teli temali keemasan. Empat jenis bunga seperti Mandara dan Manjushage, turun dari surga, musik yang indah terdengar di udara, dan angin dari Empat Kebajikan; Paramita- Keabadian, Pencerahan, Kemurnian bertiup dengan lembut. Disini, semua para Buddha dan Bodhisattva hidup dengan penuh kesenangan. Kita akan segera bergabung bersama mereka dan menikmati kehidupan surgawi. Adalah hal yang tidak mungkin pergi kesana sebuah tempat yang luar biasa dengan hati kepercayaan yang lemah.”
~ Namu Myohorengekyo ~