ENAM PARAMITA
(ENAM PELAKSANAAN SEORANG BODHISATTVA)

oleh: Bhiksuni Myosho Obata

Saya ingin memberikan pelajaran mengenai Bodhisattva Sadhaparibhuta (Jo Hu Kyo Bosatsu.

Dalam bahasa orang India, bagi mereka yang ingin mencapai Jalan Penerangan disebut Bodhisattva, bahasa China dituliskan dalam empat aksara Bodaisatta, dan di Jepang mengambil aksara pertama dan ketiga untuk kata Bosatsu. Oleh karena itu Bodhisattva mengacu kepada orang-orang yang ingin mencari Penerangan, ini adalah pertapaan yang dijalankan oleh Buddha sebelum Beliau mencapai Penerangan. Sekalipun Ia telah mencapai Penerangan dan menjadi Buddha, tetapi dengan mengacu kepada sebelumnya, para murid dan pengikutnya menyebut Beliau “Bodhisattva.” Mengacu kepada Kenderaan Besar Buddhisme atau Buddhisme Mahayana sebuah perubahan yang besar terjadi. Dalam ajaran Kenderaan Besar Buddhisme, setiap orang dapat menjadi seorang Buddha. Jadi, setiap orang yang berkeinginan untuk menyelamatkan orang lain, dan ingin mencapai Penerangan dapat disebut sebagai Bodhisattva. Oleh karena itu, kamu dan saya seperti halnya orang lain yang memutuskan untuk mengikuti ajaran dari Buddha adalah seorang Bodhisattva. Dengan kata lain, mengikuti ajaran Buddha dan melaksanakan Enam Paramita (Rokuharamitsu) atau Enam Pelaksanaan Bodhisattva, kita semua akan menjadi Bodhisattva. Jadi saya ingin menjelaskan tentang Enam Paramita itu.

1. WELAS ASIH (Fuse),
Memberikan waktu dan cinta kita untuk semua mahluk, berbagi, menolong semampu kita, tanpa mengharapkan pamrih/imbalan.

2. KESUSILAAN / MORAL (Jikai),
Berpikir, berbicara dan tingkah laku kita harus ramah dan sopan sehingga tidak terkesan menyerang orang lain

3. SABAR / TABAH (Ninniku),
Bersikap sabar dan berterima kasih untuk setiap pelajaran yang kita peroleh dalam hidup, memaafkan, bebas dari sikap dendam, tegas terhadap kesalahan sendiri, berkeinginan untuk menyelasaikan tugas kegiatan kita sehari-hari.

4. KETEKUNAN (Shojin),
Selalu berusaha keras, terus menerus, untuk mengikuti ajaran dari Buddha Sakyamuni Abadi, untuk melaksanakan aturan dari Enam Paramita ini.

5. MEDITASI / KONSENTRASI (Zenjo),
Selalu memikirkan tujuan dari hidup kita dan meluangkan waktu kita sehari-hari untuk daimoku “Namu Myoho Renge Kyo.”

6. KEBIJAKSANAAN (Chie),
Untuk selalu mengingat akan cahaya dan cinta kasih dari Buddha Sakyamuni Abadi yang telah mengajarkan kita untuk dapat menyingkirkan kegelapan ketidaktahuan kita.


Didalam Kendaraan Besar Buddhisme (Mahayana) memunculkan konsep Bodhisattva yang berlainan dengan konsep sebelumnya. Terdapat tanpa batas jumlah mahluk hidup didalam dunia fana ini. Jika seseorang mencoba untuk menyelamatkan mereka semua sebelum menjadi seorang Buddha, kemudian orang itu kemungkinan tidak akan bias mencapai Kebuddhaan. Konsep Bodhisattva demikian merupakan sebuah jalan yang sangat keras dan terus berusaha untuk menyelamatkan semua mahluk hidup, diantaranya adalah Bodhisattva Avalokitesvara, Samantabadra, Maitreya, Bodhisattva ini pada hakikatnya sangat dekat dengan pencapaian menjadi seorang Buddha.

Kesimpulan, terdapat tiga hal mengenai Bodhisattva yang dapat kita gunakan.

1. Nama dari para Buddha sebelum beliau mencapai Penerangan Agung.
2. Mereka yang dengan segenap pikiran ingin melaksanakan ajaran Buddha.
3. Bodhisattva dekat dengan pencapaian Kebuddhaan, yang mana berusaha untuk menyelamatkan semua mahluk hidup.

Lebih lanjut penyebutan Bodhisattva juga diberikan kepada pada Bhiksu Tinggi atau yang sangat terhormat seperti Nichiren Daishonin. Nichiren Daishonin dibuang ke Pulau Sado pada tanggal 10 oktober 1271. Dalam bulan pebruari 1272, Beliau menulis Kaimokusho di Tsukahara, Pulau Sado. Dalam rangka untuk mengungkapkan bahwa dirinya adalah seorang guru yang sesungguhnya. Ia menulis sebuah sumpah dalam suratnya, “ Saya akan menjadi tiang dari negeri Jepang, Mata dari Jepang, Bathera besar, dimana negeri Jepang akan mempu mencapai tujuannya. Saya tidak akan menginkari janji ini.” Sekarang, setelah selamat dari perbuangan di Semenanjung Izu, penyiksaan di Komatsubara, pemancungan di Tatsunokuchi dan penyiksaan lainnya, Beliau meyakini bahwa Ia adalah kelahiran kembali dari Bodhisattva Visisthakaritra (Jogyo). Bodhisattva ini, sesuai dengan Saddharma Pundarika Sutra Bab XV, dimana merupakan pemimpin utama dari semua Bodhisattva Muncul Dari Bumi dalam pemunculan dari Stupa Buddha Segala Pusaka atau Prabhutaratna Tathagata.

Nichiren Daishonin bertujuan untuk menyebarluaskan Saddharma Pundarika Sutra ke seluruh dunia dan membuat dunia ini menjadi tempat yang penuh kedamaian, Tanah Buddha melalui O’daimoku “Namu Myoho Renge Kyo”. Jadi mari kita belajar janji dari Buddha Sakyamuni Abadi melalui pemimpin kita, Nichiren Daishonin. Mewujudkan diri kita sebagai Bodhisattva Muncul dari Bumi, bersama-sama kita belajar dan melaksanakan jalan Bodhisattva.

Nb.Diterjemahkan oleh Sidin Ekaputra