BAB XXV
BODHISATTVA AVALOKITESVARA

 

RINGKASAN

Bab 25, yang dikenal sebagai Bodhisattva Kannon atau Bodhisattva Avalokitesvara , adalah bagian dari Saddharma Pundarika Sutra; namun tidak terhitung banyak orang baik laki-laki atau perempuan mengambil bab ini sebagai sutra tersendiri, meskipun mungkin mereka tidak mempercayai Saddharma Pundarika Sutra. Kita dapat melihat begitu banyak rupang Bodhisattva ini di Jepang , China , Thailand dan negara asia lainnya. Mereka ditempatkan baik dalam kuil maupun diluar.

Kenapa Kannon begitu terkenal ? saya pikir karena Buddha adalah terlalu agung dan tinggi bagi orang biasa dan sulit untuk dimengerti oleh mereka. Sebagai contoh, dalam rumah tangga, anak-anak lebih mudah berbicara dengan ibu mereka dibandingkan dengan ayah mereka.

Ini sama juga dalam hati kepercayaan. Para Buddha sanggat agung dan sulit untuk didekati, tetapi para Bodhisattva sangat dekat dengan umat biasa dan mungkin mendengarkan tentang segala keluhan dan keinginan. Ini kenapa Bodhisattva Kannon dikenal sebagai pendengar segala penderitaan, mendengarkan segala keinginan dengan welas asihnya dan menyelamatkan kita.

Namun, ini semua harus dengan satu syarat; Sutra mengatakan, “Sebutlah nama dia dengan sepenuh hatimu.” Dalam Nichiren Shu, tidak diperlukan untuk menyebut nama Bodhisattva, sebab dalam O'daimoku telah tercakup seluruh nama para Buddha dan Bodhisttva.

PENJELASAN

"Jika ratusan ribu juta mahluk hidup mendengar nama Bodhisattva Avalokitesvara dan menyebut namanya dengan segenap hati mereka ketika mereka sedang berada dalam berbagai penderitaan, Bodhisattva Avalokitesvara segera akan mendengarkan suara mereka, dan akan menyebabkan diri mereka keluar dari segala penderitaan." (P.316, L.9.):

Ini dikatakan bahwa menyebut nama dia dengan segenap hati. Tidaklah cukup hanya menyebut nama atau judul suci (O'daimoku) dari Saddharma Pundarika Sutra hanya dengan mulut saja. Kita harus menyebut nama dia atau Odaimoku dengan mulut, pikiran dan hati (Tiga Tindakan). Buddhisme membicarakan tentang hubungan antara pikiran dan hal yang berkaitan dengannya. Ketika kamu menyebut nama Bodhisattva Kannon dengan mulut mu, kamu harus membayangkan wajah welas asihnya dan kekuatannya dalam pikiranmu, dan kemudian kamu akan merasa bahagia, sama seperti ketika kamu melihat cermin dan tertawa, kamu akan merasa bahagia. Ketika kamu merasa bahagia, penderitaanmu telah lenyap. Kenapa Kannon dapat menghancurkan penderitaanmu dalam seketika ? ini karena kamu adalah Bodhisattva Kannon. Menyebut nama dia atau Odaimoku untuk memperoleh kesadaran Bodhisattva Kannon dan Buddha Sakyamuni Abadi. Hal ini tidak dapat diwujudkan tanpa adanya hati kepercayaan.

"Mereka yang menjaga nama dari Bodhisattva Avalokitesvara tidak akan pernah terbakar… akan dapat mencapai daratan ketika dilanda banjir… semua awak kapal akan selamat dari serangan…pedang atau tongkat yang digunakan untuk menyerangnya akan hancur berkeping-keping…para iblis tidak akan dapat melihatnya… berbagai hal yang membelenggu akan hancur berantakan, dan ia akan selamat….kamu akan selamat dari serangan para penjahat. (P.316, L. 14 – P.317, L.14):

Terdapat tujuh bencana yang diselamatkan oleh Bodhisattva Avalokitesvara. Bencana itu antara lain:

  1. Api,
  2. Air,
  3. Manusia dimakan oleh iblis (Bakteri penyakit),
  4. Pedang dan pentungan,
  5. Iblis,
  6. Bencana rantai dan belenggu, dan
  7. Bencana para penjahat

Jika seseorang menyebut nama dari Bodhisattva ini, dia akan dapat lolos dari tujuh bencana. Keuntungannya, ketika seseorang dapat selamat dari bencna dan mencapai kebahagiaan, akan juga memperoleh materi. Ia juga memberikan kita kekuatan spiritual.

Untuk memperoleh segala bentuk kebajikan ini, kita harus memiliki hati yang bersih. Para Buddha dan Bodhisattva hanya memberikan kebajikan kepada mereka yang melaksanakan dharma dengan baik. Tujuan dari kita memanggil nama dari Bodhisattva Kannon adalah untuk menunjukkan ketulusan kita kepadanya. Jadi sutra menekan pada ketulusan hati.

"Mereka yang mempunyai banyak hawa nafsu akan diselamatkan dari hawa nafsu itu jika mereka secara terus menerus memikirkan Bodhisattva Avalokitesvara dan menghormatinya. Mereka yang mempunyai kemarahan akan diselamatkan dari kemarahan jika mereka terus menerus memikirkan Bodhisattva Avalokitesvara dan menghormatinya. Mereka yang mempunyai kebodohan akan terselamatkan dari kebodohan jika mereka terus menerus memikirkan Bodhisattva Avalokitesvara dan menghormatinya.” (P.317, L.20.):

Hawa nafsu, kemarahan dan kebodohan (ketidaktahuan tentang ajaran Buddha) disebut sebagai “Tiga Racun” dalam Buddhisme. Tujuh bencana baik materi maupun phisik adalah sumber penderitaan umat manusia, dan Tiga Racun adalah penderitaan mental. Penderitaan materi datang kepada kita karena penderitaan mental menjadi dasar dari diri kita. Jika penderitaan pikiran kita dapat disembuhkan dari Tiga Racun, maka penderitaan materi pun akan lenyap. Oleh karena itu penting untuk mengendalikan pikiran kita.

"Seorang perempuan, yang menginginkan seorang anak laki-laki, memuja dan membuat persembahan kepada Bodhisattva Avalokitesvara, akan segera memperoleh kelahiran seorang anak-anak laki-laki dari kebajikan, jasa dan kebijaksanaan. Seorang wanita yang menginginkan anak perempuan, melakukan hal yang sama, akan memperoleh kelahiran seorang anak perempuan yang cantik dan dicintai dan dihormati oleh semua orang karena akar dari kebajikan, dimana yang telah ditanam oleh anak perempuan itu pada kehidupan sebelumnya.” (P.317, L.29.):

Saya memberikan kutipan kalimat ini kepada para wanita yang mengharapkan seorang bayi atau calon ibu dan memberitahukan kepada mereka agar membaca kutipan ini bersamaan dengan Odaimoku, sehingga ia mungkin akan memperoleh seorang bayi yang baik. Kehidupan bukan hanya sekali, tetapi terdapat banyak kehidupan sebelumnya; adalah penting mempunyai seorang anak laki-laki atau perempuan yang diwarisi oleh jasa kebajikan dan kebijaksanaan yang dibawa kedunia ini, atau seorang anak perempuan yang telah menanam akar kebajikan pada kehidupan sebelumnya.

"Bagaimana caranya dia (Bodhisattva Avalokitesvara) membabarkan Dharma kepada mahluk hidup ? Apa saja upaya yang dia lakukan?" (P.318, L.20.):

Kebenaran adalah satu, tetapi terdapat banyak cara yang berbeda-beda untuk menjelaskan tentang kebenaran itu. Seorang guru yang baik di sekolah tahu cara mengajar anak yang pintar, sedang dan anak yang malas dikelas. Ia harus mengunakan metode yang berbeda-beda untuk mengajari mereka. Bodhisattva Kannon membabarkan Dharma dengan mengunakan cara pendekatan yang berbeda-beda untuk tingkatan pengertian yang berbeda pula; ini adalah jalan upaya. Bodhisattva ini mengunakan 33 cara berbeda sebagai seorang Buddha, seorang raja, dewa, jenderal, orang kaya, ibu rumah tangga, perdana menteri, seorang istri, naga, manusia dengan hati suci, seorang laki-laki, anak perempuan, manusia dan bukan manusia dan lain-lain.

Kita mempunyai warna kulit yang berbeda, berbeda budaya, berbeda tingkatan pendidikan, berbeda kepercayaan, berbeda status sosial, pekerjaan, dan lain-lain tetapi kita semua adalah manusia. Seorang pemimpin harus mengerti perasaan orang dan keinginannya. Inilah kenapa Bodhisattva merubah wujud dirinya kedalam bentuk kehidupan lainnya. Bodhisattva Kannon Bodhisattva tidak hanya sebuah rupang yang berdiri didalam kuil, tetapi secara nyata ia muncul dalam berbagai macam bentuk sebagaimana yang telah dijelaskan diatas. Inilah sebabnya kenapa ketika kita berdoa dengan tekun dan menyebut namanya dengan sepenuh hati kita, energi (Chi atau Ki) pun terkumpul. Energi ini menyelaraskan diri dengan seseorang yang mempunyai energi yang sama. Kemudian dia muncul untuk menyelamatkanmu sebagai perwujudan dari Bodhisattva Kannon.

Terdapat berbagai macam bentuk berbeda dari Bodhisattva Kannon, satu wajah, tiga wajah, tujuh wajah, dua senjata, enam senjata, seribu senjata dan lain-lain. Setiap wajah berbeda dan senjata berbeda adalah simbol dari objek yang berbeda sebab semua orang mempunyai keinginan yang berbeda-beda.

Banyak orang yang tinggal dalam tingkatan pemenuhan keinginan mereka, tetapi para Bodhiattva sesungguhnya ingin membabarkan Dharma. Nichiren Shu mempunyai banyak jalan upaya seperti pemberkatan kito , jimat ofuda dan omamori Gohonzon, dan juga menempatkan banyak bentuk dari para dewa dewi. Mereka semua adalah upaya untuk membimbing dan menyelamatkan umat. Tetapi kita juga tidak boleh lupa bahwa kita harus melaksanakan tingkatan Buddhisme yang lebih tinggi untuk mencapai KeBuddhaan.

"Bodhisattva Akshayamati berkata kepada Sang Buddha, “Yang Dipuja Dunia! Saya akan memberikan sebuah persembahan kepada Bodhisattva Avalokitesvara.” (P.319, L. 31.):

Bodhisattva Akshayamati begitu terkesan akan apa yang ia dengar tentang Bodhisattva Avalokitesvara, kemudian ia ingin membuat persembahan. Ia mengambil sebuah kalung permata dari leherny dan mencoba memberikannya kepada Bodhisattva Avalokitesvara, yang tidak mau menerimanya. Kemudian Buddha Sakyamuni memberitahukan kepadanya agar menerima itu yang merupakan ungkapan welas asih dari Bodhisattva Akshayamati. Meskipun Bodhisattva Kannon menerimanya, ia kemudian membagi kalung itu menjadi dua bagian dan mempersembahkan salah satu bagiannya kepada Buddha Sakyamuni dan yang lain kepada Buddha Prabhutaratna. Alasan ia tidak dapat menerima persembahan ini adalah karena kerendahan hati dan ia merasa tidak ingin menerima persembahan dari orang lain. Ia percaya bahwa semua kekuatan untuk menyelamatkan orang lain datang dari para Buddha.

Penjelasan dari Saddharma Pundarika Sutra dan bab 22 adalah sangat sulit dilaksanakan oleh kita dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, Buddha membabarkan enam bab lain sebagai bentuk pelaksanaan dharma kita melalui contoh dari kehidupan masa lalu dari para Bodhisattva dan juga menjelaskan tentang perlindungan dari para dewa-dewi. Bab selanjutnya juga berisi penjelasan perlindungan dari para dewa-dewi.

~ Namu Myohorengekyo~