Ceramah Seminar Nichiren Shu
Di Penang , Malaysia 22 Oktober 2006
[Sesi Pagi Hari]
Nichiren Shonin mengajar sebuah ajaran Buddhisme baru yang didasarkan pada hati kepercayaan keapda Saddharma Pundarika Sutra 750 tahun yang lalu. Ia menulis ajaranNya dengan tinta sumi diatas kertas sehingga orang lain dapat membaca dan memahaminya. Hari ini kita menghormati tulisan Beliau yang begitu banyak, dan menyebutnya sebagai “Goshinseki” atau Tulisan Tangan Asli.
Para arif bijaksana diseluruh belahan dunia telah mengemukakan banyak ajaran baru dan menjadi sebuah agama baru. Tetapi mereka semua tidak mempunyai tulisan tangan dari para arif bijaksana tersebut yang dapat bertahan selama 7 abad lamanya. Alasan inilah, kenapa Nichiren Shu begitu berhati-hati menjaga semua tulisan tangan asli ini dan ajaran yang terkandung didalamnya dengan baik.
Diantara beberapa kategori yang terdapat dalam Tuilsan Tangan Asli tersebut terbagi menjadi beberapa bagian, yang paling utama adalah seperti komentar tentang hati kepercayaan kepada Saddharma Pundarika Sutra seperti Rissho Ankoku Ron (Menegakkan Ajaran Yang Benar Untuk Perdamaian Negara) dan Kanjin Honzon Sho (Objek Pemujaan Untuk Pengamatan Pikiran), kedua-duannya ditulis dalam karakter china kuno.
Kategori kedua dari tulisan Nichiren Shonin terkandung dalam surat-surat kepada para pengikut setia untuk menjawab pertanyaan mereka tentang hati kepercayaan dalam kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Nichiren Shonin menjawab semua itu dengan berbagai cara dan bimbingan dengan mempertimbangkan tingkat hati kepercayaan dan keadaan individu. Banyak surat dalam kategori ini memberikan sebuah cara pandang sesuai dengan apa yang terdapat dalam pikiran para pengikut kepada Saddharma Pundarika Sutra pada waktu itu.
Nichiren Shonin sendiri banyak menulis Mandala Honzon atau Objek Pemujaan untuk diberikan kepada para muridNya, yang dapat ditaruh di altar Buddha untuk dipuja dengan menyebut Daimoku “Namu Myoho Renge Kyo” (Puja kepada Saddharma Pundarika Sutra, Dharma Agung) atau melipat mereka dalam bentuk kecil dan meletakkan dalam sebuah kantong untuk dipakai oleh yang bersangkutan. Meskipun banyak yang telah hilang, namun sekitar 120 Mandala masih bertahan sampai saat sekarang.
Disini, saya akan menjelaskan tentang makna dari sebuah Mandala Honzon yang dipilih dari Tulisan Tangan Asli Nichiren Shonin. Mari kita bandingkan dengan Mandala yang ada dialtar dalam ruangan ini dan Daimoku yang telah kalian salin.
Mandala ini telah ditulis langsung oleh Nichiren Shonin, yang telah menuangkan seluruh pikiran dan jiwa dalam tinta hitam sumi dengan tujuan memberikan pengharapan kepada para murid dan agar menaruh hati kepercayaan kepadaNya. Pada bagian tengah terlihat tulisan kanji dari Daimoku (Namu Myoho Renge Kyo) yang dikelilingi oleh nama-nama dari para Buddha dan Bodhisattva yang muncul dalam Saddharma Pundarika Sutra, ditambah nama dari para Raja Pelindung dan para dewa dewi yang melindungi para penganut dalam Saddharma Pundarika Sutra. Pada bagian bawah Mandala terdapat tanda tangan Nichiren Shonin (Kao).
Suatu mandala biasanya menampilkan gambar-gambar yang merupakan perwujudan dari Dunia Buddha yang luas. Namun Nichiren Shonin hanya mengunakan tulisan kata-kata untuk menciptakan sebuah Mandala Honzon bagi para penganut Saddharma Pundarika Sutra.
Kebanyakan dari Mandala Honzon yang Beliau tulis berada di Kuil di Gunung Minobu, Daerah Administrasi Yamanashi, Jepang. Mereka terbagi atas beberapa tipe berdasarkan isinya. Salah satu yang direkomendasikan oleh Nichiren Shu sebagai objek pemujaan bagi para penganut disebut Shutei Mandara Honzon .
Rimmetsudoji no Mandara Honzon ditulis pada bulan April, 1280, juga merupakan salah satu yang dipertimbangkan dan cocok untuk dipuja. Mandara ini pernah digantung di ruangan dimana pada usia 61 tahun, Nichiren Shonin meninggal dunia pada tanggal 13 oktober 1282.
Nichiren Shonin menulis kaligrafi ini dalam sebuah aula kecil di Gunung Minobu yang dikelilingi oleh pegunungan tinggi dan udara segar. Dikelilingi oleh alam alami seperti ini, Ia mengerjakan hal seperti ini.
Pertama, sebuah segi empat berukuran 161.5 x 102.7 cm dibuat dengan melekatkan 10 lembaran kertas tradisional Jepang yang kuat terbuat dari serabut Asiatic-Mulberry yang telah digulung diatas dengan sebuah selinder tabung dan diletakkan sebelumnya. Para murid muda telah mempersiapkan satu set kelengkapan untuk menulis dengan tinta India .
Ini semua terdiri dari kertas, kuas, tinta, dan batu pengiling tinta. Kertas, sebagaimana yang telah dijelaskan, terbuat dari serabut Asiatic-mulberry. Kuas halus yang besar kemungkinan diimpor dari Dinasti Song China (960-1279). Tinta dalam bentuk batangan dan terbuat dari jelaga yang diperoleh dari membakar minyak rape-seed. Kemungkinan Ia mengunakan batu penghancur tinta yang besar. Ketika semuanya telah selesai, suasana penuh hikmat sangat terasa ketika waktu untuk menulis kaligrafi akan dimulai. Beberapa murid kemungkinan ikut melihat dengan penuh perhatian.
Sebelum mulai, Nichiren Shonin membuka gulungan kertas itu sekitar 30 cm dan memenuhi kuasnya dengan tinta. Ia mulai menulis karakter kanji dari Namu kemudian memasukan nama dari Empat Raja Pelindung. Dengan ini Ia kemudian menuliskan aksara kanji lainnya setelah itu. Tepi gulungan itu secara parsial membuka bertindak sebagai pelurus semua kertas.
Kemudian, kembali membuka kertas lagi, dalam tingkatan selanjutnya, Ia menulis aksara kanji dari Myoho dan menempatkan, nama-nama dari Buddha Sakyamuni dan Prabhutaratna (Taho) dan nama-nama dari Empat Bodhisattva. Pada tarikan ketujuh dari huruf kanji Myo dari Daimoku , Ia menghentikan kuasnya dan memperluas baris.
Ia akan melanjutkan penulisan ini sampai mencapai dua nama terakhir dari Empat Raja Langit (Dai Komoku Tenno dan Dai Zocho Tenno) kemudian menempatkan nama Beliau dan tanda tangan sebagai indikasi bahwa Mandala Honzon ini hasil kaligrafi Beliau.
Pada bagian kanan, Ia menuliskan apa yang disebut “Sammon”, kutipan kata-kata pujian yang menjelaskan bahwa Mandala Honzon ini adalah sangat agung dan dengan bangga menyatakan bahwa hal ini tidak pernah muncul selama 2,200 tahun setelah Sang Buddha memasuki Nirvana.
Nichiren Shonin menempatkan arti penting dari waktu dari penyebarluasan Buddhisme. Pada masa Beliau, dunia telah memasuki apa yang disebut Masa Akhir Dharma dimana Ajaran Buddhisme Yang Sesungguhnya telah hilang. Dan pada waktu itu, hati kepercayaan kepada Saddharma Pundarika Sutra sangat diperlukan untuk menyelamatkan umat manusia, karena itulah Mandala Honzon diwujudkan.
Setiap kali kaligrafi aksara telah selesai, Ia akan menambahkan ekor sinar untuk aksara kanji Myo, Ren, dan Ge. Kemudia Ia mempertegas dengan mempertebal tulisan dari aksara kanji untuk Kyo dengan mempertebalnya dengan meningkatkan ukuran kuas. Kemudian Ia menyelesaikan Mandala Honzon dengan menambahkan sentuhan-sentuhan kuas ditempat dimana diperlukan.
Ekor panjang tulisan (disebut Komyoten, atau titik pancaran) beberapa dari tulisan aksara kanji digunakan dalam Mandala Honzon adalah sebagai perwujudan dari Sinar Terang Daimoku yang menyinari seluruh alam semesta dan memancar keseluruh kehidupan kosmik yang tidak terpisahkan dari para Buddha, dewa-dewi dan manusia.
Tanggal yang tercakup dalam sebuah Mandala Honzon sebagai tanda penghargaan atas arti penting ketika Nichiren Shonin menulisnya dan memberikan kepada para murid. Disebelah kiri tanda tangan terlihat tertulis tahun Koan 3, dalam perhitungan barat adalah tahun 1280.
Meskipun muncul dibanyak Mandala Honzon, nama dari murid atau penganut sebagai yang terdapat dalam banyak contoh kepada siapa diberikan telah hilang. Baru-baru ini, bagaimana pun semua telah menjadi jelas bahwa Honzon ini diberikan kepada Nichiro Shonin, nama dan tandanya tercatat dibawah kertas.
Ketika Beliau mempersembahkan kepadanya secara langsung setelah penulisan Honzon, Nichiren Shonin tidak menandai penerimanya. Setelah menerima mandala itu, Nichiro Shonin membawanya kembali ke Kamakura dan mensemayamkannya di aula Hokke-do. Sebelum itu, ia menuliskan namanya sendiri dan tandanya di bagian bawah mandala sebagai tanda kepemilikan.
Nichiren Shonin menulis setiap aksara kanji tersebut dengan penuh kesadaran akan makna dan artinya. Inilah kenapa, meskipun hanya dengan tinta hitam dan kertas putish, kaligrafi dan bentuk aksara kanji dari Mandala Honzon itu mencerminkan hati dari seorang penganut Saddharma Pundarika Sutra.
Tulisan kanji hitam dari “Namu Myoho Renge Kyo” dan nama dari para Buddha dan Bodhisattva menerangi alam semesta dengan cahaya terang keemasan yang mempesona bagaikan matahari. Mereka adalah simbol dari cahaya keemasan Dunia Buddha.
Sebagaimana biasanya sebuah mandala adalah lukisan warna warni dari para Buddha alam semesta, keindahan, tulisan indah, dan suatu tradisi yang panjang. Pembuatannya membutuhkan kontribusi dari hati kepercayaan dan pekerjaan seorang seniman. Sebaliknya, Mandala Honzon Nichiren dapat dengan mudah dibuat oleh seseroang, tentu saja dimulai dengan Nichiren Shonin sendiri, tetapi juga termasuk kita semua. Tentu saja, kita semua baru saja menulis “ Namu Myoho Renge Kyo,” inti dari Mandala Honzon, yang selalu bersama dengan kita.
Bahan-bahan dari
1. Shutei Mandara Honzon (1280)
2. True Autograph Writings
3. Rissho-ankoku-ron and Kanjin-honzon-sho
4. Yoji Go-Mandara Honzon
5. Several sheets of traditional starched Japanese paper
[Sesi Siang] Berdoa Kepada Mandala Honzon Nichiren Shonin
Sekarang, untuk membantu kalian mengerti lebih baik tentang mandala, Saya akan menjelaskan tentang Daimoku (“Namu Myoho Renge Kyo” itu sendiri dan para Buddha, Bodhisattva, Empat Raja Penjuru, dewa-dewi, dan para arif bijaksana yang namanya dihormati dalam Mandala Honzon
Tentang Daimoku, pertama adalah Namu (ditulis dengan dua aksara kanji), yang merupakan representasi dari kata sansekerta, Namas, yang berarti pemujaan atau penghormatan. Ini, berarti menyebut “Namu Myoho Renge Kyo” menyatakan hati kepercayaan dan penyerahan total kepada Saddharma Pundarika Sutra.
Mengawal aksara Daimoku yang berada ditengah-tengah terdapat makna puja kepada Buddha Prabhutaratna (Taho) dan Buddha Sakyamuni. Dalam bab XII Saddharma Pundarika Sutra “Munculnya Sebuah Stupa Pusaka”, Taho (Segala Pusaka) membenarkan semua pernyataan kebenaran dari Buddha Sakyamuni.
Dalam pengambaran kejadian dalam Sutra, Buddha Sakyamuni membabarkan Saddharma Pundarika Sutra kepada pesamuan agung di Gunung Gridhrakuta (Ryoju Sen) ketika itu serta merta bumi terbuka dan sebuah Stupa Pusaka naik keatas dan bergantungan diangkasa. Dari dalam stupa terdengarlah suara Taho memuji Sakyamuni dan menyatakan bahwa apa yang Beliau katakan semua adalah benar. Sakyamuni kemudian bergabung dengan Taho didalam stupa tersebut. Dalam Honzon, kedua Buddha itu mencerminkan hal tersebut seperti dalam stupa dan berada dikedua sisi Daimoku.
Menempati posisi disekeliling Sakyamuni dan Taho adalah Empat Bodhisattva: sebelah kanan Pelaksana Unggul (Jogyo) dan Pelaksana Tidak Terbatas (Muhengyo); disebelah kiri, Pelaksana Suci (Jogyo), dan Pelaksana Yang Teguh (Anryugyo). Mereka semua disebut Empat Bodhisattva yang diberikan tugas oleh Sakyamuni untuk menyelamatkan dunia yang kacau. Nichiren Shonin yang melaksanakan sebuah misi pengajaran yang berani adalah kelahiran kembali dari Bodhisattva Pelaksana Unggul.
Empat Bodhisattva lainnya yang namanya ada dalam Mandala Honzon adalah Manjushri (Monju), Bodhisattva Kebijaksanaan; Samantabhadra (Fugen), Bodhisattva Welas Asih; Bhaishajyaraja (Yakuo), Yang Melaksanakan Saddharma Pundarika Sutra Secara Tegas; dan Maitreya (Miroku), yang dikatakan akan menjadi Buddha akan datang. Semua empat pembimbing mahluk hidup berada sedikit agat kebawah. Yakuo berada disebelah kanan Monju dan Miroku berada disebelah kiri Fugen.
Sejumlah mahluk-mahluk lain dan mahluk surgawai muncul di Mandala. Sebagai contoh, dari Sepuluh Murid Utama, Shariputra (Sharihotsu), kebijaksanaan yang unggul, dan Mahakashyapa (Makakasho), yang unggul dalam ajaran, penjaga hati kepercayaan pelaksana. Diantara mahluk-mahluk surgawi adalah Brahma (Bonten), Indra (Taishaku Ten); dewa matahari, bulan, dan bintang pagi dan sore. Beberapa yang lain yang semula menjadi musuh dari Buddha tetapi kemudian menjadi penganut utama dalam Saddharma Pundarika Sutra. Diantara mereka terdapat Raja Pemutar Roda, Raja Ashura, Devadatta, Raja Ajatashatru, dan Raja Naga.
Ibu dari Anak-anak Setan (Kishimojin) dan Sepuluh Anak Perempuan Setan (Ju Rasetsunyo) berada pada salah satu sisi Daimoku. Ibu dari Anak-Anak Setan dipuja sebagai dewi pertumbuhan anak-anak dan kepemilikan. Sepuluh Anak Perempuan Setan dan ibunda mereka adalah pelindung dari Saddharma Pundarika Sutra.
Beberapa dewa Shinto bertindak sebagai pelindung para penganut Saddharma Pundarika Sutra dan Negara Jepang, dimana merupakan tanah tempat penyebarluasan ajaran. Mereka sudah ada di Jepang sebelum Buddhisme datang, diantaranya Amaterasu Omikami, Dewi Matahari, dan dewata nenek moyang Jepang, dan dewa pelindung atau perang, Hachiman Dai Bosatsu.
Penjaga Dunia, Hati kepercayaan dalam Saddharma Pundarika Sutra yang dinyatakan dalam Mandala Honzon adalah Raja Mistik, Acala (Fudo) dan Ragaraja (Aizen), kedua-duanya diwujudkan dalam bentuk aksara sansekerta. Juga sebagai penjaga adalah Raja Pelindung Empat Penjuru ( Jikoku ten, Bishamon ten, Zojo ten, dan Komoku ten)
Inisial dan tanda tangan Nichiren tampak diatas Mandala Honzon Nya. Tanda inisial itu, adalah singkatan dari nama pribadi, pertama kali digunakan pada masa Dinasti Tang China (618-907). Kemudian digunakan di Jepang dan dikembangkan. Biasanya digunakan sendiri sebagai penganti dari tanda tangan. Kemudian berkembang menjadi digunakan dua-duanya. Kadang-kadang, sebagai simbol dari kehidupan individu, inisial ini dikembangkan dari kanji atau digunakan sebagai nama pribadi.
Sebagai sebuah bukti bahwa itu dibuat oleh Nya sendiri, Nichiren Shonin selalu mengunakan kedua-duanya tanda tangan dan inisial nya dalam Mandala Honzon.
Dalam surat yang digunakan bentuk inisial dari Nichiren Shonin selalu menimbulkan sebuah kontroversi. Beberapa percaya bahwa itu dibuat dari aksara sansekerta Ban dan Boron. Saya percaya bahwa itu adalah sebuah versi dari kanji Myo yang ada dalam Daimoku. Banyak murid Beliau mengunakan kanji sebagai dasar untuk inisial mereka.
Teks yang disebut “Sammon” mendiskusikan penyebabnya berada dibelakang Mandala Honzon. Ia mempunyai makna sebagai beriku: “Mandala Honzon yang agung ini tidak pernah terlihat diseluruh alam semesta selama waktu yang panjang lebih dari 2,220 tahun sejak Sang Buddha memasuki Nirvana.”
Pada April 1280, ketika Ia menulis Mandala Honzon ini, Nichiren Shonin telah berusia 59 tahun. Ia tinggal jauh dipedalaman pengunungan selama tujuh tahun dan berada dalam kondisi kesehatan yang tidak baik. Dikatakan bahwa Ia memerlukan waktu sepanjang hari untuk menghasilkan lembaran kaligrafi ini.
Honzon dari banyak murid-murid Beliau yang diterima dariNya adalah sumber kedamaian dan kekuatan hati kepercayaan. Ketika menghadapi masa-masa sulit, para murid merasakan kemantapan, perlindungan yang tiada batas dari para Buddha dari Honzon, dimana mereka melipatnya menjadi kecil dan membawanya bersama mereka. Sebagaimana, hati kepercayaan saat sekarang, mereka juga menyediakan altar buddhis dimana mereka memberikan persembahan bunga, dupa, dan cahaya dan dimana mereka mensemayamkan Honzon ini sebagai sebuah dorongan dalam hati kepercayaan mereka kepada Saddharma Pundarika Sutra.
Nichiren Shonin sepanjang waktu selalu mendorong penyebutan Daimoku sebagai pelaksanaan yang tegas. Negara yang diperintah oleh Shogun Kamakura, yang didominasi oleh Bupati dari keluaga Hojo. Pada tahun 1253, Nichiren menulis dan mengirimkan risalah Rissho Ankoku Ron (Menegakkan Ajaran Yang Benar Untuk Kedamaian Negara) kepada Shogun, dimana ia membantah bahwa kedamaian hanya dapat dirasakan hanya jika semua orang percaya kepada ajaran Buddhisme Yang Sesungguhnya yang terpusat pada Saddharma Pundarika Sutra.
Pada abad 13, masyarakat Jepang mengalami serangkaian huru hara sebagai akibat dari bencana alam termasuk gempa bumi, topan, banjir, dan kelaparan. Ditambah dengan konflik politik dan senjata membuat orang-orang tidak mungkin hidup penuh kedamaian. Pemimpin politik secara keseluruhan tidak mampu mencari jalan keluar dari kondisi ini.
Nichiren Shonin, dengan tegas menyatakan bahwa melalui kepercayaan kepada Buddhisme, dengan hati kepercayaan kepada Saddharma Pundarika Sutra akan mengakhiri semua bencana alam dan konflik dan kembali damai. Terakhir, semua ajaran-ajaran yang merusak makan sejati dari Buddhisme yang benar harus ditolak.
Sikap Beliau yang tegas membuat para penganut ajaran lain selain Saddharma Pundarika Sutra menjadi marah, seperti Jodo Shu (Sekte Tanah Suci), yang mendukung penyebutan nama Buddha Amitabha (Nembutsu). Sebagai akibatnya, Nichiren Shonin mendapat perlakukan dan penyiksaan yang kejam dalam beberapa peristiwa.
Empat Penganiayaan Besar, semua sangat berbahaya, diantaranya bertempat di Matsubagayatsu, Izu, Komatsubara, dan Tatsunokuchi. Setelah peristiwa yang keempat, Nichiren Shonin dibuang selama tiga tahun ketempat yang jauh, pulau Sado yang terisolasi.
Ditangkap oleh prajuri Shogun pada sore hari tanggal 12 september 1271, dan dihukum pembuangan ke Pulau Sado sebagai penjahat, Ia telah dibawa ke tempat hukum mati di Tatsunokuchi, delapan kilometer dari Kamakura. Ia akan dieksekusi mati, namun hidupnya telah diselamatkan oleh sebuah kejadian gaib.
Terselamatkan oleh hati kepercayaan kepada Saddharma Pundarika Sutra, penyebarluasannya membawa kepada hukuman mati, secara mendalam hati kepercayaan Nichiren Shonin semakin mendalam. Ketujuh aksara kanji Daimoku, yang Ia sebutkan dan Ia mendorong orang lain untuk menyebutnya, sekarang muncul dihadapan Beliau Sinar Cahaya Putih.
Dalam perjalanan ke Pulau Sado , Ia berhenti disebuah gunung yang disebut Echi. Pada tanggal 9 oktober, sehari sebelum memasuki pulau Sado, Ia menulis Daimoku, sinar yang ia lihat dan telah melindunginya dari Raja Cahaya Fudo dan Aizen.
Setelah tiga tahun di Pulau Sado, Nichiren Shonin diijinkan kembali ke Kamakura, dimana segera kemudian Ia pergi ke Gunung Minobu, dimana Ia tinggal selama sembilan tahun. Pada september 1282, Ia menderita sakit yang serius dan kemudian pergi ke Ikegami, (Tokyo), dimana pada tanggal 13 Oktober, pada usia 61 tahun, Ia mengakhiri hidupnya yang penuh gejolak.
Selama 12 tahun baik di Pulau Sado dan Gunung Minobu, Nichiren Shonin menulis banyak sekali Mandala Honzon untuk para muridnya. Mereka semua mengungkapkan Dunia Buddha diatas dunia ini dan Sinar Terang Daimoku diatas semua yang ada dialam semesta. Kita berdoa kepada Mandala Honzon, baik pada masa lalu, sekarang dan akan datang, karunia Sang Buddha berada diatas segalanya, dan abadi, dunia abadi yang menjadi nyata.
Keemasan adalah simbol warna Buddhisme. Badan para Buddha dan Tanah Suci sendiri diliputi oleh sinar keemasan.
Meskipun terlihat oleh mata fisik, hanya tinta warna hitam, melihat Daimoku dengan mata roh, Mandala Honzon seperti emas murni. Marilah kita berdao kepadaNya, seperti halnya matahari yang menyinari semuanya, sinar cemerlang Daimoku menyinari seluruh alam semesta dan mewujudkan Tanah Suci Yang Indah dan Damai untuk seluruh manusia.
(selesai) |