RINGKASAN
Seorang guru Dharma adalah siapa saja yang menyebarkan ajaran-ajaran Buddha tanpa melihat apakah ia telah ditahbiskan ataukah belum. Bab ini menjelaskan siapakah guru Dharma itu dan apa yang harus dilakukan oleh sang guru. Juga dalam bab ini dikatakan bahwa sangatlah penting untuk mendukung sang guru.
Dalam bab-bab terdahulu, Buddha Sakyamuni berbicara kepada
shomon atau ‘pendengar' seperti Shariputra dan Maudgalayana. Tapi mulai bab ini, Ia berbicara kepada para Bodhisattva. Tubuh fisik dari sang Buddha akan tiada. Setelah kewafatanNya, keberadaan para guru Dharma dibutuhkan. Mereka harus mempraktekkan welas asih, kelembutan, kesabaran, dan kesetaraan bagi semua mahkluk hidup.
PENJELASAN
"Jika setelah ketiadaanKu seseorang bergembira, meski untuk sesaat pikiran, karena mendengar meski sebuah gatha atau sebait sutra, Aku juga akan memastikan bahwa kelak ia akan mencapai Kebudhaan." (P.171, L. 16 - L.19):
Di masa Akhir Dharma, sejumlah besar kejahatan-kejahatan yang tak terbayangkan terjadi, tapi jika ada orang yang bergembira karena mendengar sebait sutra dari Saddharma Pundarika Sutra, mereka adalah orang-orang yang akan menghapus kegelapan dari dunia ini. Bagi orang-orang seperti ini, sang Buddha memastikan mereka akan mencapai Kebuddhaan. Anda yang bergembira dalam kelas pembelajaran Saddharma Pundarika Sutra ini adalah orang-orang yang pasti kelak akan mencapai Kebuddhaan.
Lima Pelaksanaan bagi Guru Dharma:
- Mempertahankan,
- Membaca,
- Melafalkan/mengucapkan,
- Membabarkan,
- Menyalin Sutra Bunga Teratai.
Dari kelima pelaksanaan tersebut, Mempertahankan sutra ini adalah yang terpenting. Pelaksanaan yang lain adalah cara pendukung untuk mempertahanan sutra ini.
"Aku telah membabarkan banyak sutra." (P.175, L.24):
Semua sutra sebelum Sutra Bunga Teratai termasuk ke dalam kelompok ini.
"Sekarang aku membabarkan sutra ini." (P.175, L.24):
Kalimat ini mengacu pada Sutra Bunga Teratai.
"Aku juga akan membabarkan banyak lagi sutra di masa depan." (P.175, L.25):
Sutra Meditasi dan Sutra Nirvana ada dalam kelompok ini.
Dari semua sutra yang ada sang Buddha Sakyamuni berkata, “Sutra Bunga Teratai adalah yang terunggul dan merupakan gudang dari hakekat terpendam semua Buddha”
"Banyak orang membancinya karena merasa iri bahkan semasa hidupKu. Tak perlu lagi diragukan, jauh lebih banyak orang yang akan membencinya setelah ketiadaanKu.' (P.175, Baris terakhir hingga halaman selanjutnya.):
Seseorang cenderung merasa iri kepada mereka yang lebih unggul daripada dirinya sendiri. Ketika mendengar Saddharma Pundarika Sutra bahwa para guru Dharma akan menjadi Buddha, ada sebagian orang yang membencinya karena merasa iri. Inilah salah satu dari sekian banyak alasan kenapa Nichiren Daishonin mendapat penganiayaan berkali-kali.
"Kau tidak perlu menyemayamkan sarira-Ku (abu – sisa-sisa peninggalan)
dalam stupa. Karena Ia (Sutra ini) akan mengandung tubuhKu yang sempurna." (P.176, L.11.):
Ini tidak berarti kita boleh mengabaikan abu Buddha Sakyamuni, tapi kita tidak perlu terikat untuk menyemayamkan abu tersebut. Yang lebih penting lagi, kita harus menganggap kata-kata dan huruf dari Saddharma Pundarika Sutra sebagai Buddha itu sendiri. Oleh karena itulah dalam “Kaikyo-ge” kita membaca : “Huruf-huruf yang menyusun sutra ini adalah semuanya Buddha dalam Perwujudannya.”
"Sutra ini membuka pintu gerbang makna sementara dan mengungkapkan segel kebenaran." (P.177, L. 5.):
Selama upacara pemakaman dalam Nichiren-shu, kalimat ini selalu dibacakan untuk membimbing jiwa orang yang meninggal kepada dunia spiritual Buddha setelah mengetuk pinggiran peti mati untuk membangunkan mereka kepada Kebenaran.
"Mereka seharusnya masuk ke ruangan Tathagata, mengenakan jubah Tathagata, dan duduk di tempat duduk Tathagata." (P.177, L.18.):
Buddha Sakyamuni menyarankan orang-orang yang membabarkan Saddharma Pundarika Sutra agar mereka memiliki welas asih yang besar kepada semua mahkluk hidup, bersikap lembut dan sabar, serta memandang semua hal secara setara tanpa terikat kepada satu hal.
Sang Buddha juga menyemangati para guru Dharma dengan mengatakan, “Jika ia dibenci dan diancam dengan pedang, tongkat, atau batu, Aku akan mewujudkan orang-orang dan mengutus mereka untuk melindunginya.”
Nichiren Daishonin adalah sebuah contoh bagus tentang janji sang Buddha yang terungkap dalam kalimat di atas.
~ Namu Myohorengekyo ~