BAB XI
MUNCULNYA SEBUAH STUPA PUSAKA

 

RINGKASAN

Pada saat itu sebuah stupa yang terdiri dari tujuh pusaka muncul dari dalam tanah dan melayang di angkasa di hadapan sang Buddha. Suara pujian yang keras terdengar dari dalam stupa tersebut, “Bagus, bagus, apa yang telah Kau, Buddha Sakyamuni, babarkan adalah benar semuanya.”  Melihat kejadian supernatural ini, para peserta pesamuan begitu terkejut dan bertanya-tanya mengapa semua ini terjadi. Sang Buddha pun menjelaskan bahwa Buddha Segala Pusaka atau Buddha Taho berada di dalam stupa tersebut dan Ia selalu hadir ketika Sutra Bunga Teratai dibabrkan, dan Ia memuji kebenaran dari ajaran tersebut.Memenuhi keinginan para peserta pesamuan, Buddha Sakyamuni memancarkan seberkas sinar dari bulatan putih yang terletak di antara kedua alisNya. Cahayanya menyebabkan para Buddha dari kesepuluh penjuru dunia berkumpul di hadapan Buddha Sakyamuni dan Taho. Pada saat itu, Buddha Sakyamuni memurnikan tempat tersebut. Ia mengulangi hal ini tiga kali.Kemudian Buddha Sakyamuni naik ke angkasa untuk membuka pintu stupa tersebut. Buddha Taho menawarkan separuh tempat dudukNya. Karena tempat duduk kedua Buddha tersebut terlalu tinggi untuk dilihat oleh para peserta pesamuan, Sakyamuni mengangkat mereka ke angkasa dengan kekuatan supernaturalNya.Kemudian Ia berkata kepada mereka, “Aku akan segera memasuki Nirvana. Apakah ada yang bersedia membabarkan Sutra Bunga Teratai ini di dunia setelah kemokshaan-Ku? Aku ingin menyerahkannya kepada seseoarang agar ajaran ini dapat terus berlanjut.”

PENJELASAN

Banyak kejadian supernatural yang terungkap dalam bab ini. Kita tidak seharusnya menanggap bahwa semua itu hanyalah tahayul belaka, karena semua kejadian supernatural di dalam Saddharma Pundarika Sutra memiliki makna tersendiri. Buddha Sakyamuni mencoba menjelaskan bahwa kebenaran mampu melampaui batasan ruang dan waktu.Kita bermaksud menilai segala sesuatunya berdasar apa yang telah kita pelajari, tapi kebijaksanaan Buddha terlampau sukar untuk dipahami hanya dengan pengetahuan kita semata. Kita harus melihat melampaui pengetahuan kita dan mencoba memahami kebijaksanaan Buddha. Inilah sebab utama mengapa peserta pesamuan diangkat ke angkasa dan tinggal di sana. Mulai dari bab 11 hingga 22 semuanya dibabarkan di angkasa.

"Pada saat itu sebuah stupa yang terdiri dari tujuh pusaka muncul dari dalam  tanah dan melayang di angkasa." (P.181, L.3):

Ketika seorang Buddha muncul, stupa atau istanaNya juga berpindah sebagaimana Ia berpindah. Anda mungkin akan bertanya-tanya bagaimana sebuah rumah bisa ikut berpindah bersama seseorang. Akan tetapi ketika kita pindah ke suatu tempat, secara alamiah kita membutuhkan sebuah tempat tinggal. Bisa berupa sebuah kamar apartemen yang kita sewa, sebuah rumah, atau bahkan sebuah vila. Semuanya tergantung dari karma seseorang, kemampuan, dan statusnya. Oleh karena itu stupa dari Buddha Taho menunjukkan segala kebajikanNya. Karena stupa tersebut dihiasi dengan tujuh pusaka, Ia memiliki kebajikan dan keunggulan yang luar biasa.Lebih jauh lagi, stupa berarti jiwa Buddha seseorang. Tanah berarti masyarakat tempat dimana seseorang hidup. Naiknya stupa tersebut berarti bahwa keselamatan dalam Buddhism tidaklah diberikan dari langit, tetapi harus dicapai melalui usaha dan perjuangan kita sendiri.

"Bagus, bagus, Kau, Sakyamuni telah membabarkan Sutra Bunga Teratai kepada orang sebanyak ini" (P.181, Paragraph Terakhir.):

Anda tidak asing lagi dengan kalimat ini. Inilah bagian dari ‘Yokuryo Shu” dalam buku sembahyang kita. Kita sering membaca paragraf ini dalam sembahyang harian kita. Dalam masyarakat kita, terdapat banyak perbedaan seperti kaya dan miskin, bijaksana dan bodoh, hitam dan putih, pria dan wanita; akan tetapi, para Buddha tidak melihat perbedaan ini karena semuanya memiliki jiwa Buddha, sehingga semua orang mampu menjadi seorang Buddha. Inilah salah satu alasan kenapa Saddharma Pundarika Sutra begitu unggul.

"Mengapa stupa pusaka itu naik dari dalam tanah? Mengapa suara tersebut terdengar dari dalam stupa?" (P.182, L.9):

Bodhisattva Kefasihan-Luar-Biasa memunculkan pertanyaan ini. Ia selalu mewakili peserta pesamuan untuk menanyakan dan meminta sesuatu dalam bab ini.

"Tathagata Segala-Pusaka membuat stupaNya naik dari dalam tanah untuk mendengar langsung Sutra Bunga Teratai dari-Ku. Sekarang ia memuji-Ku.' (P.182, paragraph terakhir dari halaman):

Buddha Sakyamuni menjawab pertanyaan Bodhisattva tersebut dan mengatakan bahwa dalam kehidupanNya yang terakhir, Buddha Segala Pusaka hidup di sebuah dunia yang disebut Pusaka Murni, terletak amat jauh di sebelah Timur. Ketika Ia masih seorang Bodhisattva, Ia membuat sebuah prasetya: “Jika seseorang membabarkan Sutra Bunga Teratai setelah Aku menjadi seorang Buddha dan moksha, Aku akan membuat stupa-Ku muncul di hadapannya, dimana pun ia berada, sehingga aku akan bisa membuktikan kebenaran sutranya.”  Inilah alasan mengapa Buddha Taho muncul dari dalam tanah dan mengapa Ia memuji Buddha Sakyamuni.Semua Buddha memiliki prasetya-nya masing-masing. Sebagai contoh, Buddha Sakyamuni berprasetya untuk menyelamatkan semua mahkluk hidup di bumi ini, sedang Buddha Amida membuat 48 prasetya untuk membimbing orang-orang yang memiliki keyakinan kepada-Nya ke Tanah Murni di Barat setelah kematian mereka.

"Yang Dimuliakan oleh Dunia! Kami ingin bertemu dengan Buddha itu." (P.183, L.2.):

Menanggapi permintaan Bodhisattva Kefasihan-Luar-Biasa, Buddha Sakyamuni memancarkan seberkas sinar dari lingkaran putih di antara kedua alis mataNya. Cahaya tersebut menerangi kesemua sepuluh penjuru dunia. Diterangi oleh cahaya tersebut, para Buddha dari kesepuluh penjuru datang memenuhi Gunung Gridhakurta dengan disertai oleh Bodhisattva Nya masing-masing.. Buddha-Buddha ini adalah replika-Nya. Buddha Sakyamuni mampu menciptakan Buddha berwujud seperti diriNya dengan kekuatan supernaturalNya dan mengutus mereka ke seluruh dunia di sepuluh penjuru untuk pembabaran Dharma. Sekarang mereka telah datang untuk mendengarkan sutra ini langsung dari Sakyamuni. Gagasan tentang replika ini pertama kalinya diperkenalkan di Saddharma Pundarika Sutra.

"Pada saat itu Dunia Saha dimurnikan." (P.184, L. 9):

Buddha Sakyamuni memurnikan daerah tersebut tiga kali. Ini melambangkan kekuatan tak terhingga yang dimiliki Buddha Sakyamuni.Gagasan bahwa "Dunia Saha adalah sama dengan Tanah Suci dari Cahaya Tenteram " berasal dari bab ini.Daerah tersebut dimurnikan bukan karena semua perwujudan Buddha hadir, akan tetapi karena di situ akan menjadi tempat dimana ajaran penting Saddharma Pundarika Sutra akan diungkapkan. Oleh karena itulah Nichiren Daishonin mengatakan, “Tempat ini suci murni karena ajarannya adalah yang terunggul. Orang nya dimuliakan karena ia membabrkan ajaran terunggul”. Oleh sebab itu, ketika semua orang di muka bumi ini percaya kepada Saddharma Pundarika Sutra, kedamaian dan ketenangan akan terwujud. Itulah keinginan yang selalu diharapkan Nichiren Daishonin.

"Sekarang Ia membuka pintu stupa Tujuh Pusaka tersebut dengan jari-jari tangan kananNya " (P.186, L.28.):

Hal ini sangatIah bersifat seremonial. Pinut tersebut tidak dapat dibuka hingga semua Buddha perwujudanNya telah tiba dan duduk di tempatnya masing-masing dan para pengikutnya berkeinginan melihat stupa tersebut terbuka. Semuanya menunggu dengan tangan mereka dalam Gassho. Suara ketika pintu tersebut dibuka sekeras suara kunci gerbang sebuah kota raksasa ketika terbuka. Akhirnya pintu tersebut pun terbuka.

"Kemudian Buddha Segala Pusaka dalam stupa menawarkan separuh tempat dudukNya kepada Buddha Sakyamuni dengan berkata, 'Silahkan duduk di sini!.'"(P.187, L.5.):

Terdapat begitu banyak bentuk Buddha Sakyamuni. Ketika Anda melihat sebuah patung yang menggambarkan dua Buddha duduk bersebelahan dengan sebuah stupa terletak di antara mereka, melambangkan bab 11 dari Saddharma Pundarika Sutra dan menunjukkan bahwa Buddha Sakyamuni sedang membabarkan Saddharma Pundarika Sutra. Dalam Nichiren Shu, bentuk patung seperti ini sering dipuja sebagai sebuah Gohonzon.Buddha Segala Pusaka adalah Buddha masa lampau sedang Buddha Sakyamuni adalah Buddha saat ini; oleh sebab itu kedua Buddha yang duduk saling bersebelahan melambangkan waktu dan ruang yang amat luar biasa. Buddha Sakyamuni mengungkapkan kebenaran yang sifatnya lebih spritual sedang Buddha Segala Pusaka hadir dengan tujuh pusaka yang bersifat material; atau dengan kata lain, bahwa kebenaran dapat dibuktikan dengan bentuk fisik. Sebagai contoh, kita bisa membuktikan keberadaan gravitasi dengan menjatuhkan suatu benda. Lebih jauh lagi, hal ini berarti bahwa Saddharma Pundarika Sutra mengungkapkan kesatuan antara spiritualitas dan kenyataan, dunia kejiwaan dan dunia fisik, serta jiwa dan materi.

"Tempat duduk Buddha terlalu tinggi. Angkatlah kami ke atas dengan kekuatan supernatural Anda sehingga kami bisa bersama-sama dengan kalian di angkasa." (P.187, L.16.):

Memenuhi permintaan tersebut, sang Buddha menaikkan mereka ke atas angkasa. Tujuannya bukanlah agar mereka berjalan atau tinggal di angkasa tetapi untuk membuat mereka memiliki ambisi dan meningkatkan diri mereka. Kadang amat perlu untuk keluar dari ide-ide kaku kita dan melihat segalanya dari sudut pandang yang berbeda. Ketika kita naik ke puncak sebuah gunung, semuanya terlihat begitu kecil. Kita akan merasa terbebas dari penderitaan di bawah sana.

"Siapakah yang akan membabarkan Sutra dari Saddharma Pundarika Sutra ini di Dunia Saha? Sekaranglah saatnya untuk melakukan hal ini. Aku akan segera memasuki Nirvana sebentar lagi." (P.187, L.21.):

Buddha Sakyamuni membabarkan Saddharma Pundarika Sutra selama delapan tahun sebelum kemokshaanNya. Tubuhnya juga dapat mati. Ia menyadari kematianNya mendekat; oleh karena itu Ia meminta seseorang untuk menggantikan tempatnya. Tapi Ia juga memperingatkan bahwa bukanlah suatu tugas yang mudah untuk membabarkan Saddharma Pundarika Sutra.

~ Namu Myohorengekyo ~