|
TRI
RATNA (TIGA PUSAKA)
Buddha, Dharma dan Sangha
Oleh YM.Bhiksuni Myosho Obata
Setelah kita menyebut Do
jo ge, Aku akan menceritakan tentang Tiga (San Ki E Mon).
Kami berlindung kepada Buddha
!
Bersama-sama dengan semua mahluk hidup, marilah kita mencapai Jalan
Agung.
Kami berlindung kepada Dharma!
Bersama-sama dengan semua mahluk hidup, marilah kita memasuki Gudang
Sutra dan membuat Kebijaksanaan dan Welas asih kita dalam dan luas
seperti samudera.
Kami berlindung kepada Sangha!
Bersama-sama dengan semua mahluk hidup, marilah kita membimbing
semua mahluk untuk mencapai Kebebasan dari semua rintangan dan penderitaan.
Buddhisme Selatan mengucapkan
kata-kata ini dalam bahasa Pali:
Buddham saranam gacchami.
Dhammam saranam gacchami.
Sangham saranan-i gacchami.
Dalam teks Hua Yi, kata-katanya
diucapkan seperti ini:
Na Mo Fo
Na Mo Fa
Na Mo Seng
Di Buddhisme, Tiga Pusaka ini adalah objek pemujaan yang paling
utama. Terdapat Empat Kebajikan Buddhisme dalam Nichiren Shu:
1. Menghargai
kebaikan yang diberikan oleh orangtua,
2. Menghargai kebaikan yang diterima dari seorang raja (Negara),
3. Menghargai kebaikan yang diterima dari semua orang (Masyarakat),
4.Menghargai kebaikan yang diterima dari Tiga Pusaka (Buddha, Dharma,
dan Sangha).
Mengambil perlindungan kepada
Tiga Pusaka adalah suatu hal yang sangat penting bagi semua orang
yang menyebut dirinya seorang Buddhis. Dari poin inilah perwujudan
sebagai seorang Buddhis dimulai.
Tiga Pusaka itu adalah Buddha,
Dharma, dan Sangha. Buddha berarti Telah Mencapai Tempatnya dan
Kebuddhaan adalah tujuan dari semua Buddhisme. Buddha Sakyamuni,
pendiri dari Buddhisme, adalah manusia pertama dalam sejarah yang
telah mencapai tingkatan ini. Berdasarkan inilah, semua Buddhis
diseluruh dunia mengambil perlindungan dalam Buddha. Kemudian, dalam
Buddhisme Mahayana, banyak terdapat Buddha-buddha lain selain Buddha
Sakyamuni bermunculan.
Sebagai contoh Buddha lain
seperti Buddha Amitabha dan Buddha Obat – Bhaisajyaraja (Yakushi)
Buddha, semua mulai bermunculan sebagai objek pemujaan.
Dan Dharma adalah salah satu
dari Tiga Pusaka, Ini merupakan kumpulan tulisan (sutra) yang dikelompokkan
secara bersama-sama dan disebut Tri-Pitaka (San Zou), Tiga Keranjang
atau kumpulan. Diantara mereka, terdapat Sutra (Kyo) dan Vinaya
(Aturan, Ritsu) semua adalah ajaran dan pembabaran yang disampaikan
oleh Buddha Sakyamuni. Komentar dan penjelasan Sutra dan Vinaya
(Ron), bagian ketiga dari tulisan, dibuat oleh para sarjana atau
bhiksu-bhiksuni yang mempunyai kebajikan tinggi pada masa lampau.
Terakhir, Sangha adalah terdiri
dari empat macam pengikut yakni Para Bhiksu, Bhiksuni, Upasaka dan
Upasika. Ini termasuk semua orang yang percaya ajaran yang disebut
Buddhisme dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Kemudian ini juga termasuk seluruh Buddhis. Dan Nichiren Daishonin
menulis dalam Itai Doshinji, semua hal adalah mungkin, jika semua
bersatu dalam satu semangat. Tidak ada sesuatu apapun yang dapat
dicapai jika tidak bersatu.
Jika semua orang bersatu
dalam satu pikiran dan tujuan meskipun berbeda badan. Mereka akan
mencapai tujuan mereka. Bagaimanapun, jika mereka menjadi satu badan
tetapi mempunyai pikiran yang berbeda, mereka akan tidak mampu untuk
mencapai apa yang luar biasa. Nichiren Daishonin mengingatkan kita
agar disatukan tujuan kita semua maka kita akan mencapai tujuan
dari kita semua para pelaksana Sutra Bunga Teratai. Kata-kata Itai
Doshin, berarti satu tujuan tetapi berbeda badan, sering digunakan
untuk menguraikan tentang kesatuan didalam Sangha.
Lagipula, Nichiren Daishonin
berkata dalam Issho Jobutsu Sho, ‘Ketika kamu membersihkan
sebuah cermin berdebu, maka akan bersinar seperti sebuah permata.
Pikiran yang sesat dan belum dewasa adalah seperti sebuah cermin
yang berdebu. Ketika kamu membersihkan pikiran berdebumu, ia akan
menjadi sebuah cermin yang mencerminkan kebenaran yang sejati itu.
Taruhlah hati kepercayaanmu didalam Tiga Pusaka atau Tri Ratna (Buddha,
Dharma dan Sangha) dan biarkanlah pikiranmu berkilau siang dan malam.
Bagaimana cara agar kamu bisa bersinar ? Cukup hanya sebut, Namu
Myoho Renge Kyo.
Nb.Diterjemahkan oleh Sidin
Ekaputra, bahan untuk ceramah bulan Agustus 2004
|