BAB XXVII
RAJA CAHAYA GEMILANG

 

RINGKASAN

Bab ini membabarkan tentang cerita dua orang anak yang berusaha membawa ayah dan ibu mereka kepada Buddha Dharma dan Saddharma Pundarika Sutra. Sangat sulit untuk membawa keluarga atau anggota keluarga kita untuk percaya dalam Dharma, karena mereka mengetahui semua tentang kita, luar dan dalam. Oleh karena itu, kata-kata mungkin tidak berguna untuk mereka tetapi tindakan atau pelaksanaan dari kita. Kedua anak itu menunjukkan kekuatan gaib mereka kepada ayah mereka untuk menarik perhatiannya.

PENJELASAN

"Dibawah Buddha Galadharagargitaghoshasusvaranaks Hatraragasankusumitabhigna, hiduplah seorang Raja yang disebut Subavyuha. Istrinya bernama Vimaladatta. Mereka mempunyai dua orang anak, Vimalagarbha dan Vimalanetra. Kedua anak itu memiliki kekuatan gaib yang luar biasa, kebajikan, jasa dan kebijaksanaan." (P.330, L.9.):

Buddha Sakyamuni memberitahukan cerita berikut ini:

"Pada suatu masa yang lalu, terdapat seorang Raja yang disebut Subavyuha dan permaisuri bernama Vimaladatta. Mereka mempunyai dua orang anak, Vimalagarbha dan Vimalanetra. Mereka melaksanakan Buddhisme dalam beberapa tahun. Mereka melaksanakan Tujuh Paramita (Memberi, Menjaga Ajaran, ketekunan, meditasi, kebijaksanaan dan kewajaran). Anak-anak itu juga telah mencapai Empat Tingkatan Pikiran (Welas Asih, Cinta Kasih, Kegembiraan dan Tidak membeda-bedakan).

"Kedua anak itu, Vimalagarbha dan Vimalanetra, datang ke ibu mereka, mengatupkan kesepuluh jari dan telapak tangan, dan berkata ‘Ibu! Mari pergi ke Buddha Galadharagargitaghoshasusvaranaks Hatraragasankusumitabhigna.  Kita juga akan pergi kesana, mendekati, membuat persembahan dan memuja Beliau karena telah membabarkan Saddharma Pundarika Sutra, Dharma Yang Luar Biasa.” (P.331, L.1.):

Kedua anak itu berusaha mengajak ibunya untuk mendengarkan pembabaran Buddha tentang Saddharma Pundarika Sutra. Ia kemudian menjawab, “Ya, aku mau. Tetapi ayah kalian terlalu percaya dalam Brahmaisme. Pergilah beritahukan dia untuk bergabung bersama kita.” Ini adalah sangat sulit untuk mengajak anggota keluarga yang lain, jika mereka mempunyai kepercayaan pada ajaran lain.

Kenji Miyazawa (1896-1933) seorang penulis puisi yang banyak menulis puisi dan cerita yang didasarkan pada ajaran Saddharma Pundarika Sutra. Ketika ia akan meninggal pada usia 36 tahun, ia berkata kepada orangtuanya yang punya kepercayaan kepada sekte Tanah Suci. “Saya sungguh minta maaf meninggal sebelum kamu, dan saya tidak dapat membayar budimu kepada saya, tetapi saya akan membayar budi mu dalam kehidupan selanjutnya dan selanjutnya. Tolong panggil saya dengan menyebut Odaimoku "Namu Myoho Renge Kyo" setelah kematianku.” Kemudian, ia meminta orangtuanya untuk menyebut Odaimoku untuk dapat berkomunikasi dengannya dialam lain. Ia juga meminta orangtuanya untuk menyebarluaskan 100 salinan Saddharma Pundarika Sutra (dalam bahasa Jepang) dan diberikan kepada saudara dan teman agar mempunyai hubungan atau "en" dengan sutra ini.

"Setelah itu, kedua anak itu terbang keatas langit sebanyak tujuh kali setinggi pohon tala, dan mempertunjukkan berbagai macam keajaiban karena mereka memikirkan ayah mereka. Mereka berjalan, berdiri, duduk dan berbaring diangkasa biru. Kemudian mereka mengeluarkan air dari bagian atas tubuh mereka, dan api dari bagian bawah." (P.331, L.18.):

Mereka mempertunjukkan segala macam keajaiban ini untuk ayah mereka karena ibu mereka memberikan ijin untuk itu, mereka berusaha merubah pikiran ayahnya dan mengajak mereka pergi kehadapan Sang Buddha.

Untuk memperoleh berbagai jenis keajaiban ini bukanlah tujuan dari Buddhisme, walaupun beberapa yogi mampu melakukannya. Keajaiban yang dipertunjukkan kedua anak ini melambangkan bahwa kita melakukan sesuatu yang berbeda untuk menarik perhatian orang lain. Sebagai contoh, jika kamu terus menerima sebuah bab dari sutra dan menyebut Odaimoku setiap hari tanpa lalai, karakter kamu akan secara alami berubah dan kamu akan semakin meningkat setiap harinya. Perubahan ini adalah bentuk keajaiban lainnya.

"Melihat segala bentuk keajaiban yang ditunjukkan oleh kekuatan gaib dari anaknya, ayahnya menjadi sangat gembira yang belum pernah ia peroleh. Ia mengabungkan kedua tangan memuja kedua anaknya yang tinggal di langit dan berkata, ‘siapakah guru kalian?” (P.331, L.31.):

Kedua anak itu melaksanakan Samadhi (konsentrasi pikiran pada objek tertentu) hanya untuk diri mereka, jadi ini adalah pertama kalinya ia melaksanakan samadhi untuk orang lain. Mereka mempengaruhi ayahnya untuk tertarik pada suatu ajaran yang berbeda, Buddha Dharma.  Jadi ia berkata kepada mereka, "Saya juga ingin melihat guru kalian. Saya akan pergi bersama kalian.”

"Luar biasa, ayah dan ibu! Pergilah ke Buddha Galadharagargitaghoshasusvaranaks Hatraragasankusumitabhigna, temui dia, dan buat persembahan kepadanya, sebab untuk dapat bertemu dengan seorang Buddha adalah sangat sulit bagaikan Bunga udumbara atau bagaikan kura-kura mata satu yang berusaha menemukan lubang diatas kayu ditengah lautan!" (P.332, L.25.):

Udumbara adalah nama pohon legenda yang hanya berbunga sekali dalam tiga ribu tahun. Ia sering ditemukan dalam tulisan Buddhis, sebagai pertanda sesuatu yang sulit dan jarang. Ini juga sering kita temukan tentang kura-kura mata satu yang mencari lubang diatas kayu yang terapung disamudera. Kemudian adalah juga sangat jarang dapat ketemu seorang Buddha. Seorang Buddha pernah wujud secara utuh didunia ini, sekitar 2,500 tahun yang lalu, Buddha Sakyamuni. Dikatakan bahwa Buddha akan datang setelah Sakyamuni adalah Maitreya, akan muncul didunia ini lima juta enam ratus dan tujuh puluh juta tahun setelah meninggalnya Sakyamuni. Jadi kita harus terlahir kembali dalam jumlah tak terbatas untuk bertemu dengan seorang Buddha secara fisik.

"Kemudian Raja Subhavyuha, Ratu Vimaladatta, dan kedua anaknya datang kehadapang Sang Buddha. Sang raja ditemani oleh para menteri dan pengikut; ratu ditemani para dayang dan pengikut; dan anak mereka ditemani oleh dua puluh dua ribu pengikut. " (P.333, L.13.):

Raja, ratu dan pangeran dengan para menteri dan pengikut datang dihadapan Sang Buddha. Kemudian Sang Buddha membabarkan Saddharma Pundarika Sutra kepada mereka dan menunjukkan kepada mereka jalan, mengajari mereka, memberi manfaat bagi mereka dan menyebabkan mereka mencapai kebahagiaan. Ratu dan ratu menanggalkan kalung permata mereka yang seberat dua ratus ribu, dan memberikan kalung permata itu kepada Buddha sebagai tanda penghargaan.

 "Raja ini kemudian menjadi seorang bhiksu dibawahKu, belajar dengan tekun dan melaksanakan berbagai macam jalan untuk mencapai Penerangan Buddha, dan kemudian menjadi seorang Buddha yang disebut Salendraraga yang dunianya disebut Cahaya Agung.,,” (P.333, L.34.):

Buddha Galadharagargitaghoshasusvaranaks Hatraragasankusumitabhigna berkata kepada pesamuan agung bahwa Raja Subhavyuha ini akan menjadi seorang Buddha setelah tekun belajar dan melaksanakan dan akan dipanggil Buddha Salendraraga.

Kita harus tahu bahwa kenapa Buddha Galadharagargitaghoshasusvaranaks Hatraragasankusumitabhigna memberikan jaminan KeBuddhaan kepada Raja Subhavyuha sebelum anak dan istrinya yang telah melaksanakan ajaran Buddha jauh lebih lama dibandingkan sang raja. Saya pikir ini karena ia adalah seorang pemimpin yang menjadi seorang Buddhis, pengikutnya akan mudah dibimbing oleh pemimpin dan mudah menjadi seorang Buddhis. Oleh karena itu, Nichiren Shonin mencoba untuk merubah keyakinan dari pemerintahan Kamakura dan murid dari muridnya, Nichizo, berusaha untuk merubah keyakinan dari keluarga kerajaan di Kyoto . Ini adalah sangat penting bag seorang pemimpin dari kelompok manaun untuk melaksanakan kebenaran; mereka akan mencontoh apa yang dilakukan oleh pemimpin mereka.

"Yang Dipuja Dunia! Kedua anakKu ini telah melaksanakan pekerjaan Buddha. Mereka merubah pandanganKu yang salah dengan mempertunjukkan segala macam keajaiban. Mereka membuat aku menjadi damai dalam ajaranMu. Mereka menyebabkan aku melihat mu. Kedua anakKu ini adalah guruKu. Mereka muncul dikeluarga saya untuk memberikan kebajikan untukKu. Mereka menyebabkan tumbuhnya akar kebajikan dari apa yang telah aku tanam pada masa lampau.." (P.334, L11.):

Raja ini sungguh luar biasa karena sangatlah sulit bagi orang dewa mengatakan bahwa anak-anak mereka adalah gurunya. Kita sering mendengar perkataan berikut, “Aku yang melakukannya,” ketika sesuatu yang baik terjadi, tetapi kita juga sering mendengar orang menyalahkan orang lain ketika sesuatu yang buruk terjadi. Namun, raja ini menyadari bahwa kedua puteranya yang telah membuat ia masuk dalam Buddha Dharma dan mereka lahir di keluarga ini untuk membimbing mereka ke ajaran Buddha.  "Kedua anakku ini adalah guruKu.”   Istilah asli dari aksara guru ini adalah " zenchishiki" dalam bahasa China . Zenchishiki secara literatur berarti pengetahuan yang benar. Ini menunjukkan kepada seseorang yang menolong orang lain untuk mengikuti kebenaran. Nichiren Shonin mengunakan istilah ini untuk penganiayaan yang ia terima, khususnya pemerintahan Shogun Kamakura. Buddha Sakyamuni mengunakan istilah ini untuk Devadatta yang telah berusaha membunuh Sang Buddha dalam hidupnya; bagaimanapun, dalam kehidupan lampau, Devadatta telah menyebabkan Buddha untuk mempunyai rasa welas asih, cinta kasih, kegembiraan dan kewajaran, jadi Devadatta adalah zenchishiki Buddha .

"Raja Subhavyuha tidak lain adalah Bodhisattva Padmasri saat sekarang. Ratu Vimaladatta tidak lain adalah Bodhisattva Vairokanarasmipratimanditaraga yang ada dihadapanKu… kedua putera itu adalah Bodhisattva Baishajaraga dan Bodhisattva Baishajaragasamudgata saat sekarang." (P.335. L.16.):

Ajaran Saddharma Pundarika Sutra adalah mencakup masa lalu, sekarang dan akan datang. Pada kehidupan masa lalu mungkin mempunyai hubungan atau "en" dengan Saddharma Pundarika Sutra, dan kita melaksanakannya bersama saat sekarang ini, dan kemudian kita akan mencapai KeBuddhaan pada masa mendatang.

~ Namu Myohorengekyo ~