DHARMA AGUNG
“MYO HO REN GE KYO”
Oleh: Sidin Ekaputra,SE

Saddharma Pundarika Sutra (Myo Ho Reng Kyo, Jpn) merupakan sutra yang dibabarkan oleh Buddha Sakyamuni dalam kurun 8 tahun terakhir sebelum Beliau memasuki Parinirvana. Saddharma Pundarika Sutra berisi kebenaran dan kebijaksanaan tertinggi dari Sang Buddha, yang secara pembabaran dan ajaran yang terkandung didalam berbeda dengan sutra-sutra sebelumnya. Sutra-sutra sebelum Saddharma Pundarika Sutra, dibabarkan berdasarkan kepada kapasitas dan tingkat pemahaman manusia yang artinya Sang Buddha menyesuaikan ajaranNya dengan kemampuan manusia untuk menerimanya, sedangkan Saddharma Pundarika Sutra dibabarkan oleh Sang Buddha berdasarkan keinginan dan kebijaksanaan yang sebenarnya dari Sang Buddha itu sendiri, tanpa terikat atau terpengaruh oleh kapasitas dan kemampuan dari mereka yang mendengarkan. Jelas point ini, memberikan perbedaan yang mendalam, sutra-sutra sebelum Saddharma Pundarika Sutra tidak mencerminkan atau mewakili keinginan dan kebijaksanaan sesungguhnya dari Sang Buddha. Buddha Sakyamuni sejak awal pencapaian Penerangan Agung, telah berkeinginan untuk membabarkan Saddharma Pundarika Sutra, namun akal bakat dan kemampuan manusia pada saat itu belum memadai sehingga, Ia mengambil kebijaksanaan membabarkan sutra-sutra lain sebagai jalan Upaya saja.

Nichiren Daishonin, pendiri Nichiren Shu setelah menjalani masa pembelajaran yang mendalam dalam mengkaji sutra-sutra Sang Buddha, menemukan bahwa hanya Saddharma Pundarika Sutra sebagai sebuah ajaran yang sesungguhnya dan sesuai keinginan hati dari Sang Buddha. Nichiren mengajarkan kita untuk menaruh hati kepercayaan yang mendalam tanpa keraguan akan kebenarannya ini, dan agar kita melaksanakan penyebutan O’daimoku “Namu Myoho Renge Kyo” sebagai sebuah wujud pencapaian Kesadaran Tertinggi yang diberikan oleh Sang Buddha. Beliau mengatakan bahwa O’daimoku tidak hanya mewakili sebuah kebenaran dari Sang Buddha tetapi merupakan Kebenaran itu sendiri, dan bahwa melalui penyebutan O’daimoku kita akan memperoleh seluruh karunia kebajikan, harta pusaka, dan kekuatan gaib dari Sang Buddha Sakyamuni dan juga para Buddha dari sepuluh penjuru dunia. Penambahan aksara “Namu” kepada “Myoho Renge Kyo”, jelas merupakan sebuah Pencerahan yang diperoleh Nichiren Daishonin. Manusia pada Masa Akhir Dharma sangat sulit untuk melakukan pelaksanaan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang suci, para arif bijaksana pada jaman dahulu, sehingga dengan penuh welas asih Sang Buddha memberikan permata pusaka ini dalam tujuh aksara “Na Mu Myo Ho Ren Ge Kyo” sebagai satu-satunya jalan bagi kita umat manusia untuk dapat mencapai Jalan Penerangan Agung.

Namu, berasal dari kata sansekerta Namas. Namu atau Namas tidak dapat diterjemahkan kedalam bahasa lain, karena itu penerjemahan kedalam bahasa China atau lainnya hanya mengikuti lafal pengucapan saja. Namu dalam bhs.Jepang bisa berarti “Kimyo”. Nikko Shonin, salah satu dari Enam Bhiksu Senior (Pengikut Utama Nichiren Daishonin),mencatat pembabaran Nichiren Daishonin dijelaskan, “...Terdapat dua hal dimana kita mencurahkan hidup kita: Kepada manusia, yang mana adalah Buddha Sakyamuni dan kepada hukum yang mana adalah Saddharma Pundarika Sutra... dalam istilah Kimyo, aksara Ki (cina) berarti “Kembali atau Mencurahkan” ini menunjukkan pada aspek fisik dari hidup yang digambarkan dalam huruf Myo (“Hidup” ditulis berbeda aksara dengan Myo dari Myoho) adalah aspek spritual. Oleh karena itu, kata Namu mengandung suatu makna yang lengkap yaitu mengabdikan secara sungguh-sungguh seluruh hidup kita baik secara fisik maupun kejiwaan. Dengan kata lain, kita percaya sepenuhnya kepada Sang Buddha dan ajaranNya, terutama Saddharma Pundarika Sutra, dimana kita mencurahkan sepenuh jiwa kita dan dengan setiap cara yang memungkinkan.

Dalam bagian Jigage (Sajak) dari Bab.II (Juryo) Saddharma Pundarika Sutra, terdapat satu bagian kata berikut : “Isshin Yoku Ken Butsu, Fuji Shaku Shin’myo” ini berarti “Dengan sepenuh jiwa raga ingin bertemu dengan Buddha dalam kehidupan kali ini”. Secara jelas mengambarkan kata dari Namu, bahwa pendirian kita, pengertian, perlindungan dan pencurahan semuanya dimulai dari diri sendiri yang didasarkan pada ketulusan hati darikepercayaan dan pelaksanaan. Namu juga bisa berarti Pasrah dan Maju. Pasrah bukan berarti mundur atau putus asa, pasrah berarti menyadari, menerima, mengakui dan melihat kedalam diri sendiri atas segala kesalahan atau karma buruk yang telah dibuat. Namu berarti juga harus Maju, maju bersemangat menatap masa depan, dengan menjadikan masa lalu sebagai pelajaran dan pengalaman yang berharga. O’daimoku yang sebenarnya, adalah menerima dan mengakui segala kesalahan yang telah dilakukan dan intropeksi diri untuk menjadi lebih maju pada masa mendatang. Jadi sebuah kesalahan besar jika diantara kita menyebut O’daimoku dengan landasan kesombongan dan egoisme diri sendiri. Odaimoku dengan dasar ego tidak akan menghasilkan apapun juga. Ketika kita Odaimoku dengan sikap menerima dan maju, maka diri kita akan “dihidupkan kembali”, kita menjadi seorang yang baru dan penuh vitalitas.

Myoho berarti Saddharma (bhs.skt), yang berarti sangat dalam dan tidak terjangkau. Sad atau Myo dari Myoho dapat diartikan sebagai Kebenaran, Kesempurnaan, Gaib, Sulit Dimengerti, Tak Terbandingkan, Sulit diterima dan Mencakupi Semuanya. Ho berarti Dharma atau Hukum. Maha Guru Tien T’ai, menjelaskan dalam (jp.Hokke Gengi) bahwa Myo berarti Sangat Sulit Dimengerti. Pertama, adalah analisa perbandingan dimana menjelaskan bahwa Saddharma Pundarika Sutra sangat unggul dibandingkan dengan seluruh Ajaran Buddha lainnya. Kedua, Myo berarti telah mencakupi seluruh Saddharma Pundarika Sutra, dalam hal ini termasuk secara menyeluruh termasuk semua ajaran Sakyamuni Buddha, dimana Beliau membabarkan Dharmanya selama 42 tahun hidupNya. Nichiren Daishonin juga menambahkan bahwa aksara Myo dari Myoho Renge Kyo adalah yang terpenting, Beliau menjelaskan dalam Surat “Daimoku dari Saddharma Pundarika Sutra”, bahwa “ Jika disana terdapat sebuah gudang penuh dengan pusaka yang berharga, tetapi jika tidak ada kunci, maka tidak dapat membukanya. Jika tidak dapat membukanya, pusaka yang ada didalam gudang tersebut tidak dapat terlihat, aksara Myo dari Saddharma Pundarika Sutra (Myoho Renge Kyo) adalah kuncinya. Ini adalah sutra untuk membuka pintu dari semua ajaran Kebijaksanaan dan mengungkapkan segala aspek Kebenaran dari semua kenyataan”. Dan juga dalam Surat “Membuka Mata” (Kaimoku Sho) dikatakan, “Myo berarti Penuh dengan Kurnia, yang mana semua berarti Kesempurnaan… ini seperti meletakkan setetes air dari samudra luas, yang mana setetes air telah mencakupi air dari semua sungai yang mengalir ke laut”. Myo juga dapat diartikan Membangunkan “Sifat Sejati atau Jiwa Buddha” yang ada dalam diri kita dan dapat membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Renge berarti Pundarika (skt) atau Bunga Teratai. Pundarika melambangkan kemurnian dan kesadaran Buddha. Pundarika juga melambangkan Sebab Akibat yang berkesinambungan sebagai Bunga Teratai yang mempunyai Bunga dan Biji dalam waktu yang bersamaan, begitu juga dengan segala perbuatan (karma) yang kita lakukan memberikan akibat pada saat yang sama (inga guci). Bunga Teratai berkembang di air yang kotor, namun bunganya tetap putih dan bersih. Ini berarti kita sebagai seorang Buddhis harus mampu menjadi dirinya tetap bersih dan suci meskipun tinggal dalam lingkungan yang kotor. Kita harus mampu menjadi teladan dan panutan dalam masyarakat, melalui pelaksanaan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari.

Kyo berarti Sutra, yaitu catatan-catatan pembabaran ajaran Buddha Sakyamuni. Sutra-sutra ini dituliskan setelah kemoksaan Sang Buddha oleh para murid-muridnya, agar ajaran Buddha tidak terlupakan atau hilang oleh jaman.

Namu “Myoho Renge Kyo” atau O’daimoku secara keseluruhan berarti bahwa mereka yang menerima secara sepenuh hati dan sungguh-sungguh dalam pelaksanaan Saddharma Pundarika Sutra, akan mampu menghidupkan kembali dirinya dan lepas dari segala penderitaan dalam kehidupan, membangkitkan Sifat Sejati dalam diri masing-masing, membentuk watak, prilaku dan jiwa yang bersih, kuat dan suci sehingga pada akhirnya akan membawa kita mencapai Jalan Penerangan Agung. O’daimoku adalah Buah Kebijaksanaan Yang Tertinggi dari Sang Buddha. Buddha Sakyamuni dan Nichiren Daishonin memberikan Pusaka Yang Tak Terhingga dan Selalu Dijaga Oleh Para Buddha ini kepada kita, manusia Masa Akhir Dharma, sebagai satu-satunya jalan yang mampu membawa kita mencapai Kesadaran Buddha. Oleh karena itu, sebutlah O’daimoku dengan hati yang bersih dan sungguh-sungguh dalam hati kepercayaan, serta laksanakan dalam kehidupan kita sehari-hari, maka kita akan mampu merubah Racun menjadi Obat, Penderitaan menjadi Kebahagiaan. Gassho.