RINGKASAN
Pada bab sebelumnya dibabarkan bahwa mereka yang menjaga, membaca, menerima, membabarkan, atau menyalin Saddharma Pundarika Sutra akan mendapatkan delapan ratus kebajikan dari mata, hidung, dan badan dan seribu dua ratus kebajikan dari telinga, lidah dan pikiran. Kemudian, kita harus melakukan Lima Pelaksanaan (Menjaga, Membaca, Menceritakan, Membabarkan, dan Menyalin Saddharma Pundarika Sutra) sebagai Guru Dharma. Pada sisi lain, bab ini membabarkan tentang pelaksanaan dari penghormatan kepada orang lain tanpa harus melaksanakan Ke Lima Pelaksanaan itu. Bodhisattva Sadaparibhuta hanya menjalankan pelaksanaan Penghormatan kepada ke empat golongan umat dan memuji mereka, dengan berkata, “Aku sangat menghormati kamu dengan sepenuh hati. Aku tidak berani meremehkan kalian karena kalian akan melaksanakan pelaksanaan Bodhisattva dan menjadi Buddha.” Kenyataannya, Bodhisattva Sadaparibhuta adalah Buddha Sakyamuni itu sendiri pada kehidupan masa lampau.
PENJELASAN
"Seseorang yang menjelekkan atau meremehkan atau memfitnah seorang Bhiksu, Bhiksuni, Upasaka, Upasika yang menjaga Saddharma Pundarika Sutra, Dharma Yang luar Biasa ini, segera akan jatuh kedalam neraka penderitaan yang tak terputus-putus." (P.285, L.5.):
Bhiksu adalah pendeta laki-laki dan biarawan. Bhiksuni adalah pendeta wanita. Upasaka adalah pengikut awam laki-laki dan Upasika adalah pengikut awam wanita.Dalam bab. 3, “Sebuah Perumpamaan,” dikatakan, “Ketika Aku masih hidup atau sesudah kemoksaanKu, banyak yang akan menfitnah sutra ini dan meremehkan orang yang membaca atau menerima atau menyalin atau menceritahkan sutra ini. Ketika hidup mereka sekarang berakhir, mereka akan jatuh kedalam neraka Avici. Mereka akan tinggal selama satu kalpa dan akan terlahir kembali didalam neraka yang sama. Kelahiran mereka di neraka itu akan berulang untuk kalpa yang tak terhingga. " (See P. 81) Avici berarti tidak ada akhirnya. Sehingga seseorang yang jatuh dalam neraka avici secara terus menerus akan menerima sakit dan penderitaan untuk waktu ribuan tahun.
"Pada saat itulah terdapat seorang Bodhisatva bernama Sadaparibhuta. Wahai Mahastanaprapta! Karena apakah sehingga ia dijuluki Sadaparibhuta ? Karena bhiksu itu selalu menghormati dan menyanjung setiap orang yang ia lihat baik bhiksu, bhiksuni, upasaka dan upasika seraya berkata demikian "Aku sungguh-sungguh menghormatimu. Aku tidak ,berani meremehkan dan merendahkanmu karena kalian semua berjalan didalam jalan kebodhisatvaan dan akan menjadi para Buddha." Dan bhiksu itu sendiri tidak mencurahkan diri didalam membaca dan menghafalkan Sutra-sutra tetapi hanya menyanjung-nyanjung saja, sehingga kalau ia melihat anggota 4 kelompok maka ia akan terburu-buru menyongsongnya dan menghormatinya serta memujinya dengan berkata "Aku tidak berani meremehkanmu karena kalian semua akan menjadi para Buddha. " (P.286, L.21)
Hal ini tidaklah mudah untuk menghormati orang lain dan berdoa kepada mereka seraya berkata,” Aku sungguh-sungguh menghormati mu, Aku tidak berani meremehkan mu. Ini karena kalian semua berjalan di jalan kebodhisattva dan akan menjadi Buddha.” Kenapa ia melakukan hal itu? Bodhisattva Sadaparibhuta menghormati Bibit Buddha didalam diri setiap orang. Ketika kita menghadap Gohonzon dan memujanya, Gohonzon juga memuja kita, karena nama dari para Buddha, Bodhisattva, dewa-dewi, guru dan lain-lain ditulis di sisi kanan kiri dari Odaimoku, seperiti halnya kita menyatuhkan kedua tangan kiri dan kanan kita.
"Selama ia berkata demikian itu, orang-orang memukulinya dengan pentungan, tongkat kreweng ataupun batu. Namun sambil berlari menjauh ia tetap saja meneniakkan dengan keras "Aku tidak berani merendahkan kalian, karena kalian semua akan menjadi para Buddha." (P. 287, L. 6):
Kenapa Bodhisatta itu terus menghormati orang-orang itu meskipun ia mendapatkan penganiayaan dengan tongkat, batu, atau kayu ? hal ini karena ia mengharapkan mereka untuk membuat “en” atau hubungan dengan ajaran Buddha. Ini adalah menanam Bibit Buddha dalam diri mereka. Meskipun orang-orang menjelekkan, meremehkan atau menfitnah para Pelaksana Dharma, mereka telah berhubungan dengannya, seorang pelaksana sutra. Dalam pembukaan upacara Nichiren Shu, kita selalu membaca “Kaikyo-ge," Kalimat Pembukaan Sutra, yang mempunyai isi sebagai berikut: “Semua mahluk hidup, percaya atau menfitnah sutra ini, akan mencapai Jalan KeBuddhaan melalui Saddharma Pundarika Sutra.
”"Ketika bhiksu ini sedang mendekati ajalnya, ia mendengar dari atas langit dan mampu menerima serta memahaini 20 ribu koti bait-bait dan Hukum Sutra Bunga Teratai yang Sang Bhismagargitasuaranaga telah mengkhotbahkannya dahulu. Sesudah itu ia memperoleh ketajaman dan kesempurnaan indera-indera mata, telinga, hidung, lidah, tubuh dan pikiran seperti yang telah disebutkan diatas tadi.” (P.287, L.11):
"Suara di langit” berarti suara dari dunia spiritual yang melewati tempat dan waktu. Suara ini dari Dunia Abadi, suara dari alam semesta. Karena itu sangat penting bagi orang yang akan meninggal mendengarkan suara dari penyebutan Odaimoku dan pembacaan sutra kita. YM.Bhiksu Shokai Kanai selalu mengingatkan kepada anggota kuil untuk menyebut Odaimaku bagi orang yang akan meninggal. Demikian pula setelah seseorang meninggal dunia, Ia memberitahukan kepada keluarganya agar segera melaksanakan upacara disamping yang meninggal secepat mungkin. Kemudian ke enam indera akan menjadi suci dan bersih.
"Setelah indera-indera tubuhnya menjadi suci, selanjutnya masa hidupnya diperpanjang selama 200 ribu koti tahun.” (P. 287, L.16.):
Meskipun semua mahluk hidup berada dalam lingkaran hidup dan mati untuk waktu yang tak terhingga, seseorang yang enam inderanya mencapai kesucian akan tinggal lama didalam dunia spiritual tanpa penderitaan akan segala hal duniawi. Ia akan tinggal di dalam dunia spiritual dalam waktu yang lama.
"Sang Bodhisatva Sadaparibhuta pada waktu itu ? Dia benar-benar Aku sendirilah adanya. Seandainya didalam hidupKu yang. terdahulu itu Aku tidak menerima dan memelihara, membaca dan menghafalkan Sutra ini serta mengkhotbahkannya kepada orang lain, maka Aku tidak akan dapat mencapai Anuttara-samyak-sambodhi atau Penerangan Agung dengan segera.” (P.288, L.7.):
Bodhisattva Sadaparibhuta pada kehidupan lampau adalah Siddhartha Gautama itu sendiri yang kemudian menjadi Buddha. Bab. 19 mengajarkan kita tentang Lima Pelaksanaan setelah kemoksaan Sang Buddha sedangkan Bab.20 membabarkan Bodhisattva yang tidak pernah melaksanakan Lima Pelaksanaan itu. Bagaimanapun, kutipan-kutipan kalimat ini menjelaskan bahwa tanpa pelaksanaan dalam kehidupan masa lampaunya, Bodhisattva Sadaparibhuta tidak akan mencapai KeBuddhaan dengan segera. Sehingga, kita harus mampu menjaga, membaca, menerima, membabarkan dan menyalin Saddharma Pundarika Sutra agar dapat segera mencapai Jalan KeBuddhaan.
"Keempat kelompok yang pada saat itu mencaci-maki sang Bodhisatva tadi dengan tiada henti-hentinya itu ? Pàda saat ini mereka semua sedang berada dalam persidangan ini, yaitu ke 500 Bodhisatva-Bhadrapala dan yang, lain-lainnya, ke 500 bhiksuni Simhakandra dan lain-lainnya, ke 500 upasaka Sugataketana dan yang lain-lainnya, yang mereka itu tidak pernah surut dari Penerangan Agung.” (P.288, L.22.):
Keempat kelompok (500) bhiksu yang hadir dalam pesamuan itu adalah yang telah meremehkan dan menfitnah Bodhisattva Sadaparibhuta. Meskipun mereka jatuh dalam neraka, tetapi mereka telah membuat sebuah “en” atau hubungan dengan Saddharma Pundarika Sutra dan mereka telah mendengarkan Buddha Sakyamuni membabarkan Saddharma Pundarika Sutra. Ini adalah karma mereka. Tidak menjadi masalah mereka percaya atau menfitnah, mereka akan dapat mencapai KeBuddhaan melalui Sutra ini. Kita mungkin saja pernah memfitnah Dharma sebelumnya, tetapi kita beruntung sekarang telah dapat mencapai KeBuddhaan melalui Saddharma Pundarika Sutra ini.Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin saja terjadi konflik antara anggota dalam keluarga atau pekerjaan mu. Pada saat itu, mungkin kamu tidak menghormati orangtua mu, sepupu, anak, atau pelayanmu dengan tangan anjali atau gassho. Cobalah lakukan ketika mereka tidak berhadapan denganmu. Cobalah anjali dan hormati mereka. Karena kamu merubah sikap menghormati mereka, mereka juga akan merubah sikap menghormati mu. Hormati semua orang. Ini adalah ajaran dari Bodhisattva Sadaparibhuta.
~ Namu Myoho Renge Kyo ~