BAB XXIII
MASA LALU BODHISATTVA BAISHAJARAGA

 
RINGKASAN

Pada bab terdahulu, kita telah memasuki akhir dari bagian kedua dari Saddharma Pundarika Sutra. Bab 23 sampai 28 adalah tingkatan terakhir. Dalam bab ini, Sang Buddha mencoba memberikan semangat bagi kita dengan menceritakan kehidupan masa lalu dari para Bodhisattva dan bagaimana mereka melakukan kebajikan dalam kehidupan mereka untuk Saddharma Pundarika Sutra. Bab ini menceritakan tentang kehidupan lampau dari Bodhisattva Baishajaraga (Bodhisattva Raja Obat). Sungguh suatu hal yang sangat menarik bahwa cerita tentang masa lalu dari Bodhisattva ini dengan bimbingan Buddha yang lain juga diceritakan dalam Bab.27.

Pada suatu masa yang lalu, hiduplah seorang Buddha yang disebut Buddha Kandravimalasuryaprabasari. Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana (nama Bodhisattva Baishajaraga pada kehidupan lampau) melaksanakan pertapaan dibawah bimbingan Buddha ini. Karena ketekunan beliau dalam pelaksanaan, Bodhisattva ini mencapai samadhi , dimana ia dapat merubah bentuk dirinya menjadi bentuk kehidupan lainnya. Ia menunjukkan pengabdiannya yang luar biasa kepada Sang Buddha dengan membakar dirinya yang telah dilumuri minyak wangi diatas kulitnya dan duduk dalam kobaran api. Terang dari nyala apinya menerangi dunia selama ribuan juta tahun.

Setelah Bodhisattva ini meninggal, Ia terlahir kembali menjadi anak dari seorang raja bernama Vimaladatta pada jaman Buddha yang sama. Ketika Sang Buddha itu mengetahui tentang masa lampau anak tersebut, ia pun berkata kepadanya, “Saya segera akan masuk Nirvana malam ini. Saya akan memberikan seluruh ajaran, pusaka, dan relik kepadamu. Bangunlah sebuah stupa untuk mereka dan berikan persembahan untuknya!”

Bodhisattva itu mengikuti ucapan terakhir dari Sang Buddha dan membangun ribuan stupa. Terakhir, ia duduk didepan sebuah stupa dan membakar siku tangannya sebagai persembahan untuk Buddha. Ketika orang-orang melihat Bodhisattva yang kehilangan sikunya ini, mereka merasa kasihan terhadapnya. Tetapi Bodhisattva itu membuat sebuah janji dan berkata, “Sejak akau memberikan persembahan sikuKu ini, saya akan menjadi seorang Buddha dengan tubuh keemasan, jika semua perkataanKu ini benar adanya. Kemudian kedua sikuKu pun kembali normal.” Sebagaimana janji yang dibuatnya, sikuNya pun kembali seperti semula.

Buddha Sakyamuni menjelaskan, “semua orang yang ingin mencapai Penerangan dapat membakar satu jari atau jari kakinya, dan membuat persembahan seperti Bodhisattva Raja Obat pada kehidupan masa lalunya. Persembahan jenis ini sangat menilai dibandingkan dengan segala persembahan dari tanah, istana dan harta pusaka.”

PENJELASAN

"Yang Dipuja Dunia ! kenapa Bodhisattva Baishajaraga harus berada di Dunia Saha ini ? Yang Dipuja Dunia! Bodhisattva Baishajaraga ini telah melaksanakan kebajikan ratusan ribu nayuta didunia ini yang penuh kekerasan.” (P.299, L.3.):

Walaupun Senchu Murano menerjemahkan dari versi Kumarjiva , China , “Bodhisattva Baishajaraga ini telah melaksanakan kebajikan ratusan ribu nayuta di dunia yang penuh kekerasan ini,” aku percaya ini menunjuk pada masa lampau. Kutipan yang sama dari versi Kumarajiva yang diterjemahkan oleh Kubo Tsugunari dan Yuyama Akira sebagai berikut: "Bodhisattva Bhaisajayaraja ini telah melaksanakan ratusan ribu miliar nayuta koti segala pelaksanaan yang sulit dan berat.” Leon Hurvitz juga menerjemahkan kutipan yang sama sebagai, “Bodhisattva Raja Obat ini telah mengumpulkan kebajikan ratusan ribu milir juta nayuta segala pelaksanaan yang sulit dan menyakitkan.” Para peserta pesamuan Saddharma Pundarika Sutra mengetahui bahwa Bodhisattva ini telah melaksanakan pertapaan yang sulit selama banyak kalpa, tetapi mereka tidak mengetahui jenis pertapaan apa yang telah ia laksanakan. Untuk menjawab tentang hal ini, Bodhisattva Baishajaraga muncul dalam enam bab yang berbeda dalam Saddharma Pundarika Sutra; Bab 1, 10, 13, 23, 26, dan 27.

"Kemudian Buddha Kandravimalasuryaprabasari membabarkan Saddharma Pundarika Sutra kepada Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana …….Ia bertekad untuk melaksanakan pertapaan yang keras dibawah Sang Buddha….mencari Jalan KeBuddhaan sepenuh hati selama dua belas ribu tahun sampai akhirnya ia mencapai samadhi dimana ia dapat merubah dirinya kedalam berbagai macam bentuk kehidupan." (P.300, L. 13.):

Tidak hanya Buddha Sakyamuni saja yang dibabarkan dalam Saddharma Pundarika Sutra juga terdapat Buddha Kandravimalasuryaprabasari. Pada saat kehidupan dari Buddha Kandravimalasuryaprabasari ini, Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana melaksanakan pertapaan yang keras selama bertahun-tahun dan terakhir mencapai samadhi.

Dalam rangka untuk memimpin orang lain, seseorang harus mampu melaksanakan pertapaan yang berat untuk menjadi seorang pemimpin. Samadhi berarti konsentrasi pikiran pada satu objek. Bodhisattva ini dapat merubah dirinya menjadi bentuk kehidupan lainnya untuk menyelamatkan orang lain.

"Ia memakan berbagai macam jenis dedupaan…meminum minyak wangi.. kemudian mengoleskan minyak itu kekulitnya, mengenakan pakaian surgawi untuk menghargai Buddha Kandravimalasuryaprabasari, melumurkan berbagai macam jenis wewangian keatas pakaian itu, dan kemudian membakar tubuhnya.” (P.301, L. 3.):

Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana mendapatkan kegembiraan yang luar biasa dalam samadhi dan menunjukkan penghargaannya kepada Sang Buddha dan Saddharma Pundarika Sutra dengan persembahan dedupaan dan bunga-bunga, tetapi ia merasa bahwa semua itu tidak cukup. Ia kemudian mempersembahkan tubuhnya sendiri dengan membakarnya. Cahaya terang dari tubuhnya menerangi dunia selama ribuan tahun. Cahaya itu melambangkan ajaran dari Sang Buddha. Kebajikan dari membakar dirinya berlanjut sampai ribuan tahun. Ini berarti ajaran Buddha tersebarluas selama ribuan tahun. Mohon jangan mengartikan ini sebagai bunuh diri.

"Dalam kehidupan selanjutnya, ia kembali terlahir di dunia Buddha Kandravimalasuryaprabasari . Terlahir di dalam rumah Raja Vimaladatta.” (P.301, L.26.):

Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana terlahir kembali sebagai anak dari Raja Vimaladatta. Ia berusaha membimbing ayahnya untuk mengikuti Buddha Kandravimalasuryaprabasari yang masih hidup waktu itu. Yang menarik adalah dalam bab.27, Vimaladatta adalah nama ibunya (bukan ayah) sebuah cerita masa lalu lainnya dari Bodhisattva Baishajaraga.

"Buddha Kandravimalasuryaprabasari berkata kepada Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana, “PutraKu yang baik! Waktu untuk Aku memasuki Nirvana sudah dekat. Waktu kemoksaanKu telah tiba…. Aku akan melimpahkan seluruh ajaranKu kepadamu.” (P.302, L. 21.):

Ketika Bodhisattva itu bertemu dengan Buddha Kandravimalasuryaprabasari, Sang Buddha sangat gembira melihatnya dan melimpahkan seluruh ajaran tentang Saddharma Pundarika Sutra dan memintanya untuk mengkramasi tubuhnya, membagikan abu, membangun stupa, dan membuat persembahan kepadanya. Buddha tidak mengatakan membangun stupa untuk dirinya, tetapi ini berarti bahwa stupa untuk semua orang, agar orang-orang pada masa mendatang dapat mengetahui ajaran Sang Buddha.

"Ia membuat delapan puluh empat ribu kendi pusaka dan meletakkan sarira didalamnya. Ia membangun delapan puluh empat ribu stupa. Banyak hiasan dan panji-panji digantungkan dalam stupa itu. Banyak lonceng permata diletakkan dalam stupa.” (P. 303, L.10.)

84,000 stupa untuk tempat abu Buddha dibangun. Banyak lonceng permata digantungkan disetiap stupa. Terdapat banyak bangunan kuil dan pagoda lima tingkat dengan lonceng disetiap langit-langitnya. Bunyi dari lonceng itu diharapkan mengingatkan kepada ajaran Sang Buddha. Ketika kamu pergi ke kuil, cobalah lihat keatas dan temukan lonceng tergantung diatas bangunan dan pagoda lima tingkat.

"Ia membakar siku-sikunya yang memiliki seratus tanda kebajikan, dan mempersembahkan cahaya darinya kepada delapan puluh empat ribu stupa selama tujuh puluh dua ribu tahun. (P.303, L.23.):

Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana tidak puas dengan hanya membangun 84,000 stupas. Pada waktu itu ia membakar siku-sikunya didepan stupa. Mereka yang melihat ia membakar siku-sikunya sebagai persembahang kepada Buddha dan Sutra menjadi sangat kagum dan meminta ia untuk membabarkan ajaran Sang Buddha kepada mereka.

Orang-orang merasa kasihan kepadanya; “ini pastilah sangat panas dan sakit ! ia pastilah sangat menderita karena terbakar!” namun, Bodhisattva itu sangat gembira dan berterima kasih. Hal yang sama dapat dikatakan tentang Nichiren, yang telah dianiayai, diasingkan, dipukul, dan segala macam penyiksaan lainnya. Para pengikutnya merasa kasihan terhadapnya. Meskipun berada dalam kecemasan, Nichiren sangat berterima kasih atas segala macam penganiayaan itu, karena hal itu membuktikan bahwa kata-kata sutra benar adanya. Oleh karena itu, jutaan orang mengikutinya dan melaksanakan Saddharma Pundarika Sutra, pada masa lalu, sekarang dan akan datang.

"Bodhisattva Sarvasattvapriyadarsana tidak lain adalah Bodhisattva Baishajaraga pada saat sekarang ini. " (P.304, L.7):

Pada awal bab ini, Bodhisattva Nakshatraragasankusumitabhigna bertanya, “Yang Dipuja Dunia ! Apa yang telah dilakukan Bodhisattva Baishajaraga didunia ini? Sekarang kita telah tahu tentang kehidupan masa lampau dari Bodhisattva Baishajaraga.

"Sama halnya seperti lautan yang lebih luas dari sungai, sutra ini Saddharma Pundarika Sutra jauh lebih unggul dibandingkan dengan sutra manapun yang telah dibabarkan oleh Sang Tathagata….” (P.304, L.27):

Sang Buddha kembali menjelaskan bahwa Saddharma Pundarika Sutra ini tidak tertandingi oleh sutra manapun. Ia memberikan sepuluh perumpamaan sebagai perbandingan:

  1. Sama seperti lautan yang lebih luas dibandingkan sungai,
  2. Sama seperti Gunung Sumeru yang tertinggi diantara gunung-gunung yang ada,
  3. Sama seperti bulan yang lebih terang dibandingkan planet lainnya,
  4. Sama seperti matahari yang melenyapkan semua kegelapan,
  5. Sama seperti Raja Suci Pemutar Dharma yang lebih unggul dibandingkan raja biasa
  6. Sama seperti Raja Sakra yang merupakan raja dari tiga puluh tiga dewa,
  7. Sama seperti Raja Surga Maha Brahman yang merupakan ayah dari seluruh mahluk hidup,
  8. Sama seperti orang suci yang lebih unggul dari kematian,
  9. Sama seperti Bodhisattvas yang lebih unggul dibandingkan Sravakas atau Pratyekabuddha,
  10. Sama seperti seorang Buddha, Raja dari Dharma,

Jadi Saddharma Pundarika Sutra adalah Raja dari seluruh Sutra.

"Sutra ini dapat menyelamatkan seluruh mahluk hidup. Sutra ini dapat menyelamatkan mereka dari semua penderitaan, dan memberikan mereka kebajikan tak terhingga. Semua mahluk hidup dapat memenuhi semua keinginannya dari sutra ini, sama seperti seorang laki-laki yang mendapatkan api ketika ia menderita kedinginan….. " (P.305, L.16.):

Kekuatan seperti apa dari Saddharma Pundarika Sutra untuk menyelamatkan seluruh mahluk hidup dari penderitaan dan memberikan mereka kegembiraan besar;

  1. Sama seperti seorang laki-laki yang mendapatkan air yang sejuk ketika ia sedang haus,
  2. Sama seperti seorang laki-laki yang mendapatkan api ketika ia sedang kedinginan,
  3. Sama seperti seorang laki-laki yang mendapatkan pakaian ketika ia sedang telanjang,
  4. Sama seperti para pedagang yang mendapatkan kapal ketika mereka ingin menyeberangi sebuah sungai,
  5. Sama seperti seseorang yang sakit menemukan seorang ahli pengobatan,
  6. Sama seperti seseorang yang diberikan cahaya ketika ia berada dalam kegelapan,
  7. Sama seperti seorang yang miskin menemukan harta pusaka,
  8. Sama seperti orang-orang yang disebuah negara yang akan menobatkan raja yang baru,
  9. Sama seperti seorang pedagang yang mampu mencapai seberang lautan,
  10. Sama seperti sebuah obor yang mengusir segala kegelapan.

Jadi sutra ini dapat menyelamatkan seluruh mahluk hidup dari segala penderitaan, penyakit, dan dari ikatan kelahiran dan kematian (dalam perubahaan apapun juga).

Bagaimana cara kita untuk memperoleh kebajikan ini ? dalam bab yang sama dikatakan, “kamu harus menjaga, membaca, dan menerima sutra ini, menghafalnya, dan membabarkannya kepada orang lain dibawah Buddha Sakyamuni. Sekarang kamu akan memperoleh jasa kebajikan yang tak terhingga, yang tidak akan musnah oleh api atau larut oleh air.” (P.306, L.21.)

"Sekarang kamu sudah mengalahkan Mara, memukul mundur kekuatan dari kelahiran dan kematian, dan membasmi semua musuhmu.” (P.306, L.26)

"Inilah sebabnya kenapa sutra ini adalah obat yang manjur bagi semua penyakit orang-orang di Jambudvipa . Orang yang sakit ketika mendengarkan sutra ini akan segera sembuh dari penyakitnya. Ia tidak akan menjadi tua atau mati. " (P.307. L.14.):

Jumbu-dvipa (Embu-dai) adalah nama dari sebuah pulau besar dari sebelah selatan Gunung Sumeru (Shumi-sen) dan berdasarkan pandangan kosmologi tradisional, ia adalah dunia dimana kita hidup.

Nichiren Shonin sering menulis kutipan kata ini dalam sebuah Omamori (Jimat) Gohonzon dan diberikan kepada para pengikutnya. Tentara Mara, sebagai contoh adalah menjadi tua, kelahiran dan kematian, ia adalah proses dari seluruh kehidupan kita. Musuh kita adalah penderitaan akibat perubahan dari kelahiran dan kematian. Tentara Mara hidup dalam tubuh kita. Salah satu dasar dari ajaran Buddha adalah “Segala sesuatu itu tidak kekal atau selalu berubah; kenyataaannya perubahan inia adalah sebuah jalan untuk mencapai KeBuddhaan.” Melalui kesulitan dalam kehidupan kita, kita harus menyadari kenyataan hidup ini. Untuk dapat menjadi bebas dari penderitaan adalah mencapai Nirvana dan kebahagiaan.

Kita harus menjaga, menerima, mengingat, menyalin dan membabarkan Saddharma Pundarika Sutra. Kemudian kita akan memperoleh jasa kebajikan yang tak terhingga.

~ Namu Myohorengekyo ~