Mengapa Nichiren Shonin memilih Buddha Sakyamuni
sebagai Honzon, yang paling agung

Oleh: Rev. Chiko Ichikawa (Kuil Ikegami)


Gagasan mengenai masa Mappo (Masa Akhir Dharma) adalah hal yang wajar dan dapat diterima oleh semua sekte agama Buddha, dan dalam kepercayaan dari aliran Jodo (Tanah Suci), dimana kita akan dapat diselamatkan setelah kehidupan kita dengan penyebutan nama Amitabha Buddha di dalam hidup ini, kepercayaan seperti sangat popular bagi kebanyakan orang pada saat ini. Pemujaan terhadap beberapa dewa pelindung seperti Acala di sekte Shingon Shu, dan para Bodhisattvas seperti Kannon Sebelas Wajah (Avalokitesvara) serta Nyoirin Kannon juga sangat popular. Kuil Seichoji di mana tempat Nichiren Shonin belajar, Bodhisattva Akasa-Garbha sebagai altar pemujaan utama dan juga memuja para dewa pelindung dan bodhisattva seperti Acala. Nichiren Shonin nama masa kanak-kanak adalah Yakuomaro. Yakuomaro melihat begitu banyak Buddhas, Boddhisattvas dan Para dewa pelindung yang dipuja oleh orang. Pertanyaan-pertanyaan mengenai begitu banyak objek pemujaan itu membuat suatu tekanan yang kuat kepada Yakuomaro untuk mencari jawaban religius mengenai hal yang sesungguhnya, akhirnya Ia memutuskan untuk menjadi seorang Bhikku untuk mencari jawaban atas pertanyaan itu. Ia berdoa kepada Bodhisattva Akasa-Garbha di Kuil Seichoji untuk menjadi orang yang paling bijaksana di Jepang dan dengan ini Ia diberkati didalam usaha dan pembelajarannya.

Salah satu usaha kerja kerasNya adalah menyalin ulang Sutra Suci Shingon Shu “Juketsu Entaragishu” (Buku ini secara hati-hati terus dijaga di Perpustakaan Kanazawa). Yakuomaro yang kemudian melanjutkan pembelajarannya dengan belajar tentang Jodo Shu dan Zen Shu di kota Kamakura, dan di Gunung Hiei, Kyoto yang menjadi Universitas Buddhis yang terkenal pada waktu itu. Gunung Hiei adalah sebuah Kuil yang didirikan oleh Dengyo Daishi Saicho sebagai kuil pusat dari Tendai Shu, yang menjadi pusat ajaran Buddha dan bersaing dengan Kuil Todaiji Nara, Kuil Kofukuji dan Kuil yakushiji. Terletak disebelah utara Gunung Hiei, daerah Yokawa, terkenal karena iklimnya yang buruk, dengan membawa keyakinan dan keinginan yang besar, maka Nichiren Shonin memilih untuk belajar disini yang mana, dimana Jikaku Daishi Ennin yang telah mendirikan kembali Kuil Seichoji. Nichiren belajar dan membandingkan semua Kuil di Kyoto dan semua sekte Buddha di Nara dan Gunung Koya, pada akhirnya Ia mendapat sebuah kesimpulan. Meskipun begitu banyak Buddha, Bodhisattva, para dewa pelindung seperti Dainichi Buddha, Yakushi Buddha, dan Amitabha Buddha dipuja orang, para Buddha ini semua mendiami dunia lain selain dunia Saha ini dimana kita tinggal. Sejak Sakyamuni Buddha lahir ke dunia Saha dimana kita tinggal ini, maka apa yang kita lakukan adalah secara alami mengikuti pengajaran dari Buddha Sakyamuni.

Sutra Bunga Teratai adalah Sutra yang mengajarkan mengenai hal ini, juga menjelaskan bahwa Buddha Sakyamuni membabarkan tentang ajaran bersifat “Abadi” sejak asal muasal.
“Triloka ini adalah milikKu, semua mahluk hidup di tempat ini adalah anak-anakKu, ada banyak penderitaan di dunia ini. Hanya Aku yang dapat menyelamatkan semua mahluk hidup,” Sutra Bunga Teratai Bab.III. Cerita perumpamaan “MilikKu” adalah kebajikan dari Majikan, “Anak-anakKu” adalah kebajikan dari orang tua, dan “Menyelamatkan semua mahluk” adalah kebajikan dari guru.

Satu-satunya Buddha yang mencakupi ke Tiga Aspek Kebajikan Para Buddha adalah Buddha Sakyamuni. Buddha Amitabha adalah Buddha Tanah Suci disebelah Barat, dan Yakushi Buddha adalah Buddha Tanah Suci sebelah Timur. Kedua Buddha yakni Amitabha dan Yakushi tidak mencakupi kebajikan dari Majikan dan Kebajikan dari Orangtua.

Didalam Bab XVI, Jangka Waktu Sang Tathagata, Beliau berkata: “Aku telah menjadi seorang Buddha sejak masa lampau yang tak terhingga, hidupKu adalah juga tak terbatas, Aku selalu ada di dunia dan tidak pernah moksha. “Juga” dari sejak masa lampau yang tak terbatas, Aku sudah hidup di dunia Saha ini, membabarkan dan membimbing semua mahluk hidup. Selama keberadaanKu dari masa lampau yang tak terbatas, aku menyatakan segala hal ini seperti Dipankara Buddha.” Dengan cara ini Buddha Sakyamuni menjelaskan bagaimana ia sedang mengajarkan di dunia Saha ini dari masa lampau, dan selama waktu itu, Ia telah menyediakan Dipankara Buddha atau Buddha lainnya sebagai para guru sementara, sebagai jawaban terhadap kebutuhan dan keinginan mahluk hidup. Seperti itulah, Buddha Sakyamuni mengungkapkan jati dirinya yang sesungguhnya. Nichiren Shonin mendapatkan tujuan dan jawaban atas pertanyaannya mengenai “Buddha” yang sesungguhnya dan menunjukkan melalui pelaksanaanNya kepada kita tentang kebenaran itu. Ada beberapa sekte yang menginkari dan membantah bahwa Buddha Sakyamuni adalah Buddha pokok atau asal muasal. Mereka mengatakan bahwa hal ini adalah omong kosong dan bahwa kita harus memuja Nichiren Shonin, tetapi ini adalah suatu ajaran yang keliru. Nichiren Shonin menerima tugas hidupnya untuk menyebarkan ajaran agung Sutra Bunga Teratai dari Buddha Sakyamuni kepada umat manusia. Marilah kita memahami hati dari Nichiren Shonin dan bekerja keras untuk memenuhi keinginanNya.