Upacara CHENG-MING
(Berprilaku Seperti Sang Buddha)
oleh: YM.Bhiksuni Myosho Obata

Kita baru saja melaksanakan Upacara CHENG MING hari ini. Kita bersama-sama berdoa untuk pencapaian Penerangan Agung dari para jiwa leluhur kita, saudara-saudara kita dan untuk diri kita sendiri. Di Jepang, terdapat juga upacara yang sama seperti CHENG-MING. Kita menyebut upacara Higan-E, sebuah acara sembahyang yang unik. Hari ini, saya ingin berbagi tentang makna dari Higan-E kepada kalian semua.

Higan dalam bahasa Jepang berarti Pantai Seberang. Terdapat sebuah sungai antara “Pantai Disini” dan “Pantai Seberang”. “Pantai Disini” berarti dunia saha ini, dimana kita hidup sekarang. Dunia ini dipenuhi dengan banyak hawa nafsu, penderitaan dan ketidakpuasan. “Pantai Seberang” adalah Tanah Buddha Abadi. Jadi, kita harus menyeberangi sungai tersebut dengan ajaran dari Sang Buddha dan Nichiren Daishonin. Bagaimana kita dapat menyeberangi sungai itu? Kita dapat berenang. Namun, jika kita menyeberangi sungai sendiri-sendiri, maka hanya mereka yang mempunyai tenaga yang kuat dapat melakukannya dan sampai ke Pantai Seberang. Ini sungguh tidak adil. Buddha Abadi dan Nichiren Daishonin mengharapkan kita semua agar dapat menyeberangi sungai tersebut. Kita membutuhkan sebuah kapal untuk dapat bersama-sama menyeberangi sungai. Nichiren Buddhisme adalah Mahayana Buddhisme. Maha berarti Besar / Agung, Yana berarti Kendaraan. Jadi, apa itu Kendaraan Besar untuk menyeberangi sungai ? Itu adalah Odaimoku, “Namu Myoho Renge Kyo”. Kita dapat bersama-sama menyeberangi sungai tersebut dengan kapal bernama “Namu Myoho Renge Kyo”

Terdapat dua kali periode Higan dalam setahun. Pertama dalah Higan Musim Semi dan Higan Musim Gugur. Waktu Higan adalah satu minggu. Selama 2 minggu Higan dalam setahun itu, kita harus berusaha keras untuk belajar dan melaksanakan ajaran dari Sang Buddha dan Nichiren Daishonin dan memperkuat Bibit Buddha kita lebih dari biasanya. Saya ingin membagi sebuah cerita pendek tentang untuk mencapai KeBuddhaan. Dalam Buddhisme dikatakan bahwa kita mempunyai Bibit Buddha dalam pikiran dan kita dapat mencapai KeBuddhaan dengan mengikuti ajaran dari Sang Buddha. kemudian, apa yang harus kita lakukan untuk mencapai KeBuddhaan ? Saya akan memberitahukan apa yang harus kalian lakukan untuk itu. Kita harus berprilaku seperti Sang Buddha. Hanya mengikuti apa yang dilakukan oleh Beliau. Kemudian kita secara alami akan mencapai KeBuddhaan.

Pada suatu masa yang lalu di India, terdapat seorang laki-laki yang berusaha meniru prilaku Sang Buddha. Laki-laki itu adalah seorang perampok besar, namun namanya tidak begitu terkenal. Tidak seorangpun tahu namanya, karena ia seorang perampok. Seorang perampok tidak boleh diketahui namanya oleh orang lain, dan karena itu ia tidak pernah membuat kekilapan, namanya tidak ada yang tahu. Pada suatu waktu, terdapat sebuah Kuil Buddhis yang didalamnya terdapat sebuah patung emas murni dari Sang Buddha. Laki-laki itu ingin mencuri patung itu dan ia pun membuat sebuah rencana. Pada suatu hari, Ia berkunjung ke Kepala Bhiksu Kuil dan berkata, “Yang Mulia, istri dan anakku baru saja meninggal. Saya tidak mempunyai semangat lagi untuk melanjutkan hidup ini. Jadi, saya memutuskan untuk mempersembahkan hidup kepada kepercayaan kepada Buddha. Harap menerima diriku sebagai muridmu.” Mendengarkan perkataan laki-laki tersebut dan Bhiksu tersebut berkata.”Hai, laki-laki yang malang. Baiklah, aku akan menerimamu sebagai muridku.” Setelah laki-laki itu menjadi seorang bhiksu, dia belajar dan melaksanakan ajaran Buddha dengan bersemangat sebab ia ingin memperoleh kepercayaan dari seluruh bhiksu di kuil ini. Ia berpikir bahwa ia dapat mencuri patung tersebut setelah semua orang percaya kepadanya. Jadi, ia dengan seksama mendengarkan pembabaran dharma dari kepala bhiksu dan mengingat sutra dan melakukan meditasi setiap hari. Setelah beberapa tahun berlalu, laki-laki itu mulai bimbang kapan waktu yang tepat untuk mencuri patung tersebut. Kemudian ia berpikir,”tidak, tidak sekarang, lebih baik aku menunggu beberapa tahun lagi.” Kemudian 20 tahun telah berlalu. Ia pun berhasil menjadi kepala bhiksu dari kuil tersebut. Orang-orang berkata,” saya mendengar bahwa terdapat seorang bhiksu agung di kuil ini. Jika kamu mendengarkan ceramah dia, maka masalahmu seketika akan hilang.” Jadi, laki-laki itu tidak jadi mencuri patung itu karena patung itu sekarang adalah milik dia sepenuhnya. Ini tidak benar. Kenyataannya, bahwa laki-laki itu sudah melupakan sepenuhnya bahwa ia menjadi seorang bhiksu karena ingin mencuri patung emas tersebut. Apa yang harus kita lakukan untuk mencapai KeBuddhaan adalah melakukan apa yang dilakukan oleh Sang Buddha. Bahkan seorang perampok itu telah menemukan Bibit Buddhanya ketika ia berusaha berprilaku seperti Sang Buddha. mungkin sebagai manusia biasa kita tidak mencapai KeBuddhaan sepenuhnya, tetapi kita dapat menjadi lebih dekat dengan KeBuddhaan. Terdapat Enam Pelaksanaan yang harus kita laksanakan untuk menjadi dekat dengan KeBuddhaan, yakni Berdana, Menjaga Ajaran, Tabah, Berusaha, Kosentrasi, dan Kebijaksanaan. Dengan mengikuti pelaksanaan ini, kita dapat dengan segera pindah dari pantai dari ilusi ke pantai penerangan. Sebuah contoh sederhana, Berdana berarti mempunyai hati untuk memberi kepada orang lain dan rasa peduli, menjaga ajaran berarti mengikuti aturan-aturan yang ada, Tabah berarti tidak mudah marah, Berusaha berarti hidup secara positif, Kosentrasi berarti pikiran selalu tenang dan KeBijaksanaan berarti berpikir sebelum melakukan sesuatu. Enam Pelaksanaan ini adalah ajaran yang penting bagi para Buddhis Mahayana untuk menjadi lebih dekat dengan KeBuddhaan. Melakukan Enam Pelaksanaan itu berarti melakukan hal yang sama seperti Sang Buddha.

Kita menyebut Odaimoku, NAMU MYOHO RENGE KYO untuk mengendalikan pikiran kita agar selalu melihat kebenaran dan menjaga prilaku Buddha sebagaimana apa yang dilakukan oleh Sang Buddha.