| 
Riwayat Singkat
Guru Agung Buddha Sakyamuni
Raja Suddhodana Gautama dengan permaisurinya Dewi
Mahamaya yang cantik jelita memerintah kerajaan di Kapilawastu bagian
selatan pegunungan Himalaya dengan adil dan bijaksana. Walaupun
telah menikah 20 tahun lamanya, tetapi belum dikarunia seorang putrapun.
Sampai pada suatu malam, Dewi Mahamaya bermimpi melihat seekor gajah
putih yang untuk kemudian permaisuri lalu mengandung.
Menurut adat kebiasaan yang berlaku, permaisuri
harus melahirkan di rumah orang tuanya, sehingga pada saat akan
melahirkan, pergilah Dewi Mahamaya ke istana orang tuanya di kerajaan
Koliya. Dalam perjalanan, Dewi Mahamaya berhenti untuk beristirahat
di taman Lumbini. Pada saat beristirahat, lahirlah putranya.
Semua orang merasa bahagia, bahkan langit dan bumi
seolah-olah turut juga menyambut kegembiraannya atas kelahiran putra
Baginda yang jatuh pada saat bulan Purnama Siddhi di bulan Waisak
(versi Buddhisme Mahayana, 566 SM hari ke - 8 bulan ke-4 menurut
kalender lunar. Versi World Fellowship of Buddhist, bulan Mei tahun
623 SM).
Pada hari ke-lima kelahiran Pangeran, Baginda memberikan
nama kepada putranya, Siddharta, yang berarti ‘tercapailah
cita-citanya'. Dewi Mahamaya wafat seminggu setelah melahirkan putranya.
Adiknya Dewi Mahaprajapati untuk kemudian diserahi tugas dan tanggung
jawab dalam mengasuh dan mendidik Pangeran Siddharta.
Pada suatu hari, pertapa Asita yang berdiam di
pegunungan dekat istana raja Suddhodana memperhatikan sinar yang
memancar terang di istana dan memutuskan untuk mengunjungi istana.
Baginda menyambut kedatangan pertapa Asita sambil memperlihatkan
putranya. Begitu melihat Pangeran Siddharta, pertapa Asita menangis
terharu sambil mengatakan, " Sayang sekali, hamba sudah tua,
kelak hamba tidak akan sempat menerima ajaran Sang Buddha, oh !
" (Buddha berasal dari Budh, yang artinya kesadaran. Buddha
berarti orang yang telah mencapai kesadaran sempurna). Baginda merasa
terkejut dan meminta penjelasan lebih lanjut dari pertapa Asita
yang menambahkan, " Kelak dia akan meninggalkan istana untuk
pergi bertapa mencari kesadaran sempurna. Baginda seharusnya bahagia,
karena Pangeran adalah Permata Dunia yang mampu membebaskan makhluk-makhluk
dari penderitaan. Dia adalah cahaya abadi dunia yang tak kunjung
padam ".
Kata-kata pertapa Asita membuat Baginda tidak tenang
siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan
istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk
itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta,
agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk
penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta,
seperti sakit, umur tua, dan kematian. Sehingga Pangeran hanya mengetahui
kenikmatan duniawi.
Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari
berbagai ilmu pengetahuan. Tetapi Pangeran Siddharta kurang berminat
dengan pelajaran tersebut. Pangeran Siddharta mendiami tiga istana,
yaitu istana musim semi, musim hujan dan pancaroba. Selama 10 tahun
lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi.
Suatu hari Pangeran Siddharta meminta ijin untuk
berjalan di luar istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya
Empat Kondisi yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit,
orang mati dan orang suci. Sehingga Pangeran Siddharta bersedih
dan menanyakan kepada dirinya sendiri, " Apa arti kehidupan
ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian.
Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak
mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu
yang sifatnya sementara ini ! ". Pangeran Siddharta berpikir
bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut.
Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus
sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula
lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan
istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya Canna. Tekadnya telah
bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai
pertapa.
Didalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari
latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam
cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama
dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa
dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang
diinginkannya . Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara
bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna.
Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya
dan pergi ke Magada untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di
hutan Uruwela, di tepi sungai Nairanjana yang mengalir dekat hutan
Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam
tahun di hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami
hakekat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.
Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya
mendengar seorang tua sedang menasehati anaknya di atas perahu yang
melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan, " Bila senar
kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu
dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi
itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah.
Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu."
Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama
yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke
sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak
sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama
Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya
sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan
kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya
di bawah pohon Bodhi (Asetta) di hutan Gaya, sambil berprasetya,
"Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang
jatuh berserakan , tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini
sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna."
Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa
Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan
penggoda yang dahsyat itu. Dengan kemauan yang keras membaja dan
dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan
dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan
dirinya di ufuk timur. Sekarang pertapa Gautama menjadi terang dan
jernih, secerah sinar fajar yang menyingsing di ufuk timur. Pertapa
Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha
[Sammasam-Buddha], tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak
ketika Beliau berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana,
531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender Lunar. Versi
WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan
Sempurna, dari tubuh Beliau memancarkan enam sinar Buddha [Buddharasmi]
dengan warna warni Biru yang berarti bhakti; Kuning mengandung arti
kebijaksanaan dan pengetahuan; Merah yang berarti kasih sayang dan
welas-asih; Putih mengandung arti suci; Jingga berarti giat; dan
campuran ke-lima sinar tersebut.
Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama
mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain : Buddha Gautama, Buddha
Shakyamuni, Tathagata ('Ia Yang Telah Datang', Ia Yang Telah Pergi'),
Sugata ('Yang Maha Tahu'), Bhagava ('Yang Agung') dan sebagainya.
Lima pertapa yang mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan
murid pertama Sang Buddha yang mendengarkan khotbah pertama [Dharmacakra
Pravartana/Dhammacakka Pavattana], dimana Beliau menjelaskan mengenai
Jalan Tengah yang ditemukanNya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan
termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan Empat Kebenaran Mulia.
Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama
empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh
cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun,
dimana Beliau mengetahui bahwa tiga bulan lagi Beliau akan Parinibbana.
Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara
dua pohon Sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir
kepada siswa-siswaNya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana,
486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada
bulan Mei, 543 SM).
Khotbah Buddha Gautama terakhir mengandung arti
yang sangat dalam bagi siswa-siswaNya, yang antara lain :
- Percaya pada diri sendiri dalam mengembangkan Ajaran Sang Buddha.
- Jadikanlah Ajaran Sang Buddha (Dharma) sebagai pencerahan hidup.
- Segala sesuatu tidak ada yang kekal abadi.
- Tujuan dari Ajaran Sang Buddha (Dharma) ialah untuk mengendalikan
pikiran.
- Pikiran dapat menjadikan seseorang menjadi Buddha, namun pikiran
dapat pula menjadikan seseorang menjadi binatang.
- Hendaknya saling menghormati satu dengan yang lain dan dapat
menghindarkan diri dari segala macam perselisihan.
- Bilamana melalaikan Ajaran Sang Buddha, dapat berarti belum
pernah berjumpa dengan Sang Buddha.
- Mara (setan) dan keinginan nafsu duniawi senantiasa mencari
kesempatan untuk menipu umat manusia.
- Kematian hanyalah musnahnya badan jasmani.
- Buddha yang sejati bukan badan jasmani manusia, tetapi Pencerahan
Sempurna.
- Kebijaksanaan Sempurna yang lahir dari Pencerahan Sempurna akan
hidup selamanya di dalam Kebenaran.
- Hanya mereka yang mengerti, yang menghayati dan mengamalkan
Dharma yang akan melihat Sang Buddha.
- Ajaran yang diberikan oleh Sang Buddha tidak ada yang dirahasiakan,
ditutup-tutupi ataupun diselubungi.
Sang Buddha bersabda, "Dengarkan baik baik,
wahai para bhikkhu, Aku sampaikan padamu: Akan membusuklah semua
benda benda yang terbentuk, berjuanglah dengan penuh kesadaran!"
(Digha Nikaya II, 156)
Sifat Agung Sang Buddha
Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih [maitri/metta]
dan Kasih Sayang [karuna] yang diwujudkan oleh sabda Buddha Gautama,
" Penderitaanmu adalah penderitaanku, dan kegembiraanmu adalah
kegembiraanku." Manusia adalah pancaran dari semangat Cinta
Kasih dan Kasih Sayang yang dapat menuntunnya kepada Pencerahan
Sempurna.
Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak
terbatas oleh waktu dan selalu abadi, dimana telah ada dan memancar
sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda
samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan-batinnya.
Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan
atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran
Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, Beliau telah mengikrarkan
Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang
tidak terbatas, yaitu :
1. Berusaha menolong semua makhluk.
2. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.
3. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.
4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.
Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan
amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari
sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran,
yaitu
- Tubuh [kaya] : pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.
- Ucapan [vak] : penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar,
percakapan tiada manfaat.
- Pikiran [citta] : kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang
salah.
Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha adalah
cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai
anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada
mereka. Bagaikan hujan yang jatuh tanpa membeda-bedakan, demikianlah
Cinta Kasih seorang Buddha. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita
sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Sang Buddha akan memberikan
perhatian khusus. Dengan Kasih SayangNya, Sang Buddha menganjurkan
supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan
dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai Pencerahan Sempurna.
Sang Buddha adalah ayah dalam kasih sayang dan ibu dalam cinta kasih.
Sebagai Buddha yang abadi, Beliau telah mengenal
semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara Beliau telah berusaha
untuk meringankan penderitaan semua makhluk. Buddha Gautama mengetahui
sepenuhnya hakekat dunia, namun Beliau tidak pernah mau mengatakan
bahwa dunia ini asli atau palsu, baik atau buruk. Beliau hanya menunjukkan
tentang keadaan dunia sebagaimana adanya. Buddha Gautama mengajarkan
agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak,
perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Beliau tidak saja mengajarkan
melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Meskipun bentuk
fisik tubuhNya tidak ada akhirnya, namun dalam mengajar umat manusia
yang mendambakan hidup abadi, Beliau menggunakan jalan pembebasan
dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka.
Seorang Buddha memiliki sifat luhur antara lain
:
1. Bertingkah laku baik;
2. Berpandangan hidup luhur;
3. Memiliki kebijaksanaan sempurna;
4. Memiliki kepandaian mengajar yang tiada bandingnya;
5. Memiliki cara menuntun dan membimbing manusia
dalam mengamalkan Dharma.
Buddha Gautama memelihara semangatNya yang selalu
tenang dan damai dengan melaksanakan meditasi. Sang Buddha membersihkan
pikiran mereka dari kekotoran bathin dan menganugerahkan mereka
kegembiraan dengan semangat tunggal yang sempurna. Jangkauan pikiran
Sang Buddha melampaui jangkauan pikiran manusia biasa. Dengan kebijaksanaan
yang sempurna, Buddha Gautama dapat menghindarkan diri dari sikap-sikap
ekstrim dan prasangka, serta memiliki kesederhanaan. Oleh karena
itu Beliau dapat mengetahui dan mengerti pikiran dan perasaan semua
orang dan dapat melihat yang ada dan yang terjadi di dunia dalam
sekejap, sehingga mendapatkan julukan seorang yang telah Mencapai
Pencerahan Sempurna [Sammasam-Buddha] dan Yang Maha Tahu [Sugata].
Pengabdian Buddha Gautama telah membuat diriNya
mampu mengatasi berbagai masalah didalam berbagai kesempatan yang
pada hakekatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya
dari hakekat yang hakiki dari seorang Buddha. Sang Buddha adalah
pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena
itu, Sang Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Beliau dapat berkhotbah
kepada semua orang, kapanpun dikehendakiNya. Sang Buddha mengkhotbahkan
Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena
keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan
khotbahNya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbahNya, yang dapat
mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Sang Buddha
akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong
hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.
Buddha Gautama bersabda, " Hanya dengan jalan
melalui kepercayaan, keyakinanlah, mereka akan dapat mengikuti ajaranKu.
Karena itu setiap orang hendaknya mau mendengarkan ajaranKu, kemudian
menghayati dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari."
Wujud dan Kehadiran Buddha
Buddha tidak hanya dapat diketahui dengan hanya
melihat wujud dan sifatNya semata-mata, karena wujud dan sifat luar
tersebut bukanlah Buddha yang sejati. Jalan yang benar untuk mengetahui
Buddha adalah dengan jalan mencapai Pencerahan Sempurna. Buddha
sejati tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa, sehingga Sifat
Agung seorang Buddha tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Namun
Buddha dapat mewujudkan diriNya dalam segala bentuk dengan sifat
yang serba luhur. Apabila seseorang dapat melihat jelas wujudNya
atau mengerti Sifat Agung Buddha, namun tidak tertarik kepada wujudNya
atau sifatNya, dialah yang sesungguhnya yang telah mempunyai kebijaksanaan
untuk melihat dan mengetahui Buddha dengan benar.
Buddha di Rumah
Fu-hauzi adalah seorang pemuda yang berwatak tidak
sopan terhadap ibunya yang sudah tua dan tinggal sendirian bersamanya.
Fu-hauzi selain malas juga pemarah sekali, sehingga ibunya yang
masih bekerja sendirian tersebut sering menjadi obyek amarahnya.
Tetapi ibunya tetap sabar dan mengasihi anak tunggalnya tersebut.
Sampai suatu hari, pemuda ini mendapatkan khabar
bahwa di seberang lautan dekat puncak gunung, terdapat seorang Buddha
yang sangat sakti dimana setiap permintaan dapat dipenuhinya. Fu-hau-zi
yang memang sifatnya malas, berminat untuk bertemu Buddha tersebut
agar dapat langsung memperoleh kesaktian sehingga tidak perlu susah
bekerja. Maka berangkatlah Fu-hauzi seorang diri yang tentunya tanpa
pamit kepada ibunya.
Sampai di gunung seberang, dia bertemu dengan seorang
bhikshu tua sederhana yang telah berjenggot, maka diapun bertanya
, "Kakek tua, saya ingin bertemu dengan Buddha". Kakek
tua tersebut yang mengetahui pemuda ini, menyahut, "Anak muda,
sekarang Buddha itu sedang menunggu di rumahmu. Ciri-cirinya adalah
berpakaian terbalik dan sandal yang terbalik yang akan menyambutmu
di depan pintu rumahmu. Pergilah menemuinya karena dia telah lama
menunggumu."
Merasa girang bahwa rupanya Buddha telah datang
ke rumahnya dan menungguinya, maka Fu-hauzi segera pulang ke rumah
sambil berpikir dalam hati, "Sungguh sakti Buddha tersebut,
dan sungguh beruntung saya karena telah ditunggui oleh Buddha di
rumah". Sesampai di depan pintu rumahnya, segera Fu-hauzi menggedor
pintu dan memanggil nyaring ibunya untuk membukakan pintu. Ibunya
yang sedang tidur siang, terkejut dan karena khawatir membuat anaknya
marah serta senang juga mendengar anaknya telah kembali setelah
pergi sekian lama tanpa permisi ,maka dengan tergopoh-gopoh ibu
tua ini memakai baju terbalik dan sandal terbalik. Segera dibukakannya
pintu rumah, pemuda ini melihat persis ciri seorang Buddha yang
digambarkan oleh bhikshu tua di gunung seberang, yang malah menangis
memeluknya. Segera Hauzi berlutut di depan ibunya dan sadar akan
tabiat buruknya selama ini. Sejak itu Hauzi menjadi anak yang berbakti
dan bekerja dengan rajin.
Demikianlah Buddha adalah Pencerahan Sempurna,
sehingga tidak dapat dicari dari bentuk luar saja karena tidak berbentuk
dan berwujud. Tubuh Buddha merupakan badan abadi yang perwujudanNya
adalah Kebijaksanaan. Pencerahan Sempurna memperlihatkan diri sebagai
cahaya kebijaksanaan yang membangkitkan orang ke dalam suatu kehidupan
baru dan menyebabkan mereka terlahir di tanah Buddha.
Ajaran esoterik menguraikan Buddha memiliki tiga
rangkap badan [Tri-Kaya], yaitu Dharma-Kaya, Sambogha-Kaya dan Nirmana-Kaya.
Dharma-Kaya adalah sumbernya Dharma, dimana merupakan kesunyataan
sebagai hakikat yang hakiki tanpa bentuk dan warna. Buddha sebagai
perwujudan Dharma-Kaya selalu berada di seluruh alam semesta, tidak
peduli apakah orang percaya atau tidak percaya pada keberadaanNya.
Sambogha-Kaya merupakan sifat Agung Buddha yang merupakan gabungan
Kasih Sayang dan Kebijaksanaan. Sambhogha-Kaya berwujud sebagai
kekuatan atau cahaya yang hanya dapat dirasakan secara rohani, dan
diwujudkan dalam bentuk simbol dari kelahiran dan kematian. Nirmana-Kaya
merupakan Buddha Hidup atau Manusia Buddha yang berarti perwujudan
fisik dari seorang Buddha, dalam usaha melaksanakan misiNya kepada
manusia sebagaimana tercermin pada tubuh Buddha Gautama. Buddha
Gautama dengan menggunakan perwujudan Nirmana-Kaya membimbing umat
manusia, agar dapat terbebaskan dari penderitaan karena umur tua
dan kematian. Dalam perwujudanNya sebagai Nirmana-kaya, terdapat
Buddha Masa Lalu, Buddha Sekarang dan Buddha Yang Akan Datang. Buddha
Masa Lalu adalah sebelum kehadiran Buddha Gautama, yaitu Buddha
Kanogamana, Buddha Kakusundha dan Buddha Kassapa. Sedangkan Buddha
Yang Akan datang sebagaimana sabda Buddha Gautama adalah Buddha
Maitreya [Metteya], yang sekarang masih bertugas sebagai Bodhisattva
dan berdiam di Tanah Suci Tusita. Buddha Gautama bersabda, bahwa
Bodhisattva Maitreya akan menjadi Buddha Yang Akan Datang 5.000
tahun setelah Parinibbana Buddha Gautama, atau menurut perhitungan
lain yaitu 5.670.000.000 tahun manusia.
Kehadiran seorang Buddha yang telah mencapai Pencerahan
Sempurna untuk mengajarkan Dharma di dunia ini sangatlah jarang
terjadi. Kehadiran Buddha di dunia ini, karena terpanggil oleh jeritan
penderitaan umat manusia. Muncul dan hilangnya Buddha merupakan
suatu kenyataan dari hukum sebab akibat yang saling bergantungan,
namun Kebuddhaan selalu ada dan dalam keadaan yang sama. Untuk itu
sebagai umat Buddha hendaknya selalu tetap pada Jalan Pencerahan
Sempurna, sehingga dapat mencapai kebijaksanaan sempurna, dimana
tidak terpengaruh oleh kehadiran Buddha. Bentuk asli Buddha pada
hakekatnya tidak akan muncul atau lenyap. Buddha selalu ada di sekeliling
kita, dan di dalam diri kita, namun sering kita tidak menyadarinya.
Buddha Gautama bersabda: "Sekarang Aku ingat,
Ananda, ketika Aku masuk ke dalam kumpulan orang-orang penting,
orang-orang religius, perumahtangga, orang-orang dari kepercayaan
lain, dan beragam dewa; sebelum Aku duduk dan berbicara kepada mereka,
Aku mengubah diriKu sendiri menjadi seperti mereka, berbicara seperti
mereka. Tatkala Aku telah selesai membabarkan Ajaran, mereka sangat
gembira. Namun, mereka tidak mengetahui siapa Aku, bahkan setelah
Aku tiada!" (Mahaparinibbana-sutta)
Ketika kita menyatakan berlindung kepada Buddha
(Buddhang Saranang Gacchami) berarti kita harus memiliki kepercayaan
terhadap Sang Buddha dan mempertimbangkan ajaran-ajaranNya sebagai
suatu hal yang terpenting dalam menjalani kehidupan ini.
|