|
Rikkyo Kaishu Nichiren Shu
28 April 1253 dan
2 thn Nichiren Shu Indonesia
Oleh: Sidin Ekaputra
752 tahun yang lalu adalah waktu dimana Nichiren Shonin berjanji
kepada langit dan bumi untuk melenyapkan kegelapan yang menyelimuti
dunia ini dengan menyebarluaskan O’daimoku. Pada tanggal 28
April tahun Kencho ke-5 (1253), seorang bhiksu muda berjalan menaiki
puncak bukit Asahigamori di Gunung Kiyosumi daerah Kominato, Propinsi
Awa (Sekarang Propinsi Chiba). Beliau berdiri menghadap matahari
yang mulai terbit di samudera Pasific dan dengan suara yang indah,
mulai menyebut “Namu Myoho Renge Kyo, Namu Myoho Renge Kyo,
Namu Myoho Kyo….” Bhiksu muda itu adalah pendiri kita,
Nichiren Shonin, ketika itu Beliau telah berusia 32 tahun. Menghadap
ke arah matahari pagi yang indah dengan angin sepoi-sepoin lautan
pasific menerpa wajah, Beliau berjanji akan menyelamatkan negaranya
dan seluruh umat manusia dari kehancuran serta membimbing umat manusia
mencapai Nirvana.
Tempat tinggal Nichiren Shonin berada dipinggir
pantai, karena orangtuanya adalah seorang nelayan. Dalam beberapa
tulisanNya, ia menyebutkan bahwa Ia lahir di keluarga Chandala.
Chandala (Ghandaran dalam bahasa India) berarti kasta yang paling
rendah, karena mempunyai mata pencarian dari membunuh binatang seperti
para nelayan, peternak, penjagal dan lain-lain. Kediaman Beliau
terletak didaerah Kataumi, desa Tojo yang berada diantara wilayah
Nagasa dan Propinsi Awa. Sistem kasta memang tidak berlaku di negara
Jepang seperti India, namun secara tingkat sosial Nichiren Shonin
berasal dari keluarga yang miskin. Sebuah keberuntungan bahwa orangtuanya
adalah bekas seorang samurai sehingga masih mempunyai sedikit pengaruh
dan relasi dengan beberapa keluarga bangsawan. Nichiren Shonin yang
ketika kecil bernama Yakuo-Maro, pergi belajar di Kuil Seicho-ji
pada usia 12 tahun. Pada waktu itu belum ada sistem pendidikan seperti
saat sekarang, sehingga kuil-kuil buddhis atau shinto adalah tempat
untuk menuntut ilmu, dan untuk dapat menjadi murid harus mempunyai
hubungan atau koneksi dengan para bangsawan. Semasa kecil Yakuo-Maro
seorang yang sangat cerdas dan pintar, berbagai pertanyaan yang
ingin beliau temukan antara lain bahwa “Diantara sekian banyak
sutra-sutra Buddha pasti terdapat sebuah Sutra yang merupakan Raja
dari seluruh sutra yang ada?” dan “Buddha mana yang
seharus kita puja dan sesuai dengan masa akhir dharma?”. Setelah
belajar dibawah bimbingan Dozen-bo dan menjadi Bhiksu dengan nama
Zesho-bo Rencho. Ia berjanji, “Aku akan menjadi guru dari
Buddhisme dan mencapai Kesadaran Buddha serta menyelamatkan seluruh
mahluk hidup.”
Kemudian setelah menempuh pembelajaran yang panjang,
mempelajari semua sekte buddhis yang ada dan seluruh sutra-sutra
Buddha, bahkan ajaran Konghucu, dan lain-lain, Beliau sampai pada
sebuah kesimpulan bahwa, “Saddharma Pundarika Sutra adalah
Raja dari segala Sutra”, dan “Hanya Buddha Sakyamuni
Abadi yang seharusnya dipuja pada masa akhir dharma.” Beliau
menyadari bahwa untuk menyelamatkan umat manusia pada masa sekarang,
tidak lain hanya melalui kepercayaan kepada Saddharma Pundarika
Sutra dengan penyebutan Odaimoku “Namu Myoho Renge Kyo”.
Nichiren Shonin membuktikan Saddharma Pundarika Sutra dalam pelaksanaan
dengan badannya, untuk menyelamatkan negara dan umat manusia dari
penderitaan. Saddharma Pundarika Sutra dapat menyelamatkan seluruh
umat manusia pada masa akhir dharma dan mencapai Kesadaran Buddha
karena merupakan ajaran sesungguhnya dari Buddha Sakyamuni Abadi.
Pada Bab III “Perumpamaan “Saddharma Pundarika Sutra,
Sang Buddha menyatakan, “Sekarang, Triloka ini adalah milikKu.
Seluruh mahluk hidup adalah anak-anakKu, terdapat begitu banyak
penderitaan di dunia ini. Hanya Aku yang dapat menyelamatkan seluruh
mahluk hidup.” Triloka adalah bumi dan seluruh isinya, dimana
kita tinggal, dan Buddha Sakyamuni Abadi berjanji untuk menyelamatkannya.
Oleh karena itu, seluruh mahluk hidup di Triloka ini adalah anak-anak
dari Buddha Sakyamuni Abadi.
Pada hari ini, 28 April 1253, Beliau menganti namanya
menjadi Nichiren (Nichi berarti Matahari, Ren berarti Teratai) yang
bermakna bagaikan sinar matahari yang akan melenyapkan segala kegelapan
dan bunga teratai yang tetap putih bersih tanpa ternoda oleh air
yang kotor. “Aku akan menjadi tiang, mata, dan bahtera bagi
negeri Jepang,” pernyataan ini disebut sebagai Tiga Janji
Agung Nichiren Shonin, dan kita menyebutnya Rikkyo Kaishu, atau
hari berdirinya Nichiren Shu dan penyebaran ajaran Nichiren Shonin.
Nichiren Shonin dalam keinginan untuk menyelamatkan
seluruh negeri dari kehancuran karena kesesatan dan pelaksanaan
ajaran yang salah dari berbagai sekte yang ada, membuat sebuah tulisan
yang dikirimkan kepada KeShogunan Kamakura berjudul Rissho Ankoku-ron
(Risalah untuk menyelamatkan negara dan menciptakan kedamaian melalui
penegakkan ajaran Buddhisme yang sesungguhnya). Kenapa Nichiren
Shonin mengucapkan Tiga Janji Agung itu. Nichiren Shonin menerima
secara penuh Buddha Sakyamuni Abadi sebagai satu-satunya Buddha
yang harus kita puja dan mampu menyelamatkan penderitaan seluruh
mahluk hidup di dunia ini, Dia adalah guru dan juga orangtua kita.
Nichiren Shonin berkeinginan menjadi tiang dari hati kepercayaan
seluruh orang di Jepang dan dunia, mata untuk memimpin seluruh umat
manusia dan bahtera untuk menyelamatkan manusia dari lautan penderitaan.
Nichiren Shonin ingin menghancurkan semua kegelapan dalam hati semua
manusia di masa Mappo. Hanya melalui penyebarluasan Odaimoku yang
mampu mewujudkan seluruh keinginan Beliau, inilah hati dari Kosenrufu
(Mewujudkan perdamaian dunia melalui ajaran Buddhisme yang sesungguhnya).
28 April juga merupakan hari penting bagi umat
Nichiren Shu Indonesia. Ini adalah hari Rikkyo Kaishu untuk menyebarkan
ajaran Nichiren Shonin yang sebenarnya di bumi nusantara. Berpuluh-puluh
tahun ajaran Nichiren Buddhisme telah mengalami distorsi dari makna
dan hati yang sesuai dengan pendiri kita, Nichiren Shonin. Saatnya
sekarang kita mewujudkan hakikat Kosenrufu yang sebenarnya. Sekarang
waktunya untuk menegakkan pemujaan yang sejati kepada Buddha Sakyamuni
Abadi yang didasarkan pada Bab.XVI “Jangka Waktu Hidup Sang
Tathagata”, Saddharma Pundarika Sutra dan penyebarluasan Odaimoku
“Namu Myoho Renge Kyo.” Sebagaimana Janji luhur dan
agung dari guru kita, maka kita sebagai murid-murid Beliau hendaknya
dapat melakukan hal yang sama. Kita hendaknya dapat menjadi tiang
dari negara dan masyarakat kita melalui pelaksanaan hati kepercayaan
yang kuat kepada Saddharma Pundarika Sutra, Kita juga harus mampu
menjadi mata bagi keluarga, masyarakat dan negara untuk melihat
kebenaran dan keadilan, kita juga harus bisa menjadi Bahtera melalui
Kendaraan Tunggal untuk menyeberangi lautan penderitaan tidak hanya
bagi diri sendiri tetapi juga orang lain. 2 tahun sudah berdirinya
Nichiren Shu di Indonesia, ini bagaikan sinar matahari yang terbit
di ufuk timur dan memusnahkan kegelapan dan kesesatan dan seperti
sinar bulan yang memberitahukan arah bagi perjalanan kita. Kosenrufu
tidak hanya menjadi sebuah kata-kata belaka tetapi juga harus menjadi
jalan hidup kita. Kosenrufu dimulai dari dalam diri kita, keluarga,
tetangga, masyarakat dan negara serta kemudian keseluruh dunia.
Semoga semua umat Nichiren Shu Indonesia dapat menemukan Kesejatian
dirinya, menyadari tugas kejiwaan, dan mampu menjadi manusia yang
luhur sebagaimana cita-cita pendiri kita, Nichiren Shonin. Selamat
Ulang Tahun Nichiren Shu Indonesia ke-2. Semoga semua mahluk berbahagia.
Namu Myoho Renge Kyo, Namu Myoho Renge Kyo, Namu Myoho Renge Kyo. |