RINGKASAN
Dalam bab sebelumnya, sang Buddha mengajarkan bahwa pemahaman akan membantu hati kepercayaan. Pemahaman beserta hati kepercayaan akan mengundang tindakan. Dalam bab ini, Ia mengajarkan bahwa hati kepercayaan menjadi cara untuk mempertahankan ajaran. Ketika hati kepercayaan dan pelaksaan ajaran telah menjadi kokoh, seseorang akan mampu memperoleh kebijaksanaan Buddha. Ia menghubungkannya dengan cerita tentang hujan yang sama dan tumbuh-tumbuhan yang berbeda.
PERUMPAMAAN TENTANG TUMBUHAN OBAT-OBATAN (P. 105, Paragraph ke-4 - P. 106, Paragraph ke-2)
Ada berbagai macam pohon dan rerumputan termasuk tumbuhan obat-obatan yang tumbuh di semak belukar, hutan, gunung, jurang, dan lembah. Semua tumbuh-tumbuhan ini berbeda dalam hal ukuran, nama, dan bentuk. Mereka semuanya dilipuuanan, dan rerumputan semuanya tersirami. Begitu pula dengan pohon-pohon rendah dan tinggi, tati awan gelap. Hujan mulai turun. Akar-akar kecil, sedang, dan besar, batang pohon, ranting, dedak peduli ukurannya besar, sedang, ataupun kecil. Semua tanaman dan pepohonan menerima jumlah air yang kurang lebih sama dari hujan yang turun dari awan yang sama, dan tumbuh berbeda-beda sesuai jenisnya masing-masing. Mereka menghasilkan bunga dan buah-buahan yang berbeda-beda meski mereka tumbuh di tanah yang sama dan mendapatkan air dari hujan yang sama.
PENJELASAN:
Sang Buddha adalah bagaikan awan. Sang Buddha muncul di dunia ini adalah sama bagaikan awan besar muncul di angkasa.
Meski Ia membabarkan Dharma sama rata kepada dewa-dewi, manusia, dan mahkluk hidup lainnya, mereka semua menanggapi dan memahami ajaran sang Buddha dengan sikap yang berbeda-beda. Tetapi mereka tetap mampu menghidupkan ajaran tergantung kemampuan, karakter, dan keahlian masing-masing individu.Di dunia ini, ada begitu banyak ras, kebudayaan, kebiasaaan, dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda. Sang Buddha Abadi menerima semua perbedaan tersebut dan mengajarkan ajaran yang berbeda kepada masing-masing individu untuk memaksimalkan pemahaman mereka. Bagi sebagian orang, ini kedengarannya seperti suatu diskriminasi, tapi dalam kenyataannya, inilah yang disebut sebagai kesetaraan dan kasih sayang sejati.
"Akar, batang pohon, ranting, dan dedaunan dari pohon-pohon dan rerumputan." (P.105, L.23 - L.24)
Akar melambangkan hati kepercayaan, sedang batang pohon -– ajaran; cabang/ranting –- pelaksanaan yang kokoh, dan dedaunan -– Kebijaksanaan Buddha Akar pepohonan dan rerumputan akan menghasilkan batang, ranting, dan daun, sama halnya dengan kepercayaan akan menghasilkan pelaksanaan ajaran. Hati kepercayaan dan pelaksanaan ajaran yang kokoh akan membantu kita menggapai kebijaksanaan Buddha. Bila seseorang memiliki hati kepercayaan, ia secara alamiah akan memelihara ajaran. Jika seseorang tidak memiliki kepercayaan atas peraturan yang ada dalam suatu komunitas seperti peraturan lalu-lintas, ia akan merasa tidak nyaman mentaati aturan tersebut. Tetapi begitu anda percaya terhadap keselamatan melalui kepercayaan, anda akan dengan mudah melaksanakan ajaran seperti penyebutan Odaimoku setiap harinya dalam Buddhisme Nichiren.Sama seperti batang yang berasal dari akar, ketika batang tersebut tumbuh sedikit demi sedikit, ranting dan cabang muncul disana sini. Ranting melambangkan kepercayaan dan pelaksanaan yang kokoh. Ketika kepercayaan anda menjadi kuat dan pelaksanaan menjadi stabil dan berkesinambungan, kritik orang lain dan hasrat anda sendiri tidak akan lagi menjadi gangguan; maka anda pun akan memperoleh Kebijaksanaan Buddha – seperti halnya ranting menghasilkan dedaunan.
"Yang kecil, sedang, dan besar..." (P.105, L.23)
Di taman Anda terdapat berbagai tanaman bunga, semak-semak, dan pohon dalam ukuran yang berbeda-beda. Perbedaan jenis tumbuhan, ukuran, dan warna inilah yang membuat taman Anda terlihat indah. Demikian pula halnya dengan umat manusia. Ada bermilyar-milyar orang dengan bakat dan kemampuan yang berbeda-beda. Sama pula halnya dengan masyarakat. Ada begitu banyak variasi perbedaan. Kesemuanya inilah yang membuat sutu masyarakat kokoh dan bisa berkembang.
"(Mereka) semuanya diliputi awan gelap, dan kemudian disirami oleh tetesan hujan secara bersamaan." (P.105, L.21)
"Aku tidak membeda-bedakan mereka, apakah mereka terpandang atau hina, apakah mereka melaksanakan atukah melanggar ajaran, apakah mereka menjalani kehidupan bhikku ataukah tidak, apakah mereka punya pandangan yang benar ataukah salah, apakah meraka pintar ataukah bodoh." (P.111, L.22 - L.27)
Buddha Sakyamuni membabarkan Dharma kepada semua mahkluk hidup secara merata sama seperti hujan yang menyirami seluruh permukaan bumi. Akan tetapi, mereka yang mendengar Dharma akan menerimanya secara berbeda-beda tergantung dari kemampuan dan kapasitas mereka masing-masing. Oleh karena itulah, sang Buddha membabarkan berbagai jenis ajaran untuk tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Tetapi Dharma sejati sang Buddha adalah agar semua orang mencapai Kebijakan Buddha.
"Setelah mendengar ajaran-ajaran ini, mereka mencapai kedamaian dalam kehidupannya sekarang," (P.106, L.27 - 28)
Bab-bab bagian akhir dari Saddharma Pundarika Sutra mengungkapkan bermacam-macam cara untuk memperoleh kepuasan material. Akan tetapi, tidak berarti kalau Anda melaksanakan sutra ini, anda tidak akan mendapatkan kesulitan atau rintangan. “Kedamaian” berhubungan dengan masalah pikiran atau jiwa, tidak berhubungan dengan keadaan sekitar atau lingkungan.Nichiren Shonin dikucilkan ke Pulau Sado. Ia ditempatkan di Tsukahara Sammaidô, dengan dikelilingi oleh kuburan yang berselimutkan salju tebal. Ia bahkan hampir tidak memiliki cukup makanan. Tapi meski Beliau menghadapi lingkungan dan keadaan yang sedemikian mengerikan, ia dengan bangga menyatakan, “Akulah orang terkaya di negeri Jepang!”Buddhisme bukanlah dimaksudkan menjadi alat untuk megumpulkan harta benda, tapi untuk mencari Kebenaran.
"Di kehidupan mendatang, mereka akan terlaihr kembali di tempat-tempat yang baik." (P.106, L.28 - L.29)
Bab 16 dari Saddharma Pundarika Sutra mengungkapkan tentang kehidupan yang kekal abadi, oleh karena itu kita mungkin saja terlahir kembali di tempat yang lebih baik daripada saat ini setelah kematian. Akan tetapi,kita seharusnya tidak hanya berharap bisa terlahir di tempat yang lebih baik, kita seharusnya berharap dapat terbebas dari penderitaan melalui hati kepercayan yang kokoh dan pelaksanaan yang berkelanjutan. Seperti yang dikatakan oleh sang Buddha pada akhir dari bab ini:
"Belajar dan laksanakanlah secara terus menerus, dan kalian semua akan menjadi Buddha." (P.114, Last two lines)
Saddharma Pundarika Sutra mengajarkan kita untuk berjuang demi tujuan-tujuan kita terus menerus dan bukannya untuk untuk medapatkan harta materi secara tiba-tiba.
Pesan dari bab ini:
Kita semua memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda-beda. Mari kita gunakan karakter dan kemampuan kita tersebut secara bijaksana dan masing-masing mampu memekarkan bunga-bunga yang indah.
~ Namu Myohorengekyo ~ |