|
MENGERTI
PERMASALAHAN ORANG LAIN DAN PERHATIAN
Oleh:YM. Bhiksu Shokai Kanai
Saya sangat senang bahwa
kita telah memasuki abad 21 bertentangan dengan ramalan Nostradamus
bahwa abad ini adalah hari kiamat dunia.
Tahun lalu (akhir abad 20) terdapat banyak kejadian dan peristiwa
sedih seperti penembakan oleh pelajar di sekolah yang membunuh beberapa
guru dan murid, kebakaran gedung gereja dan pembunuhan orang yang
tak bersalah dalam tindak kejahatan, ibu membunuh anaknya sendiri,
perbuatan memalukan yang dilakukan oleh polisi dan masih banyak
cerita sedih kejahatan lainnya.
Memikirkan kejadian seperti ini, sebagai orang yang mendapat pendidikan
di Jepang sebelum terjadi peperangan bahwa kita perlu membawa kembali
shushing. Ini membutuhkan kekuatan etika dari para guru dan murid
mereka. Etika ini didasarkan kepada bahwa status Kaisar adalah sebagai
dewa. Tipe pendidikan dan kepercayaan seperti ini dengan cepat mendorong
kearah mengekang kebebasan agama dan juga mendorong ke arah membangun
kekuatan militer. Beberapa orang Amerika berusaha mengajarkan “Sepuluh
Perintah” di sekolah umum, tetapi ini bertentangan dengan
negara dan agama sebagaimana yang dimuat dalam konstitusi Amerika
Serikat.
Ketika kita berbicara tentang moral di Amerika, seperti yang dibimbing
dalam Sepuluh Perintah Kristen. Tidak Mencuri, Tidak Berbohong,
Tidak Berjinah, Tidak Membunuh” semua ini adalah moral. Moral
ini berlaku kepada semua orang tanpa melihat kepercayaan dan suku.
Dasar dari moral adalah tidak membuat masalah dan membuat orang
lain menjadi menderita. Hari ini orang-orang di timur dan barat
telah menjadi sangat egois dan materialistis. Mereka gembira diatas
penderitaan orang lain. Jika seseorang mencoba untuk menentang kebahagiaan
mereka, mereka mungkin membunuh orang itu tanpa perasaan penghargaan
terhadap hidup.
Kita harus memperhatikan bahwa terdapat keterkaitan kita dengan
orang lain. Kita harus mengendalikan hawa nafsu kita agar tidak
menyebabkan kerugian untuk orang lain. Kita harus mendidik anak-anak
kita seperti halnya orang dewasa bagaimana mereka mengendalikan
hawa nafsu mereka dirumah, sekolah dan tempat ibadah. Adalah benar
membuat seseorang bahagia dengan melakukan apa yang ia suka, tetapi
kita harus memikirkan akibatnya bagi orang lain, kemudian kita harus
merubahnya.
Ketika kita menyadari akan kesedihan atau permasalahan orang lain,
kita telah dapat menyadari bibit Buddha sesungguhnya dan akan menjadi
lebih dekat pada kesejatian.
Ketika kita menyadari bahwa apa yang kita lakukan akan membuat orang
lain bahagia dan sejahtera, kita akan juga merasa bahagia. Dalam
abad yang baru ini, marilah kita memahami kesedihan dan permasalahan
orang lain. |