BAB XV
BODHISATTVA MUNCUL DARI BUMI

 
RINGKASAN

Di akhir bab 13 sang Buddha berkata bahwa, "Aku akan segera memasuki Nirvana. Adakah seseorang yang bersedia membabarkan Saddharma Pundarika Sutra di dunia ini setelah kemokshaan-Ku? Aku ingin menyerahkannya kepada seseorang agar dapat terus dilestarikan." Dalam bab 14, ada delapanpuluh milyar nayuta bodhisattva yang memutuskan untuk membabarkan sutra tersebut dan berprasetya akan menahan semua kesukaran atau penganiayaan di atas dunia. Akan tetapi sang Buddha tidak memberikan tanggapan-Nya kepada mereka.

Pada saat bab 15 dimulai, para bodhisattva yang tak terhitung jumlahnya dari dunia lain berkata bahwa mereka akan membabarkan sutra ini di dunia Saha. Namun Buddha Sakyamuni mengejutkan mereka dengan berkata, "Tidak. Kalian tidak perlu melakukannya, karena telah terdapat bodhisattva yang tak terhitung jumlahnya di dunia ini. Merekalah yang akan membabarkan sutra ini di dunia Saha." Ketika Ia mengatakan hal tersebut, tanah bergoncang dan membelah, dan para bodhisattva yang tak terhitung jumlahnya muncul dari dalam tanah. Diantara mereka, terdapat empat Bodhisattva pemimpin: Pelaksana-Terunggul, Pelaksana-Tak Terbatas, Pelaksana-Suci, dan Pelaksana-Teguh-Kokoh.

 PENJELASAN

"Dengan itu para Bodhisattva-mahasattva ... yang telah datang dari berbagai dunia lain, ... berkata: 'Jika Anda mengijinkan kami untuk melindungi, menyimpan, membaca, mendaraskan , dan menyalin sutra ini, dan memberikan berbagai persembahan kepadanya tanpa kenal lelah di Dunia-Saha ini setelah kemoshaan Anda, kami akan melakukan semuanya, dan membabarkannya di dalam dunia ini.' " (P.228, L.4.):

Buddha Sakyamuni tidak memberikan tanggapan atas pengajuan dari para Bodhisattva dari berbagai dunia lain dalam bab terdahulu, namun kali ini Ia menolak pengajuan mereka dengan berkata sebagai berikut:

"Tidak, wahai orang-orang suci! Aku tidak ingin kalian untuk melindungi atau menyimpan sutra ini karena ada Bodhisattva-mahasattva sejumlah enampuluh ribu kali jumlah seluruh pasir Sungai Gangga di dunia ini." (P.228, L.13.):

Ia menolak bantuan dari berbagai dunia lain. Hal ini berarti bahwa segala permasalahan di dunia ini haruslah dipecahkan oleh orang-orang yang terdapat di dunia ini. "Jangan tergantung kepada orang lain". "Jangan melarikan diri dari penderitaan di dunia ini". "Kita harus menyelesaikan segala permasalahan kita sendiri" Saddharma Pundarika Sutra mengajarkan kepada kita kepercayaan-diri dan kemandirian. Sang Buddha selalu mendorong kita untuk melakukan segala sesuatunya oleh diri kita sendiri. Ia mempercayai kita.Kita tidak mengetahui berapa jumlah pasir yang terdapat di Sungai Gangga, pastilah jumlahnya tak terhitung. Para Buddhis yang tak tak terhitung jumlahnya terdapat di masa lampau dan akan terdapat di masa mendatang. Jumlahnya mungkin bahkan melebihi enampuluh ribu kali jumlah pasir Sungai Gangga karena sutra ini berbicara mengenai masa yang tak terhitung di masa lalu dan masa yang tak terhitung di masa mendatang. Oleh karena itu tidaklah mengejutkan mendengar bahwa "Ada Bodhisattva-mahasattva sejumlah enampuluh ribu kali jumlah seluruh pasir Sungai Gangga di dunia ini."

"Tanah di Dunia-Saha, ... bergoncang dan membelah, dan bermilyar-milyar Bodhisattva-mahasattva muncul dari dalam tanah secara bersama-sama.' (P.228, L.19.):

Penting adanya dikatakan bahwa mereka mucul dari dalam bumi. Sebagai contoh, benih-benih dari rumput dan tanaman tersimpan dalam tanah selama musim dingin. Ketika musim semi telah datang mereka akan muncul dari dalam bumi secara hampir bersamaan. Tumbuhan muda tersebut masihlah sangat lemah dan mudah rusak, namun meski demikian, mereka cukup kuat untuk memecahkan dan menerobos tanah yang keras. Beberapa tumbuhan cukup kuat untuk meretakkan aspal atau semen. Sungguh ajaib dan gaib. Inilah yang disebut dengan "MYO-HO." Kita harus berjuang keras seperti tumbuhan-tumbuhan muda tersebut. Kita harus memiliki kemauan yang keras dan kekuatan dari dalam untuk hidup dengan kokoh.Para Bodhisattva dari dalam bumi adalah para pelaksana Saddharma Pundarika Sutra di masa kini. Nichiren Daishonin berkata: "Jika Anda bukan seorang Bodhisattva dari dalam Bumi, Anda tidak akan dapat menyebut Odaimoku." Jadi Anda dan saya adalah para Bodhisattva dari dalam bumi.

"Mereka telah hidup di langit di bawah dunia Saha ini." (P. 228, L.24.):

Bukankah menakjubkan bahwa terdapat langit bukan hanya di atas kita namun juga di dalam bumi? Namun anda tidak boleh mencerna kata tersebut secara harafiah. Langit, atau "ku" dalam bahasa Jepang dan Cina, memiliki arti kehampaan, ketiadaan, ketidak-melekatan, kesetaraan, dll. Para Bodhisattva dari dalam bumi telah hidup di tahap tanpa keterikatan. Mereka dididik di bawah bimbingan sang Buddha Abadi di masa lalu tak terhingga. Meski mereka telah mencapai tahap tanpa-keterikatan, mendengar suara sang Buddha meminta membabarkan Saddharma Pundarika Sutra di atas bumi ini, mereka kembali hidup bersama kita di atas bumi yang penuh dengan penderitaan ini. Sekali lagi, kita adalah para Bodhisattva dari dalam bumi.

"Para Bodhisattva ini memiliki empat pemimpin: Pelaksana-Terunggul, Pelaksana-Tak Terbatas, Pelaksana-Suci, dan Pelaksana-Teguh Kokoh." (P.230, L.3):

Dikatakan bahwa keempat Bodhisattva agung ini adalah para pemimpin di Jaman Kemerosotan Dharma. Nama dari keempat Bodhisattva ini muncul di sebelah Buddha Sakyamuni dan Buddha Taho dalam Mandala Gohonzon Nichiren Shonin. Dikatakan juga bahwa Nichiren adalah reinkarnasi dari Bodhisattva Pelaksana-Terunggul.

"Sang Bhagava! Apakah Anda baik-baik saja? Apakah Anda tenteram? ... Tidak kah mereka melelahkan Anda?" (P.230, L.9.):

Dengan demikian, keempat Bodhisattva dari dalam bumi menanyakan kabar sang Buddha. Menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, ia berkata sebagai berikut:

"Aku merasa tenteram. Aku baik-baik saja. Semua mahkluk hidup telah siap untuk diselamatkan. Mereka tidak membuatku lelah karena Aku telah mengajari mereka secara berturut-turut di kehidupan lampau mereka, dan juga karena mereka telah memberi penghormatan kepada para Buddha di jaman lampau secara sungguh-sungguh dan menanam akar kebajikan." (P.230, L.23.):

Pada saat kita melakukan pekerjaan-pekerjaan yang tidak kita inginkan atau kita sukai, dengan mudah kita menjadi lelah. Ketika kita menikmati hal yang kita kerjakan, kita tidak akan mudah merasa lelah dan merasa tertekan. Buddha Sakyamuni sunguh menikmati pembabaran ajaran-ajaranNya karena Ia mengetahui masa lampau kita, masa sekarang, dan akan datang. Ia tahu bahwa kita akan menjadi para Buddha. Jadi, ketika kita memiliki impian untuk masa depan dan berkerja keras demi sebuah tujuan, kita mampu menikmati apa yang kita lakukan.Mereka yang melaksanakan ajaran-ajaran Saddharma Pundarika Sutra memiliki hubungan tertentu dengan sutra itu dimasa lalu. Mereka pastilah telah menerima dan melaksanakan ajaran tersebut sebelumnya. Dengan hubungan sebab akibat inilah, kita melaksanakan ajaran-ajaran ini dan akan mencapai Kebuddhaan di masa mendatang karena kita adalah anak-anak tercinta sang Buddha.

"Kami belum pernah melihat Bodhisattva yang berjumlah jutaan ini sebelumnya. Beritahukan kepada Saya, Yang Termulia diantara semua mahkluk berkaki dua! Dari manakah mereka berasal? Mengapa mereka datang?" (P.231, L.24.)

:Bodhisattva Maitreya menanyakan hal di atas mewakili seluruh peserta pesamuan yang berkumpul di gunung Gridhakurta. Mereka terdiri dari para murid sang Buddha, saudara, para Bodhisattva dari dunia lainnya, dewa-dewi, mahkluk-mahkluk spiritual dan lain-lain. Mereka belum pernah melihat para bodhisattva dari dalam bumi ini sebelumnya. Mereka bertanya-tanya dari mana mereka berasal dan tujuan mereka berada disana.

"Tunggulah sesaat!" Buddha Sakyamuni memastikan Bodhisattva Maitreya atas pencapaian Kebuddhaannya di masa mendatang." (P.234, L.22.):

Sebelum menjawab pertanyaan Maitreya, sang Buddha ingin memberikannya kepastian pencapaian Kebuddhaannya. Adalah Bodhisattva Maitreya yang akan menjadi seorang Buddha segera setelah Buddha Sakyamuni. Ia dipercayai tinggal di Surga Tusita, menunggu waktunya ketika ia akan turun ke dunia ini dan menggantikan Buddha Sakyamuni. Dikatakan bahwa ia akan muncul di dunia ini lima milyar enam ratus tujuh puluh juta tahun setelah kemokshaan Buddha Sakyamuni. Buddha Maitreya mungkin saja adalah Anda!

"Kata-kata-Ku adalah benar adanya. Percayalah kepada-Ku dengan segenap hati kalian! Aku telah mengajar mereka semenjak masa lampau yang tak terhingga." (P.237, L.7):

Sang Buddha akhirnya menjawab pertanyaan Maitreya. Ia berkata: "Memang benar bahwa kalian belum pernah melihat satupun dari Bodhisattva yang jumlahnya tak terhitung ini yang muncul dari dalam bumi. Namun Aku, Sakyamuni, telah mengajar mereka di Dunia Ketabahan semenjak Aku mencapai Kebuddhaan. ... Bagi kalian tampak seolah-olah bahwa, setelah Aku mencapai Kebuddhaan di bawah pohon Bodhi di dekat kota Gaya 40 tahun lebih yang lalu, Aku kemudian mengajar mereka untuk pertama kalinya, dan membuat mereka memasuki jalan Kebuddhaan. Namun SESUNGGUHNYA, AKU TELAH MEMBABARKAN HUKUM INI KEPADA MEREKA SEMENJAK MASA LAMPAU TAK TERHINGGA." Kalimat ini merupakan pengantar kepada bab berikutnya, "Panjang Usia sang Tathagata (Buddha)."Konsep Buddha Abadi belum pernah diungkap sebelumnya. Olehkarena itu orang-orang tidak memahami apa yang dikatakan oleh sang Buddha dan memunculkan sebuah pertanyaan sebagai berikut:

"Sulit bagi siapapun di dunia ini untuk memahami hal ini. Sama sulitnya untuk mempercayai seorang laki-laki tampan berambut hitam berusia dua-puluh lima tahun yang menunjuk kepada para pria berusia seratus tahun dan berkata, 'Mereka adalah putra-putraku,' atau untuk mempercayai para pria berusia seratus tahun yang menunjuk kepada seorang laki-laki muda dan berkata, 'Inilah ayah kami. Ia yang membesarkan kami.' Anda (Buddha Sakyamuni) adalah seperti laki-laki muda tersebut. Belumlah lama semenjak Anda mencapai penerangan." (P.237, L.30.):

Para pertapa Buddhisme Theravada memiliki tujuan untuk melarikan diri dari dunia kita yang penuh penderitaan ini, terbebas dari segala permasalahannya, dan mencapai sebuah tingkat kesadaran suci murni. Hal ini dapat membuat mereka menjadi tak acuh lagi terhadap dunia. Dengan mudah mereka melupakan tugas terpenting dalam agama untuk menyelamatkan manusia biasa.Sebaliknya, Buddhisme Mahayana, dimulai dari sudut pandang orang-orang biasa, meyakini bahwa tingkat penerangan hanya dapat dicapai di tengah-tengah dunia ini, karena para Bodhisattva tidak dapat menyelamatkan manusia tanpa hidup dan tinggal disini ikut merasakan kejahatan dan penderitaan yang ada. Para Bodhisattva tentunya, adalah murni, dan mereka tidak pernah tercemari oleh kejahatan dan keburukan lingkungan mereka. Mereka bagaikan bunga-bunga teratai yang indah, yang muncul dari dalam lumpur di dasar air.

"Mereka tidak terkotori oleh keduniawian sama seperti bunga teratai tidak tercemari oleh air." (P.239, L.2.):

Kalimat ini adalah salah satu dari kata-kata paling penting dalam sutra ini. Nichiren Shonin mengambil sebagian namanya, "Ren," dari kalimat ini. Teratai adalah "ren" atau "hasu" dalam bahasa Jepang. Para pengikut Nichiren seharusnya mencoba meniru beliau dan tidak dikotori oleh keduniawian sama seperti bunga teratai tidak dikotori oleh air. Teratai tumbuh dari tanah kotor di dalam air. Batang, daun, dan bunganya muncul dari air yang kotor. Meski Anda menuangkan air yang kotor tersebut di atasnya, air tersebut akan jatuh dan mereka tidak menjadi kotor, karena tanaman tersebut seperti lilin. Lilin dan air tidak dapat bercampur.

"Bagaimana Anda mengajari para Bodhisattva yang tak terhitung jumlhanya ini dalam waktu yang begitu singkat, dan membuat mereka berkeinginan mencapai penerangan dan tidak tergoyahkan dalam mengejar penerangan?" (P.240, Last Paragraph.):

Kalimat ini merupakan akhir dari bab ini. Buddha Sakyamuni seperti yang terdapat dalam sejarah memiliki tubuh dan keterbatasanNya sama seperti semua peserta pesamuan yang berkumpul di puncak gunung Girdhakuta. Tanpa konsep Buddha Pokok Abadi, welas asih sang Buddha pun terbatas.Kita akan mulai siap untuk mengerti konsep Buddha Abadi dalam bab berikutnya. 

~ Namu Myohorengekyo ~