|
Putra
Yang Menyalin Saddharma Pundarika Sutra
Oleh: YM.Bhiksuni Myosho Obata
Hari ini, saya akan menceritakan
sebuah cerita tentang seorang anak yang menyalin Saddharma Pundarika
Sutra. Mungkin beberapa diantara anggota sudah mengetahui tentang
cerita ini. Pada suatu masa di China, terdapatlah seorang yang sangat
piawai dalam penulisan kaligrafi, orang itu bernama Wolung. Beliau
mempunyai reputasi yang luar biasa, dan merupakan seorang kaligrafer
yang terbaik di China saat itu, dan telah menyalin banyak karakter
dari buku Kongfucu dan puisi. Tetapi Wolung sangat membenci ajaran
Buddha, sehingga Ia tidak mau menyalin Sutra apapun. Beliau tidak
pernah menyalin bagian apapun dari Sutra Buddha selama hidupnya.
Ketika ia mengalami sakit keras dan mengetahui bahwa hidupnya akan
berakhir, Ia memanggil putranya, setelah putranya Yilung duduk disamping
tempat tidurnya dan berkata, “Kamu adalah putraku. Kamu adalah
seorang Kaligrafer yang lebih baik dari aku. Berjanjilah padaKu
bahwa kamu harus lebih sukses dari aku dan tidak pernah berhenti.
Tetapi ingatlah akan hal ini – meskipun ketika kamu mendapat
kesulitan yang sangat besar sekalipun, jangan pernah menyalin Saddharma
Pundarika Sutra. Ini adalah permintaan dariku.” Setelah Wolung
mengucapkan kata-kata terakhirnya. Darah segar mulai keluar dari
mata, telinga, hidung, mulut dan seluruh tubuhnya, sama seperti
air mancur. Lidahnya terbelah menjadi delapan bagian, dan badannya
terpotongnya menjadi bagian-bagian kecil dan berserakan. Putranya
dan kerabatnya sangat terkejut melihat pemandangan seperti itu,
tetapi mereka tidak mengetahui bahwa Wolung telah terjatuh ke dalam
neraka.
Pada suatu hari, Kaisar yang
percaya kepada ajaran Buddha memanggil Yilung dan berkata, “Kamu
adalah seorang kaligrafer yang terbaik di China. Saya memberikan
perintah kepadamu untuk menyalin Saddharma Pundarika Sutra.”
Yilung berkata, “Saya sangat senang menerima perintah darimu
untuk apa saja, tetapi saya tidak dapat menyalin Saddharma Pundarika
Sutra. Ini adalah permintaan dari Ayah saya sebelum kematiannya
untuk tidak menyalinnya. Harap memaafkanku.”
Yilung tidak ingin berbuat
tidak hormat, tetapi Ia tidak dapat menemukan jalan untuk menolak
permintaan dari Kaisar. Melihat tidak ada jalan lain. Yilung mematuhi
perintah itu, menyalin hanya judul dari Saddharma Pundarika Sutra
dan mempersembahkannya kepada Kaisar. Ketika Ia kembali ke rumah,
Ia mengunjungi makam ayahnya dan mulai menangis. “Aku tidak
dapat menolak permintaan Kaisar. Aku telah melanggar permintaanmu.
Aku menyalin judul dari Saddharma Pundarika Sutra.” Yilung
berdiam di makam ayahnya tanpa makan selama tiga hari.
Pada suatu pagi di hari ketiga.
Ia mendapatkan sebuah mimpi. Melihat ke atas langit, Ia mendengarkan
suara dari langit, “Aku ayahmu, Wolung. Aku telah terjatuh
kedalam neraka. Sebab Aku membenci ajaran Buddha, aku telah menjadi
musuh dari Saddharma Pundarika Sutra selama hidupku sebagai manusia.
Aku mendapatkan siksaan yang mana lidahku bagaikan dicabut dan ditusuk
oleh ribuan jarum. Hal itu terjadi ribuan kali setiap hari. Aku
telah meninggal dan dihidupkan lagi tak terhingga jumlahnya. Aku
melihat keatas langit, badanku yang letih dan meratapi keadaanku,
tetapi tidak ada sesuatupun yang dapat aku lakukan. Aku ingin memberitahu
seseorang tentang ini, tetapi tidak dapat melakukannya. Ketika kamu
berkata, “Aku tidak dapat menyalin Saddharma Pundarika Sutra,
sesuai dengan permintaan ayahku, kata-kata itu turun dari langit
bagaikan nyala api dan membakar tubuhku, kata-kata itu menjadi pedang
dan jatuh dari langit mengenai diriku. Aku tidak dapat menyalahkan
siapapun kecuali diri sendiri, siksaan ini adalah benih yang telah
aku taburkan dalam hidupku.” Kemudian seorang Buddha dengan
tubuh keemasan muncul di neraka. Buddha itu berkata, “Betapapun
karma buruk yang telah Ia buat, jika Ia dapat mendengarkan hanya
sekali Saddharma Pundarika Sutra, maka Ia akan segera akan mencapai
Penerangan Agung. Ketika Buddha itu masuk ke dalam neraka, siksaan
yang ku alami menjadi berkurang, bagaikan turunnya hujan ke dalam
nyala api.” Dan aku bertanya kepada Buddha itu dengan sikap
anjali (Gassho ), “Dapatkah kamu memberitahukan saya, siapa
nama Mu ?” Buddha itu berkata,”Saya adalah Myo, salah
satu karakter dari judul Saddharma Pundarika Sutra, MYO-HO-Ren-Ge-Kyo.
Dimana putramu, Yilung telah menyalinnya. Setiap karakter China
dari judul Saddharma Pundarika Sutra itu mewakili atau mencermin
seorang Buddha. Mendengar hal ini, Yilung sangat terkejut, tetapi
Ia tetap berada dalam ketidakpercayaan dan kembali bertanya, “Aku
menyalin Saddharma Pundarika Sutra dengan tanganku. Tetapi kenapa
hal ini dapat menyelamatkan ayah dari hanya satu perbuatan ini ?
Selain itu, Aku tidak menyalinnya secara lengkap. Ayahnya menjawab,”
Tidakkah kamu mengerti ? tanganmu adalah tanganku. Badanmu adalah
badanku. Jadi setiap karakter kata yang kamu salin, aku juga telah
menyalinnya. Meskipun kamu tidak percaya kepada Saddharma Pundarika
Sutra, Aku telah diselamatkan dari neraka karena kamu menyalin Saddharma
Pundarika Sutra dengan tanganmu. Ini sama halnya dengan seorang
anak kecil yang bermain dengan korek api dan membakar sesuatu tanpa
ia berniat melakukannya. Kamu menyalin Saddharma Pundarika Sutra
sama seperti itu. Kamu harus mengingat hal ini dalam pikiranmu,
dan jangan pernah lagi memfitnah Saddharma Pundarika Sutra.”
Mimpi itu adalah tanda sebuah harapan baginya, adalah baik untuk
Yilung, dan pada akhirnya percaya kepada Saddharma Pundarika Sutra.
Cerita ini terdapat dalam
gosho Nichiren Daishonin “Surat Balasan Kepada Ueno Ama Gozen.”
Ini mengajarkan kepada kita bahwa kita mendapat kebajikan yang tak
terhingga dari menyalin Saddharma Pundarika Sutra. Didalam Saddharma
Pundarika Sutra, kita sering melihat kata-kata ini, “Kamu
harus “Menjaga / Mempertahankan” (Juji), “Membaca”
(Doku), “Mengingat / Melafalkan” (Ju), “Membabarkan”
(Gesetsu), dan “Menyalin” (Shosha) sutra ini.”
Pelaksanaan ini disebut Lima Jenis Pelaksanaan bagi Guru Dharma
(Goshu Fashi) dan ini adalah dasar hati kepercayaan kepada Saddharma
Pundarika Sutra. Ini mengajarkan kepada kita, jika kita percaya
kepada Saddharma Pundarika Sutra, menerima Odaimoku Namu Myoho Renge
Kyo, membacanya dengan badan dan pikiran, membabarkan inti dari
Sutra dan menyalin Sutra ini, kita melaksanakan dengan sikap anjali
(Gassho), ini mencerminkan sikap dari seorang Buddha dan pikiran
Penerangan Buddha. Ini berarti Saddharma Pundarika Sutra adalah
ajaran Sokushin Jobutsu (mencapai KeBuddhaan dalam kehidupan kali
ini)
Secara formal Saddharma Pundarika
Sutra disebut Saddharma Pundarika Sutra, Hukum yang luar biasa.
Saddharma Pundarika Sutra dibandingkan dengan Bunga Teratai karena
Bunga Teratai mempunyai bunga dan buah sekaligus dalam waktu yang
bersamaan, dan Buah KeBuddhaan akan segera muncul setelah bunga
Hati Kepercayaan berkembang.
NB:Diterjemahkan oleh Sidin Ekaputra
Kesimpulan:
1. Mereka yang membenci dan memfitnah Saddharma Pundarika Sutra
akan terjatuh ke dalam Neraka Avici.
2. Hanya Saddharma Pundarika Sutra yang dapat menyelamatkan jiwa
yang terjatuh ke dalam neraka.
3. Hubungan antara anak dan orangtua adalah tidak terpisahkan
4. Lima Pelaksanaan Guru Dharma yakni : Menjaga/Mempertahankan,
Membaca, Mengingat /Melafalkan, Membabarkan dan Menyalin.
5. Hukum sebab akibat sesaat.
|