|
Aku
Menghormati Mu
Oleh YM.Bhiksuni Myosho Obata
“Aku Menghormat Mu,” Ini adalah bagian kalimat dari
Saddharma Pundarika Sutra, Bab.XX Bodhisattva Sadaparibhuta.
Sebelum saya memberikan ceramah
tentang hal itu, Saya ingin mengjelaskan tentang Shobo, Zobo, dan
Mappo, adalah Tiga Jangka Waktu atau priode dari ajaran Buddha yang
membahas sekitar pandangan tentang kemunculan seorang Buddha dalam
dunia.
Shobo adalah Hukum Yang Benar,
ini adalah waktu atau periode pertama dari Buddha Dharma, dimana
dalam periode ini ajaran Buddha, pelaksanaan dan pencapaian Penerangan
dapat dengan mudah terwujud. Menurut pandangan dari Nichiren Shonin,
periode ini berlangsung selama 1000 tahun.
Zobo adalah Hukum Yang Palsu.
Pada jaman ini, dimana ajaran dan pelaksanaan masih ada, tetapi
Penerangan Sesungguhnya sangat sulit tercapai. Hanya sedikit yang
mampu mencapai tingkatan tersebut. Dimana ajaran pada periode ini
sepertinya menyerupai Dharma Yang Benar, tetapi sesungguhnya hanya
kulitnya saja atau kebohongan semata. Periode ini juga berlangsung
selama 1000 tahun.
Mappo adalah Masa Akhir Dharma.
Pada jaman ini, dimana ajaran masih ada, tetapi hanya sedikit yang
melaksanakan dan tidak ada Pencapaian Penerangan. Mappo dapat diartikan
sebagai Masa Akhir Dharma. Nichiren Shonin selalu mengingatkan kita
bahwa ketiga masa itu adalah waktu pemanenan dan masa untuk memberikan
persembahan bagi kebaikan yang kita peroleh dari masa lalu. Periode
ini akan berlangsung selama 10.000 tahun atau lebih. Masyarakat
modern menyebutnya Periode Mappo.
Hari ini, Aku akan memberikan
ceramah tentang Bodhisattva Sadaparibhuta Buddha Sakyamuni mengajarkan
kepada kita bahwa pikiran kita secara terus menerus selalu berubah-ubah,
dan ini mencakup kedua-duanya baik sunyata maupun nyata. Inilah
alasan, Beliau membabarkan ajaran kenapa kita meletakkan dasar untuk
membahagiakan orang lain melalui pelaksanaan dari cinta kasih, simpati
terhadap penderitaan orang lain, memberikan manfaat kepada orang
lain, berdoa untuk kebahagiaan orang lain dan menyelamatkan orang
lain. Bagaimana cara agar orang-orang dapat melihat Sang Buddha
setelah kemoksaanNya ? Saddharma Pundarika Sutra memberikan jawaban
atas pertanyaan ini. Keunikan dari Saddharma Pundarika Sutra adalah
ia dibabarkan khusus untuk masa setelah kemoksaan Sang Buddha. Pada
Bab XX Saddharma Pundarika Sutra, yakni Bab Bodhisattva Sadaparibhuta,
memberikan gambaran cerita tentang seorang Bodhisattva.
Pada masa lampau yang jauh,
hiduplah seorang Buddha yang disebut Bhismagargitasuararaca, Yang
Maha Sempurna. Selama masa Zobo, millennium kedua setelah kemoksaan
Sang Buddha, para Bhiksu/ni sombong menjadi kuat dan berpengaruh.
Kemudian muncullah seorang Bodhisattva yang disebut Bodhisattva
Sadaparibhuta.
Kapan saja, jika Bodhisattva
ini bertemu dengan orang-orang, Ia akan memuja mereka dengan perkataan,
“Aku sungguh menghormati mu. Aku tidak berani meremehkan mu.
Kenapa ? karena pada suatu masa setelah kamu melaksanakan jalan
kebodhisattvaan dan akan menjadi Buddha.” Tanpa belajar sutra
apapun, Bodhisattva Sadaparibhuta hanya menghormati orang lain,
membungkuk kearah mereka, dan berdoa kepada mereka. Orang-orang
menjadi marah dan mengatakan bahwa ia seorang pendusta, karena memberikan
jaminan palsu tentang pencapaian Kebuddhaan mereka. Beberapa diantara
mereka memukul dengan tongkat dan melemparkan batu kepadanya, tetapi
Boddhisattva Sadaparibhuta tidak menghindar dan terus mengulangi
perkataannya, beliau terus menghormati dan berdoa. Ketika Bodhisattva
Sadaparibhuta itu meninggal dunia, Ia mendengarkan suara dari langit
yang membabarkan Saddharma Pundarika Sutra dan segera badan dan
pikirannya menjadi suci. Sebagai hasilnya ia diperpanjang umurnya
sampai waktu yang tak terhingga dan mengajarkan sutra kepada orang
lain. Berterima kasih atas ajarannya, beberapa bhiksu/ni yang sombong
yang sebelumnya telah menganiayai beliau, datang dan percaya kepada
Saddharma Pundarika Sutra. Dan kemudian Sang Buddha Sakyamuni berkata
kepada Bodhisattva Mahastanaprapta. Bagaimana pendapatmu ? Bodhisattva
Sadaparibhuta pada masa itu tidak lain adalah diriKu sendiri. Jika
Aku tidak menerima, membaca atau memelihara Sutra ini serta membabarkan
Sutra itu kepada orang lain dalam kehidupan masa lampauKu, Maka
Aku tidak akan mencapai Anukutara-sammyaku-sambodai, Penerangan
Agung dengan segera. Karena Aku telah menerima, membaca, memelihara
Sutra ini, dan membabarkannya kepada orang lain dibawah para Buddha
masa lampau, Aku mencapai Anukatara-sammyaku-sambodai.
Cerita dari Boddhisattva
Sadaparibhuta ini menunjukkan kepada kita semangat dari hormat menghormati
sesama mahluk hidup. Selanjutnya, Nichiren Shonin yang dikenal sebagai
pelaksana Saddharma Pundarika Sutra, karena ia mengikuti contoh
dari Bodhisattva Sadaparibhuta dan akhirnya mendapatkan banyak penganiayaan
sebagaimana yang dibabarkan dalam Saddharma Pundarika Sutra. Sejarah
manusia selalu berusaha mencari seorang manusia yang ideal dan masyarakat
yang ideal. Dalam masyarakat seperti apapun kita tinggal, saya berpikir
bahwa kita tidak akan dapat melakukan hal itu tanpa kita saling
menghormati satu sama lainnya. Selesai. |