Penjelasan Terperinci dari Saddharma Pundarika Sutra
Akan Pencapaian Kesadaran Buddha bagi Kaum Wanita

(Dari Brosur, "Pemikiran akan Hak Asasi Manusia " diterbitkan oleh Departemen Nichiren Shu akan Ketetapan Hak Asasi Manusia pada Bulan Maret 31, 2000.)

Kita sebagai penganut Nichiren Bhiksume mengikuti ajaran dari Saddharma Pundarika Sutra. Dalam Sutra ini, Sang Buddha menjelaskan secara terperinci bahwa setiap mahluk hidup mempunyai Bibit Buddha sehingga setiap orang sesungguhnya memenuhi syarat untuk mencapai Kesadaran Buddha. Pemikiran ini didasari pada realita akan sangat besarnya rasa penghargaan akan kesederajatan dan maitri karuna yang dimiliki Sang Buddha terhadap seluruh mahluk hidup.

Akan tetapi, ada sebagian orang yang mengkritik Saddharma Pundarika Sutra. Mereka membacanya tanpa memahami lebih dalam. Beberapa berkata, "Ketika saya membaca Saddharma Pundarika Sutra, diketahuilah bahwa Sutra ini mendiskriminasikan kaum perempuan." Contoh yang paling umum dari pendapat ini adalah cerita Pencapaian Kesadaran Buddha oleh Putri Raja Naga di Bab Devadatta dari Saddharma Pundarika Sutra. Di dalam cerita ini, memang ada beberapa pernyataan yang bisa disalahartikan yang seakan-akan mendiskriminasikan kaum perempuan, tetapi, sesungguhnya bila kita memahami latar belakang suatu masa, bangsa, dan budayanya, kita akan mengerti lebih jauh akan apa yang sesungguhnya ingin diajarkan oleh Sutra ini.

Kitab-Kitab Buddha Mahayana, seperti Saddharma Pundarika Sutra, disusun sekitar 2,000 tahun yang lalu, dan mereka merupakan cerminan kuat akan lingkungan sosial dan kebudayaan pada masa itu. Sebagai contoh, di bagian awal bab Devadatta, ketika Sang Raja memberikan persembahan untuk melengkapi 6 paramita, beliau merelakan tidak hanya harta bendanya, akan tetapi tubuhnya sendiri, bahkan istri-istrinya, anak-anaknya, dan para pelayan-pelayannya sebagai persembahan. Dalam kehidupan di masa mod¬ern, kita tidak boleh memdiang perkataan raja ini secara harafiah semata. Kita harus memahami, lingkungan kemasyarakatan di masa sekarang, dan menjadikan ‘jaman raja’ tersebut sebagai jaman dimana kita hidup sekarang. Ketika kita membaca Saddharma Pundarika Sutra dengan keyakinan akan hak-hak asasi manusia di masa sekarang, kita akan memahami bahwa para istri, anak-anak, dan para pelayan sang raja adalah juga mahluk individu yang berdiri sendiri, dan memiliki hak asasi yang sama seperti yang dimiliki oleh sang raja. Di masa sekarang ini, mereka adalah orang-orang bebas yang mdaniri.

Nichiren Shonin, pendiri kita, memahami, percaya, dan menerima Saddharma Pundarika Sutra pada masa dimana kediskriminasian terjadi berdasarkan peringkat dan status. Beliau menyadari pentingnya pengajaran Saddharma Pundarika Sutra dan memahaminya secara mendalam akan makna hak asasi manusia dan kesederajatan akan semua mahluk hidup. Ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa, bila kita membayangkan bahwa Beliau, yang hidup dimasa seperti itu, dapat memiliki kepercayaan akan hal ini, dan memahaminya lebih jauh dengan semangat jiwa yang penuh kesederajatan dan rasa saling menghormati. Inilah semangat dan jiwa yang ingin disebarluaskan Nichiren Shonin untuk diterapkan di lingkungan masyarakat kita sekarang.

Bukti Manjusri – Putri Raja Naga yang Mencapai Kesadaran Buddha melalui Wujud Seorang Wanita

Di bagian tengah dari Bab Devadatta, suatu diskusi bermula dari Bodhisattva Manjusri dan Bodhisattva Prajnakuta. Menjawab pertanyaan dari Bodhisattva Prajnakuta, Manjusri mengungkapkan bahwa dia mencerahkan banyak Bodhisattvas di istana Raja Raja Naga di lautan. Bodhisattva Prajnakuta memuji Manjusri dengan syair.

Manjusri menyatakan, "Di dalam lautan, saya membabarkan hanya Saddharma Pundarika Sutra." Bodhisattva Prajnakuta bertanya, "Sutra ini sangatlah dalam dan indah. Ini adalah harta paling berharga dari semua sutra yang ada, dan sangat jarang ada di dunia. Apakah kamu mengetahui siapa yang telah menjalankan Sutra ini sebegitu kerasnya sehingga ia dapat dengan cepat mencapai Kesadaran Buddha ?”. Manjusri menjawab, "Ya," dan memperkenalkan Putri Raja Naga dari Raja Naga Sagara yang berusia 8 thn. Putri Raja Naga ini sangat pintar, melaksanakan dengan benar, dan bercita-cita akan Bodhi dalam Ksana, dan mencapai tahapan yang tak tersangkalkan lagi. Putri Raja Naga penuh maitri karuna dan sudah mencapai Kesadaran Buddha”, ujar Manjusri.

Kata-kata ini secara jelas membuktikan bahwa Putri Raja Naga dapat mencapai Kesadaran Buddha dengan cepat meskipun ia seorang wanita. Di bagian akhir dari bab ini, diceritakan bahwa ia berubah wujud menjadi seorang pria, mengapa ? “Perubahan wujud menjadi Pria” ini adalah momentum yang sangatlah penting untuk dimengerti akan tetapi juga sangatlah mudah untuk disalahartikan.

Keragu-raguan Bodhisattva Prajnakuta - Berdasarkan pada pemikiran bahwa Pencapaian Kesadaran Buddha hanya bisa terjadi setelah Pelaksanaan selama Berkalpa-kalpa

Boddhisatva Prajnakuta tak dapat mempercayai begitu saja bukti yang dikemukakan Manjustri akan pencapaian Kesadara Buddha dari Putri Raja Naga. "Saya tidak percaya bahwa anak perempuan ini dapat mencapai Pencerahan yang Sempurna dalam waktu yang singkat, kata Prajnakuta. Ini dikarenakan ia masih terikat pada cara berpikir yang sudah dibakukan, bahwa tak ada seorang pun dapat mencapai Kesadaran Buddha kecuali setelah berupaya mencari pencerahan selama berkalpa-kalpa dan mengumpulkan kebajikan melalui latihan keras seperti yang dilakukan oleh Buddha Sakyamuni. Mencapai Kesadaran Buddha setelah pelaksanaan berkalpa-kalpa adalah suatu hal yang berbeda dari pencapaian Kesadaran Buddha dari satu orang pada saat ini. Cara pandang ini juga sama dengan pandangan Pencapaian Kesadaran Buddha di masa depan dengan merubah tubuh.

Kesaksian dari Putri Raja Naga - Hanya Buddha yang tahu

Tidak lama setelah keraguan Boddhisatva Prajnakuta disampaikan pada Manjusri, Putri Raja Naga muncul dan memuja Kebajikan Sang Buddha, dan juga bercerita tentang pencapaian Kesadaran Buddhanya dengan berkata "Hanya Dia, Sang Buddha, yang mengetahui bagaimana saya mencapai Pencerahan (Bodhi) karena saya mendengarkan Dharma.” Sang Putri menceritakan pencapaian Kesadaran Buddhanya, dan bersumpah untuk menyelamatkan semua mahluk hidup dari penderitaan dengan membabarkan Ajaran dari Kendaraan Besar.

Ketika Kebenaran dari Kesadaran Buddha dilukiskan dalam Bab Kebijaksanaan dari Saddharma Pundarika Sutra, dinyatakanlah "Hanya para Buddha yang mencapai Kesadaran akan segala hal." Pernyataan dari Putri Raja Naga semuanya masuk akal dan benar. Manjusri, yang sudah mencerahkan sang putri, mengakui pencapaian Kesadaran Buddha dari Putri Raja Naga, akan tetapi bagi orang lain yang berkumpul di sana, adalah suatu hal yang sangat sulit dipercaya bahwa hal ini mungkin terjadi dalam waktu yang singkat kecuali jika Putri Raja Naga menunjukan bentuk Buddha-nya, sama seperti apa yang ada dalam bayangan mereka akan wujud Buddha yang seharusnya. "Saya harus melihat, baru saya dapat percaya," adalah sikap yang ditunjukkan oleh kelompok ini.

Keraguan Sariputra – Berdasarkan Pemikiran akan 5 Ketidakmungkinan yang dimiliki Wanita.

Sariputra menanyakan pada Putri Raja Naga sebagai perwakilan dari seluruh yang hadir. Bagian dari bab inilah yang paling banyak digunakan sebagai contoh pendiskriminasian terhadap kaum wanita. "Dia berkata bahwa Dia telah mencapai Pencerahan dalam waktu singkat. Hal ini sulit dipercaya karena tubuh wanita adalah kotor dan tidak dapat menerima ajaran Sang Buddha. Bagaimana dia bisa mencapai Bodhi ? Pencerahan yang dicapai oleh Buddha adalah sangat sulit dan hanya bisa dicapai oleh mereka yang telah berlatih terus menerus dan melaksanakan ke 6 Paramita dengan usaha yang sangat keras selama berkalpa-kalpa. Selain itu, wanita juga memiliki 5 Ketidakmungkinan, yaitu : Wanita tidak bisa menjadi 1. Raja Langit Brahma, 1. Raja Sakra, 3. Raja Mara, 4. Raja Roda Suci, dan 5. Seorang Buddha. Bagaimana dia bisa menjadi Buddha sedemikian cepat dalam wujud seorang wanita?”

Dalam kata-kata Sariputra, "Pencerahan yang dimiliki Sang Buddha adalah sesuatu yang tidak terjangkau," berkaitan dengan pandangan bahwa Kesadaran Buddha hanya bisa dicapai setelah pelaksanaan selama berkalpa-kalpa. Ini sama seperti keraguan yang ditunjukkan oleh Prajnakuta. Sariputra juga menyatakan bahwa tubuh seorang wanita adalah kotor, dan ada 5 ketidakmungkinan yang membuat wanita tidak akan pernah bisa menjadi raja dari kesadaran langit, raja di dunia manusia, ataupun menjadi Buddha. Ini adalah suatu pendiskriminasian terhadap wanita, yang justru bukan merupakan ajaran dari Saddharma Pundarika Sutra. Pandangan ini justru ditunjukkan disini sebagai suatu paham yang salah, dan harus dibuang karena ini adalah pemikiran yang tidak benar.

Sariputra, yang dikenal sebagai murid Buddha yang paling bijaksana, mengungkapkan keraguannya sebagai perwakilan atas keraguan orang kebanyakan. Prasangka terhadap wanita seperti ini telah berkembang dalam Bhiksume sebelum jaman Saddharma Pundarika Sutra, dan dalam masyarakat India kuno. Di jaman India kuno, perbedaan tingkatan, kasta, dan jenis kelamin, adalah konsep yang dianggap penting saat itu. Wanita harus menghadapi diskriminasi jenis kelamin yang menganggap mereka sebagai simbol ketidakmurnian atau kesesatan. Buddha Sakyamuni menentang sistem kasta dan membangun Sangha (Komunitas Bhiksut). Beliau juga menerima kelompok wanita-wanita yang berniat membangun Sangha bagi kaum Bhiksuni. Hal ini dianggap sebagai suatu pandangan yang kontroversial di masa itu. Beliau secara perlahan merubah cara pandang masyarakat. Akan tetapi, di masa-masa awal dari Sangha Bhiksut dan kelompok Bhiksuni, wanita masih direndahkan. Wanita dianggap sebagai gangguan terhadap kaum Bhiksu, juga Pendosa atas hukum, sehingga aturan untuk Bhiksuni pun jauh lebih ketat dibanding para Bhiksu. Pada awalnya, status mereka di Sangha pun belum sejajar dengan para bhiksu.

Pandangan bahwa wanita tidak bisa mencapai Kesadaran Buddha karena 5 Ketidakmungkinan muncul dalam naskah-naskah Buddhis setelah kemoksaan Buddha Sakyamuni. Oleh karena ke 32 gejala besar dari seorang Buddha digambarkan dalam wujud pria, wanita dianggap tidak bisa menjadi Buddha. Salah pengertian ini kemudian digunakan untuk mendiskriminasikan wanita baik di dalam maupun di luar Sangha. Karena itu, wanita selalu dihadapkan pada kenyataan bahwa mereka tidak akan pernah bisa menjadi Buddha, kecuali bila mereka dilahirkan kembali sebagai pria. Di dalam Saddharma Pundarika Sutra, dalam Bab Devadatta, untuk pertama kalinya, pandangan akan 5 Ketidakmungkinan yang dimiliki wanita ini ditentang secara keras.

Di dalam pembahasan berikutnya, kita akan mendiskusian Kebijakan-kebijakan yang diungkapkan oleh Putri Raja Naga untuk menunjukan Pencerahan yang dicapainya kepada kepada kaum yang menyangkal. Bahkan dalam masyarakat sekarang, diskriminasi masih hadir di dalam berbagai bentuk. Kita perlu mempelajari Saddharma Pundarika Sutra dan memahami konsep-konsep kesederajatan yang diajarkan. Tidak ada kasta, status, perbedaan fisik yang membuat kita menjadi lebih rendah atau lebih tinggi dari mahluk hidup lainnya. Kita semua sama-sama berada di dunia yang sama.

Putri Raja Naga mengungkapkan Jati diri yang sesungguhnya

Untuk menjawab pandangan Sariputra akan wanita dan ke 5 Ketidakmungkinan yang dimilikinya, (Saddharma Pundarika Sutra hal. 201, versi Murano), Putri Raja Naga mempersembahkan batu permata yang sangat berharga kepada Sang Buddha. Tindakan ini berharga 1.000 juta dunia Sumeru / alam semesta besar, dan ini mengisyaratkan akan pencapaian Kesadaran Buddha. Sang Buddha pun dengan segera menerima persembahan permata ini.

Putri Raja Naga berkata, "Lihatlah saya dengan kekuatan supranaturalmu ! Saya akan menjadi seorang Buddha [bahkan] dengan lebih cepat daripada waktu yang dibutuhkan Sang Buddha untuk menerima permata ini".

Kemudian Saddharma Pundarika Sutra menyatakan : "Semua yang hadir di pesamuan melihat bahwa Putri Raja Naga tiba-tiba berubah menjadi seorang pria, melakukan perbuatan-perbuatan seorang Bodhisattva, dan pergi ke dunia selatan yang tidak bernoda, duduk di atas Bunga teratai yang dihiasi intan permata, mencapai Penerangan yang sempurna, memperoleh ke-32 gejala besar, dan 80 gejala kecil dari seorang Buddha, dan mulai membabarkan Dharma yang luar biasa ini ke seluruh mahluk hidup dari 10 penjuru dunia.”

Ketika melihat Putri Raja Naga menjadi Buddha dan membabarkan Dharma, semua mahluk hidup termasuk para Bodhisattva dan Sravaka membungkuk kepada Buddha dengan suatu kegembiraan yang meluap. Begitu banyak mahluk hidup yang telah menerima kebajikan dari Dharma seperti pencapaian tahapan yang tidak bisa disangkal, dan pencapaian kepastian akan pencapaian Kebuddhaan di masa depan. Bab Devadatta menyimpulkan bahwa Prajnakuta, Sariputra, dan semua mahluk hidup lainnya yqng berkumpul di pesamuan ini menerima dan memahami Dharma dengan penuh kepercayaan dan kekhusukan.

Hanya Buddha yang tahu bahwa Putri Raja Naga telah mencapai Kesadaran Buddha. Para peserta di pesamuan tidak dapat percaya hanya dari bukti-bukti yang disampaikan Manjusri dan Putri Raja Naga bahwa Kebudhaannya telah dicapai bahkan sebelum ia berubah menjadi seorang pria. Setelah berubah menjadi wujud pria, dan memperlihatkan ke-32 gejala Buddha dan mempersembahkan Dharma, barulah mereka percaya dengan penuh ketulusan.

Berubah menjadi seorang pria

Dalam Bab Devadatta, 5 Ketidakmungkinan muncul sebagai paham yang tidak benar yang harus disangkal. Putri Raja Naga membuat pesamuan percaya akan pencapaian Kesadaran Buddha dengan mengubah wujud fisiknya menjadi seorang pria. Bagaimana kita harus memahami hal ini ?

Pada masa Sakyamuni, pria memiliki kuasa dan pengaruh dalam masyarakat, sementara wanita menempati status dan posisi yang lebih rendah. Kemampuan untuk terjun dalam kehidupan dan praktek keagamaan hanya dibatasi pada kaum pria. Karena norma-norma sosial inilah, pandangan bahwa wanita hanya bisa mencapai Kesadaran Buddha jika ia dilahirkan kembali sebagai pria, menjadi suatu prasyarat yang diyakini saat itu.

Ketika seorang wanita berkeinginan untuk memasuki suatu kelompok keagamaan, dia harus meninggalkan kehidupannya sebagai wanita, dan harus hidup dan berpikir seperti Bhiksu pria. Inilah asal muasal gagasan akan perubahan dari wanita menjadi pria. Selanjutnya, dengan masuk menjadi Bhiksuni, wanita diharuskan untuk memangkas habis rambutnya dan mengenakan jubah seperti yang dipakai oleh kaum pria. Dalam Mahayana Buddhisme, ini adalah akar mula dari adanya pandangan akan transformasi fisik dari seorang wanita menjadi seorang pria.

Akan tetapi, Bab Devadatta memberikan kita perspektif lain dari transformasi fisik sebagai syarat untuk mencapai Kebuddhaan. Putri Raja Naga mencapai Kebuddhaan melalui bentuk tubuh wanitanya. Ini ditunjukan oleh diterimanya permata yang dipersembahkan oleh Sang Buddha. Menyadari bahwa yang hadir di pesamuan masih mendasarkan diri pada 5 Ketidakmungkinan yang dimiliki oleh seorang wanita, Putri Raja Naga merubah dirinya menjadi pria, dan memperlihatkan ke 32 tanda Buddha, sehingga dapat meyakinkan para anggota pesamuan bahwa tidak ada perbedaan jenis kelamin dalam upaya untuk menjadi seorang Buddha.

Nichiren Shonin dan Pencapaian Kesadaran Buddha bagi Kaum Wanita.

Nichiren Shonin mengungkapkan kesempatan pencapaian Kebuddhaan bagi kaum wanita melalu cerita Putri Raja Naga. Dalam Hokke Daimoku Sho, yang ditulis ketika Beliau berusia 45 tahun, Nichiren Shonin membahas bahwa di dalam Sutra Karangan Bunga sampai Sutra Maha Nirvana, status wanita masih dalam posisi yang lebih rendah. Wanita dikatakan memiliki karma berat yang akan mencegah mereka untuk mencapai Kesadaran Buddha. Beliau juga menceritakan Pencapaian Kesadaran Buddha dari Putri Raja Naga melalui paparan berikut :

"Kemampuan kaum wanita untuk mencapai Kesadaran Buddha ditentang oleh Sutra-Sutra lain. Akan tetapi, karena Manjusri membabarkan karakter Myo, Gaib, kaum wanita dapat mencapai Kebuddhaan. Sungguh suatu hal yang sangat aneh kalau Bodhisattva Prajnakuta, murid utama dari Buddha Taho (Prabhutaratna), dan Sariputra, yang adalah murid Buddha Sakya¬muni yang paling bijaksana, mengungkapkan alasan-alasan mengapa Putri Naga tidak akan bisa menjadi seorang Buddha dengan mengacu pada Sutra-sutra Hinayana dan Mahayana; akan tetapi, tujuan mereka tidak tercapai, dan Putri Raja Naga tetap menjadi Buddha. Suatu bait di dalam Sutra Karangan Bunga menyatakan, `Seseorang yang telah menghilangkan bibit Kebuddhaannya,' dan suatu bait di dalam Nirvana Sutra juga mengatakan, “Seperti semua sungai yang berliku, demikianlah juga pikiran dari seorang wanita”, sekarang menjadi sesuatu pernyataan tanpa arti. Satu bait di dalam Silver Female Sutra dan the Great Wisdom Discourse menyatakan, `Wanita tidak akan pernah mencapai Kesadaran Buddha selama-lamanya,' juga menjadi tidak berarti. Bodhisattva Prajnakuta dan Sariputra sangat terkejut dan menjadi terdiam, sementara semua yang hadir di pesamuan begitu bersuka cita dan bertepuk tangan bersama-sama menghormati Sang Buddha. Ini semua adalah kebajikan dari karakter, Myo."

Nichiren Shonin juga menyatakan dalam Kaimoku Sho, contoh cerita dari Putri Naga yang menjadi Buddha, tidak diartikan bahwa hal ini hanya bisa terjadi untuk Sang Putri Naga.Ini justru diartikan sebagai pencapaian Kesadaran Buddha bagi semua kaum wanita. Ketika Sutra Hinayana (sebelum Saddharma Pundarika Sutra) menyangkal kemungkinan pencapaian Kesadaran Buddha oleh kaum wanita, banyak Sutra-sutra Mahayana terlihat sedikit mengakui kemungkinan pencapaian Kesadaran Buddha oleh kaum wanita asalkan mereka dapat merubah diri mereka ke arah kebaikan dan meninggalkan kesesatan. Akan tetapi, ini berarti bukan suatu pencapaian Kesadaran Buddha yang segera di dunia ini, yang sesungguhnya dimungkinkan melalui doktrin “3000 gejala dalam satu pikiran”. Oleh karena itu, apa yang dijanjikan Sang Buddha dalam Sutra Mahayana seolah hanyalah suatu nama. Di sisi lain, pencapaian Kesadaran Buddha oleh Putri Raja Naga dalam Saddharma Pundarika Sutra, mempunyai arti mungkinnya tercapai Kesadaran Buddha (atau sampai di tanah Buddha) oleh kaum wanita di masa-masa berikutnya." (Tulisan Nichiren Shonin, Doctrine 2, hal. 90)

Dalam suratnya, Sennichi Ama Gozen Gohenji (Jawaban kepada Yang Terhormat Bhiksuni Sennichi) yang dikirimkan dari Gunung Minobu di usiaNya yang ke 57, Nichiren Shonin berkata, "Kita mempercayai doktrin pencapaian Kesadaran Buddha oleh semua mahluk hidup karena hal ini dikatakan oleh Sang Buddha sendiri, akan tetapi kita tetap belum bisa sungguh-sungguh mempercayainya karena kurangnya bukti-bukti yang ada. Karena itu segala sesuatunya menjadi lebih jelas ketika doktrin terpenting, “bahwa Kesadaran Buddha bisa dicapai melalui wujud sekarang yang dimiliki seseorang”, dibabarkan secara details dalam Bab "Devadatta' di bait ke-5 dari Saddharma Pundarika Sutra. Hal ini seperti mengubah tinta yang hitam menjadi putih, atau memurnikan air kotor dengan meletakan permata harapan ke dalamnya. Sang Buddha menciptakan ular kecil, yang sesungguhnya adalah Putri Raja Naga, mencapai Kesadaran Buddha melalui wujud fisiknya sekarang ini. Pada saat itu, tak ada seorang pun yang meragukan bahwa semua umat manusia dapat mencapai Kesadaran Buddha dengan adanya contoh yang ditunjukkan oleh Putri Raja Naga. Sutra Hinayana tidak memperbolehkan wanita untuk mencapai Kesadaran Buddha sama sekali. Beberapa Sutra Mahayana sepertinya memperbolehkan wanita mencapai Penerangan atau sampai ke Tanah Buddha, akan tetapi hal ini lebih merupakan kata-kata kebijaksanaan Buddha yang tanpa isi. Hanya Saddharma Pundarika Sutralah yang menjelaskan secara details tercapainya Kesadaran Buddha oleh kaum wanita, karena itu, hanya inilah, Sutra yang sesungguhnya, yang memungkinkan kita membayar jasa-jasa baik seorang ibu. Saya saat ini sedang berusaha untuk membuat semua kaum wanita menyebut daimoku agar mereka dapat membayar kembali jasa-jasa kebaikan dari seorang ibu."

Nichiren Shonin di sepanjang hidupnya selalu mengajarkan bahwa kaum wanita bisa mencapai Kesadaran Buddha. Beliau bahkan tidak mengacu kepada “perubahan menjadi pria” dari Putri Raja Naga. Nichiren Shonin sungguh-sungguh memahami pencapaian Kesadaran Buddha bagi kaum wanita, karena Beliau sungguh-sungguh terlibat baik dengan pria maupun wanita dengan penuh kesederajatan, bahwa setiap orang sama-sama memiliki potensi baik untuk mencapai Kesadaran Buddha.

Belajar dari Konsep Nichiren Shonin akan Persamaan Derajat Pria dan Wanita

Nichiren Shonin juga memahami hubungan pria dan wanita, seperti suami dan istri yang saling mendukung satu sama lain dengan penuh maitri karuna dan saling percaya. Surat-surat Beliau yang ditujukan setiap individu dari pengikutnya, selalu ditulis dengan menyesuaikan kepada kepribadian setiap dari mereka. Karena itu, beberapa ungkapan-ungkapan Beliau mungkin bisa disalahartikan (jika kita hanya membaca sebagian saja dari keseluruhan tulisan beliau) bahwa Beliau menganggap wanita berada dibawah kedudukan pria, Sebagai contoh "symbol karakter untuk wanita, berarti yang bersedia. Sama sepertia tanaman rambat yang melilitkan dirinya di pohon cemara, wanita bersedia untuk para pria. Kaum wanita harus bersedia pada suaminya . . ." (Shijo Kingo Dono Nyobo Gohenji, Gosho Nyonin, hal. 94) atau "Menjadi seorang wanita adalah untuk menjadi patuh, dan dia akan mendapatkan jalannya." (Kyodai Sho, A Phrase A Day, hal. 136)

Akan tetapi jika kita meneruskan membaca ke bait sebelum dan sesudah bait diatas, kita akan dapat melihat secara jelas bahwa Nichiren Shonin mengajarkan hubungan suami istri yang berdasarkan pada Saddharma Pundarika Sutra. Terlebih jauh, Beliau bahkan mengatakan bahwa pria dan wanita harus saling mendukung satu sama lain. Ini diungkapkan melalui kutipan berikut :

"Sebuah anak panah diarahkan oleh kekuatan dari busurnya. Sekelompok awan digerakkan oleh kekuatan angin. Begitu jugalah hasil karya seorang pria (suami) akan disemaikan oleh seorang wanita (istri)," (GoshoToki Ama Gozen, A Phrase A Day, hal. 136)

"Seorang istri sangat menghargai suaminya sementara seorang suami mengorbankan hidupnya untuk istrinya," (Ueno Dono Gohenji, A Phrase A Day, p. 130)

“Suami adalah seperti tiang dari sebuah rumah dan sang istri akan menjadi balok penyangganya. Ketika tiang jatuh, balok penyanggapun akan berjatuhan. Pria akan seperti kaki, dan wanita menjadi tubuhnya. Tubuh seekor burung adalah sang wanita, sementara sang suami menjadi sayapnya. Ketika sayap tidak berfungsi, maka burungpun tidak akan bisa terbang. Seperti itulah kamu pasti berpikir dan merasakan seolah kamu sudah kehilangan jiwa kamu sendiri setelah kematian suamimu." (Sennichi Ama Gozen Gohenji, A Phrase A Day, hal. 130)

Kata-kata ini adalah berdasarkan pemahaman Nichiren Shonin akan kesederajatan kedudukan pria dan wanita yang diperteguh oleh kepercayaan terhadap Saddharma Pundarika Sutra.

Bahkan pada hari ini, ketika gerakan kebebasan bagi kaum wanita telah membuat status wanita lebih baik, tetap ada kecenderungan-kecenderungan kaum pria untuk mendominasi kaum wanita. Kita harus menegaskan kembali pemahaman kita akan pencapaian Kesadaran Buddha oleh wanita yang dijelaskan secara terperinci di dalam Saddharma Pundarika Sutra dan mempelajari pemikiran dan pandangan-pandangan Nichiren Shonin akan kesederajatan pria dan wanita, juga rasa hormat terhadap sesama manusia. SELESAI.

Diterjemahkan oleh Yullya Yaladhari, Batam