| NAMU
HONGE KOSO
NICHIREN SHONIN DAIBOSATSU
Oleh: Shami Josho S.Ekaputra
“Seluruh para Bodhisatva ini bertubuh keemasan dengan 32 tanda
dan dengan kegemerlapan yang tiada tara, semuanya telah berdiam
sebelumnya didalam ruang yang tiada berbatas dibawah dunia saha
ini. Seluruh Bodhisatva-Bodhisatva ini ketika mendengar suara Sang
Sakyamuni Buddha sedang berkhotbah, semua meloncat keluar dari dunia
bawah.……… Diantara kelompok para Bodhisatva_itu
terdapat 4 guru terkemuka. Yang perta¬ma bernama Visishtakaritra,
yang kedua bernama Anantakaritra, yang ketiga bernama Visudhakaritra,
dan yang keempat bernama Supratishthitakaritra.”
Salah satu bagian TRI RATNA adalah Sangha. Sangha
Nichiren Shu terdiri dari para Bhiksu / Bhiksuni, Shami/Shamini,
dan Umat Biasa, yang dipimpin oleh Nichiren Shonin, sebagai Pendiri
dari Nichiren Shu. Pemahaman mengenai Sangha di Nichiren Shu berbeda
dengan berbagai macam sekte lainnya, jika di sekte agama Buddha
lainnya, Sangha hanya terdiri dari para Bhiksu/Bhiksuni dan tidak
mencakupi umat awam. Disini jelas terdapat jarak antara tingkatan
para Bhiksu / Bhiksuni dan umat biasa. Nichiren Shu mempunyai konsep
bahwa semua mahluk hidup baik para Bhiksu / Bhiksuni dan umat biasa
adalah sama tanpa perbedaaan, hanya tugas dan fokus penyebarluasan
Dharma yang berbeda. Pada dasarnya semua orang yang percaya kepada
Saddharma Pundarika Sutra dan menyebarluaskan Dharma ini merupakan
bagian dari Sangha.
Saddharma Pundarika Sutra dibagi atas dua bagian yakni :
1. Ajaran Sementara (Shomon) dari Bab.1 -14 dan Ajaran Pokok (Honmon)
Bab 15-28
2. Pembabar Dharma: Ajaran Sementara (Shomon) dibabarkan oleh Buddha
Sakyamuni dalam sejarah, sedangkan Ajaran Pokok (Honmon) dibabarkan
oleh Buddha Pokok Kekal Abadi.
3. Murid Yang Mendengarkan Dharma : Ajaran Sementara mencakupi para
murid sementara (Shakke) sedangkan Ajaran Pokok mencakupi para murid
pokok (Honge).
Mereka yang melaksanakan Saddharma Pundarika Sutra pada masa akhir
dharma ini adalah Murid Pokok (Honge) dari Buddha Pokok Kekal Abadi,
yang telah melatih dirinya sejak 500 asamkheya kalpa koti yang tak
terhingga. Pemimpin dari para Bodhisattva Honge adalah Nichiren
Shonin, sebagai perwujudan kelahiran kembali dari Bodhisattva Visistakaritra,
yang menerima langsung pewarisan dharma dari Buddha Pokok Sakyamuni
di Gunung Gridhrakuta. Ini adalah prinsip pokok yang harus dipegang
teguh dan sepenuh hati oleh seluruh umat Nichiren Shu.
Nichiren Shonin yang lahir pada tanggal 16 pebruari 1222 di Kaminato,
Chiba – Jepang, sejak berusia 15 tahun telah masuk dalam kebhiksuan
di Kuil Seichoji. Setelah melalui pembelajaran selama lebih kuran
32 tahun, Beliau menemukan inti sari dari ajaran seumur hidup Buddha
Sakyamuni, yang dibabarkan dalam Saddharma Pundarika Sutra (Myoho
Renge Kyo). Sebagaimana yang dibabarkan dalam sutra bahwa Sutra
ini akan tersebarluaskan pada masa 500 tahun ke lima setelah kemoksaan
Sang Buddha, dan Nichiren Shonin lahir pada awal masa akhir dharma
dan Beliau menyadari hal tersebut. Pada tanggal 28 April 1253, Nichiren
Shonin menegakkan prinsip-prinsip Kebenaran Ajaran Buddha melalui
Penyebutan Odaimoku “ Namu Myoho Renge Kyo” dan mendirikan
Nichiren Shu. Perjuangan Beliau untuk menyebarluaskan ajaran Sesungguhnya
mendapatkan begitu banyak rintangan dan penganiayaan dari para penguasa
dan sekte-sekte lainnya. Jadi sungguhlah tidak berlebihan, jika
kita sebagai murid beliau harus menunjukkan rasa penghormatan atas
perjuangan dan pengorbananNya untuk memberikan kebahagiaan bagi
seluruh umat manusia.
Nichiren Shonin berjuang untuk menyelamatkan negaraNya dari kehancuran
akibat dari pemfitnahan dharma dan menentang dharma yang sesungguhnya.
Beliau dengan welas asih menyampaikan risalah “Rissho Ankoku-ron”
(Menciptakan Perdamaian dengan menegakkan Ajaran Buddha Sesungguhnya).
Pada masa akhir dharma, hanya Saddharma Pundarika Sutra yang mampu
menyelamatkan seluruh umat manusia dari segala penderitaan dan mencapai
Jalan Penerangan Agung. Nichiren Shonin sebagai pemimpin dari Bodhisattva
Muncul dari Bumi, murid utama dari Buddha Pokok Sakyamuni, berjuang
bersama-sama dalam kesatuan Sangha antara para bhiksu/bhiksu dan
umat awam. Dasar utama dari Sangha adala “Itai Doshin”
(Berbeda-beda badan, namun satu tujuan), tanpa dasar ini maka sebuah
Sangha tidak akan berfungsi dengan baik dan bahkan mungkin menimbulkan
kekacauan dari Sangha itu sendiri.
“Itai Doshin” bukan kepada manusia atau figur tertentu
dalam Sangha, tetapi “Itai Doshin” kepada Keinginan
luhur dari Sang Buddha dan Nichiren Shonin yakni “Kosenrufu”
mewujudkan Perdamaian Dunia dan Kebahagiaan dengan menyebarluaskan
Odaimoku “Namu Myoho Renge Kyo”. “Itai Doshin”
seperti ini adalah “Itai Doshin” yang selaras dengan
Sang Buddha dan alam semesta. Seluruh anggota Sangha hendaknya menyadari
hal ini, kerjasama dan saling menghormati antar sesama umat, umat
dan bhiksu/bhiksuni. Para bhiksu / bhiksuni bertugas untuk memberikan
pencerahan pikiran dan jiwa, memberikan semangat dan ketenangan
kepada umat melalui ajaran Sang Buddha, sedangkan sebaliknya umat
biasa mau membantu dan bersama-sama Bhiksu / Bhiksuni menyebarluaskan
Dharma ini. Ini adalah bentuk kerjasama dan “Itai Doshin”
untuk mencapai tujuan yang satu. Umat awam yang sehari-harinya bekerja
dan mencari nafkah untuk keluarga juga berkewajiban bersama-sama
menjaga kelangsungan Sangha atau susunan, dapat memberikan dana
paramita yang bisa menunjang perkembangan dari Sangha itu sendiri.
Dana Paramita adalah salah satu dari Enam Paramita yang dilaksanakan
oleh seorang Bodhisattva. Menyumbang kepada Sangha, tidak dilihat
dari ukuran besar atau kecilnya nilai materi, tetapi lebih kepada
besar atau kecilnya kesungguhan hati. Jadi seberapa besar atau kecil
Dana Paramita yang diberikan tergantung pada kesungguhan hati masing-masing
umat, selain itu Dana Paramita tidak hanya mencakup sumbangan berupa
materi saja, tetapi juga termasuk sumbangan pikiran, tenaga dan
hukum. Para Bhiksu / Bhiksuni memberikan Dana Paramita berupa Hukum
dan Pikiran serta Tenaga, umat awam kebanyakan memberikan sumbangan
berupa materi dan tenaga, kerjasama kedua hal ini akan menciptakan
sinergi yang baik dalam Sangha.
Sangha Nichiren Shu Indonesia saat ini sedang mengalami perkembangan
yang drastis, semakin bertambahnya umat dan daerah yang harus ditangani,
membuat fungsi dan tugas Sangha menjadi sangat penting. Fungsi penyebarluasan
selain menjadi tugas dan tanggungjawab para Bhiksu/bhiskuni juga
merupakan tugas dari para umat awam, karena dalam Saddharma Pundarika
Sutra dikenal dengan istilah Guru Dharma. Guru Dharma adalah orang-orang
mau belajar dan menyebarluaskan Sutra ini dan seluruh umat yang
percaya hendaknya mendisplinkan diri dalam belajar dharma dan melaksanakan
dalam kehidupan sehari-hari. Menjadi warga yang baik di masyarakat
dan keluarga juga berarti telah menyebarluaskan Dharma. Menyebarluaskan
Dharma berarti bertingkah laku, perbuatan baik hati, pikiran dan
badan berdasarkan ajaran Sang Buddha. Nilai-nilai O’daimoku
harus disebarluaskan terutama dalam keluarga, masyarakat dan negara
sehingga pada akhirnya kedamaian dan kebahagiaan akan tercipta.
Nilai-nilai O’daimoku adalah Nilai-nilai welas asih, maitri
karuna, saling hormat menghormati dan mengerti orang lain. Sebagai
umat Nichiren Shu, menjaga hati kepercayaan adalah hal yang utama.
Hati kepercayaan yang baik berarti memiliki prilaku dan perbuatan
yang sesuai dengan Dharma.
Pada akhirnya, marilah kita bersama-sama antara para Bhiksu/bhiksuni,
Shami/Shamini dan umat awam bekerjasama dengan satu tujuan agung
yakni Kosenrufu, menyebarluaskan Dharma ini keseluruh Indonesia.
Marilah kita jaga Sangha ini agar Hukum ini dapat lestari dan terus
membawa manfaat bagi umat manusia. Gassho. Namu Myoho Renge Kyo.
|