BAB VII
RASA TAAT DAN BAKTI DI JAMAN DAHULU

 
RINGKASAN

Bab 7 mengungkapkan bahwa ajaran-ajaran dari Saddharma Pundarika Sutra selalu sama di setiap jaman; yakni bahwa semua Buddha mampu mencapai Penerangan melalui ajaran Saddharma Pundarika Sutra. Akan tetapi, suatu proses dibutuhkan untuk membimbing semua mahkluk kepada Saddharma Pundarika Sutra. Inilah yang disebut sebagai metode ho-ben, yang dalam bab ini mengambil bentuk sebuah perumpamaan tentang sebuah kota sihir.

Dahulu kala, ada seorang Buddha bergelar Tathagata Kebijaksanaan Agung Sempurna Universal. Buddha ini sebelumnya adalah seorang raja di suatu negeri dan ia memiliki 16 orang putra mahkota. Ketika ayahanda mereka mencapai Kebuddhaan, keenam belas pangeran ini juga berkeinginan menjadi Buddha dan melepaskan gelar bangsawan mereka. Belakangan, mereka semua akhirnya menjadi Buddha di bawah bimbingan Buddha Kebijaksanaan Agung Sempurna Universal melalui Saddharma Pundarika Sutra. Diantara mereka, pangeran ke-13 menjadi Buddha Amitabha dan ke-16 menjadi Buddha Sakyamuni.Ketika sang raja menjadi Buddha Kebijaksanaan Agung Sempurna Universal, Ia membabarkan Empat Kesunyataan Mulia dan Duabelas Sebab Akibat.Akan tetapi, ajaran-ajaran ini hanyalah diperuntukkan bagi penyelamatan individual dan ajaran bagi kaum shomon dan engaku, bukan ajaran bagi kaum bodhisattva. Ketika sejumlah umat tidak siap untuk memahami ajaran Saddharma Pundarika Sutra, sang Buddha mengajarkan ajaran Hinayana, akan tetapi hanya sebagai cara membimbing mereka kepada jalan Mahayana. Untuk mengilustrasikan proses ini Buddha Sakyamuni membabarkan bab ini. 

PERUMPAMAAN TENTANG KOTA SIHIR(P. 144, Paragraf ke-3 - P. 145.)

Dahulu kala, ada sebuah jalan yang amat panjang, buruk, dan berbahaya. Jalan itu begitu mengerikannya sampai-sampai di daerah tersebut hanya ditinggali satu orang. Saat ini banyak orang berkeinginan melewati jalan tersebut untuk mencapai sebuah daerah berisi penuh harta karun. Mereka dibimbing oleh seorang laki-laki yang cerdik, bijak, dan tahu banyak tentang kondisi jalan yang berbahaya tersebut.Di separuh perjalanan, orang-orang menjadi kelelahan akibat berjalan dan berkata kepada sang pemimpin, “Kami sudah terlalu capek. Kami juga takut akan bahaya dari jalan ini. Kami tidak dapat melangkah lebih jauh lagi. Tujuan kita masih amat jauh. Kami ingin kembali saja.”Sang pemimpin, yang mengetahui banyak cara, berpikir, “Sungguh disayangkan! Mereka ingin kembali tanpa mendapatkan harta-harta tak ternilai itu.” Seusai berpikir demikian, ia dengan sengaja menyihir sebuah kota hingga muncul di kejauhan. Ia pun berkata kepada mereka, “Jangan kembali! Kalian dapat beristirahat di kota besar itu dan melakukan apapun yang kalian inginkan. Jika kalian masuk ke kota itu, kalian akan merasa tenteram. Jika sesudah itu kalian melanjutkan perjalanan dan mencapai tempat harta, maka kalian bisa pulang.”Maka timbullah kegembiraan yang luar biasa pada orang-orang yang telah kelelahan tersebut. Mereka berkata, “Belum pernah kami merasa segembira ini sebelumnya. Sekarang kita bisa menyingkir dari jalan buruk ini dan menjadi tenang.” Mereka memasuki kota tersebut dan merasa tenteram.Setelah melihat mereka semua beristirahat dan pulih dari rasa lelah, sang pemimpin membuat kota tersebut menghilang dan berkata kepada mereka, “Sekarang tempat harta tersebut berada telah dekat. Mari kita pergi untuk mendapatkan harta-harta itu. Aku menciptakan kota ini dengan sihir dengan tujuan memberi kalian kesempatan beristirahat.”

PENJELASAN:

Sang Buddha adalah ibarat pemimpin dari perburuan harta tersebut. Ia mengetahui jalan yang buruk yang terdiri dari kelahiran, kematian, dan ilusi/khayalan. Mereka yang merasa puas dengan kota sihir adalah orang-orang shomon dan engaku. Mereka mengira bahwa mereka telah mencapai penerangan, tapi sesungguhnya belum. Hal ini mirip dengan rasa puas mereka akan kota sihir tersebut. Penerangan Sejati masih jauh dan diperoleh melalui pelaksanaan jalan Bodhisattva.Perumpamaan ini juga mengajarkan bahwa kita kadang membutuhkan sarana-sarana. Kito atau pemberkahan/doa khusus dalam sekte Nichiren adalah salah satu dari sarana tersebut. Doa-doa bagi kepuasan material penting bagi sebagian orang, akan tetapi tujuan akhirnya adalah untuk mencapai tanah pusaka yang melambangkan pencapaian Kebuddhaan.Perumpamaan ini juga menunjukkan kepada kita bahwa sebagian dari Sutra Bunga Teratai disusun pada masa perdagangan jalur sutra.

Para pedagang bepergian melewati gurun-gurun pasir yang panjang dan luas dan melewati banyak negeri sepanjang Jalur Sutra tersebut. Oasis yang terdapat di jalur tersebut digunakan untuk beristirahat sebelum kemudian mencapai harta sesungguhnya yang terdapat melampaui oasis itu.

"Telah begitu lama semenjak. . ." (P.126, L.12.)

Tata surya kita terdiri dari sepuluh planet utama yakni Matahari, Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Satu tata surya dikali 1.000 disebut sebagai Seribu Dunia Kecil. Seribu dunia kecil dikali 1.000 disebut sebagai Seribu Dunia Menengah. Seribu Dunia menegah dikali 1.000 disebut sebagai Seribu Dunia Besar atau Sanzen Daisen Sekai. Seribu dikali seribu dikali seribu akan menjadi satu milyar.Misalkan seseorang menghancurkan semua isi planet dari satu milyar dunia tersebut menjadi bubuk tinta, ada berapa partikel yang terdapat disana? Jumlah yang sebesar itu dikali lagi dengan 1.000 akan menjadi tak terhitung nilainya. Penggambaran inilah yang dikenal dengan “Tiga Ribu Debu-Atom Kalpa”. Sutra ini mengatakan bahwa sang Buddha telah hadir sebelum tiga ribu debu atom kalpa yang lalu. Maka dikatakan bahwa sang Buddha adalah kekal abadi.

"Kekuatan pemahamanKu tetap sejelas bagai ia baru wafat hari ini." (P.127, L.4.)

Ini menekankan bahwa pemahaman Buddha berkalpa-kalpa yang lalu dan saat ini adalah sama. Kebenaran mutlak tidak akan berubah, tak peduli dimanapun atau kapanpun.

"Sebelum ia mencapai Kebuddhaan, ia duduk di tempat penerangan dan mengalahkan bala tentara Mara. Ia ingin mencapai Penerangan, tapi tak bisa." (P.128, L.10.)

Sering dikatakan bahwa dalam kehidupan kita sehari-hari, ketika kita begitu sibuk dan dikejar-kejar waktu, kita tidak jatuh sakit atau terlibat kecelakaan. Akan tetapi, ketika kita bersantai dan berpikir bahwa semuanya telah beres, penyakit dan kecelakaan seringkali terjadi. Sama halnya dengan sang raja yang terdapat dalam bab ini, meski ia mengalahkan pasukan Mara, tetap saja ia tidak mampu mencapai Kebuddhaan. Ia telah berulang kali mengalahkan Mara, akan tetapi hasilnya bukanlah penerangan. Tujuan seseorang tidak semudah itu dicapai seperti yang sering mereka pikir. Akan tetapi, kita harus terus berusaha untuk mencapai Kebuddhaan.

"Pada akhir masa sepuluh kalpa kecil, Dharma dari para Buddha mencapai pikiran dari Buddha Kebijaksaan Agung Sempurna Universal." (P.128, L.31-P.33)

Sang raja, ayahanda dari keenambelas putra tersebut akhirnya mencapai Nirvana setelah berlatih selama sepuluh kalpa kecil. Semua orang dari kita yang membaca Saddharma Pundarika Sutra sedang dalam proses untuk menjadi seorang Buddha. Siapakah orang selanjutnya yang akan menjadi Buddha?

"Ketika sang Buddha mencapai Nirvana, . . .sinar terang dari matahari dan rembulan yang ada di dunia sekitarnya diterangi oleh berkas cahaya yang luar biasa." (P.131, L.5-L.10)

Cahaya mentari dan rembulan sering melambangkan kebenaran tidak hanya dalam Buddhisme tetapi juga di agama-agama lain. Dunia spiritual hanya dijelaskan secara fisik oleh cahaya tersebut. Tanah Buddha dalam Saddharma Pundarika Sutra disebut “Jo Jakko Do” atau “Tanah Cahaya Tenang yang Kekal Abadi”. Tenang mengacu kepada sifat dasar dari kebenaran dan cahaya, kepada kebijaksanaan. Welas asih dari para Buddha menyinari tempat yang bahkan tidak mampu dicapai oleh cahaya matahari dan bulan, bahkan hingga ke dunia neraka sekalipun.

"Istanaku belum pernah disinari sedemikian terangnya. Kenapakah itu terjadi?" (P.131, L.18-P.20.)

Cahaya dari welas asih sang Buddha menyinari bukan saja tempat di mana sang Buddha berada tetapi juga kesepuluh penjuru alam semesta.

Para dewa dan manusia dari kesepuluh penjuru alam semesta kemudian berusaha mencoba menemukan asal dari sumber cahaya tersebut. Akhirnya mereka menemukan Buddha Kebijaksanaan Agung Sempurna Universal duduk di atas tempat duduk yang berbentuk seperti singa di bawah pohon Bodhi di tempat penerangan dengan dikelilingi oleh para dewa, raja-naga, manusia, dan mahkluk non-manusia.

"Semoga jasa-jasa baik yang telah kami kumpulkan melalui persembahan ini, disebarkan ke semua mahkluk hidup. Dan semoga kita dan semua mahkluk hidup, mencapai penerangan sang Buddha!" (P.139, L.24 - L.27)

Kalimat ini amatlah terkenal, dan ditulis ulang dalam doa Nichiren Shu sebagai berikut: “Semoga semua mahkluk diberkati dengan jasa baik ini dan bersama-sama dengan kami mencapai Kebuddhaan”. Saya berharap Anda dapat mengingat kalimat ini dan mengakhir doa Anda selalu dengan kalimat ini setiap harinya. Inilah yang disebut semangat Bodhisattva. Inilah jalan kepercayaan bagi Buddhis Mahayana. Semangat ini amat berbeda dengan agama yang menyatakan: “Jika Anda tidak mempercayai ini, Anda akan masuk Neraka”.

"Lalu sang Tathagata . . . memutar roda pembabaran ajaran tentang Empat Kebenaran dan membuat duabelas pernayataan sekaligus." (P,140, L.9 - L.13.)

Seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya ajaran tentang Empat Kesunyataan Mulia dan Duabelas Rantai Asal Muasal yang saling Berkegantungan adalah ajaran dari Buddhisme Hinayana, yang merupakan penyelamatan yang terbatas berdasar individu masing-masing. Ajaran-ajaran ini adalah langkah-langkah, yang membimbing semua mahkluk kepada Saddharma Pundarika Sutra. Empat Kesunyataan Mulia: Kebenaran-kebenaran ini terdiri dari suatu konsep mendasar dalam Buddhisme, yang menjelaskan penyebab penderitaan dan jalan untuk membebaskan diri darinya. Antara lain adalah sebagai berikut:

  1. Semua keberadaan adalah penderitaan.
  2. Penyebab dari penderitaan adalah ilusi dan keinginan/hasrat.
  3. Nirvana adalah alam yang bebas dari penderitaan.
  4. Cara untuk mencapai Nirvana adalah pelaksanaan Jalan Mulia Beruas Delapan. Untuk penjelasan lebih detailnya, silahkan mengacu kembali ke Bab 3.  

Duabelas Rantai Asal Muasal yang saling Berkegantungan:

  1. Ketidaktahuan atau MUMYO, adalah penyebab dari semua ilusi.
  2. Kecenderungan atau GYO; ketidaktahuan meghasilkan kecenderungan. Kedua hal inilah yang menyebabkan seseorang terlahir kedunia ini.
  3. Kesadaran atau SHIKI, adalah tahap pertama dari kesadaran setelah terjadi pembuahan dalam janin. Ini merupakan sifat dasar yang dimiliki pertama oleh seseorang.
  4. Fungsi-fungsi Mental & Materi atau MYO-SHIKI, adalah tahap pembentukan tubuh dan pikiran seseorang dalam kandungan seorang ibu. Jaman sekarang kita mampu melihat kedalam janin sang ibu dan berkata, "Ini adalah kepala, dan ini adalah tangan dan kaki". Hal ini merupakan suatu tahap pembentukan obyek dan penamaan dari masing-masing objek ini.
  5. Keenam Indera atau ROKUNYU. Dalam tahap ini, kelima organ tubuh dan pikiran terhubung. Semua ini masih terjadi dalam kandungan ibu. Jaman sekarang dikatakan bahwa pendidikan dalam janin amatlah penting karena akan mempengaruhi masa depan bayi yang akan terlahir.
  6. Kontak atau SOKU. Seorang bayi dilahirkan dalam tahap ini. Terlahir ke dunia ini merupakan suatu kontak luar biasa bagi yang baru dilahirkan.
  7. Persepsi atau JU. Dalam tahap ini, seseorang merasa baik atau buruk, memiliki perasaan kenikmatan atau ketidaksukaan, merasa nyaman atau tidak nyaman dan lain sebagainya. Tahap ini berlangsung dari kelahiran seorang bayi hingga awal usia remajanya.
  8. Keinginan/Hasrat atau AI. Dalam tahap ini seseorang berkeinginan untuk menyimpan hal-hal dan benda-benda yang ia rasa baik, sukai, nyaman dan sebagainya dan menjauhkan hal-hal yang ia anggap negatif dari dirinya.
  9. Ketergantungan/Kemelekatan atau SHU. Dalam tahap ini, seseorang menciptakan ketergantungan kepada hal-hal dan benda yang ia rasa baik, menyenangkan, nyaman, dan seterusnya. Ia akan merasa bahagia ketika ia mampu memiliki apa yang ia suka, tetapi ia akan merasa benci dan menderita ketika hal sebaliknya terjadi. Ini adalah tahap kehidupan remaja. Akan tetapi ketergantungan ini menyebabkan seseorang terlahir kembali di kehidupan selanjutnya.
  10. Keberadaan atau U. Dalam tahap ini, seseorang membeda-bedakan orang lain. Kehidupan sehari-hari kita penuh dengan diskriminasi; untung atau rugi, baik atau buruk, "kepunyaanku" atau "kepunyaanmu", hitam atau putih, panjang atau pendek, dll. Inilah kehidupan kita di dunia ini.
  11. Kelahiran atau SHO. Maka dari itu, kita pun akan terlahir kembali dalam kehidupan selanjutnya akibat dari penderitaan dalam tahap-tahap sebelumnya.
  12. Usia tua & Kematian atau RO-SHI. Seseorang akan menjadi tua dan pada akhirnya meninggal. Dengan begitu kita mengulangi kehidupan yang tak terhitung dari masa lalu, sekarang , dan masa mendatang. Ketidaktahuan merupakan asal mula pengulangan hidup dan mati. Jika Anda tidak ingin terlahir kembali, maka Anda harus mencapai Penerangan atau Kebenaran. Jika Anda ingin terlahir kembali, marilah mencoba memperbaiki diri kita sedikit demi sedikit hari demi hari, tahun demi tahun, dan kehidupan demi kehidupan.

“Keenambelas pangeran... meninggalkan keduniawian dan menjadi sramanera." (P.141, L.11.)

Setelah mendengarkan ajaran-ajaran sang Buddha: Empat Kesunyataan Mulia, Jalan Beruas Delapan, dan Duabelas Asal Muasal yang saling Berkegantungan, para pangeran merasa gembira dan mengambil pentahbisan sebagai pendeta. Tahap ini belumlah sepenuhnya menjadi pendeta. Dalam Nichiren Shu, kita menyebut tahap ini sebagai ”sha-mi'. Seorang shami membutuhkan banyak bimbingan dan pelatihan dibawah nasehat gurunya.

"Mereka telah memberi persembahan kepada ratusan dari ribuan jutaan Buddha, menjalankan pelaksanaan-pelaksanaan brahma, dan mencari Anuttara-samyak-sambodhi dalam kehidupan mereka sebelumnya." (P.141, L.14.)

Hubungan antara sang raja dan keenambelas pangeran tidak hanya di dunia ini tapi juga di kehidupan yang lampau. Mereka telah melaksanakan pemberian persembahan, menjaga Saddharma Pundarika Sutra, menghafalkan kalimat-kalimatnya, dan juga membabarkannya kepada orang lain. Oleh karena itulah, kita bisa bertemu dengan sangha ini lagi dalam kehidupan kita sekarang ini.

"Keenambelas Bodhisattva ini dengan penuh kesadaran membabarkan Sutra Bunga Teratai. Masing-masing dari mereka mengajarkannya kepada mahkluk hidup sebanyak jumlah pasir yang ada di Sungai Gangga." (P.142, Last Paragraph.)

Setelah mendengarkan Buddha Kebijaksanaan Agung Sempurna Universal yang dulunya adalah ayahanda mereka, keenambelas pangeran meninggalkan istana, mulai mempraktekkan jalan-jalan Bodhisattva, hingga akhirnya mencapai Kebuddhaan. Putra ke-13 bernama Amida, dan ke-16 adalah Sakyamuni. Oleh sebab itu, Amida dan Sakyamuni adalah kakak beradik dalam kehidupan mereka terdahulu.Buddha Sakyamuni memiliki ketiga kebajikan sebagai Majikan, Guru, dan Ayah Bunda, yang terungkapkan dalam Bab 3: “Ketiga dunia ini adalah milikKu” melambangkan Majikan. “Semua mahkluk hidup adalah anak-anakKu” melambangkan Ayah Bunda. “Hanya Akulah yang mampu menyelamatkan semua mahkluk hidup” melambangkan Guru. Akan tetapi, Buddha Amida bertempat tinggal di barat. Ia bukanlah Orangtua, ataupun Majikan kita. Di dunia Saha ini kita harus memuliakan dan menjunjung Buddha Sakyamuni karena Ia adalah Majikan, Guru, dan Ayah Bunda kita.

"Para Buddha, sang Pemimpin, membabarkan ajaran tentang Nirvana dengan tujuan memberi kesempatan beristirahat. Ketika melihat mereka telah beristirahat, para Buddha membimbing mereka kepada kebijaksanaan sang Buddha." (P. 152, Baris terakhir.)

Bab 7 dari Sutra Bunga Teratai adalah suatu pendahuluan kepada Bab 16 yang mengungkapkan tentang keberadaan Buddha Kekal Abadi. Meski tubuh fisik dari Buddha Sakyamuni telah wafat dalam Nirvana, ajaran-ajaranNya tetap ada selamanya.

~ Namu Myohorengekyo ~