BAB VI
RAMALAN TENTANG YANG AKAN TERJADI

 
RINGKASAN

Bab terdahulu berakhir dengan kata-kata : “Belajar dan laksanakanlah secara terus-menerus, dan kalian akan menjadi Buddha”. Dalam bab ini, Buddha Sakyamuni memberikan kepastian akan masa depan Kebuddhaan kepada empat dari sepuluh murid utamaNya. Kepastian ini lebih seperti suatu piagam sementara. ‘Sertifikat' Kebuddhaan yang sesungguhnya akan diberikan pada saat mereka menyelesaikan berbagai macam pelajaran dan pelaksanaan. Meskipun hanya ‘serifikat' sementara, tapi ini menjadi dorongan semangat yang luar biasa bagi keempat muridNya dan bagi kita semua.

PENJELASAN:

Keempat Kepastian

  1. "Maha-Kasyapa akan menjadi seorang Buddha bergelar Tathagata Cahaya." (P.115, LL.5-10)
  2. "Subhuti akan menjadi seorang Buddha bergelar Tathagata Ber-rupa Indah." (P.118, LL.25-29)
  3. "Katyayana Agung akan menjadi seorang Buddha bergelar Tathagata Cahaya Emas Jamabunada." (P.121, LL.2-13)
  4. "Maudgalyayana Agung akan menjadi seorang Buddha bergelar Tathagata Wewangian Tamalapattracandama." (P.122, L.26 - P.123, L.4)

Apa sajakah persyaratan untuk mencapai Kebuddhaan? "Mereka akan menjumpai ribuan dan jutaan Buddha, memberi persembahan bagi mereka, menghormati mereka, memuliakan mereka, memuji mereka, dan membabarkan ajaran-ajaran mulia dari para Buddha yang tak terhitung jumlahnya di kehidupan mendatang mereka. (P.115, P.118, P.121, P.122)

Berkaitan dengan persembahan bagi ribuan dan jutaan Buddha, dalam bab mendatang Saddharma Pundarika Sutra, diberikan pelaksanaan yang lebih realistis.

"Meski Mara dan para pengikutnya juga akan tinggal disana, mereka tidak akan berbuat kejahatan tetapi akan melindungi ajaran-ajaran dari Buddha." (P.115, LL.26-28):

Kalimat ini seringkali dikutip ketika bhikku Nichiren-Shu melakukan pemberkatan kito. Bagi para pelaksana Saddharma Pundarika Sutra, semua setan dan iblis menjadi pelindung mereka. Sebuah contoh yang bagus adalah Kishimo-jin atau Hariti. Ia mempunyai banyak anak dan memberi mereka makan berupa bayi-bayi orang lain. Ketika ia mendengar ajaran Buddha, ia menyesali kesalahan-kesalahannya dan bersumpah melindungi Buddhisme dan para penganutnya. Hal ini diungkapkan dalam bab 26 Saddharma Pundarika Sutra.

"Andaikan ada seseorang yang datang dari negeri yang sedang menderita wabah kelaparan. Sekarang ia melihat makanan dari seorang raja besar. Ia tidak akan makan dalam keragu-raguan dan rasa takut. Setelah ia diperintah orang sang raja untuk mengambilnya, ia mengambilnya dengan segera." (P.118, LL.3-8)

Kalimat ini selalu digunakan ketika bhikku Nichiren-Shu mengadakan upacara peringatan Segaki. Segaki adalah sebuah upacara pemberian persembahan bagi roh-roh kelaparan. Upacara ini diadakan bagi ketenangan arwah orang-orang yang telah meninggal dunia. Bendera-bendera dalam upacara Segaki yang terdiri dari lima jenis warna yang berbeda juga dikibarkan dengan kalimat-kalimat di atas tertera pada bendera tersebut.Kalimat-kalimat tersebut dimaksudkan untuk memberi ketenteraman bagi para arwah, tapi juga menjamin masa depan Kebuddhaan kita. Kita akan merasa sesejuk dan sesegar pada saat kita disirami dengan minuman.

Pesan dari bab ini:

Meski sang Buddha memastikan Kebuddhaan kita, kita masih saja berharap agar Ia memanggil nama kita satu per satu dan memberikan kita gelar Buddha. Bukankah kita ini anak-anak yang manja?

~ Namu Myohorengekyo ~