| Penganiayaan
Tatsunokuchi
Oleh Jun-ichi Nakamura
Ilustrasi oleh: Hiroshige Katsu
Penegakkan Hachiman sebagai Dewa Pelindung
Nichiren Shõnin memuja Dewa Shinto ?. Orang
juga bisa mengatakan Dewa Shinto memuja Nichiren Shõnin.
Pada tahun 2002, Bhiksu Tertinggi Nichikõ Fujii mengunjungi
Tempat Suci Tsurugaoka Hachiman, untuk merayakan 750 tahun misi
Nichiren Shonin di Kamakura. Nichiren Shõnin berhenti di
tempat suci ini dalam perjalanan menuju Tatsunokuchi, dimana pemerintah
mencoba untuk melaksanakan hukuman pancung terhadapNya pada tanggal
12 September 1271. Kalian pasti ingin tahu kenapa seorang Bhiksu
Buddhis berhenti disebuah tempat suci Shinto. Tetapi hal ini biasa
bagi Nichiren Shõnin.
Dewa Hachiman adalah salah satu dewa yang berasal
dari leluhur kaisar Jepang. Hachiman adalah dewa yang sangat terkenal
di Jepang, maka terdapat banyak tempat suci Hachiman diseluruh Jepang.
Hachiman juga sangat penting bagi Yoritomo Minamoto, pendiri dari
pemerintahan Kamakura pada abad 12, sebab Ia adalah dewa pelindung
dari kaum Minamoto dan juga sebagai dewa pelindung perdamaian. Sekarang,
Hachiman juga dikenal sebagai “Maha Bodhisattva Hachiman.”
Kenapa ia disebut “Maha Bodhisattva” jika Ia adalah
Dewa Shinto? Sejak kedatangan Buddhisme di Jepang dua ratus lalu
di Jepang pada tahun 538, orang-orang Jepang mulai menyebut dewa
Shinto sebagai “Bodhisattva”. Hal ini mulai terlaksana
sekitar akhir periode Nara (710-794). Dewa Shinto dikatakan sebagai
pelindung negara dan menyelamatkan orang sama seperti para Buddha
dan Boddhisattva yang digambarkan dalam sutra-sutra Buddha. Karena
hal inilah, orang-orang Jepang mulai menghormati Dewa Shinto mereka
sebagai penjelmaan dari para Buddha dan Bodhisattva pelindung. Penafsiran
ini disebut “Honji Suijaku”, yang berarti “Para
Buddha dan Bodhisattva menjelma sebagai Dewa Shinto.”
Kenapa Nichiren Shõnin meminta untuk berhenti
di tempat suci Tsurugaoka Hachiman dalam perjalanan menuju lapangan
pelaksanaan hukuman? Para tentara yang mengawalnya pasti berpikir
bahwa Ia akan memohon Hachiman untuk menyelamatkan diriNya. Namun
sebaliknya, Nichiren Shõnin yang menghadap ke tempat suci
Hachiman dan dengan suara lantang berkata kepada dewa itu. “Benarkah
Maha Bodhisattva Hachiman adalah seorang dewa yang sesungguhnya?”
kata Nichiren Shõnin. “Saya, Nichiren, adalah pelaksana
sesungguhnya Saddharma Pundarika Sutra di Jepang [yang mana kamu
telah berjanji untuk melindungi sutra ini]. Disamping itu, Saya
tidak mempunyai sedikitpun kesalahan dalam diriKu.” (Goibun
Shuju Onfurumai). Para tentara terkejut dengan prilaku Nichiren
Shõnin tersebut. Ia mengingatkan kepada Hachiman bahwa jika
negara ini hancur oleh serangan dari Mongolia, maka para dewa sekalipun
tidak akan selamat.
Nichiren Shõnin ingin menyelamatkan Jepang
dari kehancuran – sebagai contoh serangan dari Mongolia –
sehingga Ia menulis Rissho Ankoku Ron untuk memberitahukan kepada
pemerintah akan kesalahan yang mereka lakukan. Tanpa memikirkan
bahaya bagi kelangsungan hidupNya, Ia terus mengkritik pemerintahan
militer yang diktator, Ia menjelaskan kesalahan yang telah dilakukan
oleh pemerintah. Beliau menyatakan;
… Saya telah memeriksa berbagai macam sutra
dan mendapatkan kesimpulan bahwa penyebab kehancuran negara datang
dari orang-orang yang menentang Dharma yang sesungguhnya, dan berpihak
pada Dharma palsu. Oleh karena itu, para dewa-dewi pelindung dan
arif bijaksana meninggalkan negeri ini, dan tidak akan kembali.
Hal ini telah memberikan peluang bagi para iblis dan setan untuk
menyerang, menyebabkan bencana dan malapetaka. Bagaimana mungkin
Aku tidak memberitahukan hal ini! Bagaimana mungkin Aku tidak khawatir
mengenai hal ini! (Writings of Nichiren Shõnin: Doctrine
1, p. 108)
Ia sangat bimbang dengan perasaan itu bahwa tidak
seorang pun yang mengerti tentang motifasiNya. Bahkan, para dewa-dewi
pun, tidak kelihatan, tidak memberikan perhatian mengenai hal ini.
Ia pun ingin memberikan kesempatan lain kepada Hachiman untuk memenuhi
janjinya untuk melindungi pelaksana dari Saddharma Pundarika Sutra,
dan hal ini tidak bisa diacuhkan karena Ia akan dihukum mati oleh
pemerintah.
Aku, Nichiren akan dihukum mati malam ini. Kemudian,
ketika Aku pergi ke Tanah Suci Grdhrakuta, Aku akan beritahukan
kepada Buddha Sakyamuni bahwa Dewa Tenshõ dan Hachiman tidak
menerima doaKu. (Goibun Shuju Onfurumai)
Kekuatan dari Kebijaksanaan Buddha
Kita dapat melihat perasaan mendalam Nichiren Shõnin
terhadap dewa ini dalam tulisan Beliau. Kamu mungkin berpikir bahwa
Nichiren Shõnin dipenuhi oleh penyesalan. Tetapi Beliau menulis
dalam tulisan yang sama yaitu;
Sejak Aku dilahirkan dalam keadaan miskin, balas
budiKu kepada kedua orangtuaKu belum terpenuhi dan Aku juga tidak
mempunyai kekuatan yang cukup untuk membayar budi kepada negara.
Sekarang, Aku mempersembahkan kepalaKu kepada Saddharma Pundarika
Sutra dan mengirimkan doaKu kepada orangtuaKu. Juga Aku mempersembahkan
seluruh kebajikanKu kepada semua murid-murid dan pengikutKu.
Beliau telah siap untuk mati. Dalam situasi ini,
Nichiren Shõnin menaruh harapan kepada Hachiman sebab Ia
menginginkan agar dewa ini dapat bangkit menjadi dewa Buddhis yang
sesungguhnya. Ia percaya pada ajaran Buddha bahwa para dewa-dewi
adalah pengikut dari Buddha Dharma. Karena itu, dewa-dewi adalah
murid dan Saddharma Pundarika Sutra adalah gurunya.
Bab VII, Saddharma Pundarika Sutra, berjudul “Perumpamaan
Sebuah Kota Ajaib,” yang menceritakan tentang Buddha Kebijaksanaan
Agung Sempurna Universal (Buddha Mahabhignagnanabhibhu). Ketika
Ia mencapai Penerangan Agung, dunia dari seluruh penjuru diterangi
oleh cahaya kebijaksanaanNya. Raja Surga Brahman, yang menciptakan
dunia ini, diliputi oleh perasaan kegembiraan dan ia menawarkan
istananya kepada Sang Buddha. Pada waktu itu mereka berjanji;
Kami mempersembahkan semua kebajikan yang telah
kami kumpulkan,
– Dan diteruskan kepada seluruh mahluk hidup,
- Dan semoga kami dan seluruh mahluk hidup
- Mencapai Penerangan Agung Sang Buddha! (Murano, p. 139)
“Kami” berarti semua para dewa-dewi
dan “Seluruh Mahluk Hidup” berarti kita, manusia, dan
juga semua mahluk hidup lainnya. Dengan kata lain, Saddharma Pundarika
Sutra mengajarkan bahwa semua mahluk hidup dan seluruh dewa-dewi
di surga mendapatkan kekuatan dari Kebijaksanaan Sang Buddha. Ini
salah satu sebabnya kenapa Nichiren Shõnin percaya bahwa
untuk menyebarkan kedamaian diseluruh negeri harus melalui pengajaran
Saddharma Pundarika Sutra. Kemudian para Dewa Shinto bisa menyelesaikan
misi mereka.
Terakhir, apakah para dewa-dewi
menjawab doa Nichiren Shõnin pada hari itu?
Pada malam hari tanggal 11 September 1271, Hei-no-Saemon-no-jo
Yoritsuna, orang yang bertanggungjawab atas tentara pemerintah,
memimpin tentara untuk menyerang kediaman Nichiren Shõnin
di Matsubagayatsu. Ia menyatakan Nichiren sebagai seorang penjahat
karena Ia “berdoa untuk kekalahan dari negara Jepang, bangsa
yang paling utama di dunia.” Alasan sebenarnya bagi pemerintah
untuk menangkap Nichiren Shonin karena Ia mengkritik para bhiksu-bhiksu
dari kuil dan sekte lain di Kamakura, yang mempunyai hubungan baik
dengan pemerintah. Karena mereka marah, mereka menghasut pemerintah
untuk menangkap Nichiren Shõnin sehingga kesalahan dapat
dialihkan dari diri mereka.
Selanjutnya, Yoritsuna memilih cara yang ekstrim.
Ia memutuskan untuk menghukum mati Nichiren Shõnin secara
diam-diam, dengan mengunakan alasan untuk mengasingkan Nichiren.
Pada malam tanggal 12 September, Nichiren Shõnin dibawa untuk
dihukum mati di tanah lapang tempat pemancungan di Tatsunokuchi.
Dalam perjalanan ke Tatsunokuchi, Nichiren Shõnin memprotes
Hachiman di tempat suci Tsurugaoka Hachiman sebagaimana telah dijelaskan
diatas. Rombongan itu akhirnya tiba di tempat pelaksanaan hukuman
mati pada jam 1:00 pagi.
Shijo Kingo, salah seorang pengikut penting dan
setia dari Nichiren Shõnin, ikut dalam rombongan itu. Ia
menanggis dengan sedihnya dan ingin mengantikan Nichiren Shonin
dengan dirinya bahkan ia ingin mati bersama gurunya. Nichiren Shõnin
berkata kepadanya, “Kamu telah kehilangan pikiranmu. Kamu
seharus tersenyum penuh kegembiraan karena Aku mempunyai sebuah
kesempatan untuk mempersembahkan hidupKu kepada Buddha.”
Mereka pun tiba di tempat pelaksanaan sebuah tanah
lapang di pantai Tatsunokuchi dan algojo pun mengayunkan pedangnya
untuk memenggal kepala Nichiren Shõnin. Dalam sebuah suratNya,
Nichiren Shõnin menjelaskan sendiri apa yang terjadi kemudian:
“Sebuah objek terang menderang seperti sebuah bulan ditepi
pulau Enoshima terbang seperti sebuah bola sinar dari bagian tenggara
ke arah barat laut.” Semua orang-orang pemerintah menjadi
takut, dan sang algojo pun tidak mampu melaksanakan tugasnya. Sejak
pemerintah tidak dapat melakukan hukuman mati terhadap Nichiren
Shõnin karena takut kemarahan dari surgawi, mereka mengucilkan
Beliau ke Pulau Sado sebagaimana perintah pengadilan pada mulanya.
Apakah Hachiman menjawab doa dari Nichiren Shõnin
dengan sebuah keajaiban untuk mencegah pelaksanaan hukuman mati
tersebut? Tentu saja ini tidak ada buktinya. Namun, ini memperlihatkan
bahwa Nichiren Shonin mendapat perlindungan dari para dewa-dewi,
meskipun Beliau menghadapi begitu banyak kesulitan, penganiayaan,
dan Ia terus memperdalam hati kepercayaanNya sebagai seorang pelaksana
Saddharma Pundarika Sutra. Gassho.
|