| 1.
PENGANALISAAN ATAS KATA ‘GOHONZON’
Go
adalah suatu awalan kehormatan yang bisa dihilangkan tanpa
merubah arti kata. Hon mempunyai makna “akar, fundamental,
asal muasal, yang terutama, atau yang terunggul”. Son
atau Zon berarti “yang dimuliakan atau yang terhormat”.
Akan tetapi, istilah “objek pemujaan” bermakna
terlalu dangkal dan tanpa perasaan, suatu istilah yang digunakan
untuk Gohonzon yang kita puja sebagai “Yang Paling Mulia
di dunia ini”.
2.
GOHONZON DARI AGAMA BUDDHA NICHIREN SHU
Dalam
Agama Buddha Nichiren, Buddha Pokok yang Sesungguhnya adalah
“Satu” yaitu Buddha Sâkyamuni. Sintesis/penggabungan
ini mewakili Gohonzon dari ajaran agama Buddha Nichiren. Buddha
Sâkyamuni mencapai keBuddhaan sejak masa lampau yang
tak terhingga. Tiada Buddha lain sebelum Beliau. Dialah Buddha
yang pertama, Buddha Pokok. Semua Buddha yang ada di masa
lampau, sekarang, dan yang akan datang adalah emanasi/perwujudan
dariNya. Buddha Sâkyamuni berkata dalam Sutra Bunga
Teratai,
“Jumlah
kalpa yang terlampaui semenjak Aku mencapai keBuddhaan telah
begitu banyak… Selama masa ini Aku telah memberi berbagai
nama untuk diriKu sendiri… Aku menunjukkan replikaKu
di beberapa sutra, dan perwujudanKu di sutra-sutra lainnya”
Buddha Sâkyamuni dalam sejarah yang kita kenal tiada
lain adalah Buddha Pokok. Dia berkata dalam Sutra Bunga Teratai,
“Para
dewa, manusia, dan asura di dunia berpikir bahwa Aku meninggalkan
istana kaum Sakya, duduk di tempat penerangan tak jauh dari
kota Gaya, dan mencapai Anuttara-samyak-sambodhi empat puluh
tahun lebih yang lalu. Sesungguhnya, telah berlalu berjuta-juta
kalpa semenjak Aku menjadi Buddha.”
Buddha
Pokok diberi nama Sâkyamuni karena Buddha yang ada dalam
sejarah tidak memiliki nama lain selain Sâkyamuni. Buddha
Pokok Sâkyamuni adalah kekal abadi. Ia berkata dalam
Sutra Bunga Teratai,
“Aku
tak akan pernah moksa. Aku selalu hidup di sini dan membabarkan
Dharma.”
Ia
tetap abadi untuk menyelamatkan kita. Definisi Buddha sebagai
sesuatu yang kekal ditujukan bagi kita yang ingin mencari
keselamatan dalam ajaranNya.
3.
PATUNG BUDDHA SAKYAMUNI KEKAL ABADI
Seseorang
boleh saja menghormati patung Buddha Sâkyamuni dengan
menganggap bahwa itu adalah Buddha Sâkyamuni Kekal Abadi.
Nichiren Daishonin sendiri selalu membawa-bawa sebuah patung
kecil Buddha bersama dirinya, dan menghormatinya sebagai Buddha
Sâkyamuni yang Pokok dan Abadi. Namun bagaimana kita
bisa membedakan patung Buddha Sâkyamuni Abadi dengan
patung yang disembah oleh orang-orang yang tidak tahu atau
tidak memperdulikan kesejatian dan keabadian Buddha Sâkyamuni?
Sesuatu harus dilakukan untuk membedakan patung Buddha Sâkyamuni
Abadi.
Nichiren
Daishonin kadang menganjurkan suatu set patung yang terdiri
dari: Buddha Sâkyamuni dengan disertai oleh Ke-empat
Bodhisattva Jogyo, Muhengyo, Jyogyo, dan Anryugyo, yang menurut
Sutra Bunga Teratai adalah pengikut-pengikut utama dari Buddha
Pokok Sâkyamuni. Membuat sebuah kelompok patung bukanlah
suatu saran baru. Banyak sekte-sekte lain yang telah mengeluarkan
berbagai kelompok patung sebagai objek pemujaannya. Kebingungan
dan kerumitan-kerumitan telah mengabulkan perbedaan antar
sekte dan membahayakan keutamaan dari Buddha Sâkyamuni
yang Pokok dan Abadi. Nichiren berpendapat bahwa jalan paling
sempurna untuk mewakili Buddha Sâkyamuni yang Pokok
dan Abadi adalah dengan mengadopsi Daimoku sebagai lambang
Dunia Suci dari Buddha Pokok, yang dalam hal ini adalah Dunia
Saha yang suci.
4.
PENGGAMBARAN DALAM SUTRA BUNGA TERATAI
Dunia
Suci dari Buddha Sâkyamuni yang Pokok dan Abadi adalah
suatu gambaran yang digunakan dalam Sutra Bunga Teratai. Sebuah
gambaran atau fantasi bisa saja tidaklah nyata, tapi kadang
juga bisa menunjukkan kebenaran yang lebih mengesankan daripada
kenyataan. Itulah sebabnya mengapa karangan Shakespeare, A
Midsummer Night's Dream atau karangan Miyazawa Kenji, Milky
Way Railroad Train At Night tak pernah dapat dilupakan orang.
Narasi
dari dunia lain Sutra Bunga Teratai dimulai dengan cerita
Buddha Prabutharatna (Taho) sebagai berikut :
“Hiduplah seorang Buddha yang bernama Taho berkalpa-kalpa
lalu di sebuah dunia yang disebut Pusaka-Suci, yang terletak
jauh di sebelah timur Dunia Saha. Buddha Taho mengetahui Hukum
Gaib, tetapi ia tidak membabarkannya. Ia berpikir bahwa Hukum
Gaib sebaiknya dibabarkan oleh seorang Buddha yang bisa beremanasi
menjadi Replika-Buddha sebanyak jumlah dunia yang ada di alam
semesta ini, kemudian mengutus mereka ke dunia-dunia itu,
dan membabarkan Hukum Gaib dalam sebuah sutra bernama Sutra
Bunga Teratai. Buddha Taho memutuskan untuk menunggu kemunculan
Buddha itu, dan kemudian menyetujui kebenaran dari Sutra Bunga
Teratai yang dibabarkan oleh Buddha tersebut.
Buddha Taho meminta para pengikutNya untuk membangun sebuah
Stupa, dan menyemayamkan tubuhNya ke dalam Stupa tersebut
setelah Ia meninggal. Para pengikutNya membangun sebuah Stupa
sebagai mana yang diinginkan. Setelah Ia Parinirvâna,
mereka meletakkan tubuhNya dalam posisi duduk bermeditasi
ke dalam Stupa, dan menutup pintunya.
Seorang Buddha mampu melihat, mendengar, berbicara, dan bahkan
bergerak setelah ia Parinirvâna. Satu-satunya hal yang
tidak dapat dilakukan dilakukan oleh seorang Buddha lampau
adalah membabarkan Dharma. Ia harus berpuas diri mendengar
Dharma yang dibabarkan oleh Buddha masa sekarang.
Buddha Taho telah menunggu dan melihat seluruh penjuru alam
semesta selama begitu banyak kalpa hingga Ia akhirnya menemukan
seorang Buddha yang melakukan apa yang Ia ingin saksikan.
Ia melihat Buddha Sâkyamuni dari Dunia Saha, yang terletak
jauh di sebelah barat duniaNya, mengeluarkan banyak emanasi
dari diriNya, mengutus mereka ke semua dunia yang ada di alam
semesta ini, dan kemudian membabarkan Sutra Bunga Teratai.
Begitu bergembira melihat semua ini, Buddha Taho mempersiapkan
diriNya untuk berkelana ke Dunia Saha. Ia membuat StupaNya
bergerak, terbang melintasi begitu banyak dunia, dan mencapai
langit di bawah dunia Saha. Kemudian Stupa tersebut naik,
melewati Dunia Saha dari bawah, dan melayang di angkasa di
atas langit Gunung Grdhrakuta. Buddha Taho memutar StupaNya
menghadap Sâkyamuni dan memujiNya dari dalam Stupa.
Pesamuan tersebut heran ketika melihat semua ini. Mewakili
pesamuan, Bodhisattva Daigyosetsu bertanya kepada Sâkyamuni,
“Siapakah yang ada di dalam Stupa?”. Sâkyamuni
menjawab, “Buddha Taho ada di sana”. Daigyosetsu
memohon kepada Sâkyamuni untuk membuka pintu Stupa tersebut
agar semua yang hadir dalam pesamuan bisa melihat Buddha yang
baru saja datang tersebut. Tetapi Sâkyamuni menolak
permintaannya, berkata bahwa Buddha Taho tidak akan mengijinkan
siapa pun membuka pintu StupaNya terkecuali pembabar Sutra
Bunga Teratai mengumpulkan Replika-Buddha nya dari dunia di
kesepuluh penjuru.
Daigyosetsu memohon Sâkyamuni untuk mengumpulkan mereka
kembali.
Buddha Sâkyamuni memenuhi permintaannya. Ia mengeluarkan
seberkas sinar dari dahiNya sebagai tanda untuk memanggil
mereka. Mengenali sinar tersebut, Buddha-Buddha dari kesepuluh
penjuru dunia kembali ke dunianya, dan berkumpul di Gunung
Grdhrakuta. Dengan demikian Buddha Sâkyamuni melayang,
dan membuka pintu Stupa tersebut. Buddha Taho bergerak ke
kiri untuk memberi tempat duduk bagi Buddha Sâkyamuni,
dan meminta Ia untuk bergabung denganNya. Buddha Sâkyamuni
masuk ke dalam Stupa dan duduk di sebelah kanan Buddha Taho.
Melihat kedua Buddha duduk saling bersebelahan dalam Stupa
yang melayang di angkasa, peserta pesamuan berharap ingin
di dekat kedua Buddha tersebut. Mengetahui isi pikiran para
peserta pesamuan, Buddha Sâkyamuni mengangkat mereka
semua ke angkasa di bawah Stupa.
Setelah itu Buddha Sâkyamuni mengumumkan bahwa Ia akan
menurunkan Sutra Bunga Teratai kepada seseorang. Mendengar
hal ini, banyak Bodhisattva memohon agar Buddha Sâkyamuni
menurunkannya kepada mereka. Tetapi ia menolak permintaan
mereka dan berkata, “Aku ingin mengatakan bahwa Aku
akan menurunkan Sutra ini kepada seseorang selain kalian.
Kalian tidak diperlukan. Aku telah memilih mereka yang akan
menerima Sutra ini.”
Ketika mengatakan hal ini, Bodhisattva yang tak terhitung
jumlahnya muncul dari ke-empat penjuru Dunia Saha. Keempat
bagian Bodhisattva tersebut masing-masing dipimpin oleh Ke-empat
Bodhisattva: Visistacâritra (Jogyo), Anantacâritra.
(Muhengyo), Visuddhacâritra (Jogyo) and Supratisthitacâritra
(Anryugyo). Kesemua Bodhisattva dari dalam bumi tersebut naik
ke angkasa dan menyapa Buddha Sâkyamuni seperti layaknya
seorang murid menyapa gurunya dan berkata, “Kami amat
gembira bisa bertemu dengan Anda lagi. Apakah Anda sehat-sehat
saja?” Buddha Sâkyamuni kemudian berkata kepada
mereka, “Aku sangat gembira melihat kalian bersukacita
bertemu denganKu lagi.”
Para peserta pesamuan terkejut mendengar para pendatang baru
dari dalam bumi menyapa Buddha Sâkyamuni begitu hormat
dan sopan seolah mereka adalah murid-murid dari Buddha Sâkyamuni.
Mewakili para peserta pesamuan, Bodhisattva Maitreya bertanya
kepada Buddha Sâkyamuni, “Siapakah mereka? Kami
belum pernah melihat mereka sebelumnya. Mereka pasti telah
menyembunyikan diri mereka di dalam bumi untuk begitu lamanya.
Anda lebih muda daripada mereka karena hanya empat puluh tahun
lebih yang lalu Anda menjadi Buddha. Tetapi para sesepuh ini
menyapa Anda dengan begitu hormat dan sopan seolah mereka
adalah murid-murid Anda? Ini adalah aneh. Sulit mempercayai
seorang pemuda tampan berambut hitam-legam bisa menunjuk kepada
laki-laki berusia ratusan tahun dan berkata, ‘Mereka
adalah anak-anakku’. Siapakah para pendatang baru ini?”
Buddha Sâkyamuni berkata kepada Bodhisattva Maitreya,
“Kamu mengira bahwa Aku meninggalkan istana kaum Sakya,
duduk di bawah tempat Penerangan, dan mencapai Kebuddhaan
empat puluh tahun lebih yang lalu. Kamu salah. Aku telah menjadi
Buddha sejak masa lampau yang tak terhingga. Para Bodhisattva
dari dalam bumi ini adalah murid-muridKu yang telah kuajari
sejak masa lampau tak terhingga.”
Seusai mengatakan hal ini, Buddha Sâkyamuni menurunkan
Sutra Bunga Teratai kepada para Bodhisattva yang dipimpin
oleh Visistacâritra. Ia kemudian melayang turun dari
Stupa ke permukaan tanah. Semua peserta pesamuan yang berada
di angkasa juga turun. Buddha Sâkyamuni meletakkan tangan
kananNya di atas kepala para Boddhisattva dan berkata, ”Sekarang
Aku akan menurunkan Sutra Bunga Teratai kepada kalian semua.
Sebarkanlah dengan segenap hati kalian.”
Buddha Sâkyamuni berbalik menghadap kepada Stupa di
angkasa dan berkata, “Biarlah para Buddha berada di
mana mereka ingin berada. Dan biarlah Stupa berada di mana
sebelumnya Ia berada.”
Demikianlah akhir dari gambaran luar biasa yang terdapat dalam
Sûtra Bunga Teratai.
5.
PENJELASAN NICHIREN DAISHONIN TENTANG DUNIA SAHA YANG SUCI
Nichiren
menggambarkan sudut pandang terhadap Dunia Saha yang Dimurnikan
dalam Kanjin-honzon-shô sebagai berikut :
“Ada sebuah Stupa Pusaka di angkasa di atas Dunia
Saha dari Guru Pokok. Dalam Stupa pusaka tersebut tersimpan
Myôhô Renge Kyô. Di kedua belah sisi Myôhô
Renge Kyô duduklah Buddha Sakyamuni dan Buddha Prabhutaratna.
Empat Bodhisattva yang dipimpin oleh Visistacâritra
menyertai Buddha Sakyamuni, Yang Dimuliakan-Dunia. Ke-empat
Bodhisattva termasuk Mañjusri dan Maitreya duduk di
sebelah bawah sebagai murid Buddha Sâkyamuni. Semua
Bodhisattva lainnya, baik besar maupun kecil, baik murid dari
Buddha Sâkyamuni ataupun yang datang dari dunia lain,
seperti layaknya kaum bangsawan dan terhormat yang dihormati
oleh bawahannya duduk di atas permukaan tanah. Para Buddha
dari kesepuluh penjuru duduk pula di atas permukaan tanah
untuk menunjukkan bahwa mereka adalah emanasi/perwujudan dari
Buddha Sâkyamuni dan bahwa dunia mereka adalah cerminan
dari dunia Buddha Sâkyamuni."
5.
MANDALA
Nichiren
menggambarkan Dunia Saha yang Disucikan dalam wujud sebuah
Mandala. Mandala berarti “sebuah lingkaran”. Nichiren
menyebutnya Dai-mandala atau “Mandala Agung”.
Kita biasanya menyebutnya sebagai O’mandala atau Mandala.
Sesuai sudut pandang Nichiren atas Dunia Saha yang Disucikan
seperti yang terdapat dalam Kanjin-honzon-shô, semua
Bodhisattva yang hadir adalah pengikut Buddha Sâkyamuni,
tidak satupun yang menyertai Prabhutaratna. Untuk mempertahankan
keseimbangan dari Mandala, Nichiren memindahkan beberapa Bodhisattva
dari kolom kiri ke kanan seolah mereka adalah para pengikut
Prabhutaratna. Nichiren juga menambahkan beberapa mahkluk-hidup
ke dalam Mandala sebagai perwakilan dari penghuni Dunia Saha
yang Disucikan :
1.
Tokoh-tokoh suci dari Buddhis Theravada seperti Sâriputra
and Mahâ-Kâsyapa, yang dipastikan kelak akan mencapai
Kebuddhaan dalam Sûtra Bunga Teratai.
2.
Cakravartiraja (Raja Suci Pemutar Roda, Tenrin-jo-o) dan Raja
Ajatasatru sebagai wakil dari para pengikut biasa.
3.
Devadatta, yang dahulu adalah murid dari Buddha Sâkyamuni,
kemudian ia menjadi musuh sang Buddha. Akan tetapi ia juga
dipastikan kelak mencapai Kebuddhaan dalam Sûtra Bunga
Teratai.
4.
Orang-orang terkenal yang turut menyebarkan Sûtra Bunga
Teratai: Nagarjuna dari India, Tendai Daishi and Myôraku
Daishi dari Cina, and Dengyo Daishi dari Jepang.
5.
Para Dewa dan Iblis: Brahman, Mara, Sâkra, Raja Langit
Keempat Penjuru (Shitenno), Surya, Cândra, Aruna, Asuraraja,
Nagaraja, Hariti dan kesepuluh raksasa perempuan dari India,
Tensho Daijin and Hachiman Daibosatsu dari Jepang.
6.
Dua dewa pelindung Dharma: Acalanatha (Fudo) dan Ragaraja
(Aizen) berupa bentuk lambang huruf Sansekerta.
7.
O’MANDALA GOHONZON
Gohonzon
yang dipuja oleh penganut Agama Buddha Nichiren adalah Buddha
Pokok Sâkyamuni. Mandala adalah sebuah gambaran tentang
Dunia Suci dari Gohonzon, bukan Buddha Pokok itu sendiri.
Akan tetapi, sejumlah alasan, baik akademis maupun konvensional,
memaksa kita menerapkan gelar kehormatan, Gohonzon, kepada
Mandala itu sendiri.
1.
Orang Jepang merasa kurang pantas merujuk kepada seseorang
yang berposisi lebih tinggi atau sesuatu yang dianggap suci
lansung menggunakan namanya. Oleh karena itu digunakanlah
nama dari kediaman atau tempat seseorang tersebut berada.
Dono, suatu akhiran kehormatan yang mengikuti nama seseorang,
mempunyai arti “kediaman”. “Istana Kerajaan”,
sebagai contohnya, menunjuk kepada Kaisar. Sama halnya, Mandala
disebut Gohonzon sebagai tempat dari Buddha Pokok berada.
2.
Ketika Nichiren melukiskan Dunia Saha yang Disucikan dalam
Kanjin-honzon-shô, Beliau meletakkan Daimoku di antara
kedua Buddhas sebagai lambang dari Dunia Saha yang Disucikan.
Penggunaan lambang-lambang sangatlah penting pada masa Nichiren.
Berbagai keluarga terpandang dibedakan menggunakan lambang-lambangnya
yang khas, bendera dan panji. Nichiren menganggap bahwa Daimoku
adalah lambang terbaik sebagai ciri Agama Buddha Nichiren,
sedangkan sekte-sekte lainnya kurang lebih berhubungan dengan
Nembutsu. Akan tetapi, Daimoku yang tertulis di tengah-tengah
Mandala tampak begitu besar dan dominan sehingga menyebabkan
mahkluk yang disekitarnya menjadi kurang penting. Bahkan Buddha
Sâkyamuni seolah tertutup oleh Daimoku. Pengaturan Mandala
yang seperti ini memunculkan pemujaan kepada Daimoku sebagai
Gohonzon. Sebagian orang beranggapan bahwa semua Buddha yang
ada termasuk Buddha Sâkyamuni, Bodhisattvas dan mahkluk
kehormatan lainnya seperti para dewa dan iblis yang tertera
dalam Mandala, adalah pengikut dari Daimoku. Sudut pandang
ini turut didukung oleh kenyataan bahwa bangsa Jepang pada
dasarnya adalah bersifat polytheis.
3.
Mandala yang tertulis di atas selembar kertas adalah rapuh,
mudah luntur dan rusak. Suatu bahan yang lebih tahan lama
dibutuhkan untuk mempertahankan Mandala. Oleh karena itu,
ptung-patung kayu atau logam disarankan untuk diletakkan di
sekitar Mandala. Penggunaan patung juga dimaksudkan untuk
hal lainnya. Untuk memunculkan kembali keagungan Buddha Sâkyamuni
yang Pokok dan Abadi, yang tertutup oleh tulisan Daimoku di
dalam Mandala, suatu kelompok patung, yang terdiri dari Buddha
dan empat Bodhisattva, dianjurkan untuk turut digunakan sebagai
objek pemujaan.
Akan
tetapi, semangat dan keinginan utama Nichiren Daishonin tetap
terletak dalam Mandala. Karena Mandala dapat ditulis dimana
saja, tanpa persiapan rumit sehingga cocok untuk mengembangkan
penyebaran penyebutan Daimoku.
Daimoku
itu sendiri dapat berfungsi sebagai Gohonzon. Sehingga muncul
istilah Ippen-shudai-no-honzon, yang berarti "Gohonzon
yang hanya berisikan Daimoku". Daimoku adalah lambang
dari keseluruhan Tiga Pusaka Agama Buddha Nichiren :
• Buddha Sâkyamuni yang Pokok dan Abadi sebagai
Satu Kesatuan dengan Buddha Sâkyamuni yang terdapat
dalam sejarah.
•
Dharma Agung atas Kesetaraan Semua Mahkluk Hidup, dan
•
Sangha yang dipimpin oleh Bodhisattva Visistacâritra,
Murid Terutama dan Terpenting dari Buddha Pokok Sâkyamuni.
Ketika
kita melihat Daimoku tertera di atas bendera, panji, atau
monumen batu, saat itu pula kita bisa bertemu dengan Buddha
dan memperoleh perlindungan dari utusanNya, Nichiren Shonin,
kelahiran kembali dari Bodhisattva Visistacâritra, Jogyo
Bosatsu.
8. SEBUAH CONTOH GOHONZON YANG
DITULIS OLEH NICHIREN
Sebuah
contoh Gohonzon yang ditulis oleh Nichiren, tersimpan di Myôhonji,
Kamakura.
1. Dai Jikoku Tenno. Dhrtarastra. Raja Langit Timur.
2. Namu Muhengyo Bosatsu. Anantacâritra Bodhisattva.
3. Namu Jogyo Bosatsu. Visistacâritra Bodhisattva.
4. Namu Taho Nyorai. Prabhutaratna Tathâgata.
5. Namu Myôhô Renge Kyô.
6. Namu Sâkyamuni Butsu. Sâkyamuni Buddha.
7. Namu Jogyo Bosatsu. Visuddha Bodhisattva.
8. Namu Anryugyo Bosatsu. Supratisthitacâritra.
9. Dai Bishamon Tenno. Vaisravana. Raja Langit Utara.
10. Simbol Sansekerta dari Fudo Myô-o atau Acalanatha
Vidyaraja.
11. Dai Nittenno. Surya. Dewa Matahari.
12. Dairokuten Ma-o. Raja Mara dari Surga Keenam. Mara
13. Dai Bontenno. Mahâ Brahman.
14. Namu Sharihotsu Sonja. Yang Mulia Sâriputra.
15. Namu Yaku-o Bosatsu. Bhaisajyaraja Bodhisattva.
16. Namu Monjushiri Bosatsu. Mañjusri Bodhisattva.
17. Namu Fugen Bosatsu. Samantabhadra Bodhisattva.
18. Namu Miroku Bosatsu. Maitreya Bodhisattva.
19. Namu Dai Kasho Sonja. Yang Mulia Mahâkâsyapa.
20. Shakudaikannin Dai-o. Sâkra Devanarn Indra. Sâkra.
Taishakuten.
21. Dai Gattenji. Cândra. Dewa Bulan.
22. Myojo Tenji. Aruna. Dewa Bintang.
23. Simbol Sansekerta dari Aizen Myô-o atau Ragaraja
Vidyaraja.
24. Daibadatta. Devadatta.
25. Ashura-o. Asura-raja. Raja Asura.
26. Tenrin Jo-o. Gakravartin.
27. Ajase Dai-o. Raja Ajatasatru.
28. Dai Ryu-o. Naga-raja. Raja Naga.
29. Kishimojin. Hariti. Seorang yaksa wanita pelindung anak-anak.
30. Jurasetsunyo. Kesepuluh raksasa wanita.
31. Namu Tendai Daishi. Chigi (538-597). Seorang pelajar Cina
dari sekte Tendai.
32. Namu Ryuju Bosatsu. Nagarjuna, yang hidup pada abad kedua.
Seorang pelajar India dari ajaran agama Buddha Mahayana.
33. Namu Myôraku Daishi. Tannen (717-782). Seorang pelajar
Cina dari sekte Tendai.
34. Namu Dengyo Daishi. Saicho (767-822). Pendiri sekte Tendai
di Jepang.
35. Dai Komoku Tenno. Virupaksa. Raja Langit Barat.
36. "Mandara Agung ini pertama kalinya dimunculkan di
Jambudvipa dua ribu dua ratus tahun lebih setelah kemoksaan
sang Buddha."
37. Tensho Daijin. Dewa Japang.
38. Tandatangan Nichiren.
39. Hachiman Dai Bosatsu. Dewa Jepang.
40. Dai Zocho Tenno. Raja Langit Selatan.
41. Bulan ketiga tahun ketiga Koan, Kanoetatsu. (1280).
Catatan:
1. No. 14 dan 19 adalah orang-orang suci dari ajaran Agama
Buddha Theravada.
2. No. 31, 32, 33 dan 34 adalah tokoh-tokoh terkemuka pemyebar
Sûtra Bunga Teratai.
3. No. 1, 9, 35 dan 40 disebut Shitenno atau Raja Langit Keempat
Penjuru.
4. No. 10 dan 23 adalah simbol Sansekerta untuk kedua dewa
esoterik.
©
1997 – Nichiren Buddhist International Center |