BAB XXII
PENYERAHAN

 

RINGKASAN

Kedua puluh delapan bab dari Saddharma Pundarika Sutra dibagi menjadi 2 bagian; separuh bagian pertama disebut shakumon , yang mengajarkan tentang Buddha Sakyamuni yang terdapat dalam sejarah, sedang separuh bagian terakhir disebut hon-mon , yang mengungkapkan sifat kekal abadi dari Buddha Sakyamuni. Oleh sebab itu, para pengikut yang muncul dalam separuh bagian pertama disebut "para murid dalam shaku-mon", sedang para pengikut yang ada dalam separuh terakhir disebut "para murid dalam hon-mon."

Dalam bab sebelumnya, Buddha Sakyamuni menyerahkan Saddharma Pundarika Sutra serta menugaskan para murid dalam hon-mon tugas-tugas penyebar luasan setelah kemokshaan-Nya. Dalam bab ini, Sang Buddha juga menyerahkan sutra ini dan menugaskan kepada para murid dalam shaku-mon tugas penyebaran setelah kemokshaan Sang Buddha.

Nichiren Shonin belum menyadari bahwa ia adalah kelahiran kembali dari Bodhisattva Jogyo, salah seorang murid dalam hon-mon, hingga Pengasingan Sado. Setelah Eksekusi Tatsu-no-kuchi dan pengasingan ke Sado, dengan teguh ia percaya bahwa Buddha Sakyamuni mempercayakan Saddharma Pundarika Sutra kepada dirinya. Ia berkata bahwa orang yang menyebut Odaimoku adalah juga para murid dalam hon-mon, jadi kita harus meyebarluaskan Odaimoku.

PENJELASAN

"Buddha Sakyamuni bangkit dari tempat duduk Dharma, dan dengan kekuatan supernatural Nya yang luar biasa, Ia meletakkan tangan kananNya di atas kepala para Bodhisattva-mahasattva yang tak terhitung jumlahnya, dan berkata, "Selama beratus-ratus ribu milyar asamkhya kalpa, Aku mempelajari dan melaksanakan Dharma yang sulit diperoleh, dan akhirnya mencapai Anuttara-samyak-sambodhi. Sekarang Aku akan menyerahkan Dharma ini kepada kalian. Sebarluaskanlah dengan sepenuh hati kalian, dan buatlah agar ia dikenal di seluruh penjuru." (P.297, L.3.)

Menurut kebiasaan Hindu, meletakkan tangan seseorang di atas kepala orang lain berati mempercayai orang tersebut. Buddha Sakyamuni mempercayakan semua Bodhisattva yang berkumpul untuk mendengar Dharma di Gunung Gridrakuta. Ia meletakkan tangan kananNya di atas kepala semua Bodhisattva untuk menyerahkan Saddharma Pundarika Sutra dan meminta mereka untuk meyebarkannya. Ia melakukan hal ini tiga kali.

Abhiseka atau kancho adalah sebuah upacara yang serupa di India . Ketika seorang raja naik menduduki singgasananya, kepalanya di basahi dengan air laut. YM. Bhiksu Shokai Kanai juga melaksanakan upacara serupa ketika seseorang siap ditahbiskan menjadi seorang anggota Nichiren Shu atau ketika memberkati seorang bayi yang baru dilahirkan.

"Aku akan menyerahkan Dharma ini kepada kalian. Pertahankan, baca, menerima, dan babarkan sutra ini dimana Dharma terkandung dalamnya dan buatlah semua mahkluk hidup mendengar dan mengetahuinya!" (P.297, L. 14.):

Sang Buddha memperingatkan bahwa sesorang harus mempertahankan, membaca dan menerima sutra ini sebelum ia dapat membabarkan sutra ini. Seseorang harus menjalankan pelaksanaan ini; jika tidak orang lain tidak akan mengikutinya.

"Ketika kalian melihat seseorang yang tidak menerima sutra ini dengan hati kepercayaan, kalian harus menunjukkan kepadanya ajaran-ajaran Ku yang mendalam lainnya, ajari ia, untungkanlah ia, dan buatlah agar ia bersuka cita." (P.297, L.26.):

Ada banyak orang yang tidak mendengarkan ajaran mendalam dari Saddharma Pundarika Sutra. Sang Buddha menasehati kita untuk mendidik mereka dengan ajaran-ajaran lain dari Dharma, seperti Jalan Tengah, Empat Kesunyataan Mulia, dan Jalan Beruas Delapan. Kita harus membimbing orang lain dengan metode tahap demi tahap ini:

  1. "Menunjukkan kepadanya" berarti bahwa jika Anda menunjukkan bagaimana melakukannya, ia mungkin tertarik untuk belajar.
  2. "Mengajarinya" berarti bahwa Anda menjelaskan, secara terperinci, makna dari Dharma satu persatu.
  3. "Menguntungkannya" berarti bahwa seseorang akan melaksanakan Dharma untuk menunjukkan bahwa hal tersebut memberikan keuntungan baginya.
  4. "Menyebabkan ia bersuka cita " berarti menunjukkan bahwa melanjutkan pelaksanaan akan membawa kebahagiaan.

"Kami akan melakukan seperti yang Anda perintahkan. Tentu saja, Sang Bhagava! Janganlah kuatir!" (P.298, L.6.):

Bodhisattva Shaku-mon dengan penuh rasa hormat dan suka cita mengatakan kata-kata tersebut tiga kali secara bersama-sama. Karena Sang Buddha mengulangi penyerahan DharmaNya kepada para Bodhisattva tiga kali, para Bodhisattvas juga mengatakan kata-kata tersebut tiga kali. Tiga adalah sebuah angka yang tak dapat dibagi dan suci. Ketika Anda memiliki sebuah doa yang serius, sebaiknya doa tersebut diulang tiga kali.

"Sesaat kemudian Buddha Sakyamuni, berkeinginan mengirim para Buddha perwujudan diriNya yang telah datang dari sepuluh penjuru dunia, kembali ke dunia asal mereka masing-masing, berkata, 'Biarlah para Buddha berada di mana mereka ingin berada! Biarlah pagoda dari Buddha Segala-Mustika berada di tempatnya!'" (P.298, L.11.):

Karena Buddha Sakyamuni telah selesai mengkothbahkan Saddharma Pundarika Sutra pada saat ini, ia meminta semua Buddha untuk kembali ke dunia asal mereka di sepuluh penjuru. Ia juga meminta untuk menutup pintu dari pagoda Buddha Taho yang datang untuk membuktikan bahwa sutra ini unggul dan semuanya adalah benar. Juga, inilah akhir dari upacara di antariksa.
Sama halnya, para bhiksu Nichiren Shu mengutip bagian dari kalimat di atas, "Berkeinginan mengirimkan kembali ke dunia asal mereka," di akhir doa dari upacara-upacara seperti Pembakaran Barang-barang Religius dan Penutupan Mata Gohonzon atau altar keluarga. Maksudnya, mereka "mengirim kembali benda-benda tersebut ke dunia asal mereka"; berharap agar para arwah di dalam benda-benda religius tersebut kembali ke tanah asal dan/atau kembali ke alam.

"Setelah mendengar kata-kata Sang Buddha tersebut, bukan hanya para Buddha perwujudanNya yang tak terhingga jumlahnya, . . . para dewa, manusia, dan asura di dunia, penuh dengan rasa suka cita." (P.298, L. 16.):

Sangatlah menggembirakan ketika kita mengetahui bahwa dunia ini menjadi tanah suci Sang Buddha ketika pikiran masing-masing dari kita menjadi sama dengan Sang Buddha.

Bab ini mengakhiri penjelasan-penjelasan logis dari Saddharma Pundarika Sutra. Kita memahami sutra ini secara logis, namun sulit bagi kita untuk mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari kita. Oleh karena itu, Sang Buddha mempersiapkan enam bab lainnya bagi kita untuk mempraktekkan Dharma melalui contoh kehidupan-kehidupan lampau dari Bodhisattva dan penjelasan tentang perlindungan para dewa.

~ Namu Myohorengekyo ~