Cahaya Terang Odaimoku Menerangi Dunia
Oleh YM.Bhiksu Jun-ichi Nakamura

Objek Pemujaan Nichiren Shu, Yang Paling Dipuja, adalah yang biasa disebut “Mandala.” Tetapi istilah mandala tidak hanya khusus digunakan oleh Nichiren Shu. Istilah mandala berasal dari bahasa sansekerta, India. “Manda” berarti “ Intisari/ Pokok” dan “la” berarti “Memperoleh”, Jadi “Mandala” berarti Memperoleh Intisari / Pokok, dimana Intisari adalah Intisari dari Penerangan Agung Sang Buddha. Pada masa lalu, untuk menyelamatkan orang lain dari penderitaan, orang india membuat sebuah lingkaran di atas gundukan tanah dan berusaha mewujudkan kebenaran alam semesta dengan menaruh gambaran dari para Buddha dan Bodhisattva didalam lingkaran itu. Nichiren Shonin mengatakan dalam Goibun Nichinyo Gozen Gohenzi bahwa, “Mandala adalah sebuah istilah dari India. Itu juga berarti “Untuk Menjadi Sempurna,” atau “Untuk Mendapatkan Kebajikan.” Pernyataan Beliau juga memberitahukan mengenai sejarah dari Buddhisme.

Mandala dibawa dari China ke Jepang oleh Maha Guru Kobo (Kukai). Ini adalah pertama kalinya sebuah mandala dibawa ke Jepang. Buddhisme baru itu disebut Shingon Mikkyo. Ini adalah Buddhisme Esoterik yang sangat berkembang pada periode Heian (794~1191) dibawah perlindungan Kekaisaran Saga. Dalam Buddhisme Shingon Esoterik, Maha Guru Kukai menempatkan Buddha Dainichi sebagai Buddha tertinggi di alam semesta dan mencoba mengambarkan Penerangan dan Penyelamatan Buddha dengan Dunia Mandala.

Tetapi Nichiren Shonin tidak setuju dengan ide dari Maha Guru Kukai. Buddha Sakyamuni adalah Buddha Tertinggi bagi Nichiren Shonin. Dan Buddha Sakyamuni membabarkan Saddharma Pundarika Sutra yang disimpannya dalam hati sejak dari awal Ia hadir di dunia ini. Dalam Saddharma Pundarika Sutra juga mengungkapkan bahwa Buddha Sakyamuni adalah Buddha Kekal Abadi (Kuon Ganjo), yang mengharapkan semua mahluk hidup dapat mencapai KeBuddhaan. Nichiren Shonin mengatakan sebagai ganti dari pemujaan terhadap Buddha Dainichi, adalah menfokuskan pemujaan kepada Buddha Sakyamuni Abadi, pengajaran yang paling sempurna dimana Saddharma Pundarika Sutra harus diletakkan ditengah-tengah dari Mandala, dimana cahaya terangnya akan menerangi seluruh alam semesta.

Pada tahun 1273, Nichiren Shonin untuk pertama kalinya mewujudkan Maha Mandala di Pulau Sado, dimana Ia menjalani hukuman pembuangan. Ia mengerakkan kuas sumiNya dan menuliskan Odaimoku, “Na Mu Myo Ho Ren Ge Kyo”. Odaimoku terdiri dari Lima Aksara dari Myo, Ho, Ren, Ge dan Kyo dengan dirangkai oleh dua Aksara Kanji dari Na dan Mu. Namu Myoho Renge Kyo berarti secara tulus menaruh kepercayaan kepada ajaran yang luar biasa, Saddharma Pundarika Sutra. Nichiren Shonin mengatakan dalam Goibun Kyo-oh dono Gohenji bahwa, “Aku menulis Odaimoku ini dengan tinta hitam dengan seluruh jiwaKu. Kamu harus percaya bahwa Sang Buddha membabarkan Saddharma Pundarika Sutra sebagai ajaran yang sesuai dengan Keinginan HatiNya. HatiKu yang sebenarnya adalah Namu Myoho Renge Kyo.”

Bentuk dari penulisan Odaimoku dalam Maha Mandala adalah suatu ciri unik dari Nichiren Shonin dan dapat disebut juga sebagai “Hige-Daimoku,” atau “Odaimoku” dengan ekor panjang sebab beberapa tarikan kuas Beliau turun seperti membentuk ekor. Tetapi tarikan kuas panjang itu bukan sebuah ekor. Garis panjang itu disebut “Komyo-ten”, yang mencerminkan sinar terang dari Saddharma Pundarika Sutra yang bersinar mencakupi semuanya. Maha Mandala Gohonzon yang ditulis oleh Nichiren Shonin bukan sebuah bentuk gambar tetapi adalah sebuah tulisan kaligrafi. Ini adalah bentuk yang paling sederhana dari sebuah Mandala. Namun, meskipun Mandala itu adalah sebuah bentuk sederhana, tetapi Maha Mandala itu mengungkapkan keinginan tertinggi dari Buddha Sakyamuni Abadi dan merupakan bagian untuk Pencapaian KeBuddhaan bagi semua orang. Ini adalah sebuah hal yang luar biasa. Nichiren Shonin menulis Maha Mandala dengan kepercayaan yang kuat, hal ini dinyatakan dalam tulisan di Mandala yakni, “Maha Mandala ini tidak pernah sebelum ini, setelah dua ribu dua ratus dua puluh tahun setelah kemoksaan Sang Buddha.” Kita, Nichiren Buddhis harus meletakkan hati kepercayaan kepada Maha Mandala ini.

Ketika kamu melihat ke Maha Mandala, kamu akan melihat nama dari Empat Raja Langit yang dituliskan di keempat sudutnya. Raja Langit adalah dewa orang india yang dipercaya tinggal di Dunia Surga. Terdapat banyak sekali nama-nama para dewa-dewi didalam Mandala, yang bertindak sebagai pelindung dharma. Diantara mereka, Empat Raja Langit mempunyai tugas yang khusus. Misi mereka adalah melindungi dunia ini dari empat penjuru. Jikaku-ten, Dhrtarastra, Raja Langit yang menjaga dunia bagian timur. Komoku-ten, Virupaksa, Raja Langit yang menjaga dunia bagian barat Zocho-ten, Virudhaka, Raja Langit yang menjaga dunia bagian selatan, dan Bishamon-ten, Vaisravana, melindungi bagian utara.

Beberapa rupang dari Empat Raja Langit menempatkan beberapa iblis-iblis kecil dikaki mereka yang disebut Ama-no-Jaki. Para Raja itu akan memusnahkan para iblis-iblis kecil itu. Jika padar iblis itu melawan atau ingin menghancur ajaran Buddha, maka Para Raja Langit akan melawan mereka dan mengikuti ajaran Buddha. Kita harus meluangkan waktu untuk melihat kedalam diri kita sendiri, bahwa terdapat banyak iblis-iblis kecil dalam pikiran kita sendiri. Ketika kita duduk didepan Maha Mandala, Cahaya Terang dari Odaimoku akan memusnahkan semua iblis dalam pikiran kita.

Nichiren Shonin menyatakan dalam Goibun Nichinyo Gozen Gohenzi bahwa, “Maha Mandala Gohonzon ini mengandung dua aksara yakni “Shin Jin” atau “Hati Kepercayaan.” Ini adalah makna sesungguhnya dari “Ishin Tokunyu” yang berarti Memasuki Dunia Maha Mandala dengan Hati Kepercayaan.” Inilah makna sebenarnya dari Maha Mandala menurut Nichiren Shonin. Gassho.