Tiga Pesamuan di Dua Tempat
Pesamuan Pertama di Gunung Gridhrakuta – Bab. 1 sampai Bab. 10
Sang Buddha membabarkan ajaran Kebijaksanaan Tiga Kendaraan (San Jo) dan Kebenaran Kendaraan Agung (Ichi Jo) dan Ajaran tentang pencapaian KeBuddhaan dari Dua Kendaraan. Sang Buddha membabarkan berbagai macam perumpamaan untuk membuat kedua kendaraan lainnya memahami ajaran tersebut.
Persamuan di Angkasa – Bab. 11 sampai Bab. 22
Sang Buddha mengungkapkan tentang Jangka Waktu HidupNya Yang Abadi, Yang Kekal sejak masa lampau yang tak terbatas. Ia juga mengajarkan pelaksanaan Bodhisattva untuk menguraikan secara terperinci ajaran Beliau setelah kemoksaanNya. Ketika Sang Buddha membabarkan ajaranNya, Buddha Segala Pusaka (Prabhutaratna) dan para Buddha lain, yang merupakan perwujudan dari Buddha Abadi mendengarkan pembabaran Sang Buddha.
Persamuan Kedua di Gunung Gridhrakuta – Bab. 23 sampai Bab. 28
Pada pesamuan ini, para Bodhisattva memuji Saddharma Pundarika Sutra dan berjanji untuk melindungi para pelaksana Sutra ini dan menyebarluaskan Sutra tersebut.
Persamuan di Angkasa
Tujuan pengajaran pada pesamuan ini – Untuk menyelamatkan semua orang yang hidup pada Masa Akhir Dharma setelah kemoksaan Sang Buddha melalui upacara Pemindahan Saddharma Pundarika Sutra.
Ki, Ken, Kyo – Awal, Pengungkapan, dan Penyelesaian Pemindahan
“Sekarang perihal Gohonzon ini dimulai dari Bab Munculnya Sebuah Stupa Pusaka, pengungkapan (Jangka Waktu HidupNya) dalam Bab Jangka Waktu Hidup Tathagata, dan dilengkapi ungkapan dalam Bab Kekuatan Gaib Sang Tathagata dan Bab Pemindahan. Sang Buddha memanggil Bodhisattva Jogyo, Pelaksana Unggul, dalam Bab Bodhisattva Muncul dari Bumi dan kemudian, memindahkan kelima aksara Myo, Ho, Ren, Ge, Kyo, yang mana merupakan intisari dari Bagian Pokok Saddharma Pundarika Sutra” (Niiama Gozen Gohenji, Surat Balasan Kepada Niiama, Showa Teihon p. 867) Ajaran dari Ki-Ken-Kyo mengindikasikan bahwa dimana Honzon ini muncul dari Bagian Pokok dan juga mengambarkan pelaksanaan upacara pemindahan tersebut.
Pelaksanaa Pemindahan Saddharma Pundarika Sutra
Bab. 10. Guru Dharma
Sang Buddha menyatakan tentang sulitnya untuk menyebarluaskan ajaranNya setelah kemoksaanNya. “Aku telah membabarkan banyak sutra. Sekarang Aku membabarkan sutra ini. Aku juga akan terus membabarkan banyak sutra pada masa mendatang. Saddharma Pundarika Sutra, Dharma Luar Biasa ini adalah sangat sulit untuk dipercaya dan dimengerti.”
“Sutra ini adalah harta benda tersembunyi dari para Buddha. Jangan memberikannya kepada sembarangan orang! Ia dilindungi oleh para Buddha, Yang Dipuja Dunia. Ia belum dibabarkan secara tegas. Banyak orang membencinya dengan penuh keiri hatian bahkan ketika Aku masih hidup. Tidak terkatakan lagi, lebih banyak orang akan melakukan hal tersebut setelah kemoksaanKu.” (Murano, p. 175 – 176)
Bab. 11. Munculnya Sebuah Stupa Pusaka:
*Sebuah Stupa dari Tujuh Pusaka muncul dari dalam bumi.
*Buddha Segala Pusaka (Prabhutaratna) menyetujui apa yang telah Sang Buddha babarkan.
*Sang Buddha memurnikan Dunia sebanyak tiga kali
*Sang Buddha mengumpulkan semua perwujudanNya.
*Sang Buddha naik keangkasa dan membuka pintu dari stupa.
*Sang Buddha dan Buddha Segala Pusaka duduk bersama dalam stupa.
*Sang Buddha menaikan semua peserta pesamuan keangkasa. (Pesamuan di Angkasa)
Sang Buddha berkata kepada Ke-empat Kelompok Penganut:
“Siapa yang akan membabarkan Saddharma Pundarika Sutra, Dharma Luar Biasa ini di Dunia Saha ? Sekarang adalah waktu yang tetap untuk melakukannya. Aku akan memasuki Nirvana tidak lama lagi. Aku ingin memindahkan Saddharma Pundarika Sutra ini kepada seseorang sehingga sutra ini dapat terjaga.” (Murano, p. 187)
Sang Buddha memanggil tiga kali kepada seseorang yang ingin mengambil tanggungjawab Saddharma Pundarika Sutra ini setelah kemoksaanNya. “Siapa yang akan melindungi dan menjaga sutra ini, membaca dan menghafalnya setelah kemoksaanKu? Buatlah sebuah janji dihadapanKu untuk melakukannya! (Murano, p. 189)
“Siapa yang akan melindungi Dharma? Buat sebuah janji agung untuk menjaga Dharma ini selamanya!” (Murano, p. 189)
“Sangatlah sulit [untuk membabarkan sutra ini]. Buatlah sebuah janji agung untuk melakukannya!” (Murano, p. 190)
Sang Buddha mengingatkan para penjaga bahwa betapa sulitnya membabarkan sutra ini dengan menceritakan tentang enam hal yang sulit dan sembilan hal yang mudah. (Murano, p. 190 – 192)
Bab. 13. Dorongan Untuk Menjaga Sutra ini
Bodhisattva Baishajaraja dan Bodhisattva Pratibhana dengan sekitar dua puluh ribu Boddhisattva berjanji kepada Sang Buddha: “Kami akan menjaga, membaca, menghafal dan membabarkan sutra ini setelah kemoksaanMu.” (Murano, p. 203)
Lima Ratus Arahat dalam pesamuan, yang telah diramalkan akan mencapai keBuddhaan pada masa mendatang, berkata kepada Sang Buddha, “Kita juga berjanji untuk membabarkan sutra ini [,tetapi akan membabarkannya] di dunia lain [We also vow to expound this sutra[, but we will expound it] in some other worlds [selain dari Dunia Saha ini].” (Murano, p. 203)
Selanjutnya, para Bhiksuni yang dipimpin oleh Gautami, ibu tiri dari Sakyamuni dan Yasodhara, istri Sakyamuni, berjanji kepada Sang Buddha, “Kita juga akan membabarkan sutra ini di dunia lain.” (Murano, p. 205)
Sang Buddha melihat kepada delapan pulu milyar nayuta para Bodhisattva yang diam tak bersuara.
Delapan puluh milyar nayuta Bodhisattva berjanji kepada Sang Buddha dengan “dua puluh baris sajak.” (Murano, p. 206-208)
“Kami tidak akan menyayangi hidup kami. Kami hanya menginginkan Penerangan Tak Terhingga.”
“Mereka (bhiksu jahat) akan berbicara buruk tentang kami, atau mengerutkan dahi kepada kami, atau mengusir kami keluar dari biara dari waktu ke waktu. Tetapi kami akan memikul semua ini karena kami berpikir tentang wejanganMu.” (Murano, p. 208)
Bab. 15. Bodhisattva Muncul Dari Bumi
Sang Buddha berkata kepada para Bodhisattva: “Tidak, putera yang baik! Aku tidak menginginkan kalian untuk melindungi atau menjaga sutra ini.” (Murano, p. 228)
Kemudian, Sang Buddha memanggil para Bodhisattva yang banyak enam puluh ribu kali banyak pasir-pasir Sungai Gangga di Dunia Saha ini.
“Mereka akan melindungi, menjaga, membaca, menghafal dan membabarkan sutra ini setelah kemoksaanKu.” (Murano, p. 228)
Bodhisattva Muncul Dari Bumi menjawab permintaan dari Sang Buddha adalah sebuah pendahuluan untuk membuka pintu Bagian Pokok Saddharma Pundarika Sutra. Para Bodhisattva sebanyak enam puluh ribu kali banyaknya pasir-pasir sungai Gangga di Dunia Saha ini muncul dari dalam bumi Dunia Saha ini. Sang Buddha mengungkapkan bahwa mereka adalah murid-murid Sang Buddha sejak Beliau mencapai Penerangan Agung pada masa lampau yang tak terbatas dalam Bab Jangka Waktu Hidup Tathagata.
Bab. 16. Jangka Waktu Hidup Tathagata
Sang Buddha mengungkapkan bahwa Ia adalah Guru Sejati dan Buddha Sejati yang hidup abadi.
“Sebanyak ratusan ribu milyar nayuta kalpa telah berlalu sejak Aku menjadi Buddha.” (Murano, p. 241)
“Selama waktu tersebut, Aku telah tinggal dalam Dunia Saha ini, dan mengajarkan [mahluk hidup di dunia ini] dengan membabarkan Dharma kepada mereka.” (Murano, p. 242)
“Waktu yang begitu panjang telah berlalu sejak Aku menjadi Buddha. Jangka Waktu HidupKu adalah tak terhingga, asamkhya kalpa. Aku selalu berada disini. Aku tidak akan pernah moksa.” (Murano, p. 243)
Bab. 21. Kekuatan Gaib Sang Tathagatas
Sang Buddha memperlihatkan sepuluh kekuatan gaibNya, dan kemudian Sang Buddha berkata kepada Bodhisattva Agung yang dipimpin oleh Bodhisattva Pelaksana Unggul. Sang Buddha secara khusus memanggil murid sejatiNya seperti Bodhisattva Pelaksana Unggul dan memindahkan Dharma Agung dengan menyatakan: “Untuk meringkas, semua ajaran Sang Tathagata, semua yang tersembunyi, kekuatan gaib Tathagata, semua pusaka inti tersembunyi dari Tathagata, dan semua penghargaan yang telah diperoleh Tathagata diungkapkan dan dibabarkan secara terperinci dalam sutra ini.” (Murano, p. 294)
Bab. 22. Pemindahan
Sang Buddha memindahkan Saddharma Pundarika Sutra kepada para Bodhisattva yang tak terhingga termasuk para murid sejatinya dan para murid dari dunia lain, dan mereka berjanji sebanyak tiga kali: “Kami akan melakukan semua wejanganMu” (Murano, p. 298)
Pemindahan Saddharma Pundarika Sutra untuk dibabarkan setelah Sang Buddha moksa. |