| BUDDHA
DAN IBLIS ADA
DALAM PIKIRAN MU
Oleh : Sidin Ekaputra,SE
Sang Buddha selalu mengatakan bahwa, "Setiap mahluk hidup akan
mengalami kelahiran, tua, sakit, dan mati." Karena kita lahir
maka kita menderita, tetapi Sang Buddha juga mengatakan bahwa, "Dunia
Saha ini adalah Tanah Suci Buddha yang Abadi." Derita dan bahagia
terkandung dalam kelahiran dan kematian. Tidak semua kelahiran harus
menderita dan tidak juga semua kematian itu membawa penderitaan.
Menderita atau bahagia tergantung bagaimana kita menyikapi kehidupan
dan menjalaninya. Seorang yang kaya dan bergelimbang harta belum
tentu bahagia, demikian pula seorang petani yang sederhana belum
tentu tidak bahagia. Kebahagiaan tidak diukur dari bentuk fisik,
materi, kecantikan, ketenaran, pangkat, status ekonomi dan lain-lain,
tetapi kebahagiaan diukur melalui seberapa jauh kita mampu mengendalikan
pikiran kita sendiri.
Pikiran itu adalah kuda liar yang harus ditaklukkan,
pikiran seperti sebuah peluru yang harus diarahkan. Pikiran yang
tidak terkendali bagaikan pisau yang mampu membunuh pemiliknya.
Seringkali penderitaan itu terasa begitu berat karena ia ada dalam
pikiran kita, bagaikan bola salju yang bergelinding semakin hari
semakin membesar, sehingga sampai akhirnya kita sudah tidak sanggup
lagi menerimanya. Inilah sebabnya pada saat sekarang ini banyak
orang yang menderita karena pikiran seperti penyakit stress, stroke,
darah tinggi, jantung, dan lain-lain. Manusia harus mampu mengalahkan
pikirannya sendiri, seperti kata pepatah bahwa, "Musuh yang
paling kuat adalah diri sendiri." Orang yang mampu menjadi
tuan dari dirinya adalah orang yang bijaksana, mampu bersikap dan
melihat segala sesuatu dengan penuh ketenangan dan kedamaian.
Saya ada sebuah cerita yang sangat menarik untuk
kita simak. Pada suatu masa yang jauh, dinegeri China terdapat seseorang
peramal yang sangat terkenal, ia setiap hari memberikan jasa untuk
meramal orang-orang tentang segala peruntungan, rejeki, jodoh dan
keluarga. Peramal ini mendapat sebuah julukan yang sangat aneh yaitu
Peramal Yang Menangis. Beliau seorang wanita yang telah lanjut usia,
mendapatkan julukan demikian tentu saja ada sebabnya. Hampir setiap
hari orang-orang melihat Ia menangis. Jika hari tidak hujan ia akan
menangis tersedu-sedu, demikian juga jika hari hujan, ia juga menangis
menatapi nasib. Sungguh aneh. Orang-orang sungguh bingung melihat
kelakuannya, karena itu setiap hari ia terus menangis. Pada suatu
hari seorang pedagang dari negeri lain melewati kuil tempat nenek
tua tersebut berdiam. Seperti halnya orang lain, Ia juga melihat
nenek tua itu sedang sedih dan menangis melihat orang-orang yang
hilir mudik melewati kuil tersebut. Pedagang itu pun mampir ke kuil
itu selain ingin mengetahui peruntungan dirinya juga ingin mengetahui
kenapa nenek tua ini terus menangis. Ia pun bertanya kepada nenek
tua itu, " Nek, apa yang membuat nenek begitu sedih dan terus
menangis?" Nenek tua itu memandang dirinya sekilas, dan berkata
dengan nada sedih, "Saya mempunyai dua orang anak perempuan.
Yang sulung menjual sepatu, dan yang muda menjual payung."
"Jika cuaca baik atau tidak hujan, saya sedih sekali karena
memikirkan anak yang menjual payung. Payungnya pasti tidak laku,
dan jika hujan turun, yang sulung pasti akan gagal karena sepatunya
tidak laku. Orang-orang tidak akan ketoko jika hujan." "Karena
itu saya sangat sedih memikirkan nasib kedua anak perempuan saya."
lanjut nenek tua itu sambil terisak sedih.
Pedagang itu tersenyum mendengarkan kata-kata dan
alasan kenapa nenek itu bersedih. Ia berpikir sejenak, dan kemudian
berkata kepada nenek tua itu. "Nek, coba nenek pikirkan apa
yang akan saya katakan berikut ini. Jika cuaca sedang baik, maka
pasti putri sulung nenek akan berhasil menjual sepatunya, dan begitu
juga jika hujan turun, anak perempuan nenek yang muda pasti akan
laku payungnya." "Bukankah, ini sebuah keberuntungan,
bahwa di kedua cuaca itu, anak perempuan nenek mendapatkan keuntungan?"
Nenek tua itu termenung sebentar, memikirkan kata-kata pedagang
itu, kemudian raut wajahnya berubah cerah dan ia pun tertawa dan
tersenyum. Sejak saat itu Ia tidak pernah lagi bersedih dan menangis,
baik ketika musim hujan maupun musim panas.
Cerita diatas mengajarkan kita bahwa sebuah persoalan
yang sama akan berbeda akibatnya, jika kita mau merubah cara kita
memandangnya. Nenek tua itu terus menangis karena selalu memikirkan
hal-hal yang buruk atau negatif tentang keadaan anak perempuannya,
sehingga ia melupakan sisi positifnya. Ketika ia merubah cara pandangnya
dan melihat bahwa tidak ada hal yang rugi atau menyedihkan, maka
perasaan jiwanya pun berubah menjadi gembira. Bukankah ia mendapatkan
keberuntungan yang luar biasa, bahwa kedua anak perempuannya bisa
memperoleh keuntungan dalam cuaca apapun juga. Sesuatu itu menyenangkan
atau tidak tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Jika kita
bisa mengendalikan pikiran kita kearah yang positif maka segala
sesuatunya terasa lebih indah, demikian pula sebaliknya. Satu hal
yang pasti bahwa kita harus menjadi Tuan dari Pikiran sendiri, bukan
sebagai Budak dari pikiran itu. Buddha dan Iblis itu ada dalam pikiran
kita. Ketika kita sadar, maka kita adalah Buddha, demikian pula
jika kita tergoda hawa nafsu maka kita adalah Iblis itu sendiri.
Mengendalikan pikiran itu bukanlah sesuatu yang
mudah, sejak dari kecil kita biasa di ajarkan untuk selalu mengikuti
apa yang dipikirkan dan diinginkan. Pikiran kita selalu dikendalikan
oleh keinginan nafsu. Selama kita belum mampu menjadi Tuan dari
Pikiran, maka kita selalu dihantui oleh penderitaan dan keterikatan.
Sang Buddha mengatakan dalam Saddharma Pundarika Sutra bahwa, "Sutra
ini adalah obat yang manjur untuk menghancurkan segala kesesatan
dan penderitaan kita." Dan juga dalam Bab.II, dikatakan bahwa,
"Semua mahluk hidup mempunyai jiwa Buddha karenanya mempunyai
potensi untuk mencapai Kesadaran Buddha." Nichiren Daishonin,
guru kita dengan penuh welas asih meramu "Obat yang manjur"
Saddharma Pundarika Sutra ini dalam tujuh aksara "Namu Myoho
Renge Kyo". Apa yang harus saya lakukan agar dapat menjadi
Tuan Dari Pikiran ? ini sebuah pertanyaan yang bagus, keinginan
harus muncul dari dalam diri kita untuk mau keluar dari segala penderitaan.
Dalam Nichiren Shu, cara yang mudah agar dapat meraih kebahagiaan
mutlak dan menjadi diri sendiri adalah melalui penyebutan Odaimoku
"Namu Myoho Renge Kyo".
Ambillah obat ini dan minum bersama air hati kepercayaan,
maka segala penyakit dalam jiwa kita akan sirna bagaikan embun pagi
yang lenyap karena sinar matahari.
Hawa nafsu tidak mungkin dimusnahkan, tetapi bisa
dikendalikan. Tanpa hawa nafsu, mungkin kita tidak dapat disebut
manusia, namun manusia yang terbelenggu oleh hawa nafsu, juga tidak
pantas disebut manusia. Prinsip Jalan Tengah yang harus kita laksanakan.
Tidak membuang dan Tidak Terbelenggu. Odaimoku, mampu memunculkan
potensi KeBuddhaan yang terpendam dalam diri kita, sehingga kualitas
Jiwa kita akan meningkat. Odaimoku itu bagaikan air jernih yang
dimasukkan kedalam sebuah botol yang kotor, maka kotoran dalam botol
itu akan terkikis sedikit demi sedikit menjadi bersih. Sebutlah
Odaimoku dengan penuh keyakinan, sebutlah dengan Badan, Hati dan
Pikiran. Laksanakanlah ajaran Buddha dengan sebaik mungkin dalam
kehidupan sehari-hari, teori tanpa pelaksanaan bukanlah ajaran Buddha.
Semoga Semua Mahluk Berbahagia. SELESAI.
|