Menghormati Sebuah Kehidupan
Oleh: YM.Bhiksu Eiyu Yoshiki


Kita selalu mengucapkan “Itadaki masu” sebelum makan dan “Gochiso-sama Deshita” sesudah makan. Kita sebagai seorang buddhis harus mengucapkan rasa syukur dan odaimoku ketika kita akan memakan sesuatu. Tidak masalah apakah panjang atau pendek, kita harus mengucapkan sebuah kata syukur sebelum makan.

Kemudian, apa maksud dari kita mengucapkan “Itadaki masu” sebelum makan ? dan kenapa kita melakukan hal tersebut ? pertama-tama, saya ingin menjelaskan tentang makna dari kalimat tersebut dan penghormatan kepada kehidupan mahluk hidup. Kalimat “Itadaki Masu” yang terdiri dari kata “Masu” berarti kata ungkapan kesopanan dan kata “Itadaki” mempunyai beberapa makna antara lain:
1. Menempatkan sesuatu diatas kepala atau menjunjung
2. Mengangkat sesuatu ke tempat yang tertinggi
3. Menghormati atau memperlakukan sesuatu dengan baik
Jadi arti dari kata-kata tersebut adalah sesuatu yang sangat penting dan harus kita perlakukan secara hormat dan tunjukkan rasa penghormatan kita kepadanya. Kemudian, apa itu yang harus kita hormati dan berterima kasih ? secara sederhana, adalah seluruh makanan dan kelengkapan yang menunjang kehidupan kita.

Kita tidak dapat hidup tanpa makanan. Ini dapat dikatakan bahwa orang sangat membutuhkan makanan, ketika kita membuka mata melihat keseluruh dunia, kita melihat bahwa banyak orang yang meninggal karena kelaparan, tidak punya sesuatu untuk dimakan sehingga kelaparan dan sebagai akibat dari peperangan. Dan dipihak lain, sebagian orang tidak perlu khawatir akan kekurangan makanan. Sebagian orang makan secara berlebihan sehingga tubuh mereka menjadi sakit dan hidup mereka menjadi pendek, sedangkan yang lainnya mengais untuk mendapatkan makanan dan kehilangan kehidupan mereka karena tidak ada sesuatu untuk dimakan.

Kemudian, setelah makanan tersedia, apa yang harus dilakukan ? kita harus menaruh perhatian dan penghormatan terhadap makanan yang kita makan, seperti daging, ikan, sayuran, buah-buahan, dan nasi. Kita harus memperhatikan bahwa semua bagian dari makanan itu terdapat kehidupan.

Semua makanan mempunyai kehidupan mereka masing-masing, mulai dari binatang besar seperti sapi sampai binatang kecil seperti ayam, mulai dari ikan besar seperti tuna sampai ikan kecil seperti chiei menjako. Makanan yang kadang tidak kita sadari seperti sayuran-sayuran seperti selada dan bawang, buah-buah seperti jeruk dan apel, bijian seperti beras dan gandum juga mempunyai jiwa kehidupan. Minuman alkohol yang kita minum juga berasal dari buah-buahan seperti anggur dan lain-lain, lain kata bahwa kita tidak dapat mempertahankan kehidupan tanpa mengorbankan kehidupan lain didalam mulut kita.

Selanjutnya, saya ingin menceritakan sebuah cerita yang terkenal di Jepang semasa jaman Edo di Kamakura. Suatu hari, beberapa bhiksu-bhiksuni melakukan pembacaan sutra di kediaman keluarga Hojo, yang berkuasa mengendalikan rejim militer di Kamakura pada jaman Kamakura. Pada siang hari, acara makan siang pun dimulai, tersedia diatas meja selain sayur-sayuran juga terdapat ikan dan daging. Para bhiksu lain sibuk melepaskan jubah kesanya kecuali satu orang bhiksu yang tidak melepaskan jubah kesa ketika makan. Hojo Tokiyori, ketika itu berusia 9 tahun bertanya kepada bhiksu tersebut yang makan sambil tetap mengenakan jubah kesanya. “Kenapa kamu makan siang dengan tetap mengenakan jubah kesa ?” Bhiksu itu menjawab, “Mereka mengetahui bahwa mereka harus menanggalkan jubah kesa ketika makan daging karena mereka sudah terbiasa makan di jamuan besar, sedangkan aku lupa menanggalkan jubah kesa karena tidak pernah makan dalam pesta seperti ini.

Tokiyori berpikir bahwa jawaban dia adalah sebuah kebohongan, tetapi hanya untuk melindungi dirinya sendiri. Kemudian, Tokiyori kembali mengulangi jamuan yang sama dan bertanya kembali kepadanya. Bhiksu itu kembali menjawab, “Saya lupa melepaskan jubahku karena makanannya sangat enak.” Tokiyori kali ini ingin mendapat jawaban yang sebenarnya.

“Kamu tidak boleh sering lupa. Apa sebenarnya alasan kamu ?” Tokiyori menghendaki agar Bhiksu tersebut menjawab pertanyaannya. Kemudian, Bhiksu itu menjawab, “Saya telah melanggar ajaran dengan makan daging dan saya secara sadar telah melakukan karma buruk. Ketika aku membunuh suatu mahluk hidup yang malang, saya ingin mahluk ini mencapai KeBuddhaan. Saya menikmati makan siang dengan tetap memakai jubah kesa karena mengharapkan mereka dapat mencapai KeBuddhaan karena kurnia kebajikan dari jubah kesa ini.”

Penjelasan dari Bhiksu ini, telah memberikan kita pengertian yang mendalam mengenai makanan, ketika kita mengambil kehidupan lain untuk kelanjutan dari hidup kita. Semua kehidupan adalah sangat berharga. Tidak ada perbedaan bagi seluruh mahluk hidup, karena kita sebagai seorang buddhis percaya bahwa semua mahluk hidup mempunyai Bibit Buddha dan mempunyai kesempatan untuk mencapai KeBuddhaan. Dalam kenyataan kita setiap hari mengambil hidup mahluk lain kedalam mulut kita untuk menyambung kehidupan kita sendiri, karenanya kita tidak boleh menyia-nyiakan makanan yang ada.

Kemudian, kita berkata, “Itadaki-masu” dan “Gochiso-sama deshita” sebelum dan sesudah makan. Kita berterima kasih kepada semua mahluk hidup yang telah mengorbankan hidup mereka untuk menjaga hidup kita. Semoga hidup mereka menjadi darah dan daging dari tubuh kita kemudian kita dapat melayani orang lain dengan baik dalam masyarakat.”

Kita tidak boleh lupa bahwa kita bisa berada di dunia ini karena jasa dan telah mengunakan mahluk hidup lain. Dengan kata lain, bersyukur akan hidup adalah hal yang sangat penting. Kita dapat berkata “Itadaki-masu” dan Gochiso-sama deshita” dimana saja, kapan saja. Silahkan anda mencobanya dirumah.