ALASAN SEBUAH KELAHIRAN
Oleh: YM.Bhiksu Shokai Kanai
(Kepala Kuil Nichiren Buddhist LA, USA)

 

Kamu mungkin pernah bertanya, “Kenapa saya dilahirkan?”, “Dari mana saya datang sebelumnya ?”, “Apa yang menjadi tujuan hidup saya ?”

Suatu hari, ketika sekolah minggu, anak-anak berkunjung ke sebuah rumah jompo di Kota Salt Lake, Utah. Salah seorang anak, terkejut melihat begitu banyak orang-orang lanjut usia yang diduduk diatas kursi roda atau sedang berjalan kaki. Anak tersebut telah masuk kesebuah lingkungan dimana ia belum pernah melihat begitu banyak orang-orang yang sudah lanjut usia (jompo). Orang-orang lanjut usia itu baik wanita maupun pria, matanya telah berkeriput, melorot dan berair, otot mereka telah kendur, dan mulut mereka ompong, dan mereka tidak dapat berbicara banyak. Malam itu ia bermimpi buruk.

Pendiri Buddhisme mempunyai pengalaman yang sama. Ketika Sidharta Gautama lahir, ayahnya memanggil seorang petapa untuk meramalkan masa depan anaknya. Petapa bijaksana itu berkata terdapat dua jalan yang terbuka dihadapan anaknya, pertama Ia akan menjadi seorang Raja yang perkasa, bijaksana dan menguasai seluruh India; atau kedua, Ia meninggalkan istana ini dan menjadi seorang Yang Dimuliakan, Buddha.

Agar anaknya tidak menjadi seorang Buddha, ayahnya melindungi anaknya dengan memberikan segala kesenangan dan hiburan, kemewahan dan hanya berteman dengan orang-orang muda, cantik, teman-teman yang baik dan menjauhkan dia dari segala kesusahan dan kesedihan. Sehingga sang pangeran tumbuh menjadi dewasa dalam lingkungan yang begitu nyaman didalam istana dan tanpa sekalipun pernah keluar dari dinding istana.

Pada suatu hari, ketika pangeran telah berusia 20 tahun, Ia akhirnya diijinkan keluar dari istana dan menemui rakyatnya. Disini, ia melihat tiga hal atau penderitaan; seorang yang sedang sakit, orang lanjut usia, dan sebuah upacara kematian. Semua ini sebelumnya belum pernah Ia lihat seumur hidup. Pangeran heran mengapa mereka harus menderita, dan bagaimana jalan keluar dari segala penderitaan ini, umur tua, penyakit dan kematian.

Pertanyaan-pertanyaan ini terus menghantui dan menganggu pikirannya. Hanya satu jalan untuk menemukan jawaban terhadap pertanyaan itu, ia harus meninggalkan hidupnya dan menjadi seorang petapa. Sehingga, akhirnya Ia meninggalkan anak dan istri yang dicintainya, dan juga kedua orangtuanya untuk menjalani hidup sebagai seorang petapa. Setelah enam tahun melaksanakan petapaan yang keras, menyiksa badan dan nafsu, pada akhirnya Ia mencapai Penerangan dan menjadi Buddha.

Apa yang Ia temukan adalah Nirvana, sebuah jalan untuk menghentikan lingkaran kelahiran dan kematian. Sekali kita dilahirkan, kita adalah bagian dari menjadi tua dan mati. Jika kamu tidak dilahirkan, kita tidak akan pernah tua dan mati.

Apakah kamu ingin dilahirkan atau tidak, selama kamu masih mempunyai karma, kamu akan selalu lahir dalam lingkaran kelahiran di enam dunia seperti neraka, keserakahan, binatang, kemarahan, manusia dan surga. Masing-masing kelahiran harus kita tingkatkan sampai mencapai Nirvana; bagaimanapun, kita akan terus mengalami kelahiran kembali berulang kali. Keadaan pikiran kita kadang-kadang meningkat tetapi juga kadang-kadang merosot tergantung keadaan sehari-hari apa yang kita lakukan, pikirkan, dan berbicara.

Dalam “Yokuryoshu”, Saddharma Pundarika Sutra dikatakan:
“Para Buddha muncul didunia ini adalah untuk membuka pintu untuk masuk dalam pengeritan yang mendalam dari Buddha, dan menyebabkan kita semua mencapai kesucian dalam diri, untuk memperlihatkan pengertian yang mendalam Buddha terhadap semua mahluk hidup, menunjukkan bahwa semua mahluk hidup dapat memasuki jalan untuk mencapai pengertian Sang Buddha.”

Inilah alasan utama kenapa Buddha Sakyamuni lahir dan muncul ke dunia ini adalah untuk membabarkan EMPAT PENGERTIAN MENDALAM dari Buddha tersebut diatas. Alasan kenapa kita harus lahir adalah untuk meningkatkan karma-karma kita dan meningkatkan gaya kehidupan kita secara mental, spritual dan fisik. Kita hidup untuk memenuhi tugas ini dari generasi ke generasi. Sehingga keturunan dari kita akan menjadi lebih baik. Ketika kita merayakan kelahiran Sang Buddha Sakyamuni, marilah kita ingat akan tujuan kelahiran Beliau dan juga berpikir tentang tujuan hidup kita sendiri di dunia ini. SELESAI

Hidup adalah waktu yang singkat,
Kemarin kita terasa baru dilahirkan,
Hari ini kita telah ditemani oleh penyakit, dan ketuaan
Lusa kita tidak menyadari, bahwa kita telah mendekati ajal

Apakah kita mengingat apa yang kita lakukan kemarin?
Apakah kita memikirkaan apa yang akan kita lakukan hari ini?
Apakah kita menyadari apa yang akan kita buat besok?

Waktu dan hidup itu singkat, bagaikan hembusan angin
Sadarilah waktu mu itu sangat sedikit, dan terbatas
Capai dan buatlah kebajikan dalam hidup
Hidup dan Waktu akan tersenyum untukmu

(Oleh:Sidin Ekaputra)