Tiga Tanda Keberadaan Alam Semesta

Suatu tanda atau corak merupakan suatu fakta yang memberitahukan kita adanya bentuk asli suatu benda. Sedangkan suatu fakta adakalanya dihubungkan dengan benda tertentu, tetapi adakalanya tidak ada hubungan dengan benda apapun, sehingga hal itu bukan merupakan suatu tanda yang akan membantu kita dalam memahami bentuk asli suatu benda.

Sebagai contoh panas adalah fakta. Panas bukanlah suatu tanda dari air karena air tidak selalu panas dan panasnya air tergantung kepada faktor lainnya, seperti matahari dan kompor gas. Tetapi panas merupakan tanda dari api, karena api selalu identik dengan panas, dan panas dari api tidak tergantung faktor lainnya. Panas selalu dihubungkan dengan api yang memberitahukan kita adanya sumber api.

Pada saat Sang Buddha mengajarkan adanya tiga tanda keberadaan alam semesta, maka hal tersebut pada umumnya ditemukan pada semua hal yang ada dimana mengisyaratkan bentuk asli keberadaan benda tersebut. Tiga tanda atau corak keberadaan yang diajarkan oleh Sang Buddha adalah Ketidak-kekalan, Penderitaan dan Ketanpa-intian / Ketanpa-akuan.

1. Ketidak-kekalan [Anitya-laksana/Anicca-lakkhana]

Sang Buddha bersabda : " Segala sesuatu yang berkondisi tidak kekal adanya. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat ini; maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian." (Dhammapada , 277).

Sang Buddha mengajarkan, bahwa setiap keberadaan adalah tidak kekal karena tidak ada sesuatu baik itu internal ataupan eksternal yang kekal, stabil, tidak habis, membusuk, hancur, dan selalu sama. Segala sesuatu senantiasa berubah. Keberadaan seperti aliran air sungai atau nyala api lilin yang mana tidak pernah selalu sama alirannya atau nyalanya. Kita akan menyadari bahwa nyala api lilin itu timbul hanya sementara saja yang mana merupakan bentuk materi yang tidak kekal adanya. Dalam nyala api tersebut kita dapat mengamati adanya lima fenomena yang berkaitan dengan ketidak-kekalan yaitu, lahir (muncul), tumbuh, berlangsung, lapuk dan mati (padam).

Contoh lainnya tubuh kita terdiri dari daging, tulang, dan darah yang mana tidak pernah kekal. Dari sejak kita dilahirkan, tubuh selalu mengalami perubahan. Demikian juga dengan tubuh manusia tergantung dari berbagai faktor dan selalu berubah. Baik tubuh maupun pikiran adalah tidak kekal dan senantiasa berubah. Ilmu pengetahuan menyatakan bahwa benda-benda yang kelihatan tetap seperti lautan, kepulauan, pegunungan bahkan bumi, matahari, dan yang terakhir ditemukan oleh para para ilmuwan UCLA tentang sekilas bintang raksasa yang paling terang dan paling besar cahayanya di alam semesta, yang mengeluarkan energi 10 juta kali dari matahari dan 200 kali lebih besar dari matahari (dinamakan Bintang Pistol), terus mengalami perubahan hingga suatu hari akan musnah (Suara Pembaruan, tgl 8 Oktober 1997). Benda-benda tersebut yang menurut kita kekal juga akan musnah, sehingga tidaklah diragukan adanya ketidak-kekalan dalam kehidupan ini. Kehidupan dapat berakhir setiap saat. Tidak ada seorangpun yang dapat menghindari kematian dan kehancuran tubuh ini. Perubahan-perubahan yang terjadi tersebut berlangsung secara perlahan-lahan tanpa dapat disadari [Annathabhava]. Perubahan yang radikal juga dapat terjadi di alam semesta ini dimana suatu keberadaan tiba-tiba telah tiada misalnya musnahnya binatang-binatang purba [Viparinama].

Pengertian tentang tanda ketidak-kekalan menguntungkan manusia ditinjau dari dua faktor. Pertama, akan meningkatkan kegiatan dan hubungan antar manusia. Kedua, akan mendorong manusia untuk mengikuti Delapan Ruas Jalan Kemuliaan. Adakalanya manusia menyadari kesalahan mereka dalam hubungan dengan sesama, disebabkan kegagalannya dalam memperhitungkan faktor perubahan yang terjadi pada dirinya dan temannya. Sering suatu persahabatan berakhir karena salah satu pihak gagal menyadari adanya perubahan dalam pribadi, kesukaan dan tingkah laku temannya. Jika kita menyadari manusia dan setiap situasi adalah tidak kekal adanya dan selalu berubah, maka akan timbul saling memahami diri masing-masing sehingga akan terjadi hubungan persahabatan yang baik.

Perbedaan Dua Sahabat Berubah Menjadi Persamaan

Terdapat sebuah kisah tentang dua orang bersahabat yang bernama Ayin dan Ayang. Mereka berdua adalah orang yang saleh, berjiwa besar, dan penuh cinta kasih. Ayin mempunyai agama atau kepercayaan yang berbeda dengan Ayang. Walaupun begitu mereka secara teratur bertemu untuk mendiskusikan keyakinan mereka, dengan tujuan mencari suatu persamaan yang mereka tidak ketahui namanya.

Meskipun mereka saling menghormati dan mengajukan argumentasi dengan penuh sopan santun, namun pada setiap akhir pertemuan, mereka tidak pernah merasa puas. Segala cara dan metode diskusi yang diketahui telah mereka tempuh tapi tetap tidak menghasilkan apa-apa. Sampai mereka merasa putus asa, mereka mulai kehilangan kendali diri, dalam hati masing-masing mulai muncul perasaan "lebih unggul". Akhirnya tercetus kata-kata Ayin, "Ah, seandainya engkau adalah aku, tentu akan bisa memahami apa yang ingin kusampaikan, dan diskusi ini akan dapat membawa kita lebih mengerti 'sesuatu' itu." Ayang menimpali, "Hei, aku juga berpikir begitu. Tapi bagaimana cara kita bisa saling tukar diri kita masing-masing?"

Karena memang mereka tidak dapat saling tukar diri, maka tak lama kemudian mereka menemukan pemecahan yang disetujui paling tepat. Diputuskan, Ayin akan mempelajari agama atau kepercayaan Ayang dan Ayang akan mempelajari agama atau kepercayaan Ayin. Karena mereka memang menginginkan hasil terbaik dan terbenar, maka mereka berikrar akan mempelajari dengan sepenuh hati, berusaha memahami dengan hati terbuka, tidak malah mencari-cari titik kelemahan yang akan digunakan untuk menyerang lawannya. Akhirnya mereka berikrar, setelah 40 tahun mereka akan bertemu lagi untuk saling berdebat sampai ada yang mengaku kalah.

Konon cerita, 40 tahun kemudian, Ayin dan Ayang yang telah sama-sama tua, memenuhi ikrar mereka untuk saling bertemu pada senja hari di tempat terakhir mereka bertemu. Mereka saling berpandangan, tak sepatah kata pun yang terucapkan. Sinar mata mereka penuh kasih yang menghanyutkan sukma, senyum mereka begitu halus dan tulus. Mereka saling memeluk. Resonansi getaran jiwa mereka pada angin yang membelai, pada daun-daun yang berbisik, dalam seluruh relung ruang di jagad raya ini: "Saudaraku, kau selalu di dalam diriku, dan aku selalu di dalam dirimu ." Sejak saat itu tak ada lagi diskusi, karena dalam pelukan itu mereka mengerti tanpa mengetahui dan mendapatkan tanpa mencari.

Keberhasilan dalam hidup ini tergantung pada kemampuan kita beradaptasi terhadap perubahan yang timbul dalam setiap situasi dan menjadikannya suatu kesempatan yang terbaru. Dengan memahami bahwa usia muda, kesehatan, kekayaan dan bahkan hidup kita sendiri adalah tidak kekal adanya, maka kita seharusnya dapat memanfaatkan keadaan yang ada sebaik mungkin sebelum semuanya berakhir. Ini berarti kita harus mempraktekkan Delapan Ruas Jalan Kemuliaan untuk mencapai kebahagiaan dan Pencerahan. Sabda Sang Buddha yang terakhir, "Semuanya senantiasa berubah, berjuanglah dengan kerja keras."

2. Penderitaan [Duhkha-Laksana/ Dukkha-Lakkhana]

Sang Buddha bersabda : " Segala sesuatu yang berkondisi adalah menderita. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian." (Dhammapada, 278).

Kesunyataan Mulia tentang adanya penderitaan adalah merupakan hal yang pertama dari Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha. Penderitaan merupakan kenyataan hidup, dimana selalu dialami oleh setiap orang dan merupakan salah satu tanda keberadaan.

Segala sesuatu yang tidak kekal juga mengalami penderitaan. Apa yang timbul hanya bersifat sementara, dimana akan rusak dan akhirnya mati. Kelahiran dan kematian yang berulang-kali merupakan suatu beban yang menyiksa, dimana mempengaruhi pikiran dan rasa tenteram kita sehingga merupakan penyebab penderitaan.

Dengan demikian, umur tua, sakit, dan kematian adalah kejadian ketidak-kekalan hidup yang merupakan bentuk dari penderitaan. Karena manusia sangat peduli terhadap usia muda, kesehatan, hubungan dan pemenuhan material dengan tanpa menyadari adanya ketidak-kekalan akan menyebabkan kekhawatiran dan ketakutan. Disebutkan dalam sutra, bahwa para dewa sampai bergetar kebimbangan waktu Sang Buddha mengingatkan bahwa surga juga tidak kekal adanya.

Apabila kita perinci secara detail maka akan terdapat 12 jenis penderitaan dimana masing-masing memiliki namanya sendiri yang dikaitkan dengan penyebab penderitaan yang ditimbulkannya, yaitu

  1. Penderitaan dari kelahiran [jati-dukkha]
  2. Penderitaan dari ketuaan [jara-dukkha]
  3. Penderitaan dari kesakitan [byadhi-dukkha]
  4. Penderitaan dari kematian [marana-dukkha]
  5. Penderitaan dari kesedihan [soka-dukkha]
  6. Penderitaan dari ratap tangis [parideva-dukkha]
  7. Penderitaan dari jasmani [Kayika-dukkha]
  8. Penderitaan dari batin [domanassa-dukkha]
  9. Penderitaan dari putus asa [upayasa-dukkha]
  10. Penderitaan karena berkumpul dengan orang yang tidak disenangi [appiyehisampayoga-dukkha]
  11. Penderitaan karena terpisah dengan sesuatu yang dicintai [Piyehippayoga-dukkha]
  12. Penderitaan karena tidak tercapai apa yang dicita-citakan [yampicchannalabhi-dukkha]

Diantara kedua-belas jenis penderitaan tersebut maka penderitaan atas kelahiran, kelapukan atau ketuaan, dan kematian adalah yang paling penting harus kita sadari. Menyadari bahwa penderitaan tersebut bersifat universal dan tidak dapat dihindari, maka akan menyebabkan seseorang lebih tenang dalam menghadapi kenyataan hidup, sehingga akan mampu menghadapi umur tua, sakit dan mati tanpa merasa ada beban dan kecewa. Hal ini juga mendorong manusia untuk mengatasi masalah penderitaan sebagaimana yang dialami oleh Pangeran Siddharta.

 

Adakalanya pada saat kita sedang berkonsentrasi terhadap sesuatu maka segala penderitaan dapat kita lupakan, apalagi pada saat sedang bersenang. Tetapi fenomena tersebut tidaklah langgeng adanya, dimana sesudah konsentrasi tersebut hilang atau kesenangan telah berlalu, maka kitapun mengingat kembali semua penderitaan yang kita alami.

 

Penderitaan Nenek Kacang

 

Dahulu terdapat seorang nenek yang sejak kecil hidupnya sudah menderita sekali karena hidupnya sebatang kara tanpa ada sanak dan famili. Nenek ini terkenal dengan sebutan Lo-pakme pengulit kacang atau nenek tua pengulit kacang, karena tugasnya menguliti kacang sebagai penghidupannya . Lo-pakme pengulit kacang walaupun buta huruf tetapi tetap senang menghormati Buddha dan Bodhisattva di vihara dan banyak berbuat amal. Dia tidak bisa menghafal berbagai sutra yang menurutnya rumit sekali, sehingga hanya ada satu mantra yang selalu dihafalnya yaitu mantra "Om Mani Padme Hum" yang dilafalnya sebagai "Hung Mami Pana Hung".

 

Begitu senangnya Lo-pakme terhadap mantra tersebut sehingga setiap kali menguliti kacang, dia melafal mantra tersebut dengan senang, melupakan segala penderitaan hidup yang dialaminya. Setelah lebih dari 40 tahun melafal mantra tersebut secara salah tanpa ada yang membetulkan lafalannya tersebut, sampai hal tersebut mengetuk hati para Bodhisattva, hingga suatu hari, diciptakanlah suatu keajaiban, dimana setiap kali Lo-pakme menyebutkan sekali "Hung Mami Pana Hung", maka kacang yang belum dikuliti akan loncat ke keranjang lainnya dengan kulit yang telah dibuang. Hal ini makin membuat Lo-pakme senang akan mantranya dan segala penderitaan hidupnyapun sudah tidak diingat lagi, yang diingat hanya menguliti kacang sambil membaca "Hung Mami Pana Hung".

 

Sampai suatu hari datanglah seorang bhikshu muda pengembara yang melewati rumah tempat tinggal sang Lo-pakme. Mendengar Lo-pakme tersebut membaca mantra yang salah, maka bhikshu muda tersebut berbaik hati untuk membetulkannya dengan berkata, "A-pho (Nenek), mantra yang A-pho baca itu salah, seharusnya 'Om Mani Padme Hum'......, dengan nada belakang agak panjang, ....Hummmmm.........., dan mulutnya ditutup....Hummmmmmm......."

 

Lo-pakme yang sangat menghormati Buddha, tentunya senang ada bhikshu yang mengajarinya, dan baru sadar bahwa selama ini dia telah menglafal mantra yang salah, maka setelah beberapa kali melakukan lafalan sebagaimana yang diajarkan bhikshu muda tersebut, akhirnya lafalan tersebutpun telah menjadi benar kembali, sebagai "Om Mani Padme Hummm.....", tentunya dengan nada belakang yang agak panjang sambil mulut ditutup.

Keesokan harinya, sesudah menjamu bhikshu muda tersebut sarapan pagi karena diajak untuk menginap dan setelah bhikshu muda tersebut meninggalkan tempatnya sambil sekali lagi mengingatkan Lo-pakme untuk melafal mantra secara benar, khususnya penutupan mulut pada saat 'Hummmm......' . Kemudian Lo-pakme sudah siap dengan mantra barunya untuk menguliti kacang, diapun melafal, "Om Mani Padme Hummmmm....", sambil menutup mulut pada suara mantra terakhir. Tetapi kacang tidak melompat sama sekali...., tidak percaya akan penglihatannya, diapun mengulangi kembali sampai beberapa kali, tetap saja tidak terjadi keajaiban kacang yang terkuliti sendiri dan melompat. Akhirnya Lo-pakme menyerah dan pasrah serta memilih untuk melafal mantra yang benar saja karena menghormati nasehat bhikshu muda, dan memulai dari awal lagi menguliti kacang dengan tangannya yang sudah makin bertambah keriput.

 

3. Ketanpa-intian/Ketanpa-akuan [Anatman-laksana/ Anatta-lakkhana]

 

Sang Buddha bersabda: " Segala sesuatu yang berkondisi adalah tanpa inti. Apabila dengan kebijaksanaan orang dapat melihat hal ini, maka ia akan merasa jemu dengan penderitaan. Inilah Jalan yang membawa pada kesucian." (Dhammapada , 279).

 

Kita selalu berpikir bahwa kita mempunyai kepribadian atau diri yang nyata dan kekal, sehingga seseorang dapat hidup dengan mengalami berbagai pengalaman hidup. Tetapi Sang Buddha mengajarkan bahwa tidak ada yang nyata, kekal dan kepribadian yang bebas atau sifat diri atau inti dari segala sesuatu. Ini merupakan tanda keberadaan ketiga.

 

Jika kekekalan dan kebebasan diri benar ada, seseorang seharusnya dapat mengidentifikasikannya. Ada orang yang menyatakan bahwa tubuh adalah diri, atau pikiran adalah diri. Tetapi kedua pernyataan tersebut salah adanya. Baik tubuh maupun pikiran tidaklah kekal, selalu berubah dan akan musnah, dimana tergantung banyak faktor untuk keberadaannya. Tidak ada tubuh ataupun pikiran yang kekal dan bebas adanya.

 

Seandainya tubuh adalah diri, maka dia akan mampu mengendalikan dirinya sendiri untuk menjadi perkasa atau adil. Tetapi tubuh cepat lelah, lapar dan sakit terhadap kebutuhannya, sehingga tubuh tidak dapat menjadi pribadi atau diri tersebut. Demikian juga, seandainya pikiran adalah diri, maka dia akan berbuat apa yang diinginkannya. Tetapi pikiran selalu menghindari apa yang ia tahu benar, dan berbuat apa yang ia tahu salah. Sehingga menjadi terganggu, tertarik dan bangga atas keinginannya. Oleh karena itu pikiran juga bukan merupakan diri tersebut.

 

Anggota Tubuh Yang Egois

 

Suatu waktu seluruh anggota tubuh merasa benci terhadap perut. Mereka semua iri karena mereka selalu harus bekerja keras mempersiapkan makanan dan membawanya sampai ke perut, sementara perut sendiri tidak pernah berbuat lain kecuali mencerna hasil jerih payah pekerjaan mereka.

 

Sehingga mereka mengambil keputusan untuk melakukan demonstrasi dengan mogok membawa makanan ke perut. Pikiran tidak mau memikirkan untuk makan, anggota tangan tidak mau mengambil makanan ke mulut, gigi tidak mau mengunyah, dan tenggorakan tidak mau menelan, itulah kesepakatan mereka. Hal ini, menurut mereka akan memaksa perut untuk bekerja bagi dirinya sendiri tanpa harus tergantung sama mereka.

 

Tetapi hasil keputusan tersebut menghasilkan pikiran yang lemah, tubuh yang lesuh, tidak bersemangat hingga hampir membuat mereka berada dalam garis kematian. Akhirnya dengan lemah, mereka baru menyadari kesalahan keputusan mereka, dimana mereka sadar bahwa tubuh ini tidaklah murni berdiri sendiri adanya, dimana perasaan ke-aku-an hanya akan menyebabkan penderitaan, dan satu sama lain seharusnya saling bergantungan.

 

Ketika orang mengatakan, misalnya, "Aku punya mobil", maka orang tersebut menggunakan kata diri yang sangat menyenangkan yaitu, `Aku' untuk menunjukkan faktor jiwa dan fisiknya. Pada kenyataannya, tidak ada sifat `Aku' atau `diri'. Sejauh orang memikirkan, bahwa diri adalah kekal dan bebas, maka dia akan terikat pada dirinya dan sifat keakuannya. Tidak saja dia akan merasa selalu dipersulit oleh orang lain dan situasi, tetapi dia juga akan merasa dipaksa untuk melindungi dirinya sendiri, harta bendanya, bahkan opininya dengan segala daya upaya.

 

Apabila orang telah menyadari, bahwa diri hanyalah suatu nama yang menyenangkan untuk menampung segala faktor perubahan jiwa dan fisik, maka dia tidak akan terikat pada perasaaan takut dan tidak aman. Dia akan menemukan lebih mudah untuk tumbuh, belajar, berkembang, dan bersifat sopan, rendah hati, dan simpati, karena dia tidak perlu lagi mempertahankan segala sesuatunya.

 

Menyadari kenyataan dari ketanpa-akuan merupakan tanda keberadaan ketiga. Segala sesuatu yang tidak kekal adalah menderita, dan segala sesuatu yang tidak kekal dan menderita adalah tanpa inti adanya. Mereka yang menyadari kebenaran dari ketiga fakta keberadaan tersebut, akan mampu mengatasi penderitaan, karena pikiran mereka telah bebas dari khayalan dan kekekalan, kesenangan dan sifat keakuan.

 

"Kebebasan dari nafsu merupakan kebahagiaan di dunia, suatu keadaan yang mengatasi semua nafsu keinginan inderawi. Tetapi penghancuran kesombongan yang menganggap `Inilah Aku', ini adalah kebahagiaan yang tertinggi." (Udana, 10)