| NAMU
HON BUTSU BUDDHA SAKYAMUNI
Oleh: Sidin Ekaputra
“Sejak Aku mencapai KeBuddhaan, Kalpa-kalpa yang telah Aku
lalui, Adalah beribu-ribu koti Asamkhyeya tahun yang tak terbatas”
Bulan mei selalu identik dengan agama Buddha, karena
pada bulan ini seluruh umat Buddha memperingati Tiga Peristiwa Penting
dalam kehidupan Sang Buddha, yang kita kenal sebagai Tri Suci Waisak.
Tiga Peristiwa penting itu adalah, Hari Kelahiran Pangeran Sidharta
Gautama, Hari Pencapaian Penerangan Agung dan Hari Parinirvana Sang
Buddha. Peringatan ini dilakukan secara berbeda-beda antara aliran
Mahayana dan Hinayana, terutama dinegara seperti Jepang, Korea,
China dan lain-lain. Nichiren Shu sendiri sebagai bagian dari Mahayana
Buddhisme, memperingati KeTiga Peristiwa itu dalam hari-hari yang
berbeda. Hari Kelahiran Buddha Sakyamuni diperingati pada tanggal
8 April sebagai Hari Hanamatsuri, Hari Pencapaian Penerangan dan
Hari Parinirvana tanggal 15 Pebruari. Pemahaman terhadap keberadaan
dari Buddha Sakyamuni dalam ajaran Nichiren Shonin sedikit berbeda
dengan sekte-sekte lainnya. Nichiren Shu, mengakui bahwa Buddha
Sakyamuni adalah Buddha Pokok Asal Muasal yang kekal abadi. Hal
ini dapat kita lihat dalam kutipan kalimat, Saddharma Pundarika
Sutra Bab.XVI “Panjang Usia Sang Tathagata.” Buddha
Sakyamuni mengatakan bahwa Ia telah mencapai KeBuddhaan sejak Asamkhyeya
kalpa koti yang tak terbatas, bukan ketika Ia terlahir sebagai Pangeran
Sidharta Gautama. Buddha Sakyamuni yang terlahir dalam sejarah 2.500
tahun lalu hanya salah satu dari sekian banyak perwujudan dari Buddha
Pokok (Hon Butsu).
Buddha Sakyamuni juga menjelaskan bahwa Ia menyatakan
dirinya memasuki Nirvana hanyalah sebagai sebuah kebijaksanaan saja,
sesungguhnya beliau tidak pernah moksa dan selalu ada di dunia saha
ini. Seluruh dunia-dunia dari para dewa, manusia dan asura membayangkan
demikian, “Sekarang Sang Sakyamuni Buddha telah benar-benar
keluar dari istana keluarga Sakya dan telah duduk diatas tempat
asuhan penerangan yang terletak tidak jauh dari kota Gaya, serta
telah pula mencapai Penerangan Agung itu.” Akan tetapi, wahai
putera-puteraKu yang baik, sejak Aku benar-benar menjadi Buddha,
sang waktu telah berlalu ratusan ribu koti nayuta kalpa yang tak
terhingga dan tak terbatas.” Sang Buddha adalah selalu hidup
dan mengajarkan Dharma kepada kita. Secara pisik Buddha yang dikenal
lahir di India (sekarang Nepal) telah moksa, jadi kita tidak dapat
melihatNya atau mendengarkan dariNya; bagaimanapun, Buddha Sejati
hidup dalam Dharma. Manusia, binatang, tanaman, angin, udara, dan
segala sesuatu di alam semesta adalah perwujudan dari Dharma.
Kemudian berapa lama waktu yang ada ketika Sang
Buddha mencapai KeBuddhaan pada masa lampau yang tak terhingga.
Sang Buddha menyatakan, “Bayangkanlah seandainya terdapat
500 ribu koti nayuta asamkhyeya jutaan dunia, dan kemudian terdapat
juga seseorang yang menghancurkannya menjadi butiran-butiran atom.
Dengan melintasi 500 ribu koti nayuta asamkhyeya negeri menuju kearah
timur, Ia menjatuhkan satu butir dari atom-atom itu dan seandainya,
Ia melanjutkannya kearah timur lagi sampai atom-atom itu habis…”
Dan “…Seandainya kalian mengumpulkan atom-atom dari
semua dunia itu, baik yang sudah ditebarkan maupun yang belum, kemudian
menghitung setiap butiran atom itu sebagal satu kalpa, maka waktu
sejak Aku menjadi Buddha masih juga melampaui semuanya ini dengan
ratusan ribu koti nayuta asamkhyeya kalpa…” Sungguh
waktu yang tak terbatas, dan sejak masa lampau yang jauh tersebut.
Sang Buddha Sakyamuni Abadi mempunyai hubungan yang erat dengan
kita, umat manusia yang hidup di dunia saha. Jadi sudah sewajarnya
kalau kita harus memujanya sebagai satu-satunya orang tua kita.
Saddharma Pundarika Sutra juga mengajarkan tentang KeAbadian Jiwa,
bahwa jiwa itu tidak pernah mati.
Buddha Abadi juga menjelaskan bahwa selama masa
yang tak terbatas, telah mewujudkan diri dalam berbagai nama dan
wujud untuk membimbing dan mengajarkan dharma kepada mahluk hidup.
Perwujudan diri Beliau mencakupi Sepuluh Penjuru Dunia. Sebagai
contoh, Ia menamakan dirinya sendiri sebagai Buddha Kemilau Cahaya,
Buddha Amitabha, Buddha Dainichi, Bodhisattva Saddhaparibhuta, dan
masih banyak nama lainnya. Sutra-sutra lain kecuali Saddharma Pundarika
Sutra hanya menerima Buddha dalam sejarah : Buddha Sakyamuni, yang
telah meninggalkan Istana Kapila dari suku Sakya, duduk dibawah
Pohon Bodhi, dan mencapai KeBuddhaan, dan meninggal pada usia 80
tahun. Buddha dalam sejarah adalah sementara dan terukur. Buddha
ini disebut "Shaku-butsu." Pada sisi lain, "Hon-butsu"
adalah sejati dan Buddha Abadi yang telah mencapai KeBuddhaan sejak
ratusan ribu miliar nayuta kalpa yang lalu.
Shaku-butsu adalah perwujudan dari Hon-butsu. Hon-butsu
adalah Buddha yang tidak ada permulaan dan akhir, sama seperti sebuah
lingkaran. Jika terdapat permulaan, berarti terdapat akhir, sama
seperti sebuah garis. Oleh karena itu, Siddhartha Gautama yang lahir
di Istana Kapila adalah seorang Buddha pada waktu Ia dilahirkan,
tetapi karena keinginan untuk memperlihatkan kepada kita bahwa kita
bisa mencapai KeBuddhaan seperti Beliau, Ia meninggalkan istananya
dan menjalankan berbagai macam pertapaan dan meditasi; sebagai hasilnya,
Ia mencapai KeBuddhaan. Disini, kita bisa melihat terdapat tiga
tipe yang berbeda dari Buddha: Buddha Sejati, Perwujudan dari Buddha
(Emanasi), dan Buddha Penghormatan. Meskipun demikian dari semua
para Buddha, hanya Buddha Sakyamuni yang mempunyai ketiga tipe Buddha
ini dalam diriNya. Buddha Abadi tidak berwujud, tidak berbentuk,
tidak terbatas ruang dan waktu dan tidak terukur serta tidak terbatas.
Namun dalam Nichiren Shu mengambil bentuk Buddha Sakyamuni sebagai
pelambang dari Buddha Abadi (Hon-butsu), karena hanya Buddha Sakyamuni
yang pernah lahir dan tinggal di dunia saha ini.
Pendiri kita, Nichiren Shonin juga menjelaskan
dalam salah satu surat yang ditujukan kepada murid-muridnya “Hakii
Saburo Dono Go-Henji” bahwa, “Selama lebih dari 2.000
tahun sejak kemoksaan Sang Buddha, Buddhisme tersebarluaskan di
India, China dan Jepang, terdapat banyak kuil di negara-negara tersebut.
Tetapi tidak terdapat satu kuilpun yang pernah menempatkan Buddha
Sakyamuni yang telah mencapai Penerangan Agung sejak masa lampau
yang abadi (Hon Butsu) sebagai altar pemujaan sebagaimana yang dibabarkan
dalam Saddharma Pundarika Sutra.” Nichiren Shonin mengajarkan
kepada kita bahwa Honzon yang harus dipuja pada masa akhir dharma
adalah Buddha Sakyamuni Abadi yang didasarkan pada Bab XVI Saddharma
Pundarika Sutra bagian ajaran Hon-mon dan menempatkan Tujuh Aksara
Odaimoku “Na Mu Myo Ho Ren Ge Kyo” sebagai pelaksanaan
sehari-hari dalam upaya untuk mencapai Jalan Penerangan Agung.
Tri Ratna Nichiren Shu, dengan jelas membabarkan
hal tersebut. Buddha adalah Buddha Pokok Sakyamuni (Hon Butsu),
Dharma agung adalah Saddharma Pundarika Sutra (Namu Myoho Renge
Kyo), serta Sangha adalah Guru kita, Nichiren Shonin serta seluruh
para Bhiksu/bhiksuni. Pemahaman ini haruslah jelas dan tepat karena
ini adalah inti dari ajaran Nichiren Shonin. Altar Nichiren Shu
selalu mencerminkan Tri Ratna tersebut. Sebagai murid Nichiren Shonin,
kita juga tidak boleh melupakan tujuan agung dari guru kita, yaitu
mewujudkan perdamaian dunia melalui penyebarluaskan Dharma Agung
“Namu Myoho Renge Kyo”. Merubah setiap individu ke arah
yang baik adalah satu-satunya cara untuk menciptkan rasa damai dan
tentram dalam jiwa setiap umat manusia. Melalui penyebutan Odaimoku,
maka akan memunculkan kualitas KeBuddhaan dalam diri setiap manusia,
yang pada akhirnya akan merubah pola pikir, tingkah laku, hati dan
jiwa dari diri mereka masing-masing. Tentu saja melalui perombakan
setiap individu ini, maka akan terwujud sebuah masyarakat, negara,
bangsa dan dunia yang lebih baik. Semoga Dharma Agung ini tersebarluaskan
tiada henti-hentinya pada Masa Akhir Dharma, Semoga Buddha Abadi
(Hon Butsu) selalu membimbing dan mengajarkan kita, Semoga semua
mahluk hidup mendapatkan kurnia kebajikan yang tak terbatas dari
Saddharma Pundarika Sutra, Semoga semua mahluk berbahagia. Gassho,
Namu Myoho Renge Kyo.
|