Rissho Ankoku Di Abad 21
"MENCIPTAKAN KEDAMAIAN DAN MENYELAMATKAN NEGARA MELALUI PENEGAKKAN AJARAN BUDDHA YANG SEBENARNYA DI ABAD 21"
Oleh: YM.Kepala Bhiksu Tansei IwamaKetua Administrasi Nichiren Shu Headquater

Rissho Ankoku Ron (Sebuah Risalah untuk Menciptakan Kedamaian dan Menyelamatkan Negara Melalui Penegakkan Ajaran Buddha Yang Sebenarnya) adalah salah satu dari hasil karya besar, Nichiren Shonin.

Pada masa Kamakura di Jepang, ketika Nichiren Shonin memulai untuk menyebarkan Saddharma Pundarika Sutra, rakyat sedang ditimpa oleh musibah alam yang berkepanjangan, kelaparan, dan bencana-bencana lain yang menyebabkan penderitaan berat bagi rakyat banyak. Ketika Nichiren Shonin menyaksikan kondisi-kondisi yang dialami masyarakat Jepang, Beliau bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa begitu banyak musibah berkepanjangan terjadi?” dan “Mengapa rakyat harus begitu menderita?” Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi dasar dari penelitian dan langkah-langkah kebijakan yang Beliau keluarkan di kemudian hari, karena Beliau berpikir, semua rakyat Jepang harus diselamatkan dari penderitaan-penderitaan ini secepat mungkin. Menjawab masalah ini, sebagai langkah paling pertama, Nichiren Shonin mulai membaca semua Sutra-sutra Buddha yang pada akhirnya memberikan kontribusi terhadap Rissho Ankoku Ron, dan ketika Beliau berusia 39 tahun, karya tulis ini diserahkan kepada pihak berwenang, Keshogunan Kamakura. Akan tetapi sebagai akibat dari tindakan ini, Nichiren Shonin juga harus mengalami begitu banyak tindakan kekerasan dan penganiayaan semata-mata hanya karena ingin membabarkan Dharma.
Jadi sebenarnya apa isi yang ingin diajarkan Nichiren Shonin melalui Rissho Ankoku Ron? Beliau mengajarkan kita, bahwa hanya dengan penegakkan dan kesetiaan kepada ajaran Buddhism yang benar, maka seluruh rakyat dan negara akan merasakan dan menikmati keamanan. Kepercayaan yang tidak benar akan mengakibatkan ketidakharmonisan lingkungan, yang pada akhirnya akan membawa kemunculan berbagai musibah alam karena energi jahat dapat menyusup kedalam celah-celah yang ada dan hidup dalam jiwa sombong manusia. Lebih jauh lagi, apabila prinsip-prinsip moralitas manusia tidak diperdulikan, masyarakat akan jatuh kedalam kebingungan – sama seperti perumpamaan “jika tubuhnya bengkok, maka bayangan pun akan mengikutinya menjadi bengkok”.

Jika prinsip-prinsip yang benar hilang, suatu masyarakat yang damai sudah pasti akan tercerai berai. Istilah “Rissho” (Penegakan akan Pengajaran Buddhism yang Benar ) dan “Ankoku” (Suatu Negara yang Aman dan Damai) adalah satu kesatuan dan tidak seharusnya dianggap sebagai suatu kesatuan yang bertolak belakang. Apabila Dharma dari Buddhism dibangun dan ditegakkan dalam suatu masyarakat, maka negara tersebut akan menjadi stabil dan aman. Jika kamu mencari suatu negara yang tenang, maka langkah pertama adalah mengubah hati kepercayaan dari seluruh masyarakatnya ke realita dari pengajaran-pengajaran Buddhis yang benar. Inilah eksistensi Buddhisme yang terpenting dan yang paling menentukan. Inilah pemikiran yang paling utama dibalik Rissho Ankoku Ron.

Kebahagiaan dan ketidak-bahagiaan di dunia, tidak sesederhana pengkajian akan masalah perasaan satu orang, akan tetapi, lebih kepada suatu hal besar yang menyangkut masyarakat yang lebih luas. Ketika dihadapkan kepada realita dunia akan musibah-musibah alam, bencana, dan peperangan, masyarakat sesungguhnya menjadi sakit. Mereka dipaksa untuk bersama-sama memikul penderitaaan. Karena itu sangat tidak masuk akal jika kita hanya ingin menyelamatkan satu individu saja. Untuk menyelamatkan seluruh umat manusia, maka sangat penting untuk menanamkan prinsip-prinsip yang benar di dalam kehidupan bermasyarakat dan juga kehidupan politik. Selama politik tidak didasarkan pada prinsip-prinsip yang benar, maka suatu masyarakat dan negara yang sungguh-sungguh aman dan damai tidak akan terwujud. Berdasarkan teori ini, Nichiren Shonin memprotes penguasa tertinggi dari pemerintahan Kamakura, sebagai upaya untuk melakukan revolusi sepritual seluruh masyarakat Jepang dengan mulai dari kalangan tertinggi (penguasa).

Semangat ini, yang terlihat dalam keseluruhan isi dari Rissho Ankoku Ron, didasari oleh rasa haru dan empati yang sangat besar dari Nichiren Shonin akan seluruh umat manusia, terutama masyarakat yang ada di sekitar Beliau. Nichiren Shonin menganggap semua penderitaan yang dialami orang-orang disekitarnya sebagai penderitaanya sendiri, dan di dalam Rissho Ankoku Ron ini Beliau secara tegas menekankan prinsip-prinsip Buddhis akan rasa empati yang diterapkan sendiri secara berulang-ulang oleh Beliau di sepanjang hidupNya, Sesaat sebelum wafatNya, ketika Nichiren Shonin menderita sakit berat, Beliau mengumpulkan murid-muridnya, dan mengajarkan Rissho Ankoku Ron, yang menunjukan betapa penting dan bernilainya karya ini bagi Nichiren Shonin sendiri.

Rissho Ankoku Ron bukan semata-mata suatu karya sastra klasik yang dilahirkan 740 tahun yang lalu, dan tidak seharusnya dipandang dari sudut pandang seperti itu. Karya ini justru seharusnya dibaca dari sudut pandang masa modern sekarang. Memegang kepercayaan hanya karena bencana alam, ataupun terlalu menitikberatkan pada pentingnya dewa-dewa pelindung ataupun energi negati dan neraka, ataupun mencampuradukkan agama dengan kepentingan politik pihak penguasa, adalah tidak lain dari tahyul dan mengejar kepentingan pribadi belaka.

Jangan hanya menertawakan bahwa Buddhisme adalah suatu omong kosong dibandingkan pada masyarakat modern sekarang. Bahkan di era secanggih abad 21 sekarang, dimana dunia penuh akan pengembangan-pengembangan ilmiah, tetap saja kita belum berhasil untuk menyelesaikan masalah-masalah berikut: Lingkungan dan Manusia, Hasrat dan Kebahagiaan, Prinsip-prinsip Kebenaran vs Prinsip-prinsip Sesat, Masyarakat & Agama. Pada kenyataannya, kita harus menyadari bahwa dunia kita sudah menjadi jauh lebih buruk dibanding Abad ke 13 dari masa hidupnya Nichiren Shonin. Rissho Ankoku Ron secara cerdas menghadapi isu-isu ini dan memberikan solusi pada kita, memberikan gambaran pada kita akan perlunya mengkaji ulang kondisi-kondisi yang dapat membahayakan dunia modern kita sekarang.

Kita semua, pada hari ini, berjuang melalui Nichiren Shu untuk menbuktinyatakan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Rissho Ankoku Ron, berdoa agar semua mahluk hidup di seluruh planet, menggunakan tema dari perlindungan akan “Lingkungan – Perdamaian – Kehidupan” sama seperti pada saat kita menyebut Odaimoku. Kita melakukan ini karena setiap dari kita peduli akan bumi ini, sama seperti setiap dari kita menegakan perdamaian sebagai dasar dari hati kita, dan sama seperti setiap dari kita menghargai martabat dari seluruh kehidupan. Ini adalah satu hal yang bisa dilakukan oleh siapa saja, dan saya berharap, kita semua sama-sama mendorong semua yang ada disekitar kita untuk melakukan hal yang sama. Nichiren Shonin menyatakan dalam Itai Doshin Ji, “Tidak ada yang bisa dicapai oleh orang yang memiliki maksud yang bertentangan dengan dirinya sendiri, mungkin hanya ratusan dari ribuan orang. Akan tetapi jika semua disatukan dalam satu jiwa, semua tujuanmu, dengan tanpa keraguan, akan tercapai”. Walaupun negara yang kita tempati berbeda-beda, kita semua berada dalam rangkulan dan perjuangan yang sama dari hati terdalam Pendiri kita, Nichiren Shonin. Sekarang adalah waktu dimana kita semua menyebut Odaimoku dengan kepercayaan yang kuat dan membuat langkah besar untuk maju ke depan dalam kepercayaan dan penerapan Buddhist kita, juga dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagai penutup, harap saya diperbolehkan untuk memberikan doa-doa saya kepada semuanya, utk bergandeng tangan bersama dan berjuang untuk mencapai Kaiki Myoho (Semua mahluk hidup di langit and empat penjuru lautan kembali kepada Myoho Renge Kyo), jiwa dari Rissho Ankoku Ron dan damai di seluruh penjuru dunia. SELESAI

Diterjemahkan oleh Yullya Yaladhari, Batam.