BUTSUDAN
Oleh: YM. Bhiksuni Myosho Obata


Hari ini, Saya ingin memberitahukan anda sekalian mengenai Butsudan. Mungkin beberapa anggota sudah mengetahui hal ini. Butsudan adalah seperti rumah Buddha, dan di atas altar didirikan Dai Mandala, Sang Buddha, Nichiren Daishonin dan para jiwa leluhur kita. Butsudan juga menunjukkan kepada kita tentang Dunia Buddha. Biasanya Butsudan berbentuk kotak persegi, tetapi terdapat banyak jenis dan bentuk dari Butsudan. Tidak menjadi masalah apapun bentuknya, ukurannya atau warna dari Butsudan, yang terpenting adalah ketulusan hati kita kepada Sang Buddha dan lainnya.

Kemudian, Saya ingin memberitahukan kepada anda sekalian kenapa kita harus mempunyai sebuah Butsudan. Butsudan adalah wujud dari hati kepercayaan kita. Butsudan yang ada dirumah berarti ajaran Buddha begitu dekat dengan keluarga kita. Butsudan menunjukkan kedekatan keluarga kita dengan ajaran Buddha. Sebagai tambahan, Butsudan juga menunjukkan kepada kita hubungan antara Sang Buddha, Nichiren Daishonin, dan keluarga kita, termasuk jiwa leluhur kita, dan menunjukkan Dunia Buddha yang mana termasuk dalamnya Nichiren Daishonin dan para jiwa leluhur kita.

Dan, Butsudan adalah jendela antara Dunia Buddha dan Dunia Saha. Jika kita mempunyai Butsudan dirumah, kita dapat melihat Sang Buddha, Nichiren Daishonin, dan para jiwa leluhur kita, kapan saja kita mau. Ketika duduk didepan Butsudan, kita dapat melihat orangtua kita, leluhur kita, dan jiwa nenek moyang yang tinggal didalam Dunia Buddha, dan kita dapat sepenuhnya mewujudkan welas asih dan maitri karuna dari Sang Buddha.

Bagaimanapun, kita tidak hanya harus percaya ajaran Buddha tidak hanya di kuil saja tetapi juga di rumah. Sebagai wujuk kesungguhan dan penghormatan kepada ajaran Buddha, kita harus meletakkan hati kepercayaan kita kepada ajaran Buddha dalam pelaksanaan sehari-hari. Untuk melaksanakan hati kepercayaan kita sehari-hari, kita membutuhkan Butsudan di rumah untuk dipersembahkan kepada Sang Buddha. Kemudian, saya akan menjelaskan tentang pengertian dari secangkir air bersih, cahaya lilin, dupa, dan bunga. Ketika tangan kita kotor, kita mencucinya dengan air. Air mempunyai kekuatan untuk membersihkan. Ajaran Sang Buddha mempunyai kekuatan yang sama untuk membuat pikiran kita menjadi bersih.

Mempersembahkan secangkir air berarti memuji Sang Buddha dengan air, yang mempunyai kekuatan sama, dan untuk menghilangkan rasa haus dari Sang Buddha. Dan menyalakan lilin, menerangi, menghancurkan kegelapan dan membuat orang menjadi nyaman. Dapat dikatakan bahwa lilin adalah simbol dari Kebijaksanaan Sang Buddha. Ia menerangi dan menghancurkan semua penderitaan. Mempersembahkan dupa berarti memberikan keharuman kepada Sang Buddha dan juga membersihkan diri kita dengan keharumannya. Ini juga dapat dikatakan mempersembahkan dupa adalah simbol dari maitri karuna Sang Buddha. Keharuman dupa menghancurkan segala macam rintangan yang ada. Sebagai tambahan, keduanya cahaya lilin dan keharuman dari dupa menyebar bagaikan penyebaran dari ajaran Sang Buddha. Mempersembahkan bunga berarti memberikan keindahan dan perhiasan kepada Sang Buddha.


Nb.Diterjemahkan oleh Sidin Ekaputra, untuk bahan bimbingan bulan Juli 2004