BAB XVI
JANGKA WAKTU HIDUP SANG TATHAGATA

 
KESIMPULAN

Didalam bab yang terdahulu yakni Bab.XV, terdapat jumlah Bodhisattva Muncul dari Bumi yang tak terhingga jumlahnya. Bodhisattva Maitreya bertanya kepada Sang Buddha Sakyamuni, “Bagaimana Buddha bisa mengajar orang-orang yang tak terhingga jumlahnya ini selama empat puluh tahun setelah Beliau mencapai Penerangan Sempurna.

Bab ini menjawab pertanyaan tersebut dan menjelaskan tentang keberadaan sesuatu yang kekal dan Buddha Abadi. Ini menjelaskan kenapa kita perlu memuja Gohonzon atau Yang dimuliakan sedunia, dan bagaimana seharusnya kita memuja Gohonzon itu. 

PENJELASAN

"Setelah itu Buddha berkata kepada Persamuan Agung yang meliputi para Bodhisattva dan semua mahluk, ‘Putra yang baik ! pahamilah kata-kata Ku ini dan dengan tulus hati mempercayainya !” (P.241, L.4.):

Bab ini dimulai dengan kata-kata demikian  yang diulang oleh Buddha Sakyamuni sebanyak tiga kali. Ini menandakan betapa pentingnya bab ini. Adalah hal yang sulit bagi umat manusia, untuk memahami kata-kata buddha secara logika, maka kita harus percaya kepada para Buddha.Tathagata  adalah salah satu gelar dari seorang Buddha, dan ini berarti Dia yang dating.  Kemudian, Tathagata adalah yang telah mencapai Penerangan sejak masa lampau yang jauh. Ia yang telah tinggal dalam dunia kebenaran, tetapi Ia menampakan dirinya ke dalam dunia saha ini dalam rangka untuk menyelamatkan seluruh mahluk hidup. Buddha Abadi datang ke dunia ini hanya dalam keinginan untuk membuat kita semua mencapai Kebuddhaan seperti Beliau. "  

"Setelah Yang Dimuliakan Dunia, mengulangi perkataannya sebanyak tiga kali, berkata kepada mereka: “Dengarkan Aku dengan penuh perhatian ! Aku akan menjelaskan tentang hal yang tersembunyi dan kekuatan gaibKu.  (P.241, L.16.):

Menanggapi Sang Buddha, para peserta pesamuan agung mengulangi tiga kali dengan berkata : “Kami akan menerima kata-kataMu dengan penuh kepercayaan.”  Kemudian pada kesempatan selanjutnya, Buddha mulai menceritakan tentang Kebenaran itu. Ini adalah sebuah upacara yang sangat penting untuk mengulang kata-kata tersebut sebanyak empat kali; ini adalah symbol betapa pentingnya bab ini. Hal yang sama terjadi pada Bab.II, “Upaya Kausalya”. Sang Buddha berkata kepada Sariputra, “Cukuplah sudah, Sariputra, Apa yang akan Aku babarkan ini adalah Dharma yang diperoleh oleh para Buddha adalah Kebenaran Yang Tertinggi,  sulit untuk didengar dan dimengerti.” Sariputra bertanya: “Jelaskanlah semuanya ini.” Mereka bertukar dialog sebanyak tiga kali dengan bersemangat. Bagaimana mungkin Aku meninggalkan Dharma yang tidak dapat digunakan ? Dengarkanlah aku dengan penuh perhatian.” Kemudian, Sang Buddha mulai membabarkan tentang Kebenaran Tertinggi itu dalam bab.2. Ini adalah sebuah kegiatan upacara.

"Untuk memberitahukan Kebenaran, adalah ratusan ribu miliar nayuta kalpa sejak Aku menjadi seorang Buddha.'(P.241, L.22.):

Sutra-sutra lain kecuali Saddharma Pundarika Sutra hanya menerima Buddha dalam sejarah : Buddha Sakyamuni, yang telah meninggalkan Istana Kapila dari suku Sakya, duduk dibawah Pohon Bodhi, dan mencapai KeBuddhaan, dan meninggal pada usia 80 tahun. Buddha dalam sejarah adalah sementara dan terukur. Buddha ini disebut "Shaku-butsu."  Pada sisi lain, "Hom-butsu"  adalah sejati dan Buddha Abadi yang telah mencapai KeBuddhaan sejak ratusan ribu miliar nayuta kalpa yang lalu.Shaku-butsu adalah perwujudan dari Hom-butsu.  Hom-butsu adalah Buddha yang tidak ada permulaan dan akhir, sama seperti sebuah lingkaran. Jika terdapat permulaan, berarti terdapat akhir, sama seperti sebuah garis. Oleh karena itu, Siddhartha Gautama yang lahir di Istana Kapila adalah seorang Buddha pada waktu Ia dilahirkan, tetapi karena keinginan untuk memperlihatkan kepada kita bahwa kita bisa mencapai KeBuddhaan seperti Beliau, Ia meninggalkan istananya dan menjalankan berbagai macam pertapaan dan meditas; sebagai hasilnya, Ia mencapai KeBuddhaan.Disini, kita bisa melihat terdapat tiga tipe yang berbeda dari Buddha : Buddha Sejati, Perwujudan dari Buddha (Emanasi), dan Buddha Penghormatan. Meskipun demikian dari semua para Buddha, hanya Buddha Sakyamuni yang mempunyai ketiga tipe Buddha ini dalam diriNya.

"Umpamakan seseorang mampu menhancurkan Lima Ratus ribu miliar nayuta asamkhya dunia-dunia menjadi debu, dan membawanya kearah timur. Ketika dia mencapai sebuah dunia sejauh Lima Ratus ribu miliar nayuta asamkhya, ia menaruh sebutir debu di dunia itu…..Kemudian ia mengulanginya sampai semua partikel dari debu itu habis.” (P. 241, L.22.):

Kalimat ini berarti KeAbadian. Contoh yang sama dijelaskan dalam Bab 7 : "Seandainya terdapat seseorang yang mampu menghancurkan semua partikel bumi dari seribu miliar gunung Sumeru kedalam tinta. Kemudian Ia ingin pergi kearah timur sejauh seribu dunia dari dunia ini. Kemudian ia mengulangi menitikan setetes tinta itu setiap sejauh seribu dunia sampai tinta itu semuanya habis. " Bandingkan tentang jaraknya Lima Ratus ribu miliar nayuta asamkhya dunia dalam Bab.16 dan jarak dari Seribu dunia dalam kata ini dalam bab 7, secara ukuran ini adalah sebuah jarak yang lebih jauh. Ini ingin menjelaskan tentang KeAbadian.

"Selama ini Aku tinggal di Dunia Saha ini, dan membabarkan Dharma kepada mereka.” (P.242, L.20):

Sang Buddha adalah selalu hidup dan mengajarkan Dharma kepada kita. Secara pisik Buddha yang dikenal lahir di India (sekarang Nepal) telah moksa, jadi kita tidak dapat melihatNya atau mendengarkan dariNya; bagaimanapun, Buddha Sejati hidup dalam Dharma. Manusia, binatang, tanaman, angin, udara, dan segala sesuatu di alam semesta adalah perwujudan dari Dharma.

"Selama waktu ini, Aku memberikan berbagai macam nama yang berbeda kepada diriKu. (P.241, L.25.):

Sebagai contoh, Ia menamakan dirinya sendiri sebagai Buddha Kemilau Cahaya, Buddha Amitabha, Buddha Dainichi, Bodhisattva Saddhaparibhuta, dan masih banyak nama lainnya.

"Aku membabarkan Dharma Yang Luar Biasa ini dengan upaya kausalya dan membuat semua mahluk berbahagia." (P.243, L.32.):

Sebuah Kebohongan dan sebuah upaya kausalya adalah sesuatu yang berbeda. Kebohongan adalah menipu orang lain dan menyebabkan mereka  sedangkan upaya kausalya adalah kebohongan yang baik untuk membimbing orang lain menjadi lebih baik dan mencapai keselamatan. Nichiren Shu mempunyai banyak upaya kausalya seperti Jimat, ofuda, Pemberkatan Kito, dan rei-dan. Ini semua membuat orang-orang menjadi bahagia atau gembira. Kegembiraan adalah salah satu cara bagi orang untuk mendekati ajaran dari Sutra Bunga Teratai. Buddha Sakyamuni membabarkan ajaran Beliau dengan begitu piawai dan dengan suara yang lembut, ini semua membuat mahluk hidup berbahagia.Ini adalah hal yang terpenting untuk selalu bahagia atau bersemangat terhadap apapun yang kamu lakukan. Bahagia dan semangat akan membuat kamu dan orang lain menjadi lebih baik dan penuh vitalitas.

"Semua sutra-sutra yang Aku babarkan secara terperinci adalah untuk menyelamatkan semua mahluk hidup. " (P.243, L.7.):

Semua ajaran Buddha seperti upaya kausalya adalah untuk menyelamatkan seluruh mahluk hidup.Semua ajaran yang dibabarkan sebelum menyatakan tentang Buddha Abadi dalam Bab. 16 , Sutra Bunga Teratai disebut "Shaku-mon" atau ajaran sementara. "Hom-mon" adalah separuh bagian akhir dari sutra yang menyatakan tentang Buddha Abadi. Beberapa sekte Nichiren hanya menfokuskan diri pada bagian Hom-mon. Nichiren Shu menempatkan nilai yang sama antara ajaran dalam Shaku-mon dan Hom-mon sebab meskipun Shaku-mon adalah sebuah upaya kausalya, ini tetap untuk menyelamatkan seluruh mahluk hidup. Ajaran ini adalah untuk membantu kita mengerti secara menyeluruh ajaran Hom-mon, sama seperti pelajaran dalam sekolah dasar dan menengah adalah langkah untuk mengerti ajaran pada pendidikan tinggi. Oleh karena itu, Buddha Abadi adalah mewujudkan diri (emanasi ) menjadi Buddha Sakyamuni, Amitabha, Dainichi, Buddha Yokuo atau para bodhisattva lainnya. Buddha Abadi mungkin juga mewujudkan diri menjadi Jesus Kristus, Moses, Allah atau Konfusius, tergantung kepada pemahaman masing-masing orang.Jika kita mengerti semua agama dan budaya, kita tidak perlu bertengkar satu sama lain karena perbedaan. 

" Karena betapapun juga Sang Tathagata mengetahui dan melihat sifat-sifat keadaan triloka seperti apa adanya. Bagi Beliau tidak ada kelahiran maupun kematian, pergi maupun datang, hidup ataupun mati, yang nyata atau­pun yang tidak nyata, dan tidak juga ada yang begini ataupun begitu. Tidak seperti caranya triloka memandang triloka, Sang Tathagata melihat dengan jelas akan hal-hal seperti ini semua tanpa salah sedikitpun.(P.243, L.14.):

Triloka (Tiga Dunia) adalah dunia mahluk yang belum mencapai Penerangan. Ini dapat dibagi menjadi tiga :

Dunia Hawa Nafsu, dimana mahluk hidup yang mempunyai selera dan keinginan seksual, seperti manusia dan binatang.

Dunia Berbentuk, dimana mahluk hidup yang tidak mempunyai selera dan keinginan seksual, seperti tanaman dan besi.

Dunia Tanpa Bentuk, dimana mahluk hidup yang tidak mempunyai pisik seperti udara, gelombang listrik, mahluk spiritual.

Para Buddha melihat segala sesuatunya dengan cara yang berbeda dengan kita; hitam atau putih, baik atau buruk, pintar atau bodoh, beruntung atau sial, menang atau kalah.Kristen mempunyai cara pandang yang berbeda seperti Baik atau Jahat, Tuhan atau Setan, Surga atau Nerakat, sedangkan seorang Buddhis harus melihat segala sesuatunya secara menyeluruh dan secara individu. Kita harus melihat segala sesuatu dari segala sisi. Lihatlah antara kualitas perbedaan dan persamaan.

"Jangka waktu hidupKu adalah tak terhingga, asamkhya kalpa. Aku selalu berada disini. Aku tidak pernah moksa. " (P.243, L.25):

Buddha Abadi tidak pernah moksa. Meskipun Buddha dalam sejarah telah moksa beberapa abad yang lalu di India, Buddha Abadi selalu bersama dengan kita. Buddha menjelaskan melalui perumpamaan untuk kita agar lebih mudah mengerti tentang keberadaan dari Buddha Abadi:   

PERUMPAMAAN TENTANG TABIB YANG BIJAKSANA

Terdapat seorang tabib yang pintar dan bijaksana. Ia adalah alih dalam meracik obat-obatan dan mengobati penyakit. Ia mempunyai banyak anak. Suatu hari Ia ingin pergi keluar negeri untuk bisnis.Setelah Ia pergi meninggalkan rumah, anak-anaknya secara kebetulan meminum beberapa racun. Racun itu merusak badan mereka, dan mereka menderita sakit nyeri, berguling-guling dilantai. Pada suatu hari, sang tabib pulang kerumah. Beberapa anaknya telah hilang kesadarannya dan beberapa yang lainnya tidak. Mereka semua memohon kepadanya agar menyembuhkan penyakitnya dari racun dan berkata, “Kami begitu bodoh. Kami telah mengambil racun karena kelalaian kami. Sembuhkanlah kami dan kembalikanlah hidup kami !” Melihat penderitaan dari anak-anaknya yang begitu menderita, Ia meracik campuran obat tumbuh-tumbuhan, dan memberikan kepada mereka, seraya berkata, “Obat ini mempunyai warna yang bagus, bau dan rasa. Ambilah obat ini ! Ini akan menghilangkan rasa sakit itu segera. Kamu tidak akan menderita lagi.”  Mereka yang tidak kehilangan pikirannya mengambilnya segera dan segera sembuh dari sakitnya. Tetapi mereka yang telah kehilangan kesadaran, tidak ingin meminumnya sebab menjadi tersesat dan tidak mempercayai obat yang baik ini baik warna, bau maupun rasanya. Orantua itu berpikir, “Anak-anak ini sangat menyedihkan. Mereka sangat teracuni dan sesat. Walaupun mereka gembira melihatku dan meminta aku untuk menolong mereka, mereka tidak ingin mengambil obat yang baik ini. Sekarang ! Aku membantu mereka dengan upaya kausalya.”Kemudian Beliau berkata kepada mereka, “Sekarang Aku sudah tua dan jompo. Aku akan segera meninggal. Aku meninggalkan obat ini disini. Ambilah. Janganlah kwuatir, kamu akan tertolong !”. Setelah menasehati mereka, Beliau pergi ke luar negeri lagi. Kemudian Ia mengirimkan berita kepada mereka melalui kurir, “Ayah kalian telah meninggal dunia.”Begitu mendengar bahwa ayah mereka telah meninggal dunia meninggalkan mereka, mereka semua merasa sangat menyesal. Mereka berkata, “Jika ayah kita masih hidup, Ia akan mencintai dan melindungi kita. Sekarang Ia telah pergi dan meninggal di negeri lain.” Mereka merasa kesepian dan putus asa sebab mereka berpikir tidak mempunyai tempat berteduh dan tanpa orang tua. Kesedihan terus menghantui mereka sampai pada akhirnya mereka ingat akan perkataan ayahnya dalam kata-kata terakhirnya, “Ambilah Kebaikan ini ! Kemudian mereka mengambilnya dan menyembuhkan semua racun dalam tubuh mereka.Setelah mendengar bahwa mereka telah sembuh dari penyakitnya, Ayah mereka pulang kembali kerumah dan menunjukkan dirinya kepada mereka"Apa pendapatmu tentang ini ? Apakah kamu berpikir bahwa seseorang akan menuduh bahwa tabib itu adalah pembohong? “ Jawabannya adalah “Tidak!”  

(PENJELASAN):

Sang Buddha bagaikan orang tua kita. Pada ratusan ribu miliar kalpa telah berlalu sejak Ia mencapai KeBuddhaan. Dalam rangka untuk menyelamatkan orang dalam dunia ini setelah Ia moksa, Ia berkata, “Aku akan moksa.”Meskipun Buddha Sakyamuni telah pergi lebih dari 2500 tahun yang lalu, ajaran Beliau tetap hidup sampai hari ini dan akan terus hidup selamanya. Sama seperti tubuh pisik dokter tidak dapat menyembuhkann sakit tetapi dengan obat yang baik dapat menolong anak-anaknya yang bodoh, ajaran Sang Buddha, ajaran Sutra Bunga Teratai, adalah terus menerus dapat menolong umat manusia dalam masa akhir dharma ini.

O'DAIMOKU ADALAH OBAT YANG BAIK

Nichiren, adalah pendiri dari Nichiren Buddhisme, berkata bahwa judul dari Sutra Bunga Teratai, dimana O'daimoku “Namu Myoho Renge Kyo” adalah sama seperti obat yang baik warna, rasa, dan harumnya. Nichiren Shonin selalu berkata, “Sebutlah Daimoku. Hanya inilah jalan untuk mencapai KeBuddhaan pada masa akhir dharma.” Melalui penyebutan "Namu Myoho Renge Kyo," kamu akan mempunyai empat kekuatan dari Daimoku yakni; menyembuhkan penyakit pisik dan spiritual, melindungi pelaksana dari Sutra Bunga Teratai, menghapus karma buruk dan mencapai Kebenaran atau Penerangan Agung.

KEGEMBIRAAN DALAM PENYEBUTAN ODAIMOKU

Banyak orang bertanya; “Saya menyebut odaimoku untuk beberapa jam, beberapa bulan atau beberapa tahun. Kenapa Saya tidak mendapatkan keuntungan darinya.” Orang-orang seperti ini kelihatannya menyebut dan berdoa dengan keras, tetapi mereka menyebut dan berdoa dalam tingkatan keenam dan ketujuh. Mereka meragukan kekuatan dari Odaimoku dan meragukan diri mereka sendiri. Keraguan ini akan menguburkan alam bawah sadar dalam-dalam. Mereka harus memurnikan alam bawah sadar mereka yang penuh keraguan itu.Bagaimana kita dapat memurnikan alam bawah sadar dan karma buruk kita ? Ini adalah berpikir positif. Salah satu cara yang mudah adalah tersenyum. Ini berarti menyebut Odaimoku dengan wajah tersenyum. Lihatlah ke Gohonzon, jadi mata akan menjadi terang dan membuat wajahmu menjadi tersenyum.Jangan memaksa dirimu untuk Odaimoku. Jika kamu memaksa dirimu, kamu hanya akan membangun alam bawah sadar negatifmu sebab ini akan menjadi berat. Nikmatilah penyebutan Odaimoku. JIka kamu tidak merasakan kebahagiaan dari Odaimoku, kamu harus merubah metode penyebutanmu, contoh : duduk, pemilihan waktu, kecepatan dan factor lainnya.Buddha Abadi selalu berpikir bagaimana cara menyebabkan semua mahluk hidup masuk dalam jalan yang tak tertandingi ini dan segera mencapai KeBuddhaan.  

~NAMU MYOHO RENGE KYO~