MENGENAL KESESATAN DALAM PIKIRAN
Oleh: Rev.Kanshin Mochida


Hari ini, untuk memperdalam hati kepercayaan kita, ada sebuah cerita Buddhis yang baik untuk kita renungkan.

Pada masa yang lalu di India, terdapat seorang raja yang mempunyai sifat yang sangat pemarah dan jelek serta sangat menyukai peperangan, karena itu semua orang di Negara tersebut sangat takut terhadap Beliau dan muak terhadap peperangan. Tetapi Raja itu sangat kuat dan tidak ada seorang pun yang dapat melawan dia.

Sementara itu, Sang raja mempunyai istana yang sangat besar. Istana ini sangat luar biasa dan terutama setiap lantainya dilapisi oleh marmer yang indah. Jalan penghubung antar bangunan didalamnya sangat luas dan sangat bagus sekali. Suatu hari sang raja menyuruh dua orang pelukis terkenal untuk melukis gambar yang sesuai disetiap sisi jalan penghubung tersebut.. Sang raja memberi mereka waktu satu bulan.

Pelukis A segera memulai untuk melukis sebuah gambar di sisi kanan dinding dari penghubung tersebut, Dengan membawa semua jenis cat dan kuas untuk melukis dia memulai lukisannya. Dia berkata kepada pelukis B bahwa dia akan melukiskan pemandangan tentang Tanah Buddha untuk merubah sifat dari sang raja.

Pelukis B berkata,” saya punya pemikiran yang sama, tetapi jika kamu melukis sebuah lukisan tentang Tanah Buddha, maka saya mesti melukis sesuatu yang berbeda.” Beberapa hari kemudian, pelukis B mulai melakukan pekerjaannya, tetapi dia tidak melukis apapun. Malahan dia membawa sebuah batu asahan dan mulai mengosok permukaan dari dinding sebelah kiri.

Pelukis A Tanah Buddha berkata kepada dia,” Kita tidak mempunyai waktu yang cukup untuk mempersiapkan hal seperti itu. Jika kamu tidak buru-buru, kamu tidak akan bisa menyelesaikannya sama sekali.”

Pelukis B berkata,” Tidak masalah ! kamu tidak perlu khawatir tentang saya. Kamu bekerja sangat keras, karena itu saya harus menghaluskan badan dan jiwa dari jalan penghubung ini." Kemudian dia terus menghaluskan permukaan dinding itu siang dan malam.

Satu bulan kemudian, sang raja kembali untuk melihat lukisan itu. Pada dinding sebelah kanan dari koridor itu, terdapat sebuah pemandangan yang sangat indah dari Tanah Buddha. Pada pertengahan dari lukisan itu, terdapat sebuah lukisan keadaan yang penuh ketenangan dan kemuliaan yang luar biasa yang dikelilingi oleh para Bodhisattvas yang memakai pakaian yang berwarna-warni. Para dewa dewi yang cantik menghiasi keseluruhan dari lukisan itu, dan pada bagian bawahnya, terdapat seluruh golongan dari manusia dan seluruh mahluk hidup dengan tangan terkatup (anjali) dan menghormati Sang Buddha. Sang raja sangat terkagum-kagum,” Oh! Ini sangat begitu indah dan luar biasa !”

Kemudian dia mengarahkan pandangannya ke sisi lain dinding itu, disana tidak terlihat apapun. Disana sama sekali tidak terlihat apapun tetapi hanya ada dinding marmer yang halus, sang raja menjadi sangat marah dan berteriak memanggil para pelukis. Para pengawal kembali dan membawa pelukis B. Pelukis B dengan wajah penuh senyuman datang menghadap, sang raja sangat marah dan berkata ,”Kenapa kamu tersenyum ? apakah kamu tidak takut mati ?”

Pelukis B berkata,” Yang mulia, coba letakkan kedua tangan anda dengan sikap anjali dan lihat ke lukisan saya dengan penuh ketenangan. Saya adalah seorang pelukis yang telah dipilih oleh Yang Mulia, tentu saya tidak akan mengecewakan. Bukankah lebih baik mencobanya.”

Pelukis itu dengan sikap penuh percaya diri mengatakan hal itu kepada sang raja sehingga membuat perasaannya menjadi tenang dan semua orang terlihat begitu tegang dan serius, kemudian sang raja berdiri di depan dinding marmer itu, dan dengan sikap tangan anjali dan dengan tenang membuka matanya.

Pada saat itu, sinar matahari masuk melalui jendela dan mengenai lukisan Tanah Buddha dan memantulkan lukisan itu ke dinding sebelah kiri yang bermarmer halus tersebut. Kemudian sang raja melihat pantulan lukisan Tanah Buddha dan dirinya sedang bersujud dibawah lukisan itu dengan seluruh golongan manusia dan seluruh mahluk hidup. Sangat indah sekali…

Entah bagaimana, air mata menetes mengalir turun di kedua pipinya dan sang raja berkata, “Kenapa saya tidak bisa mewujudkan kehidupan seperti itu di dunia ini ?” Sejak saat itu, sang raja berusaha menghindari terjadinya peperangan, dan tidak seorang pun melihat dia marah lagi atau melakukan sesuatu yang tidak masuk akal.

Semua orang adalah raja dari dunianya, jadi jika ia marah maka dunianya akan menjadi dunia kemarahan atau jika ia menjadi serakah, maka dunianya akan berubah menjadi dunia keserakahan. Nichiren Shonin berkata,” Dunia Neraka mulai dari kebencian dalam pikiran kita.” Jika pikiran seseorang “sibuk dengan perasaannya, dia tidak akan bisa mewujudkan apa dunia yang diinginkan dan mungkin akan kehilangan kemuliaannya bagaikan seorang raja dapat menghancurkan negaranya karena kelalaiannya.

Kebalikannya, dalam kisah diatas memberitahukan bahwa untuk mendapatkan mengetahui kesesatan pikiran kita yang sesungguhnya, dimana kita terlebih dahulu harus dapat menerima semua fenomena disekitar kita dengan penuh ketenangan. Berusahalah untuk mendapatkan hal itu sebagai jalan terbaik untuk melihat apa yang seharusnya kita lakukan untuk mendapatkan kebahagiaan. Karena itu, berusahalah untuk mendapat ketenangan setiap hari dan mencoba untuk menjaga agar kamu tidak terlalu terbebankan dalam pekerjaan dan emosi untuk sementara waktu setiap hari. Dan gosoklah pikiran dengan batu asahan maitri karuna. Semua ini akan menyadarkan kesesatan pikiran yang ada dalam diri kamu.

Bagaikan sebuah kamera yang mengambil sebuah gambar pada suatu saat tertentu, berusahalah mencoba mengambil gambaran mengenai kesesatan pikiran semua orang. Dan dengan sikap tersebut tidak hanya kamu tetapi semua orang disekitar kamu akan mencapai jalan kebahagiaan.

Semoga Buddha selalu bersama dengan kita, dan semoga kita dapat mencapai jalan Penerangan Agung dengan segera.May the Buddha always be with us, and may we attain the enlightenment immediately!