UPACARA PERNIKAHAN DI AMERIKA
Oleh: YM.Bhiksu Shokai Kanai
(Kepala Kuil Nichiren Buddhist Los Angeles)

Upacara Pernikahan adalah salah satu peristiwa terpenting dalam kehidupan kita. Bagaimanapun, jumlah pasangan yang siap menikah berkurang jumlahnya setiap tahun baik di Amerika maupun Jepang. 50 tahun yang lalu, setiap 12 orang dari 1.000 orang di Amerika menikah, tetapi sekarang hanya 8 orang dari setiap 1.000 orang saja. Berdasarkan sensus tahun 1975 di Jepang, terdapat 95 persen dari populasi yang berusia diatas 40 tahun telah menikah, namun sekarang hanya terdapat 70 persen saja.

Meskipun demikian, jumlah acara pernikahan mengalami peningkatan sejak 11 september 2001, ketika teroris menyerang di pantai timur Amerika, hal ini berkaitan dengan perasaan sendiri yang mendera orang-orang. Saya sendiri, secara pribadi telah melaksanakan tiga kali upacara pernikahan untuk pasangan muda disini.

Upacara Pernikahan dapat dilaksanakan di Kuil Nichiren Shu, dimana terdapat mandala Gohonzon disemayamkan. Namun, upacara pernikahan diluar ruangan sangat populer di Amerika saat sekarang. Mereka mengadakannya di berbagai tempat seperti ruang pertemuan di hotel, rumah pernikahan pribadi, pantai, atau Taman.

Saddharma Pundarika Sutra Bab.XXI mengatakan, “Baik didalam sebuah taman, dalam hutan, dibawah pohon, didalam sebuah biara, atau hutan belantara, dirikanlah sebuah stupa dan buatlah persembahan, karena itu kalian ketahuilah bahwa tempat dimana stupa itu muncul adalah tempat Tempat Penerangan. Ditempat itu Sang Buddha mencapai Anuttara-samyaku-sambodhi. Ditempat ini Sang Buddha memutarkan roda dharma. Ditempat ini Sang Buddha memasuki Pari-Nirvana.”

Oleh karena itu, ketika Aku melaksanakan sebuah Upacara Pernikahan, Aku menyiapkan satu set Altar, seperti Gohonzon, sepasang lilin, dan dupa serta juga sepasang bunga, dimana tempat akan diadakan upacara tersebut.

Musik yang dimainkan pada acara pernikahan itu dapat berupa musik tradisional pernikahan dalam gaya barat, gagaku (musik tradisional Jepang), lagu Hawai, atau lagu-lagu lainnya. Ini semua tergantung dari selera pasangan yang akan menikah. Hal yang terpenting adalah pasangan yang akan menikah, akan mengucapkan janji pernikahan didepan Mandala Gohonzon Nichiren Shu yang merupakan simbol dari keharmonisan alam semesta.

Upacara pernikahan bisa saja berbeda-beda tergantung efisiensi, karenanya aku tidak menguraikannya disini. Tradisi pertukaran cincin pernikahan juga dilakukan. Disamping pertukaran cincin, persembahan juzu, dupa, membaca (Dokyo) Saddharma Pundarika Sutra, menyebut (Shodai) Odaimoku, “Namu Myoho Renge Kyo” dengan sungguh hati dan tradisi Jepang ‘san, san, kudo’ juga diperlukan. Upacara ini adalah meminum tiga gelas kecil sake dengan tiga macam ukuran gelas yang berbeda diantara pasangan. “Tiga” adalah tidak terpisahkan dan merupakan nomor keberuntungan. Jadi sembilan kali tegukan sake melambangkan tiga kali kebahagiaan. Ini adalah sebuah harapan dan doa agar pasangan muda ini tidak akan terpisahkan.

Bagaimanapun, setelah beberapa tahun berlalu sejak pernikahan, banyak pasangan suami istri yang terikat oleh egoisme masing-masing. Mereka akan berkata, “Hidup pernikahan adalah merepotkan! Saya tidak dapat melakukan apa yang ingin aku lakukan!”. Namun, Pernikahan yang ideal adalah dimana kamu dapat merasakan kebahagiaan terhadap segala sesuatu yang ada pada pasanganmu. Buatlah impian pasanganmu adalah impian mu juga. Kemudian bantulah satu sama lain untuk mewujudkannya. Kehidupan pernikahan adalah bagian dari pelaksanaan Buddhisme.

Saddharma Pundarika Sutra, Bab II, mengatakan, “Ekka Shu Shin” yang berarti “Buddha membuat semua mahluk hidup berbahagia.” Bab. XVI dalam sutra yang sama dikatakan, “In Go Shin Ren Bo” yang berarti “Sebab kamu jatuh cinta kepada Sang Buddha.” Buddha tidak berada diluar dirimu atau diluar pasanganmu. Ia ada dalam diri mu dan pasanganmu. Kehidupan pernikahan adalah pelaksanaan yang terindah dalam Saddharma Pundarika Sutra. Gassho.

Sumber: The “Bridge” Nichiren Shu Buddhist International Center, Edisi No.41, 2003