RINGKASAN
Ada dua pokok hal dalam bab ini. Yang pertama adalah pencapaian Penerangan oleh orang yang berhati iblis, dan yang lainnya adalah pencapaian Penerangan oleh seorang perempuan.Devadatta adalah sepupu dari Buddha Sakyamuni. Usia mereka pastilah hampir sama. Kedua-duanya sama-sama amat cerdas dan berbakat; oleh karena itu, mereka sering bersaing dalam berbagai kesempatan. Dikatakan bahwa mereka saling menantang satu sama lain ketika menentukan siapa yang akan menikahi Yasodhara. Sebagai hasil dari permainan tersebut, Sakyamuni berhasil mengalahkan Devadatta dan akhirnya menikahi Yasodhara.
Devadatta merasa iri akan ketenaran dan kedudukan sang Buddha. Ia mencoba untuk mengambil alih Sangha sang Buddha. Pada suatu kesempatan, ia melukai sang Buddha dengan menjatuhkan sebuah batu besar dari sebuah tebing ke jalan yang akan dilalui sang Buddha. Ia juga mencoba membunuh sang Buddha dengan seekor gajah gila. Devadatta menganggu Sangha sang Buddha dengan menyesatkan para pengikutNya.Bab 12 dari Saddharma Pundarika Sutra mengungkapkan hubungan antara Sakyamuni dan Devadatta. Meski Devadatta amat terkenal sebagai seorang yang jahat, ia akan mencapai Kebuddhaan di masa mendatang karena ia pernah menjadi guru dari Sakyamuni di kehidupannya yang lampau.Separuh bagian terakhir dari bab ini menunjukkan pencapaian Penerangan oleh seorang perempuan dengan sebuah contoh seorang anak perempuan berusia delapan tahun putri dari Raja-Naga. Menurut adat kebiasaan Hindu pada saat itu di India, perempuan dianggap penuh dengan dosa. Ada lima kondisi superior yang tidak akan dapat dicapai oleh seorang perempuan:
-
Raja langit brahmana Bonten
- Raja langit Sakra
- Raja Mara (raja dari para iblis)
- Seorang raja suci yang berkuasa untuk memerintah seluruh negeri
- Seorang Buddha
Akan tetapi, seolah mematahkan tradisi yang ada, putri Raja-Naga yang berusia delapan tahun tersebut membuktikan pencapaian kesadaran oleh seorang perempuan dengan penerimaan sang Buddha atas permata yang ia persembahkan. Kemudian ia mengubah dirinya menjadi seorang anak laki-laki dan secara gaib melakukan pelaksanaan-pelaksanaan Bodhisattva yang diharuskan dalam tradisi.
Pencapaian kesadaran oleh orang jahat dan perempuan bukanlah suatu hal yang mengejutkan dalam ajaran Saddharma Pundarika Sutra. Ajaran ini mengajarkan bahwa semua mahkluk hidup – pria, wanita, muda, tua, manusia, bukan manusia – adalah memiliki potensi untuk menjadi Buddha.
PENJELASAN
"Dalam kehidupanKu sebelumnya, Aku mencari Hukum Gaib Sutra Bunga Teratai." (P.195, L.3.):
Saddharma Pundarika Sutra selalu berbicara tentang ketiga masa: lampau, sekarang, dan akan datang. Buddha Sakyamuni juga telah mencari Saddharma Pundarika Sutra dalam kehidupannya yang lampau. Saddharma Pundarika Sutra yang dimaksudkan disini bukan berarti sutra yang tertulis di atas kertas, namun adalah kebenaran mutlak.
"Aku melaksanakan pemberian sedekah untuk menyempurnakan keenam paramita." (P.195, L.7.):
Enam Paramita adalah enam jenis pelaksanaan yang dilakukan oleh para Bodhisattva untuk mencapai kesadaran. Antara lain adalah memberi, menjaga peraturan, keuletan, perhatian penuh, meditasi, dan kebijaksanaan. Disini sang raja dalam kehidupan lampau sang Buddha, pertama melaksanakan memberi. Sang raja tidak pernah pelit terhadap gajah-gajah, kuda, harta pusaka, negara, istri, anak-anak atau para pelayan. Ia tidak ragu untuk memberikan kepala, mata, sumsum, otak, daging, tangan, kaki, atau bahkan nyawanya.Kita adalah manusia biasa, kita ingin menyelamatkan tubuh, pasangan, dan anak-anak kita. Namun kita dapat menyumbangkan uang, tenaga, dan waktu. Kita dapat mengajar, atau tersenyum kepada orang lain. Semuanya adalah bagian dari memberi.
"Aku mengumpulkan buah-buahan, air embun, mengumpulkan kayu bakar, dan menyiapkan makanan untuknya. Aku bahkan mengijinkan tubuhKu sebagai tempat duduknya. " (P.196, L.2.):
Sang raja mempersiapkan minuman, makanan, kayu bakar, dan ranjang bagi Ashita sang Pertapa selama bertahun-tahun. Ia tidak pernah merasa lelah baik secara fisik maupun pikiran. Bukankah ini semua adalah hal yang dilakukan oleh seorang ibu setiap harinya? Dalam bab ini, tidak terdapat keterangan bahwa sang pertapa mengajarkan Dharma. Dengan kata lain, apa yang kita lakukan setiap harinya adalah pelaksanaan seorang Bodhisattva. Tanpa kehidupan sehari-hari, pelaksanaan Bodhisattva adalah tidak berguna.Ketika Kingo Shijo meminta nasehat gurunya, Nichiren, tentang keinginannya untuk berhenti dari pekerjaannya dan menjadi seorang bhikku. Nichiren Shonin berkata kepadanya: "Melayani majikan Anda (dalam pekerjaan) adalah jalan para Buddhis. Kehidupan sehari-hari tidak lain adalah pelaksanaan Buddhisme."
"Sang raja pada saat itu adalah kehidupan lampau dari diriKu. Sang pertapa pada saat itu adalah kehidupan lampau dari Devadatta. Devadatta adalah guruKu.' (P.197, L.10.):
Senchu Murano menerjemahkan kata, "zen-chishiki" sebagai seorang guru. Namun, kata "zen-chishiki" memiliki makna yang lebih dalam. Secara harafiah zen berarti baik, sedang chishiki berarti kebijaksanaan. Penerjemah lain dari sutra ini menggunakan kata "sahabat" atau "persahabatan" untuk kata chishiki.Hubungan antara Devadatta dan sang Buddha tidak dapat dipisahkan dengan hubungan antara sang raja dan sang pertapa. Karena hubungan tersebut, Devadatta yang jahat itu akan menjadi seorang Buddha.Nichiren Shonin juga berkata bahwa Yoritsuna Hei-no-saemon adalah zen-chishiki nya yang sesungguhnya. Yoritsuna mencoba mengeksekusi beliau di Tatsu-no-kuchi, Kamakura. Akibat pengeksekusian tersebut, Nichiren menyadari bahwa ia adalah kelahiran kembali dari Jogyo Bodhisattva.Pasti ada segelintir orang yang mengkritik Anda dengan tajam. Bisakah Anda menerima kritik tersebut sebagai pelajaran berharga ataukah tidak? Jika Anda bisa menerima sang pengkritik sebagai guru yang baik atau sahabat, Anda akan dapat berkembang secara spiritual ke tingkatan yang lebih tinggi. Maka mereka adalah zen-chishiki bagi Anda.
"Devadatta akan menajadi seorang Buddha setelah kalpa yang tak terhitung." (P.197, L.23.):
Dikatakan bahwa Devadatta terjatuh ke dalam sebuah lubang di tanah pada saat terjadi gempa bumi dan masuk ke dalam neraka. Saya bertanya-tanya, apa yang ia lakukan selama kalpa yang tak terhitung itu? Saya rasa ia menyesali segala perbuatannya yang keliru."Pertobatan adalah obat misterius yang menyembuhkan penyakit dan dharma suci untuk mengubah nasib seseorang." – Doa Pertobatan (sange-mon) Ada sebuah pepatah di Jepang: "Jika seseorang amat jahat, ia juga dapat menjadi amat baik, setelah bertobat." Sebauah contoh yang bagus dalam Saddharma Pundarika Sutra adalah Kishimo atau Ibu Iblis yang dibabarkan dalam Bab 26. Saya akan menjelaskan tentangnya dalam bab kemudian. Dalam Buddhisme tidak ada keburukan atau kebaikan yang absolut. Ajaran tentang Seratus Tahapan dari Pikiran Manusia mengajarkan kepada kita bahwa bahkan seorang Buddha pun memiliki pikiran neraka; oleh karena itu, ia mampu memahami orang-orang yang berada di neraka. Bahkan orang dalam neraka atau pembunuh sekalipun memiliki tingkat pikiran seorang Buddha.
"Pria ataupun wanita berhati baik dengan keyakinan penuh hormat yang ditimbulkan oleh pikiran murni mereka, dan tanpa keragu-raguan, tidak akan terjatuh ke dalam neraka. ... Mereka akan terlahir di hadapan para Buddha di kesepuluh penjuru dunia. ... Ketika mereka terlahir kembali di hadapan para Buddha, mereka akan muncul dalam bunga-bunga teratai." (P.198, LL.21-30):
Kalimat-kalimat ini sering dikutip di akhir doa upacara pemakaman.
"Manjusri telah muncul dari istana Raja-Naga Sagara di samudra luas, naik ke langit dan mengadakan perjalanan di angkasa menuju Gunung Elang Keramat." (P.199, L.8.):
Manjusri mungkin merupakan menteri luar negeri yang pertama. Negaranya mungkin adalah yang saat ini dikenal sebagai Ceylon. Pembabarannya bukan hanya ke lautan namun juga ke angkasa yang melambangkan welas asih sang Buddha menjangkau seluruh mahkluk hidup di lautan, bumi, dan angkasa.
"Ada seorang putri dari Raja-Naga Sagara diantara yang Aku ajari. Ia berusia delapan tahun. Ia cerdas. Ia mengetahui karma-karma dari semua mahkluk hidup. Ia memperoleh dharani." (P.200, L.17.):
Raja-Naga Sagara hadir bersama-sama dengan raja-raja naga lainnya dalam pesamuan di dalam bab 1. Dai-Chidoron, sebuah penjelasan tentang sebuah sutra oleh Nagarjuna, mengatakan bahwa para raja-naga adalah perwujudan dari para bodhisattva agung untuk menyelamatkan binatang. Saya tidak tahu pasti apakah putri dari Raja-Naga Sagara yang mencapai penerangan adalah binatang ataukah manusia. Ia bisa saja seorang manusia atau seekor naga. Sukar dipercaya bagi orang-orang di India pada saat itu bahwa seorang wanita bisa menjadi seorang Buddha. Wanita hampir selalu diabaikan di sebagian besar negara hingga belakangan ini. Bahkan di Amerika sendiri, wanita memiliki kekuasaan untuk turut memilih dalam pemilu pada tahun 1920 setelah Perang Dunia I.
"Tubuh seorang wanita adalah terlalu kotor untuk menjadi penerima ajaran-ajaran sang Buddha. Bagaimana mungkin ia dapat memperoleh Bodhi yang tak tertandingi? ... Seorang wanita memiliki lima kemustahilan. Ia tidak dapat menjadi 1. Raja Langit Brahma, 2. Raja Sâkra, 3. Raja Mara, 4. seorang raja suci pemutar roda, dan 5. seorang Buddha." (P.201, L.24.):
para wanita dianggap sebagai mahkluk kotor di India pada masa itu. Seorang wanita tidak akan dapat menjadi seorang pemimpin langit bernama Bonten atau Taishaku, seorang pemimpin iblis, seorang pemimpin dari sebuah negeri, atau seorang Buddha menurut tradisi di India. Di masa kini kita mengenal beberapa presiden dan perdana menteri wanita di beberapa negara. Saya bertanya-tanya kapankah seorang wanita akan menjadi seorang presiden di Amerika Serikat. Saya rasa lebih mudah bagi seorang wanita untuk menjadi seorang Buddha daripada menjadi presiden Amerika Serikat.
"Kebijaksanaan para Buddha adalah begitu tak terjangkau. Hal itu hanya bisa diperoleh oleh merek yang melaksanakan latihan-latihan Bodhisattva dengan usaha keras selama berkalpa-kalpa." (P.201, L.26.):
Kita telah mempelajari bahwa Buddha Sakyamuni telah melaksanakan jalan-jalan Bodhisattva dalam banyak kehidupan lampau. Hingga akhirnya ia terlahir sebagai seorang pangeran Kapilavatthu, India. Setelah ia meninggalkan kehidupan mewahnya di istana, ia menjadi pertapa tak berumah. Setelah enam tahun pelaksanaan pertapaan, ia bermeditasi di bawah sebuah pohon Bodhi dan akhirnya mencapai Penerangan. Inilah yang kita pelajari dan diajarkan oleh sekolah-sekolah Buddhisme lainnya. Akan tetapi, Bab 16 dari Saddharma Pundarika Sutra mengungkapkan bahwa Ia telah menjadi seorang Buddha semenjak kalpa yang tak terhitung lalu. Karena sang pangeran menjadi seorang Buddha, kita tidak lagi perlu melaksanakan jalan Bodhisattva selama berkalpa-kalpa. Sebagai contoh ketika anda mengendarai sebuah mobil; apakah harus Anda sendiri yang membuat mesin, rangka mobil, setir, dll? Anda tidak perlu melakukan hal tersebut. Anda hanya perlu sebuah kunci dan mengerti bagaimana cara mengemudi. Ketika Anda menggunakan sebuah komputer, Anda tidak perlu mengerti cara kerja komputer tersebut. Bagian-bagian yang sulit telah dikerjakan oleh orang lain. Kita menerima kerja keras mereka dan menggunakan mobil dan komputer secara nyaman. Masa sekarang adalah jaman instan. Anda tidak perlu mengerti keseluruhan makna dari Saddharma Pundarika Sutra. Bagi mereka yang tidak meyukai belajar, Nichiren Shonin mempersembahkan kepada kita Odaimoku demi tercapainya keselamatan kita secara instan. Tentu saja belajar dan pelaksanaan membantu Anda memahami Buddhisme, namun bahkan seorang yang terdapat dapat membaca dan menulis dapat menjadi seorang Buddha secara langasung dengan hati kepercayaan.
"Putri dari Raja-Naga berubah menjadi seorang pria secara tiba-tiba." (P.202, L.12.):
Banyak orang telah menjelaskan mengapa sang putri harus berubah menjadi seorang anak laki-laki. Aku mengetahui beberapa alasan, namun penjelasan tersebut dibuat oleh laki-laki. Saya ingin mengetahui bagaimana seorang wanita akan menjelaskan mengapa putri tersebut harus merubah penampilan dan tubuhnya menjadi seorang anak laki-laki. Beberapa alasan yang dijelaskan oleh para pria adalah:
- untuk mematahkan salah satu adat dari Hindu pada saat itu, karena begitu Anda terlahir sebagai seorang budak Anda tidak akan pernah dapat merubah hal tersebut.
- karena pria dianggap lebih unggul daripada wanita
- karena Saddharma Pundarika Sutra mengajarkan kesetaraan antara pria dan wanita
~NAMU MYOHO RENGE KYO~