|
NICHIREN
DAI SHONIN dan KUIL SEICHO-JI
Oleh: YM.Bhiksuni Myosho Obata
Pada tanggal 16 Pebruari,
kita memperingati hari kelahiran dari Nichiren Daishonin. Sebab
itu, saya ingin memberitahukan kepada kalian tentang kelahiran dan
masa kecil dari Nichiren Daishonin.
Hari ini, Saya ingin memberitahukan
kamu tentang bagaimana kehidupan Nichiren Shonin di Kuil Seichoji.
Pada tanggal 12 mei 1233,
Zen-nichi-maro meninggalkan kampung halamannya di Kominato dan berjalan
melewati jalanan setapak menuju bagian dari Kuil Seichoji bersama
ayahNya dan Beliau masuk untuk pertama kali ke sekolah Kuil Seichoji
di Gunung Kiyosumi. Sebagaimana para murid baru, Beliau juga dipenuhi
dengan segala impian dan pengharapan yang tinggi.
Kuil Seichoji adalah sebuah
kuil dari Sekte Ten-Dai, sebuah sekte yang terkenal akan ajaran
rahasia dari Shingon. Objek pemujaan utamanya adalah Bodhisattva
Akasagarbha (Kokuzo Bosatsu). Makna nama dari Bodhisattva ini adalah
gudang pusaka yang tiada batas dimana dipenuhi oleh kebijaksanaan
yang luar biasa bagaikan langit yang luas. Dikatakan bahwa jika
seseorang berdoa kepada Bodhisattva ini, akan diberkati oleh keberuntungan,
kebajikan dan kebijaksanaan besar. Dan kepala Bhiksu disini adalah
Guru Dozen-bo, seseorang yang sangat percaya kepada Buddha Amitabha.
Guru Dozen menerima Zen-nichi-maro sebagai murid baru dan memberikan
nama Yaku-O-Maro. Kemudian, Beliau mulai pelajarannya, tidak hanya
mengenai dasar-dasar dari ajaran Buddha, tetapi juga ajaran Konghucu
dipelajari dengan baik. Ajaran Konghucu, yang mana dibawa ke Jepang
dari China, dipelajari sebagai bahan pelajaran bagi seluruh siswa.
Selama empat tahun, Yaku-O-Maro
dengan penuh semangat mempelajari berbagai macam ajaran Buddha dan
Konghucu, berusaha untuk menemukan jawaban dalam dirinya, tetapi
ia hanya menemukan semakin banyak pertanyaan. Khususnya mengenai
begitu banyaknya ajaran yang berbeda-beda, begitu banyak pelaksanaan
yang berbeda yang dihubungkan dengan objek pemujaan Buddhis. “Terdapat
begitu banyak sutra,” Ia berkata, “Tetapi diantara semua
ini, pasti terdapat sebuah ajaran Buddha yang sesungguhnya. Yang
mana adalah Raja dari Sutra?” Setelah bertekad untuk menemukan
jawabannya, Yaku-O-Maro akhirnya menjadi seorang Bhiksu pada tanggal
8 oktober 1237, dan diberinama bhiksu Ze-Sho-bo Rencho. Beliau telah
berumur 16 tahun. Rencho, beliau terkenal sangat tekun dalam pembelajarannya,
berjanji untuk membaca semua bahan-bahan ajaran yang terdapat di
perpustakaan Kuil Seichoji dengan harapan dapat menemukan ajaran
sesungguhnya. Tetapi pembelajarannya semakin membuat ia bertambah
binggung.
Akhirnya, dalam keputusasaan,
ia memasuki tempat suci dari kuil dewa pelindung. Disini, dalam
keheningan dan kegelapan dari aula suci, Ia berlutut dihadapan altar
dari Kokuzo Bosatsu dan berdoa untuk mendapatkan berkah dan bimbingan.
Selama 21 hari, ia berdoa dan berpuasa, mengucapkan sebuah janji
dihadapan dewa bahwa ia akan belajar semua ajaran dari semua sekte
sampai ia mengerti ajaran Buddha yang sesungguhnya. Sebagai hasilnya,
Ia mendapatkan berkah dari Bodhisattva itu untuk menjadi orang yang
paling bijaksana dan berpengetahuan diseluruh Jepang. Setelah dua
puluh satu hari berakhir, usaha Rencho yang melelahkan, seorang
teman, yang berfungsi untuk menjaga para bhiksu muda, bergegas ke
tempat suci tersebut untuk menemuin beliau. Tetapi Rencho tidak
ada disana. Ia ada diluar bangunan diatas tanah, terjatuh tidak
sadarkan diri, jubahnya terletak didekat rumpun bambu ternoda oleh
darah yang ia muntahkan sebagai akibat dari ketegangan yang besar
yang ia alami. Segera, temannya merawat beliau sehingga ia sadar.
Tetapi, dengan segera, Rencho membuka matanya, tersenyum dan badan
dan jiwanya telah menjadi bersih setelah melewati hari-hari yang
berat. Melalui usaha yang tekun dalam belajar, Beliau mulai dapat
melihat perbedaan diantara semua sutra. Pengetahuan ini didasarkan
kepada Pusaka Permata, hal dibagi menjadi dua bagian. Yang pertama,
diperoleh dari Sutra Nirvana dimana dikatakan, “Bersandar
kepada Dharma, dan tidak kepada orang.” Kemudian, Seperti
seorang laki-laki yang tidak pernah disesatkan oleh orang pintar.
Bagian kedua, diperoleh dari pengamatannya sendiri, dimana harus
bersandar pada alasan, bukti tertulis, dan bukti yang diperoleh
dari pengalaman.
Setelah memperoleh pengetahuan
ini, Rencho merasa bahwa apa yang ia peroleh sangat sedikit di Gunung
Kiyosumi. Untuk pembelajarannya, ia berkeinginan untuk pergi ke
kota besar Kamakura.
|