RINGKASAN
Di dalam bab terdahulu, Bodhisattva Raja-Obat dan keduapuluh ribu Bodhisattva lainnya berprasetya kepada Buddha Sakyamuni bahwa mereka akan menjaga, membaca, mendaraskan, dan membabarkan Saddharma Pundarika Sutra. Namun mereka berkata bahwa mereka akan melakukan semua hal tersebut di dunia lain dan bukan di dunia ini. Mereka berkata demikian karena orang-orang di dunia ini dipenuhi dengan berbagai keburukan. Kemudian, ada delapanpuluh milyar nayuta bodhisattva yang memutuskan akan membabarkan sutra ini dan berprasetya akan menahan semua kesukaran fisik dan penganiayaan di dunia ini. Oleh sebab itu, bab 13 terdahulu membahas kesukaran dari luar diri para pembabar dan guru Dharma.Kebalikannya, bab ini cenderung menekankan kesiapan spiritual para pembabar. Mereka tidak boleh mengejar kemashyuran, hal yang sia-sia, keuntungan pribadi, dan sebagainya. Socrates pernah berkata,
"Orang yang tidak mampu mengalahkan dirinya sendiri tak akan pernah bisa memenangkan orang lain"Dengan mengingat filsafatnya dalam pikiran para pembabar, mereka harus melaksanakan empat jenis pelaksanaan yang penuh kedamaian: tubuh, mulut, pikiran, dan janji-janji.
PENJELASAN
"Sang Buddha berkata kepada Bodhisattva Manjusri, 'Seorang Bodhisattva yang berkeinginan membabarkan sutra ini ke dunia yang penuh keburukan setelah kemokshaan-Ku harus melaksanakan empat jenis hal.'" (P.210, L.12):
Keempat jenis hal tersebut adalah :
Pelaksanaan tubuh yang penuh kedamaian
Pelaksanaan mulut yang penuh kedamaian
Pelaksanaan pikiran yang penuh kedamaian
Pelaksanaan janji-janji yang penuh kedamaian
"Pertama, ia harus menjalankan pelaksanaan yang selayaknya, mendekati hal-hal yang selayaknya, dan kemudian membabarkan sutra ini." (P.210, L.16.):
Terdapat dua pelaksanaan tubuh
menjalankan pelaksanaan yang selayaknya dan
mendekati orang-orang yang layak.
Menjalankan pelaksanaan yang selayaknya berarti bahwa para pembabar harus selalu melaksanakan kebajikan kesabaran, bersikap lemah lembut dan rendah hati. Mereka tidak boleh kasar dan takut. Mereka tidak boleh melekatkan diri mereka kepada segala sesuatu, juga mereka tidak boleh melekat kepada ketidak-melekatan.
Mendekati orang-orang yang layak adalah :
Seorang pembabar seharusnya menghindari orang-orang dengan kekuasaan politik yang besar, seperti para raja, meteri, atau petugas pemerintahan yang tinggi pangkatnya.
-
Ia tidak boleh mendekati mereka yang membabarkan ketidak-benaran, atau mereka yang menyia-nyiakan waktu dengan menulis tentang urusan keduniawian.
-
Ia tidak boleh mendekati orang-orang yang menghibur orang banyak dengan membahayakan nyawa mereka sendiri ataupun nyawa orang lain.
Ia tidak boleh mendekati orang-orang yang mencari penghidupan dengan cara membunuh mahkluk hidup.
-
Ia tidak boleh mendekati, bertanya, atau tinggal bersama dengan orang yang mengejar Ajaran yang lebih rendah tingkatannya. Jika ia didekati oleh orang-orang seperti itu, ia haruslah membabarkan Dharma dengan penuh rendah hati, namun tidak boleh meminta bayaran apapun.
Ia tidak boleh membabarkan Dharma kepada wanita manapun yang ia kehendaki.
-
Ia tidak boleh mendekati para kasim.
-
Ia tidak boleh memasuki rumah siapapun tanpa diundang.
Ia tidak boleh terlalu bersahabat dengan seorang wanita, meski untuk membabarkan Dharma kepadanya.
Ia tidak boleh membawa anak-anak bersama dengannya.
Peraturan-peraturan ini kelihatnnya bersifat mendiskriminasi, namun tidaklah demikian sesungguhnya. Semua itu adalah sikap pikiran dari para pembabar; atau bisa dikatakan, tidak terpengaruh oleh orang-orang tersebut, menghindari bersikap terlalu bersahabat dan meniru pendapat orang lain. Saddharma Pundarika Sutra adalah ajaran kesetaraan; oleh sebab itu, kita harus mengajarkan ajaran ini kepada setiap orang, namun kita harus berhati-hati agar tidak terpengaruh oleh pendapat-pendapat keduniawian mereka.
"Sang Bodhisattva juga harus mengetahui kebenaran berikut ini. Semua hal adalah maya. Mereka adalah sebagaimana mereka adanya. Semua hal tidaklah berubah dari kebenaran. Mereka tidak bergerak. Mereka tidak pergi. Mereka tidak berbelok. Mereka tidak memiliki inti hakekat sebagaimana langitpun tidak.' (P.211, Last Paragraph.):
Sang Bodhisattva yang membabarkan kepada orang lain tentang keselamatan harus mengetahui ajaran bahwa Tidak ada yang Kekal, namun sang pembabar juga tidak boleh terikat kepada ajaran ini semata, karena ada Ajaran Abadi ("Myo-Ho") dan Buddha Abadi. Saddharma Pundarika Sutra menekankan kesetaraan yang melampaui semua perbedaan yang ada, dan perbedaan-perbedaan didalam kesetaraan. Potensi semua orang untuk mencapai Kebuddhaan adalah ajaran kesetaraan, namun kita harus menyadari ada banyak jalan berbeda untuk membimbing orang kepada Kebuddhaan.
"Kedua, Manjusri! Seorang Bodhisattva yang ingin membabarkan sutra ini ... tidak boleh mengatakan hal-hal buruk atau jasa-jasa baik atau keburukan dari orang lain." (P. 216, Paragraf pertama)
Paragraf ini menjelaskan tentang Pelaksanaan Mulut yang penuh Kedamaian :
Seorang pembabar sutra ini tidak boleh menunjukkan kesalahan-kesalahan dari sutra-sutra lain atau para pengikutnya.
Mereka tidak boleh mengina para pembabar Dharma lainnya.
Mereka tidak boleh menyebutkan baik jasa-jasa baik ataupun keburukan dari para pembabar, dan tidak boleh menyebutkan ‘pendengar' dengan namanya ketika mengkritik ajaran mereka ataupun bahkan ketika memuji mereka.
Mereka tidak boleh merasa bermusuhan dengan siapapun, dan haruslah menjawab dengan bebas semua pertanyaan yang diajukan kepada mereka.
Dalam terjemahan Senchu Murano, kata "negatte" dalam terjemahan Kumarajiva, hilang. "Negatte" berarti sebuah pikiran yang menyenangkan seperti dalam saya lebih unggul daripada yang lain, namun ia mengandung artian bahwa seseorang harus menunjukkan kesalahan-kesalahannya.Sang pembabar tidaklah boleh dengan penuh suka cita menunjukkan kesalahan-kesalahan orang lain dam tidak boleh dengan suka cita menghina para pembabar lainnya, namun ia harus menunjukkan kesalahan orang lain. Nichiren Daishonin mengkritik sekte-sekte dan bhikku lainnya, namun, ia tidak pernah menganggap remeh sekte atau bhikku lainnya. Ia menggunakan kata-kata yang sopan dan penuh hormat ketika berbicara dengan mereka.Sebagai perbandingan, Kubota Tsugunami dan Yuyama Akira menerjemahkan kalimat yang sama: "Ketika ia membabarkan atau mendaraskan Sutra ini ia tidak boleh bergembira dalam membicarakan kesalahan-kesalahan orang maupun Sutra lain." Bunno Kato menerjemahkannya: " Ia tidak bergembira dalam memberitahukan kesalahan-kesalahan dari sutra-sutra lainnya." Mereka menggunakan istilah, "tidak bergembira" atau "ia tidak bergembira " untuk istilah "negatte".
"Sekali lagi, Manjusri! Seorang Bodhisattva ... tidak boleh memupuk rasa iri terhadap orang lain atau menyanjung atau menipu mereka." (P.218, L.18.):
Paragraf ini menjelaskan tentang Pelaksanaan Pikiran yang penuh Kedamaian, menjaga sikap mental yang benar pada saat membabarkan Saddharma Pundarika Sutra. Ada empat poin:
Seorang Bodhisattva tidak boleh iri terhadap orang lain, atau menyanjung mereka, atau menipu mereka.
-
Ia tidak boleh menghina orang lain yang mempelajari jalan menuju Kebuddhaan dengan cara-cara lain, menjelek-jelekkan mereka, atau menunjukkan kesalahan-kesalahan mereka.
-
Ia tidak boleh mengganggu atau membingungkan orang yang mencari salah satu dari Tiga Kendaraan, dan jangan pernah mengatakan kepada mereka, “Anda jauh dari Penerangan. Anda tidak dapat memperoleh pengetahuan tentang kesetaraan dan perbedaan semua mahkluk karena Anda menyimpang dan malas dalam mencari penerangan.”
Ia tidak boleh terlibat dalam pertengkaran-pertengkaran tak berarti dengan para pengikut dari sekolah paham lain.Jika seseorang melaksanakan pelaksanaan penuh kedamaian yang ketiga ini, ia akan mampu membabarkan Dharma tanpa gangguan apapun. Metode ini disebut "sho-ju" dalam bhs.Jepang.
"Sekali lagi, Manjusri! Seorang Bodhisattva ... seharusnya memiliki kebajikan dan cinta yang luar biasa terhadap para umat awam dan bhikku, dan welas asih luar biasa terhadap mereka yang bukan Bodhisattva." (P.220, L.9.):
Paragraf ini menjelaskan pelaksanaan tekad dan janji yang penuh kedamaian. Sang pembabar haruslah memiliki kebaikan dan cinta kasih baik terhadap umat awam maupun para bhikku, dan welas asih yang besar terhadap mereka yang bukan Bodhisattva. Alasannya adalah bahwa orang-orang tidak menegerti bahwa sang Buddha membabarkan ajaran sementara sesuai dengan kemampuan semua mahkluk hidup, dan mereka tidak mempercayai dan memahaminya. Oleh karena itu, ketika seorang Bodhisattva mencapai penerangan sempurna yang terunggul, ia akan bertekad untuk membimbing semua orang kepada Saddharma Pundarika Sutra, dan dengan melalui sarana kemampuan gaib dan kebijaksanaan yang diperolehnya, menyebabkan mereka mengerti akan Hukum.Oleh karena itu, kita harus berprasetya untuk membimbing semua mahkluk hidup kepada Kebuddhaan dengan welas asih yang tak terkira. Inilah janji pertama dari Empat Janji Agung; "Mahkluk hidup tak terhitung jumlahnya, Aku berjanji akan menyelamatkan mereka semua."
"Para dewa akan melindunginya siang dan malam demi Dharma ini agar para pendengar bersuka cita karena sutra ini telah, sedang, dan akan dilindungi oleh kekuatan-kekuatan gaib dari para Buddha dari masa lampau, kini, dan akan datang." (P.220, L.30.):"Ia tidak akan dipukul dengan pedang maupun tongkat. Ia tidak akan diracun." (P.224, L.26.):
Jika kita melaksanakan keempat pelaksanaan penuh kedamaian seperti yang telah disebutkan di atas, para dewa akan melindungi kita siang dan malam. Seorang bhikku Nichiren Shu yang melaksanakan pemberkatan Kito selalu mengutip kalimat-kalimat di atas seusai doa. Nichiren Shonin juga menuliskan kalimat ini di beberapa Mandala Gohonzon.
Shakubuku-shoju adalah dua sikap yang saling bertolak belakang dalam membimbing mahkluk hidup: yang bersifat agresif dan yang persuasif.Shakubuku adalah jalan untuk mendekati lawan kita atas kesalahan-kesalahan mereka dan menyadarkan mereka dari semua ilusinya.
Shoju adalah membimbing dan meyakinkan mereka dengan cara menerima dan memahami sudut pandang dan situasi mereka dengan penuh rasa hormat. Namun ini bukan berarti kita berkompromi terhadap kebenaran. Baik kedua aspek dapat dipandang saling berkaitan erat satu sama lainnya tergantung dari waktu dan kondisi tingkat pemahaman para pendengar. Saddharma Pundarika Sutra mengungkapkan kedua pendekatan tersebut; Shoju terlihat dalam bab 14; sedang Shakubuku, dalam bab 13 dan 20. Meski kedua metode ini terlihat sama sekali berbeda, mereka memiliki tujuan yang sama – untuk menyelamatkan orang lain. Di jaman kita, jalan shoju tampaknya lebih cocok, namun tetap harus disertai juga dengan semangat shakubuku.Bab 14 adalah akhir dari separuh bagian pertama Saddharma Pundarika Sutra yang mengungkapkan Buddha Sakyamuni seperti yang terdapat dalam sejarah yang terikat oleh keterbatasan waktu dan ruang. Bagian ini dikenal dengan "Shakumon." Separuh bagian terakhir dari sutra ini mengungkapkan "Honmon," atau hakekat keabadian sang Buddha.
~ Namu Myohorengekyo ~