Hukum Karma
Sang Buddha bersabda : " Sesuai dengan benih yang ditanam, itulah buah yang akan Anda peroleh.
Pelaku kebaikan akan mengumpulkan kebaikan.
Pelaku keburukan, memperoleh keburukan. Jika Anda menanamkan benih
yang baik, maka Anda menikmati buah yang baik." (Samyutta
Nikaya I, 227).
Ketika seseorang sedang bahagia dan bersuka cita, dia cenderung menilai
hidup ini menyenangkan. Tetapi jika seseorang sedang menderita, maka dia akan
menilai hidup ini sangat sulit, sehingga dia akan mulai mencari
alasan dan cara untuk menanggulangi kesulitan tersebut.
Kita cenderung bertanya, kenapa ada yang dilahirkan miskin dan menderita,
sedangkan yang lainnya dilahirkan dalam berbagai keberuntungan. Kita merasa tidak mampu untuk
bisa hidup sebagaimana yang diidamkan, yaitu mengalami hidup yang
selalu bahagia. Sebagian orang percaya
bahwa ini karena nasib, kesempatan, atau suatu kekuasaan yang
tidak kelihatan diluar pengendalian kita. Akibatnya
kita cenderung menjadi bingung dan putus asa. Bagaimanapun
Sang Buddha mampu menjelaskan kenapa ada orang yang dilahirkan
berbeda keadaannya, dan kenapa sebagian orang lebih beruntung
dalam menjalani kehidupan dari yang lainnya.
Sang Buddha mengajarkan, bahwa suatu kondisi yang terjadi sekarang
apakah bahagia atau menderita adalah merupakan hasil akumulasi
perbuatan yang dilakukan sebelumnya atau disebut karma. Sang Buddha mengatakan bahwa semua makhluk hidup
mempunyai karma mereka sendiri, warisan mereka
, sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka.
Karmalah yang membedakan setiap makhluk hidup
itu dalam keadaan rendah atau tinggi.
Karma berasal dari kata Sanskerta [Pali; kamma] yang berarti tindakan, pekerjaan atau perbuatan. Setiap perbuatan, ucapan atau
pikiran yang dilakukan dengan suatu tujuan atau niat dapat disebut
karma. Karma berarti suatu kehendak atau
niat [cetana] yang baik [kusala] dan buruk [akusala]. Setiap tindakan yang kita
lakukan apabila berdasarkan suatu niat maka akan
menciptakan karma.
Sang Buddha bersabda :"Aku nyatakan,
O para Bhikkhu, bahwa niat [cetana] itulah Kamma, dengan niat
seseorang bertindak melalui badan jasmani, ucapan dan pikiran."
(Anguttara Nikaya III,I-117).
Dengan
kata lain, Karma merupakan suatu hukum moral sebab-akibat, suatu
hukum alam dimana menjelaskan bahwa setiap tindakan akan membuahkan
hasil tindakan tertentu atau buah karma [karma
vipaka] . Sehingga apabila seseorang melakukan perbuatan mulia seperti
memberikan sumbangan kepada suatu yayasan kemanusiaan, maka dia
akan merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, jika seseorang melakukan
suatu perbuatan yang tercela, misalnya membunuh makhluk hidup,
maka dia akan merasakan penderitaan. Sehingga dapat
disimpulkan, akibat dari perbuatan karma sebelumnya menentukan
keberadaan orang tersebut pada kehidupan saat ini. Karma
dapat dikategorikan menurut matangnya, yaitu karma yang matang
pada kehidupan ini, karma yang matang pada kehidupan berikutnya
dan karma yang matang pada beberapa kehidupan yang akan datang.
Sang Buddha bersabda : " Pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik selama buah perbuatan
jahatnya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatan jahatnya
telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk. Pembuat
kebajikan hanya melihat hal yang buruk selama buah perbuatan bajiknya
belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak,
ia akan melihat akibat-akibatnya yang baik."
(Dhammapada, 119 - 120 ).
Tiga komponen yang merupakan pelaku utama karma adalah tubuh fisik,
ucapan dan pikiran. Contoh karma yang dilakukan oleh tubuh fisik, yaitu
membunuh, mencuri dan berjinah. Contoh
karma yang dilakukan oleh ucapan, yaitu berbohong, membicarakan
hal-hal yang tidak bermanfaat, memfitnah dan berbicara kasar.
Sedangkan contoh karma yang dilakukan oleh pikiran
adalah keserakahan, kebencian dan khayalan. Karma
dapat dibedakan atas karma yang bermanfaat, karma yang tidak bermanfaat
dan karma yang bukan bermanfaat maupun tidak bermanfaat.
Akibat dari karma buruk adalah tumimbal lahir di tiga alam penderitaan
(neraka, hantu kelaparan dan binatang). Contoh karma buruk yang dapat menyebabkan seseorang
terlahir di alam neraka antara lain: membunuh orangtua kandung,
membunuh orang suci/ Arahat/ Bodhisattva, dan melukai Buddha.
Sedangkan akibat dari karma baik adalah tumimbal lahir di alam manusia
atau surga. Sedangkan para Buddha, Arahat dan Bodhisattva
yang sudah mencapai Pencerahan Sempurna memperoleh karma tidak
bergerak, namun Bodhisattva yang karena welas-asihnya untuk menyeberangkan
semua makhluk yang menderita dapat saja bertumimbal lahir lagi
di alam manusia .
Sebab utama timbulnya karma adalah karena ketidak-tahuan [avidya/avijja] atau ketidak-mampuan untuk
memahami segala sesuatu sebagaimana adanya. Nafsu keinginan [tanha] juga merupakan akar timbulnya karma.
Perbuatan seseorang walaupun dilandasi oleh
tiga akar kebajikan yaitu kedermawan [alobha],
kehendak baik [adosa]
dan pengetahuan [amoha],
tetap dapat dianggap sebagai karma karena dua unsur penyebab karma
yaitu ketidak-tahuan dan keinginan masih melekat dalam dirinya.
Hanya perbuatan baik dari Jalan Kesadaran [maggacitta]
yang dapat dipandang sebagai proses untuk menghancurkan akar sebab-akibat
karma tersebut.
Apakah Kita Harus
Pasrah Terhadap Karma?
Pemuda
Subha menghadap Sang Buddha untuk menanyakan perbedaan nyata di
antara umat manusia, "Apakah
alasannya dan sebabnya, o Guru, kita jumpai di antara umat manusia
ada yang berumur pendek dan berumur panjang, berpenyakit dan sehat,
jelek dan rupawan , tak berpengaruh dan berpengaruh, miskin dan
kaya, hina dan mulia, dungu dan bijaksana."
Sang Buddha bersabda : "Semua mahluk hidup mempunyai karma sebagai milik mereka,
warisan mereka, sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka.
Karma itulah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau
tinggi." (Majjhima Nikaya, Cullakammavibhanga
Sutta, 135)
Membaca uraian di atas tentang karma seolah-olah mencerminkan bahwa
manusia itu haruslah pasrah dan menerima keadaan hidupnya. Di satu sisi memang mencerminkan
kenyataan tersebut, namun dalam sudut pandang yang optimis, tidaklah
seharusnya demikian. Sebagai manusia duniawi [prthagjana/puthujjana]
, tentunya sangat sulit untuk kita dapat seluruhnya terbebas
dari suatu perbuatan baik ataupun buruk. Meskipun kita merupakan
tuan dari karma kita sendiri tetapi terbukti
bahwa adanya faktor yang meniadakan atau yang menunjang berbuahnya
karma yang dapat juga dipengaruhi oleh keadaan luar, lingkungan,
kebiasaan, usaha yang tekun dan konsentrasi pikiran yang baik.
Dalam
kehidupan Buddha Gautama juga tercatat banyak penjahat dan bahkan
pelacur yang karena `dicerahkan' oleh Yang Telah Tercerahkan,
maka seketika dapat mencapai tingkat kesucian batin tertentu.
Sang Buddha Mencerahkan
Angulimala, seorang perampok jalanan dan pembunuh yang mempunyai hobby
koleksi kelingking manusia yang dibunuhnya, pada suatu saat bertemu
Sang Buddha dan bermaksud menggenapkan koleksinya menjadi 1000
buah. Maka diapun menghadang Sang Buddha
dan bermaksud membunuhNya. Angulimala yang terkenal lincah dalam
bergerak, tetap tidak bisa menyentuh tubuh Sang Buddha yang kelihatan
sama sekali tidak bergeming. Karena kecapaian,
akhirnya Angulimala bertanya kenapa Sang Buddha bisa bergerak
begitu cepat, yang oleh Sang Buddha dijawab, "Wahai Angulimala,
Aku sudah dari tadi tidak bergerak, engkaulah yang masih terus
bergerak." Angulimala yang mendengarkan perkataan Sang Buddha
ini akhirnya berubah seketika dan menjadi pengikut Sang Buddha
yang mampu mencapai tingkat Arahat.
Alavaka, setan yang kejam yang hobby memakan daging manusia, sesudah
bertemu Sang Buddha dapat menghentikan
kebiasaan memakan daging dan mencapai tingkat kesucian pertama.
Ambapali, seorang pelacur dapat terbersihkan pembawaannya setelah
bertemu Sang Buddha dan mencapai tingkat Arahat.
Contoh-contoh
tersebut di atas memperlihatkan bahwa betapa besarnya Kasih Sayang
seorang Yang Telah Tercerahkan, mampu
membimbing dan memberikan `Pencerahan Seketika' kepada setiap
makhluk hidup . Dalam tradisi Buddhisme Tantrayana/Vajrayana
Tibet dan beberapa aliran spiritual yang diturunkan dari India
oleh para Satguru, menganut hubungan spiritual
guru dan murid, juga dipercayai adanya kemampuan seorang guru
Yang Telah Tercerahkan untuk menciptakan kondisi, menarik atau
mematangkan karma perintang seorang murid yang terakumulasi dari
kehidupan sebelumnya, dengan tujuan agar murid bersangkutan tidak
mengalami rintangan karma dalam kehidupan spiritualnya saat ini
untuk mencapai pencerahan. Ajaran Sang Buddha yang bersifat esoterik
(rahasia) sebagaimana yang dianut oleh tradisi Buddhisme Tantrayana/Vajrayana memungkinkan hal ini
dilakukan, baik melalui suatu upacara pengangkatan (inisiasi)
hubungan guru dan murid ataupun melalui cara
meditasi dan pembacaan mantra. Terlepas dari
itu semua, kepercayaan [sraddha/saddha] tetap memegang peranan penting.
Proses Bekerjanya Karma
Memang
proses bekerjanya karma tidak dapat kita amati
atau dibuktikan secara ilmiah, namun prinsip bahwa kita akan menuai
sesuai dengan apa yang kita tanam itulah yang penting untuk kita
renungkan. Proses bekerjanya karma hanyalah dapat dipahami sepenuhnya
oleh seorang Buddha atau Yang Telah Tercerahkan.
Untuk mengetahui karma dari kelahiran kita sebelumnya, maka renungkanlah
berbagai kejadian baik berupa penderitaan [dukkha] ataupun kebahagiaan [sukkha] yang menimpa kita dalam kehidupan
saat ini. Sehingga
kita tidak tersudut ke dalam suatu kondisi dimana kita harus mencela
orang lain sewaktu menderita ataupun terlalu menjunjung orang
lain sewaktu kita berbahagia. Karma yang berbuah dalam kehidupan
ini apakah menghasilkan kebahagiaan ataupun penderitaan haruslah
kita syukuri sebagai makin berkurangnya timbunan karma kita sehingga
makin terbukalah peluang untuk kita keluar dari arus kelahiran
dan kematian. Namun demikian kitapun tidak perlu
terjebak pada sikap pesimistik dengan menyalahkan kehidupan sebelumnya
yang menciptakan karma buruk pada kehidupan saat ini karena Buddhisme
tidak mengajarkan fatalisme yaitu suatu sikap yang menyalahkan
segala sesuatu kejadian sebagai kodrat, takdir ataupun nasib.
Buddhisme mengajarkan suatu tuntunan buat kita
untuk melihat kehidupan saat ini sebagai alam kehidupan yang memungkinkan
manusia untuk berlatih diri keluar dari lingkaran kehidupan dan
kematian.
Untuk memahami kondisi bekerjanya karma sebagai suatu Hukum Sebab Akibat,
kita dapat memulainya dengan mengenali adanya hukum yang bekerja
di alam semesta ini. Dalam Abhidhamma Vatara 54,
dan Dighanikaya Atthakatha
II-432, dapat ditemui adanya Lima Hukum Alam [Pancaniyama
Dhamma] , yaitu :
- Rtu Niyama [Utu
Niyama],
yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan suhu, contohnya
gejala timbulnya angin dan hujan, bergantinya musim, perubahan
iklim, sifat panas, dan sebagainya.
- Bija Niyama, yaitu hukum sebab-akibat mengenai
biji-bijian, contohnya sesawi berasal dari biji sesawi, gula
berasal dari tebu, dan sebagainya.
- Karma Niyama [Kamma
Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan perbuatan, contohnya
perbuatan baik akan menghasilkan akibat
baik, dan perbuatan buruk akan menghasilkan akibat buruk.
- Citta Niyama, yaitu hukum sebab-akibat yang berkiatan
dengan hasil pikiran, misalnya proses kesadaran, timbul dan
lenyapnya kesadaran, sifat kesadaran, kekuatan batin, telepati,
kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan mengingat hal-hal
yang telah terjadi, dan sebagainya.
- Dharma Niyama [Dhamma
Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan gravitasi, berupa
gejala alam yang menandai akan terlahirnya
atau meninggalnya seorang Bodhisattva ataupun seorang Buddha.
Hukum Karma [Kamma Niyama]
merupakan salah satu dari Hukum Alam tersebut di atas yang terjadi
karena prinsip Hukum Sebab dan Akibat, dimana setiap suka ataupun
duka pasti ada penyebabnya. Tiada sebab maka tiada akibat. Segala penderitaan akan dapat dihindari apabila dapat diketahui sebabnya. Penyebab tunggal dari segala bentuk penderitaan adalah kemelekatan
terhadap nafsu keinginan duniawi.
Terdapat cukup banyak cara
menggolongkan Hukum Karma, dan berikut disampaikan beberapa jenis
penggolongan Hukum Karma tersebut.
Menurut masa berlakunya, dapat diurut sebagai
berikut :
- Karma yang berlaku segera [ditthadhammavedaniya kamma]
- Karma yang berlaku sesudahnya [upapajjavedaniya kamma]
- Karma yang berlaku untuk jangka waktu
tidak terbatas [aparapariyavedaniya
kamma]
- Karma yang kadaluarsa [ahosi kamma]
Menurut fungsinya [kicca] karma, maka dapat digolongkan atas
:
- Karma penghasil [janaka kamma]
- Karma penunjang [upatthambaka kamma]
- Karma pelemah [upapidaka kamma]
- Karma penghancur [upaghataka kamma]
Sedangkan penggolongan karma menurut urutan akibatnya
[vipakadanavasena],
dapat dikelompokkan sebagai berikut :
- Karma yang berat [garuka kamma]
- Karma menjelang kematian [asanna kamma]
- Karma kebiasaan [acinna kamma]
- Karma yang bertimbun [katatta kamma]
Beberapa perbuatan berikut akan
menghasilkan karma baik:
- Selalu bersifat kedermawanan [dana]
- Menjaga moralitas yang baik [sila]
- Senantiasa melakukan meditasi [bhavana]
- Melakukan penghormatan [apacayana]
- Pengabdian yang mendalam [veyyavacca]
- Senantiasa mengirim jasa kepada makhluk
yang menderita [pattidana]
- Berbahagia atas perbuatan baik dari
pihak lain [anumodana]
- Mendengarkan Dharma [dhammasavana]
- Membabarkan Dharma [dhammadesana]
- Meluruskan pandangan salah [ditthijjukamma]
Sebagai Buddhis yang mempercayai hukum karma maka
kita tidak perlu mencela orang lain yang melakukan perbuatan paling
jahat sekalipun, karena selain mereka juga akan memiliki kesempatan
untuk memperbaiki diri, juga mereka tidak akan dapat menyembunyikan
diri dari akibat perbuatan jahatnya sendiri.
Sang Buddha bersabda : " Tidak di langit, di tengah lautan,
di celah-celah gunung atau di manapun, juga dapat ditemukan suatu
tempat bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan diri dari akibat
perbuatan jahatnya. " (Dhammapada,
127).