|
KEDAMAIAN DALAM BUDDHISME
Oleh: Josho S.Ekaputra
Beberapa tahun belakangan ini, kehidupan bangsa dan negara kita mengalami ketidakpastian dan kekerasan yang terjadi dimana-mana. Negara yang dulu terkenal penuh kedamaian, ketenangan, keramahan dan sikap saling hormat menghormati satu sama lain. Negara kita, Indonesia , terkenal akan keramahannya yang merupakan warisan luhur nenek moyang yang tak ternilai, namun saat ini semua itu lenyap tidak berbekas. Konsumerisme yang menghantam semua sisi kehidupan dan materialisme telah memunculkan masyarakat yang tidak peka terhadap keadaan dan cenderung hanya memikirkan keuntungan diri sendiri. Meskipun kita tidak juga sepenuh dapat menyalahkan konsumerisme dan materialisme tersebut, jika setiap individu mempunyai filter diri yang baik. Korupsi merajalela, penyalahgunaan kekuasaan, dan kekerasan terjadi dimana-mana, bahkan alam pun menjadi tidak ramah lagi. Ada apa dengan bangsa ini ? Tentu semua orang bertanya, kenapa perubahan yang terjadi begitu drastis! Satu hal yang berubah adalah cara pandang atau filosofi kehidupan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keagamaan. Nilai agama bukan hanya sekedar dalam ayat-ayat suci sebuah kitab suci atau sutra saja, namun nilai ini harus mengakar dan menjadi “Way of Life” dari setiap pemeluknya. Kita sebagai seorang Buddhis, tentu saja dapat melihat semua ini dengan lebih jernih dan mendalam. Semua kejadian ada sebab maka ada akibat. Kehidupan negara yang demikian sulit juga karena sebab-sebab yang kita buat sendiri. Kita melupakan rasa toleransi, welas asih, menghargai dan menghormati antara sesama manusia hanya untuk mengejar kesenangan pribadi. Inilah dinamakan kesesatan pandangan, ya ! negara kita sedang berada dalam kesesatan pandangan. Pandangan yang menempakan nilai-nilai konsumerisme dan materialisme, telah membelokkan sisi-sisi kemanusiaan kita yang hakiki .
Orang-orang lebih senang mengunakan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan. Penyelesaian dengan melandaskan kebencian, ketidaksenangan selalu akan memicu persoalan baru dikemudian hari. Buddhisme menentang segala kekerasan dan kebencian, karena pada dasarnya kebencian hanya akan menghasilkan kebencian baru. Demikian seterusnya tidak akan selesai.
Nilai Kehidupan
Sekitar 700 tahun yang lalu di Jepang, seorang Maha Bodhisattva, Nichiren Shonin, seorang reformis Buddhisme menuliskan sebuah surat untuk murid-muridnya, sebagai berikut :
“Kita harus menghargai semua kehidupan mulai dari yang paling bijaksana sampai yang paling rendah, serta juga kepada binatang seperti nyamuk atau mahluk lainnya. Oleh karena itu, perbuatan apa pun yang tidak menghargai kehidupan adalah sebuah kejahatan terbesar. Ketika Sang Tathagata muncul didunia saha ini, Ia menunjukkan welas asih yang besar terhadap semua kehidupan dengan membabarkan ajaranNya. Untuk menunjukkan rasa welas asihnya, Ia tidak melakukan pembunuhan untuk makanan dan minumanNya dan ini merupakan wujud ajaran pertamanya . ” ( Myomitsu Shonin Goshosoku, 1276)
Nichiren Shonin menjadikan pemahaman dan nilai-nilai ini sebagai wujud penghargaan bagi sebuah kehidupan yang mengacu pada apa yang diajarkan oleh Buddha Sakyamuni. Nilai-nilai kemanusiaan dalam Buddhisme dicerminkan dalam Pancasila Buddhis yakni; Tidak Membunuh, Tidak Mencuri, Tidak Berzinah, Tidak Berbohong, Tidak Meminum Minuman Keras. Jika kita mampu menempatkan nilai-nilai ini dalam hati, pikiran dan badan kita, maka segala kekerasan, kebencian dan pertengkaran akan terhindarkan. Saddharma Pundarika Sutra juga mengajarkan tentang "Way Of Life" melalui berbagai pembabaran dan contoh perumpamaan yang diajarkan, seperti :
- Sikap Menghargai dan Penghormatan terhadap semua orang, BAB. II, Upaya Kausalya, dan BAB XX, Bodhisattva Sadaparibhuta;
- Sikap Welas Asih terhadap semua mahluk hidup, BAB.XXV, Bodhisattva Avalokitesvara;
- Sikap Tidak membenci, Penghargaan dan Kesetaraan manusia, BAB.XII, Devadatta;
- Sikap Kejujuran dan Ketulusan, BAB.XXVIII, Bodhisattva Samantabadra;
- Sikap kebijaksanaan, pengertian dan keterbukaan, BAB XXVII dan BAB.XXIII, Bodhisattva Baisajaraga
Oleh karena itu tidaklah mustahil bagi mereka yang percaya dan menjalankan dengan sungguh-sungguh ajaran Sang Buddha akan menjadi seorang yang menghargai sebuah kehidupan dan nilai-nilai yang terkandung didalamnya, menjadi manusia yang penuh keluhuran budi pekerti dan prilaku. Inilah yang dikatakan “Hukumnya Agung, Manusianya Luhur.” Sikap Penghargaan terhadap nilai kehidupan diberikan pada semua hal, baik manusia, binatang, tumbuhan, mahluk lain yang kelihatan maupun tidak kelihatan, dan lingkungan alam. Dalam Dhammapada, Buddha Sakyamuni Buddha menyarankan kepada para pengikutnya untuk menempatkan penghargaan terbesar bagi kehidupan semua mahluk hidup dan mengingatkan untuk menahan diri dari melakukan kekerasan terhadap mahluk apapun juga.
“Semua orang takut akan hukuman, semua orang takut akan kematian, sama halnya seperti kamu. Oleh karena itu janganlah membunuh atau menyebabkan pembunuhan. Semua orang takut akan hukuman, semua orang mencintai kehidupan, sama halnya seperti kamu. Oleh karena itu janganlah membunuh atau menyebabkan pembunuhan.” (Dhammapada 129-130)
Nichiren Shonin hidup dalam sebuah masyarakat yang sering terlibat dalam peperangan, pembunuhan dan segala bentuk kekejaman. Ia mendasarkan diri pada Saddharma Pundarika Sutra, dan mengajarkan bahwa sudah sepantasnya semua mahluk hidup saling hormat menghormati. Karenanya meskipun Beliau mengalami beberapa kali tindakan kekerasan, Ia tidak membalas dengan kekerasan pula, bahkan Ia berusaha memberikan kesadaran bagi mereka yang melakukan kekerasan kepadaNya.
Ini karena semua mahluk mempunyai potensi untuk mencapai “KeBuddhaan” atau “Yang Tersadarkan.” Orang “Yang Tersadarkan” adalah seseorang yang penuh dengan keindahan, welas asih, dan kebijaksanaan yang menyinari seluruh alam semesta, mereka bagaikan permata harapan yang tak ternilai atau seperti indahnya bunga teratai. Maka itu jauhkanlah segala kekerasan disekelilingnya atau yang diarahkan kepadanya, Nichiren Shonin menegaskan tentang nilai kehidupan dengan menyatakan:
“…..dalam kehidupan ini, hidup itu adalah harta yang paling bernilai dari semua harta. Bahkan semua harta yang ada dialam semesta ini tidak dapat dibandingkan dengan nilai kehidupan itu.” (Jiri Kuyo Gosho, 1275)
Dalam Buddhisme terdapat Empat Janji Agung Bodhisattva yang menjadi Jalan Pelaksanaan untuk mencapai KeBuddhaan yakni :
1. Kesadaran Diri adalah tak terhingga, kami berjanji untuk menyelamatkan seluruh mahluk hidup. Mahluk hidup mencakupi semua aspek kehidupan; manusia, bukan manusia, tumbuh-tumbuhan, binatang, air, udara dan alam sekitarnya. Kita harus menghargai segala bentuk kehidupan dengan turut melestarikannya, menjaga lingkungan, menciptkan lingkungan yang lebih baik.
2. Hawa Nafsu kami adalah tidak terbatas, kami berjanji untuk mengalahkan mereke semua. Hawa nafsu yang tidak terkontrol akan menyebabkan penderitaan baik bagi diri sendiri maupun orang lain, karena itu kita harus berusaha menjadi “Tuan” dari hawa nafsu bukan “Budak” dari hawa nafsu kita.
3. Ajaran Sang Buddha adalah tidak terjangkau, kami berjanji untuk mempelajari semuanya. Sebagai murid Sang Buddha sudah seharusnya kita mempelajari semua ajaranNya dengan baik dan berusaha untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
4. Jalan KeBuddhaan adalah tidak ada bandingannya, kami berjanji untuk mencapai Jalan Kesadaran. Manusia yang telah mencapai Kesadaran, akan menjadi permata bagi lingkungan sekitarnya, sehingga segala kebaikan, kedamaian dan kebahagiaan akan tercapai.
Mengakhiri Sebuah Kekerasan
Pada masa kehidupan Nichiren Shonin, pemerintah militer Jepang (KeShogunan Kamakura) sibuk untuk mempersiapkan diri menghadapi perang terhadap agresi dari Mongolia, yang ingin menyerang dan menduduki Jepang melalui Korea. Shogun juga menghadapi kekerasan dari kalangan internal dalam mengatasi pemberontakan yang mencoba untuk menduduki istana. Bahkan gerakan keagamaan ditindak dengan kekerasan oleh Shogun untuk mempertahankan otoritas kekuasaan mereka. Nichiren Shonin sendiri menghadapi Empat Penganiayaan Besar dan sejumlah percobaan pembunuhan lainnya, dan salah satu yang paling terkenal adalah Hukuman Pancung di lapangan Tatsunokuchi. Kejadian lainnya, tiga orang pengikut telah dihukum mati karena mereka tetap mempertahankan hati kepercayaan kepada Saddharma Pundarika Sutra, dan Nichiren Shonin sendiri tidak pernah berkeinginan untuk melakukan balasan, bahkan ia menasihati para pengikutnya dengan mengatakan :
“Sekalipun jika dihadapkan dengan senjata dan penyiksaan, seluruh muridKu hendak tidak pernah melakukan hal yang sama. Jika terdapat kelompok lain yang ingin menghancurkan kelompok kita, tolong beritahukan saya segera.” (Shonin Gonanji 1279)
Nichiren Shonin secara jelas merasa bahwa kekerasan bukanlah sebuah solusi. Bagi Nichiren Shonin, nilai kehidupan adalah hati kepercayaan yang tertinggi sebagaimana yang diajarkan dalam Saddharma Pundarika Sutra , dan merupakan satu-satunya cara untuk mencapai perdamaian.
Nichiren Shonin, sama seperti Buddha Sakyamuni, menyadari bahwa satu-satunya cara untuk memutuskan mata rantai kekerasan adalah melalui kekuatan dan keinginan untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan juga. Sebagai gantinya, balaslah kekerasan dengan hati yang kuat untuk mengikuti Dharma, semangat memaafkan dan saling mengasihi . Hanya dengan cara demikian maka akan terciptakan ketenangan dan kedamaian. Ini beberapa kutipan ajaran Sang Buddha yang diambil dari Dhammapada:
“Ia marah kepada aku, ia menyerang aku, ia memukul aku, ia merampok aku”,.. mereka yang mempunyai pemikiran seperti ini tidak akan pernah bebas dari kebencian. Ia marah kepada aku, ia menyerang aku, ia memukul aku, ia merampok aku.”… mereka yang tidak berpikir seperti itu, akan terbebas dari kebencian.
"Karena kebencian tidak akan pernah musnah dengan kebencian. Ini adalah sebuah hukum yang tidak dapat diubah. Orang-orang lupa bahwa hidup mereka segera akan berakhir. Bagi mereka yang ingat, maka kebencian yang datang akan berakhir." (Dhammapada 3 - 6)
Sikap keras Nichiren Shonin terhadap sekte agama Buddha lain pada waktu itu, sering disalah artikan sebagai sebuah kesombongan, ketidaksemenaan, atau keegoisan pribadi. Namun hal itu tidak benar sama sekali, seperti yang kita ketahui bahwa masyarakat Jepang yang berkultur demikian keras, sikap sombong yang kuat dan keinginan untuk menang sendiri adalah juga cermin dari para birokrat, para politisi, para pemuka agama saat itu. Nichiren Shonin bersikap keras untuk menegakkan ajaran sesungguhnya demi untuk menyelamatkan negara dari kehancuran yang disebabkan kesesatan yang terjadi akibat dari penafsiran yang salah terhadap ajaran Sang Buddha, yang dilakukan oleh sekte-sekte keagamaan waktu itu.
Nichiren Shonin, berkeyakinan bahwa hanya Saddharma Pundarika Sutra dan menyebut O'daimoku mampu membawa kedamaian bagi negara dan sekaligus menghindari kehancuran negara, sebagaimana yang dibabarkan oleh Sang Buddha dalam Saddharma Pundarika Sutra. Tetapi niat baik Beliau tidak disambut dengan baik oleh penguasa militer, politisi dan para pemuka agama, sehingga Beliau beberapa kali menghadapi percobaan pembunuhan dan penganiayaan. Karya Nichiren Shonin yang menjelaskan secara terperinci kecintaanNya terhadap negara adalah “Rissho Ankoku Ron” dan penjabaran Buddhisme yang sesungguhnya dalam “Kaimoku Sho”. Meskipun Beliau bersikap keras dan tegas, Ia adalah seorang yang sangat cinta damai, lemah lembut dan penuh rasa welas asih yang mendalam. Hal ini dapat kita baca dalam surat-surat yang dikirimkan kepada para penganutnya.
Perdamaian dan Keadilan
Hukum Sebab Akibat menjamin semua orang akan “menerima apa yang telah mereka tuai” dan oleh karena itu “mereka yang hidup dengan pedang akan mati oleh pedang.” Pada sisi lain, orang yang hidup dalam perdamaian, akan memulai sebuah gerakan yang akan memberikan ketenangan dan kedamaian bagi orang lain pula dan masyarakat pun akan dijauhkan dari kebencian dan kekerasan. Semua yang terjadi adalah sebuah rangkaian yang tak terpisahkan. Kita berbuat kebaikan maka akan menerima kebaikan demikian sebaliknya.
Ini tidak berarti bahwa seseorang yang mengikuti Dharma hanya berdiam diri terhadap sebuah tindak kejahatan dan ketidakadilan. Apa yang dimaksudkan dalam padangan Buddhis ini adalah bahwa pengunaan kekuatan senjata atau kekuasaan adalah usaha terakhir yang sebenarnya adalah sebuah kegagalan. Buddhisme mengatakan bahwa pengunaan senjata untuk menghentikan kekerasan dan ketidakadilan untuk jangka pendek mungkin terlihat berhasil, namun pada masa mendatang memunculkan persoalan baru yakni tumbuhnya benih-benih kebencian baru, dan akhirnya akan timbul masalah yang sama lagi. Penyelesaian secara Buddhisme adalah menemukan cara-cara yang tidak mengunakan kekerasan untuk menyelesaikan persoalan pribadi, sosial dan internasional. Dengan semangat dan kreatifitas, kebijaksanaan dan rasa welas asih, sebuah solusi untuk menyelesaikan masalah secara damai akan dapat ditemukan .
Persoalan Bangsa Indonesia juga berada dalam konteks yang sama. Selagi segala kebencian dan kekerasan serta kepentingan pribadi dikedepankan maka tidak ada kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan bagi semuanya. Sebuah langkah bijak adalah membuang semua sikap curiga, benci dan egoisme kelompok dalam menyikapi persoalan adalah kunci penyelesaian. Bangsa yang selalu melihat kebelakang tidak akan pernah maju, masa lalu hanyalah sebuah pelajaran untuk masa mendatang. Bangsa ini harus mengembalikan nilai-nilai kebersamaan, keharmonisan, hormat menghormati, saling menghargai, toleransi antar sesama masyarakat, dan antara masyarakat dan pemerintah. Peranan para pemuka masyarakat, tokoh agama, politisi, birokrat harus bekerja secara sinergi dalam satu tujuan untuk mengembalikan kejayaan bangsa. Para umat beragama juga hendaknya menerapkan nilai-nilai keagamaan yang harmonis, dan toleransi, serta melenyapkan segala paham yang kaku dan sempit. Alam dan manusia adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan, ketika kesesatan terjadi dalam diri manusia, maka alam pun akan berubah. Alam tidak ramah karena manusia yang tidak ramah.
Hal yang terpenting menjadi tujuan dari segala kepercayaan dan agama adalah peningkatan diri dan dunia secara keseluruhan. Sebagai contoh, Nichiren Shu, sebagai sebuah kelompok Buddhis dan seluruh pengikutnya harus dengan tegas berusaha menciptakan perdamaian, kebahagiaan, dan pencerahan bagi seluruh mahluk hidup. Hidup manusia harus dilindungi dan dihargai, dan seluruh masyarakat harus didorong kearah perdamaian dan kebahagiaan. Oleh karena itu, Nichiren Shu secara tegas menolak segala bentuk peperangan, segala kekerasan, kebencian, pengembangan senjata nuklir, dan turut menyebarluaskan keadilan dan kedamaian dalam masyarakat. Selain menyebarluaskan nilai-nilai ini dalam masyarakat, kita percaya bahwa ajaran Sang Buddha yang dibabarkan dalam Saddharma Pundarika Sutra dan dengan mengikuti ajaran dari Nichiren Shonin, kita dapat mewujudkan sebuah kehidupan yang alami dan wajar sesuai dengan nilai-nilai kehidupan itu sendiri. Kita juga harus selalu berusaha menciptakan kedamaian dan kebahagiaan melalui pelaksanaan ajaran-ajaran Sang Buddha dalam kehidupan sehari-hari. Gassho. |